
Di suatu Minggu sore yang cerah, aku sedang berada di rumah berdua dengan Kak Luni. Saat itu, papa dan mama sedang pergi, sedangkan nenek berada di rumah Pak RT untuk arisan dan rapat warga.
Sementara itu, aku dan Kak Luni sedang asyik menonton film. Tiba-tiba, terdengar suara orang membunyikan bel rumahku.
"Ting tong!"
"Yaa sebentar," aku berteriak.
Ternyata, Aciel yang memencet bel rumahku. Aku hampir tidak mengenalinya, karena sudah lama tidak bertemu. Aku pun hanya pernah bertemu Aciel beberapa kali saja. Pertama pada saat acara pameran, dan pernah juga kami bertemu di sebuah cafe bersama Arlo dan Jaya. Kami tidak terlalu banyak mengobrol. Hanya sekadar bincang-bincang basa basi biasa saja. Oleh karena itulah, aku agak kaget ketika melihatnya di balik pagar rumahku.
"Eh, Aciel, ya? Apa kabar? Ayo masuk!" Kataku sambil membuka pagar.
"Apa kabar, Alit? Maaf, nih, dadakan. Aku tahu rumahmu dari Arlo, terus kebetulan lewat sekitar sini. Jadi kepikiran mau mampir," jawabnya sambil cengengesan.
Aku mempersilakan Aciel masuk dan duduk di ruang tamu. Lalu, Kak Luni menghampiriku untuk mengecek tamu yang datang. Aku pun memperkenalkannya dengan Aciel. Baru beberapa menit, Aciel dan Kak Luni terlihat cepat akrab. Mungkin karena mereka sama-sama kelas tiga SMA. Aciel hanya lebih tua beberapa bulan saja dengan Kak Luni.
Padahal, aku lah yang awalnya kenal dengan Aciel, malah mereka yang asyik mengobrol. Tapi aku tidak apa-apa, karena ada Ireng yang selalu menemaniku. Aku pun mengajak Ireng ikut main di ruang tamu.
Sekitar pukul 7 malam, Arlo meneleponku. Aku pun langsung menyingkir masuk ke ruang tengah dan mengangkat teleponnya. Dia bercerita, hari ini sibuk membantu menbersihkan rumah yang baru dibeli ayahnya. Kami pun mengobrol santai, sambil menceritakan kegiatan masing-masing selama beberapa hari ini.
"Lagi ada Aciel nih di rumah," kataku.
__ADS_1
"Lah, ngapain dia di sana?" Tanya Arlo.
"Tuh lagi ngobrol sama Kak Luni. Padahal ke sini pasti nyariin aku awalnya, tapi aku-nya malah dicuekin sekarang," jawabku bercanda.
Arlo pun tertawa mendengar jawabanku. Aku dan Arlo melanjutkan obrolan seru kami hingga nenek pulang pada pukul setengah 8. Dari ruang tamu, terdengar suara Aciel yang sedang memperkenalkan diri kepada nenek. Aku pun langsung pamit kepada Arlo untuk menutup telepon, dan bergegas menyambut nenek.
"Ini, Nenek bawa snack dari rapat warga tadi," kata nenek sambil menyodorkan makanan ringan itu kepada kami.
Kami bertiga serentak mengucapkan terima kasih. Nenek pun masuk ke dalam rumah, sementara Kak Luni dan Aciel melanjutkan obrolan di ruang tamu sambil makan snack pemberian nenek. Aku yang merasa bosan, akhirnya mengikuti nenek masuk ke dalam rumah.
"Nenek udah makan? Alit mau makan, tapi malas kalau sendirian. Jadi ngga nafsu," kataku.
"Nenek sudah makan. Sini, Nenek temenin Alit aja," jawab nenek memanjakanku.
Nenek yang sedang duduk menemaniku makan di ruang tengah juga mendengar tawa mereka. Dia pun melihat ke arahku dan ikutan tertawa.
"Luni sama teman barunya itu kelihatan cocok. Akrab banget," kata nenek.
Dari yang ku dengar sekilas, mereka banyak membicarakan kebiasaan di sekolah masing-masing. Aku sempat menguping cerita Aciel tentang temannya yang baik hati dan rajin. Temannya itu selalu datang pagi dan menunggu di depan perpustakaan sampai waktunya buka.
Setiap hari, dia menghabiskan waktu pagi dan jam istirahat dengan membaca buku-buku yang ada di perpus. Pernah juga dia membawa lap dari rumah untuk membersihkan meja-meja perpustakaan sekolah. Teman-temannya yang lain sering meledeknya. Bahkan ada pula yang menyuruhnya mengerjakan PR orang lain. Tapi dia tidak pernah marah sama sekali.
__ADS_1
Ada pula teman Aciel yang lain yang berbanding terbalik dengan si kutu buku. Yang satu ini selalu datang terlambat. Lucunya lagi, dia tidak pernah potong rambut. Jadi, ketika dia mulai gondrong, guru-gurunya lah akan memotong rambutnya. Setelah rambutnya dicukur guru, dia bukannya malu, tapi malah bangga. Dia sering pamer ke teman-temannya "lumayan, cukur gratis".
Itulah salah satu cerita Aciel yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Aku dan nenek yang mendengar ceritanya dari ruang tengah pun jadi ikut tertawa.
Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil dari halaman rumah. Kak Luni pun berlari kecil menuju keluar untuk membuka pagar, dan Aciel mengikutinya. Aku mengamati mereka dari jendela ruang tamu. Aciel terlihat mengulurkan dan menjabat tangan papa dan mama untuk memperkenalkan diri. Kemudian, Aciel mengikuti papa, mama, dan Kak Luni masuk ke dalam rumah. Dia mencariku dan nenek karena hendak berpamitan pulang.
Dari raut wajahnya, terlihat sekali Kak Luni sedang sangat sumringah. Aku hanya tersenyum kecil melihatnya dan lanjut menyelesaikan makan malamku yang terputus. Kemudian, Kak Luni terlihat mengambil kantong camilan yang dibawa oleh mama dan menuangnya ke dalam beberapa toples.
"Tumben" pikirku heran.
Biasanya, Kak Luni itu selalu cuek. Mana pernah dia menyiapkan makanan seperti itu sebelumnya!
Setelah memindahkan camilan itu ke beberapa toples kaca, Kak Luni melirik makan malam yang tersedia di meja makan. Dia pun mengambil piring dan memulai makan malamnya.
Setelah selesai makan malam, aku pun duduk di sofa sambil tetap memperhatikan Kak Luni yang sedang bertingkah tidak seperti biasanya. Sementara itu, papa dan mama yang sadar akan perubahan sikap Kak Luni pun terlihat saling pandang kebingungan. Tapi mereka tersenyum senang, sambil membicarakan Kak Luni dengan bahasa isyarat.
Kak Luni terlihat lahap menikmati makan malamnya. Mungkin dia sudah menahan rasa laparnya daritadi karena menemani Aciel.
Menjelang tidur, aku menceritakan kejadian-kejadian hari ini kepada Arlo melalui chat. Mulai dari perubahan sikap Kak Luni yang jadi sumringah, dan beberapa obrolan Aciel dan Kak Luni yang tidak sengaja aku dengar. Tidak lupa juga cerita tentang teman Aciel yang suka membersihkan perpustakaan, serta yang sering dipotong rambutnya oleh guru. Ternyata, berhubung sering main ke sekolah Aciel, Arlo juga kenal dengan teman-teman Aciel tersebut.
Hari ini, suasana rumah betul-betul berbeda dari yang biasanya. Semua berkat Aciel yang bisa membuat mood Kak Luni menjadi sebagus itu.
__ADS_1
"Semoga Aciel sering-sering main ke rumah..." kataku dalam hati.
- bersambung