
Kisah pak Biduk menegangkan dan membuatku penasaran.
Ketika pak Aman tidak menyangka ternyata kondisi fisiknya kurus dan pucat. Padahal dia mengira pak Biduk bahagia dengan duit banyak tapi ternyata tidak sesuai dengan dipikirkannya.
Aku penasaran, apakah yang terjadi dengannya? Dia bersusah payah mencari harta itu dan berhasil kaya. Namun keadaannya malah tidak mencerminkan seseorang yang bahagia.
Aku penasaran ingin ngobrol dengannya.
"Sampeyan lesu dan loyo, sedang sakit?
Pak kesehatanku kurang baik. Aku tidak bersemangat, benar dugaan itu?
Aku dihantui rasa was was datangnya musibah sebagai imbalan atas kemewahan yang dinikmati keluargaku.
Musibah yang selalu menghantui benar adanya. Kebakaran itu telah membuatku sedih dan juga banyak orang ketakutan dan kalang kabut dalam peristiwa itu. .
Penglaris itu membuatku silau dan aku tergiur mengikutinya.
Pak Aman trenyuh mendengar peyesalannya. Dia menjadi iba dan ingin membantunya tapi sangat sulit baginya.
“Aku siap membantu sampeyan".
Jalan yang terbaik harus bisa menarik diri sebelum terperosok semakin dalam.
“Sampeyan cari jalan keluar dan aku siap menemani kemanapun”.
Pak Biduk mengangkat wajahnya dan memandang temannya.
“Ooh…. aku masih punya seorang teman sejati yang menguatkanku, makasih”.
“Aku pikir harus ke padepokan itu”.
“Ok, kali ini aku menemani sampeyan”.
Keesokan harinya mereka pergi ke padepokan itu. Lokasinya tidak begitu jauh dari 2 padepokan yang pernah mereka datangi. Kondisi sekitarnya juga hampir mirip. Letaknya di kaki bukit tapi harus berjalan kaki naik ke dataran tinggi itu dan turun lagi karena lokasinya dari jalan raya berada dibalik bukit.
Dari jalan turunan itu di kejauhan tampak 3 buah bangunan kecil yaitu di kanan, tengah dan sebelah kiri area itu. Pak Biduk menuju ke bangunan sebelah kanan. Pak Biduk dan diikuti pak Aman hendak masuk ke bangunan itu melalui sebuah lubang pintu sekitar 2 meter tingginya yang diatasnya berbentuk lengkungan.
Setelah melepas alas kakinya, mereka masuk. Pak biduk langsung duduk bersila menghadap seorang lelaki tua berjenggot panjang yang telah memutih itu. Lelaki itu duduk bersila menghadap pintu masuk. Pak Biduk mengatupkan tangannya untuk sesembahan dan pak Aman mengikuti sikap temannya.
Pak Biduk menunduk dan berkata lirih hampir tak terdengar di ruangan yang tidak begitu besar dan hening .
“Ampuun …… kedatangan saya telah mengganggu”.
“Kenapa…. ……belum puas dengan hasilnya”.
“Ampuun ….. bukan begitu”.
“Saya berniat mengembalikan berkah yang diberikan 2 tahun lalu”.
__ADS_1
Aku merinding mendengar ucapan pak Biduk.
" Pesugihan disebut berkah?
"Pesugihan disertai tumbal pasti bukan berkah?
"Tinggi sekali posisinya di hati manusia".
"Itulah sifat manusia yang terlena godaan hingga menjadi pengabdi sesuatu yang tidak sepatutnya disembah".
“ Namun mendengar suara temannya bergetar ketakutan, pak Aman juga terbawa suasana padepokan yang menyeramkan”.
“Sudah dipikirkan resikonya? tanya pak tua itu.
“Apapun resiko itu, saya seorang diri akan menanggungnya”.
“Kamu akan mengerti akibatnya”.
Pak Aman diam dan hanya mengamati temannya. Tubuhnya bergetar, entah apa yang sedang menimpanya.
Tubuh itu bergetar terus sampai beberapa saat kemudian baru tenang kembali. Ketika mengangkat kepalanya, tidak tampak lagi pak tua yang di hadapannya.
"Kemana dia? Pak Aman bergumam sambil memandang sekeliling tempat itu. Tidak ada pintu lain lagi, hanya satu itu.
Dia menghilang?
Mereka, keluar dan seseorang lelaki paruh baya menunggunya di depan pintu itu.
Lelaki itu tanpa bicara hanya memberi isyarat untuk mengikutinya ke ruang yang ada di sebelah kiri.
Setelah dipersilahkan masuk lewat gimik lelaki itu, pak Biduk masuk dan pak Aman mengikutinya. Ruangan itu kosong dan terasa pengap tidak ada ventilasi selain lubang pintu masuk yang menyerupai bangunan pertama.
Di dalamnya terdapat sebuah makam jadi orang yang masuk otomatis seperti sedang malakukan ziarah.
Pak Biduk langsung duduk bersila dan mengatupkan kedua tangannya layaknya orang melakukan sesembahan. Tiba-tiba tubuhnya kembali bergetar dalam posisi duduk bersila.
"Waduh… apalagi nih", pak Aman bergumam melihat tubuh itu bergetar.
" Apa yang sedang dialaminya? sungguh membuatku penasaran. Dia menunggu sampai pak Biduk tenang kembali. Tidak ada, satu orangpun yang bisa menjelaskan kecuali pak Biduk sendiri.
Pak Aman menoleh keluar barangkali ada seseorang atau orang yang mengantarnya kesitu masih ada. Tapi dia tidak melihat siapapun.
Setelah pak Biduk tenang, dia mengulurkan tangan untuk memberi isyarat agar cepat pergi dari tempat itu.
Pak Biduk bersusah payah berdiri. Dia menggandengnya sampai pintu keluar.
Lega, rasanya menghirup udara sejuk pegunungan.
Keduanya berjalan menuju jalan raya. Mereka berusaha mempercepat langkahnya tapi keduanya terasa berat. Pak Biduk tampak ngos ngosan tapi terus berjalan. Pak Aman tampak kurang sabar hendak lari sejauh mungkin dari padepokan itu tapi dia tidak bisa melakukannya. Dia menoleh dan tidak tega melihat pak Biduk terengah-engah.
__ADS_1
Sesampainya di jalan raya, di halte itu mereka duduk sejenak menyelonjorkan kakinya .sambil menenangkan diri sampai napasnya normal.
“ Sampeyan sudah bisa cerita tentang kejadian di ruangan pak tua itu? tanya pak Aman.
“Tubuh sampeyan bergetar keras, apa yang menimpa dirimu?
“Waduh…… serem banget”.
“Aku menahan diri agar tubuhku tidak beralih tempat”.
Isteri dan anakku juga si bontot ada di suatu tempat bagus dengan berbagai macam suguhan makanan dan mereka memanggilku agar bergabung dengannya. Aku menahan diri agar tidak tertipu lagi.
Ketika memasuki ruangan pertama itu aku ingat pesan seseorang untuk mengucapkan kata-kata suci agar terhindar dari trik tipu-tipu mahluk gaib. Aku berusaha menepis imajinasi yang penuh kepalsuan itu.
Pada makam di bangunan kedua yang diisyaratkan lelaki paruh baya juru itu saat melangkah ke dalam aku juga mengawalinya dengan doa.
Saat itu aku melihat seseorang. Ternyata dia adalah diriku sendiri yang sedang menderita. Aku meminta belas kasihan pada orang-orang yang kutemui tapi tidak menggubrisnya. Aku dan keluargaku mengemis. Harta yang kami miliki tidak ada lagi. Anakku menangis kelaparan.
Tubuhku bergetar karena sedih melihat anak isteriku yang terbiasa hidup dengan banyak uang tapi tiba-tiba berubah jadi miskin banget.
“Sampeyan harus tabah dan sabar”.
Pak Biduk pasti mengalami syok berat. Meski dia sadar harus melepaskan hartanya tapi pasti kesedihan itu masih tersisa di hatinya.
“Neek…. tragis bangeet nasib pak Biduk”.
“Nenek pikir melepas harta adalah hal berat yang harus diterimanya”.
“Belum lagi harus menyesuaikan diri kembali pada gaya hidup yang telah ditanggalkannya”.
“Sebuah percobaan yang harus dijalani, neek”.
“Neek… Alit ngantuk nih”
Sekarang pukul 10, ternyata kak Luni sudah pulang. Mungkin baru saja sampai rumah. Alit lihat lampu kamarnya sudah nyala. Padahal ga kedengaran suara kendaraan, kayaknya Alit keasyikan dengan cerita pak Biduk yang tragis.
Alit keluar sebentar menyapa kak Luni.
"Kak, Alit tidur dulu, ngantuk bangeet".
"Kakak bereskan buku dulu, ngobrol ga terasa sudah malam, beruntung bisa nebeng pulang".
"Nek.. Alit ngantuk berat nih".
Nenek tersenyum melihat aku merem sambil jalan masuk kamar.
" Nek, rasanya pengen terpejam terus, berat rasanya membuka mata ini".
Nenek tersenyum melihat ulahku. Setelah balik ke kamar, aku langsung menjatuhkan diri di kasur. Mataku terpejam, ngantuk banget rasanya. Malam itu aku benar-benar terlelap dalam tidurku.
__ADS_1