Rahasia Alit

Rahasia Alit
Pelet Cinta Tertukar - Bagian 5


__ADS_3

Suatu sore om Dwi ke rumah. Aku membawa Ireng yang sejak tadi mengikutiku di pelataran rumah nenek. Om Dwi tampak murung. Dia habis dari rumah sakit untuk bertemu gadis itu. Mungkin ada hal penting yang akan diperbincangkan papa mama dan papa. Setibanya di teras om Dwi langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi. Dia menghela napas dalam, Pandangannya menerawang jauh ke depan ke arah jalan komplek.


Wajah murung itu pasti menyimpan sesuatu. Tiba-tiba dia terhentak saat aku mengatakan "om ……tuh papa dan mama sudah pulang". Sontak om Dwi berdiri memandang ke pelataran, dan melangkah keluar ke halaman untuk menemui papa.


"Dwi, aku parkir mobil dulu", kata papa.


"Yuk masuk, kata mama sambil melangkah ke dalam dan om Dwi pun mengikutinya".


Papa tampak masih memarkir mobilnya agar tidak menghalangi pintu masuk.


"Alit.... makanan santap malam di tote bag bawa ke dapur". Aku bergegas mengambilnya di mobil dan langsung ke dapur. Menaruh makanan itu dan menata peralatan makan untuk santap malam".


"Bu… om Dwi menyapa nenek dan menyalaminya".


Nak Dwi santap malam dulu, kata nenek sambil tersenyum menatapnya. Dia masih terdiam, hanya mengangguk dan mendekat ke meja makan. Malam itu seusai santap malam, om Dwi menuju teras seakan menunggu papa dan mama untuk mengeluarkan unek-uneknya.


"Makasih, santap malamnya enak, kata om Dwi seraya tersenyum kecil". Papa mengikutinya menuju teras untuk mengobrol yang tertunda karena santap malam.


"Mas... aku ingin ngobrol tentang gadis perawat itu. Ibu mendesakku agar bertemu langsung dengan gadis itu dan sore ini aku ke rumah sakit itu".


Ternyata ada kejadian yang tak terduga. Sejak semula aku memang menyukai perjodohanku dengan suster Ernie. Aku merasa punya kesempatan mendekati gadis itu. Aku menepis keraguan dan melangkah lebih serius.


Suster Ernie memang sangat cantik. Aku kagum padanya. Gadis itu memikatku. Keramahan dan senyumnya sangat menggoda. Aku menginginkan hubungan serius meski mungkin terlalu cepat. Tapi urusan hati semua hal terabaikan.

__ADS_1


Aku sadar dia perawat berprestasi di rumah sakit itu. Mungkin dia masih akan berkarir. Bahkan mungkin dia telah memiliki kekasih.


"Oh.... truus .... " papa tampak tidak sabar mendengar kelanjutan ceritanya. Akupun nguping pengen tahu apa yang dikatakan setelah bertemu dengan gadis bakal jodohnya. Namun wajah om Dwi tidak berubah tetap murung. Aku menduga pasti ada hal yang tidak menyenangkan hatinya.


"Oh………." Tapi kenapa wajahmu murung jika kamu tertarik padanya?


Papa tampak masih penasaran. Dia tidak sabar. Om Dwi masih terdiam belum mengatakan sesuatu.


Hari ini aku ke rumah sakit. Sampai di situ aku ke ruang jaga di lantai dua. Keadaan sepi hanya ada seorang perawat. Perawat itu menghampiriku di loket tamu. Dia menyapaku. Aku mencoba mengingat wajah itu. Dia pernah kutemui. Ternyata dia adalah suster Hesty. Semakin jelas dalam ingatanku setelah membaca nama yang tertera pada seragam putihnya. .


Rupanya dia juga masih mengenaliku dan menyapa "kakaknya pak Iyan mantan pasien? Akupun mengangguk. Sontak aku terdiam. Ekspresi wajah itu masih ingin berkata-kata. Dia mengatakan “hari Minggu lalu keluarga pak Iyan ke rumahku. Pak Margi pemilik warung di pertigaan itu memberitahu. Kerabat pak Iyan hendak bertamu. Mereka adalah ibu dan kakak kandung beserta suaminya, apakah anda juga?


"Oh….aku terdiam. Sontak terkejut. Muncul sesuatu di benakku ….. aku rasa ada yang tidak beres. Aku menatap wajah itu. Ternyata wajah itu serius.


Aku pikir keluarga bu Mien yang dikunjungi Ibu bukan orang tua suster Ernie. Namun gelagat suster Hesty menunjukkan kunjungan itu untuk hal yang serius perjodohan. Bisa dianggap. penjajakan. Bisa jadi kedatanganku ke rumah sakit sore tadi semakin menguatkan anggapannya tentang hal itu.


Ibu juga tidak menyangka jika ternyata yang didatangi di hari Minggu itu salah orang. Pria pemilik warung itu hanya mengenal keluarga yang anaknya berprofesi suster. Jadi cuma terkaan kami membenarkan bu Mien adalah orang tua suster Ernie. Tidak ada yang menyangka terjadi kekeliruan itu. Hah….. fatal akibatnya.


Suster Hesty serius menanggapi kunjungan itu. Dia menyodorkan secarik kertas kecil dan minta aku menuliskan alamat rumah. Aku ingin segera meninggalkan tempat itu tapi aku sejenak menahan diri. Di saat bersamaan terdengar suara dering interkom. Suster itu harus cepat ke ruang pasien. Akupun langsung pamit dan aku urung mencari suster Ernie.


"Waduh… .. salah orang nih, papa dan mama terdiam ". Entah apa yang berkecamuk di benaknya. Pemilik warung telah mengatakan siapa saja yang bertandang ke rumahnya. Mungkin hatinya tergetar saat kedatangan om Dwi yang memang ganteng. Kunjungan itu dalam waktu yang singkat setelah kunjungan itu . Mungkin dia ngerasa ada maksud serius dibaliknya. .


Cowok ganteng itu memang relatif. Tapi Dwi dapat dikatakan ganteng. Celotehan banyak orang ketika membandingkan kedua kakak beradik itu. Iyan yang dinilai berwajah sedang itupun menyandang playboy karena kerap gonta ganti pacar. Tapi om Iyan beberapa kali batal menikah dengan gadis yang telah dikenalkan pada, keluarga. Tak disangka om Iyan malah menikah dengan tante Ed. Mereka menjalin hubungan singkat trus menikahi wanita itu.

__ADS_1


Takdir berjodoh. Kata-kata yang sering diucapkan agar seseorang bisa ikhlas menerima kehadiran seseorang yang tidak dicintai sebagai pasangan hidupnya. Banyak orang yang percaya ada misteri dibalik suatu kejadian diluar kehendak manusia.


Om Dwi menghela napas panjang. Dia belum mengatakan tentang kesediaan batinnya untuk menerima suster Hesty. Dia juga belum berpikir untuk membuka hatinya pada suster Hesty. Om Dwi kembali terdiam.


Beri aku sedikit waktu. Apakah benar-benar peluangku telah untuk suster Ernie telah tertutup ? Banyak orang mengataksn, “sebelum janur kuning melengkung masih ada kesempatan.buatku”.


“wow …..aku sampai terpana mendengar tekad om Dwi. Sungguh tidak menyangka om Dwi yang pendiam dan dikenal ugal-ugalan, sering menghilang dari rumah tanpa diketahui rimbanya itu ternyata melankolis.


"Oh.... gimana nih, kata mama sambil menatapnya. Papa terdiam. Masalah ini sangat pelik. Bagaimana bila suster Hesty menaruh harapan untuk dilamar? Truus .... bagaimana perasaanmu Dwi?


Bila kekeliruan itu telah menimbulkan harapan bagi suster Hesty, apakah kamu menerima sebagai pendamping hidup? Om Dwi terdiam dan tampak raut muka sedih. "Aku belum bisa menjawabnya sekarang.


Aku masih penasaran dengan suster Ernie. Aku sedang mencari cara untuk menebak peluangku pada suster Ernie..


"Alit..... minta Arlo mengantar ke rumah sakit itu mencari kabar tentang suster Ernie".


"Waduh .... kayak spionase nih, aku bergumam lirih sambil nyengir. Ma... Alit harus ngatur strategi agar tidak tercium tujuan sebenarnya".


Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh om Dwi pamit pulang. Persoalan pelik karena keteledoran itu.


Peliknya menjaga perasaan dan martabat suster Hesty dari cemooh bila kabar rencana perjodohan itu telah menyeruak ke rekannya. Selain itu juga menjaga perasaan suster Hesty bila terlanjur mengetahui rencana perjodohan itu. Benar-benar repot.


Bila mengingat kejadian itu. Sungguh tidak menyangka kami salah sasaran. Ternyata bu Mien bukan orang tua suster Ernie melainkan orang tua suster Hesty. Sungguh ajaib peristiwa di hari Minggu itu.

__ADS_1


__ADS_2