Rahasia Alit

Rahasia Alit
Misteri di Balik Musibah - Bagian 8


__ADS_3

Ditengah perbincangan tentang pesugihan pak Aman nyelak ingin berbagi pengalamannya yang hampir saja jadi pengabdi setan di salah satu padepokan yang pernah dikunjunginya.


'Beruntung aku tersadar setelah disuguhi kejadian memilukan', katanya lirih.


'Anakku terjepit pohon dan saat sampai rumah para tetangga berkumpul mungkin mereka akan melayat'.


'Aku melihat anakku terbujur tidak sadar beralaskan tikar'.


Aku langsung menyakini yang kulihat


bocah terjepit pohon adalah anakku yang telah tersandera.


Jika aku mengambil pesugihan itu, bocah itu tidak akan bisa kutemui lagi karena dia sudah jadi budak mahluk gaib.


'Aku mendengar suara yang membuatku miris'


'Paak jangan tebas badanku', kata-kata itu membuatku hancur.


Suara tangis memilukan seorang bocah yang sedang ketakutan terus menghantuiku.


Bocah itu matanya nanar memandang ku dan memintaku menyingkirkan benda mirip golok yang kupegang itu.


'Singkirkan benda itu paak, pintanya’.


Dia sangat takut jika aku menebas batang pohon maka tubuhnya juga ikut kena tebas.


Saat itu aku bengong, tidak habis pikir darimana benda itu, aku tidak merasa memilikinya tapi tiba2 sudah ada ditanganku. Aku menjatuhkan benda itu dan menangis sampai sesak rasanya.


Aku ingin menjangkau tubuh anakku yang terjepit di pohon itu tapi tidak berdaya. Aku hanya memandangnya dan tiba2 batang pohon yang terbelah itu menutup dengan sendirinya bersama dengan tubuh anakku di dalamnya.


Sungguh mengerikan. Tubuh itu dibawa kemana? Kami ga ada yang yang tahu. Yang jelas nyawanya sudah tersandera karena ulah serakah orang tuanya. Kami terhenyak untuk mengakhiri permainan ini.


Pak Aman mengatakannya dengan suara parau tersendat-sendat teringat akan kejadian yang seolah benar nyata adanya.


Sejak itu dia berjanji dalam hatinya untuk berhenti mencari kekayaan dengan cara yang tidak lazim. Sejak itu pula, dia berpikir jika pesugihan berhubungan dengan alam gaib dan mungkin saja mahluk yang di alam itu meminta imbalan yaitu tumbal dari seseorang yang mempunyai hubungan darah. Jadi kejadian yang ditampilkan itu agar seseorang berpikir ulang sebelum terlambat.


Pak Biduk yang berada di sampingnya diam. Dia juga tidak bisa menahan tangisnya tatkala pak Aman cerita tentang padepokan itu. Keduanya mempunyai pengalaman mirip. Tumbal itu adalah anak-anak kesayangan mereka.


Pak Biduk tidak sanggup berkata-kata lagi. Air matanya terus membasahi pipinya.


'Meski pengunjung padepokan rata-rata mempunyai pengalaman yang mengerikan tapi banyak diantaranya tidak jera dan datang kembali untuk melakukan persetujuan dengan mahluk gaib.


Padepokan semacam itu ramai dikunjungi orang. Pesugihan mempunyai daya pikat yaitu tempat memohon bagi orang yang tergiur ingin kaya dadakan.


Padepokan rata2 jauh dari pemukiman dan terpencil serta sulit didatangi. Namun dari mulut ke mulut banyak orang mengetahui tempat tersembunyi.


Pelaku pesugihan itu, apakah semuanya paham bahwa nyawa persembahan itu ga jelas rimbanya, tersandera di alam gaib, entah sampai kapan'.


'Aku pernah dengar, nyawa itu tersandera sampai ajal menjemput kita sebagai penerima pesugihan untuk menggantikannya'.


' hah… bisa selamanya tersandera'.


'Kita ga usah ke tempat itu lagi'.

__ADS_1


'Kapok', kata pak Biduk.


'Lha sampeyan yang keukeuh ke tempat itu lagi', kata pak Aman nyengir.


'Pak Sopir apakah ada penumpang sampeyan yang menghilang tidak pernah nongol lagi?


'Ada pak, malah suatu kali ada yang datang berdua tapi keesokan harinya tinggal seorang yg balik naik bis ini.


'Satu orang lagi ga tahu kemana dan bagaimana nasibnya?


'Saat saya tanya, mereka tidak memberi jawaban pasti'.


'Padepokan pesugihan itu sangat misterius'.


'Waduh…', pak Aman tambah merinding.


Pak Aman menyenggol pak Biduk yang sejak tadi terdiam.


' Padepokan pesugihan misterius memang'.


'Kami sudah mengalaminya'.


' Padepokan yang telah kami kunjungi seolah hanya hamparan rumput hijau dan pepohonan dan singgasana batu yang sebelumnya kosong. Kami tidak mengetahui tempat bermukim pimpinannya. Mereka datang dan pergi bagai angin.


Perbincangan terhenti karena sopir menghentikan mobilnya. Rupanya dia sudah melihat dari kejauhan ada orang yang menyetop. Bis yang sedang melaju itupun berhenti. Ada 2 orang yang menumpang.


2 orang itu naik dan duduk di belakang pak Aman dan pak Biduk.


Sejak naik bis mereka asyiik ngobrol sambil melangkahkan kakinya menaiki tangga bis. Seseorang yang duduk dekatnya nimbrung ngobrol.


'Daerah ini ternyata banyak padepokan yang menyediakan jasa serupa', pak Aman bergumam.


Salah seorang bertanya ke temannya.


'Sampeyan mantap untuk datang lagi sesuai hari yang telah disepakati?


' Tentu aku sudah sreg',


' Dibandingkan yang lain, padepokan ini berbeda, syaratnya tidak ada korban nyawa'.


'Pak Biduk terperangah'. Dia nguping dan nimbrung ngobrol.


'Pak yang syaratnya ringan dimana?


'Oh… bapak berminat?


'Ga jauh dari terminal tadi tapi balik arah'. ' di warung minuman berhenti dan naik menuju perbukitan'.


' Syaratnya apa?


Sebetulnya semua syarat yang diajukan untuk penganut pesugihan tidak ada yang ringan.


Penumpang itu tidak menjawab detil meski pak Biduk penasaran dan bertanya ulang.

__ADS_1


'Sejak sepakat melakukan pesugihan maka orang itu telah melakukan hubungan dengan dunia gaib dan tentunya mahluk alam lain akan mengambil keuntungan'.


Pak Aman manggut-manggut dan berkata lirih.


'Aku harus jera', batinnya bergolak keras mendengarnya. Dia mengelus dada.


Beruntung ketua padepokan membuka mata batinnya untuk menyaksikan kejadian gaib akibat dari suatu pesugihan. Tumbal nyawa anggota keluarga yang paling disayangi urung terjadi.


Entah reaksi pak Biduk, apakah kejadian gaib di padepokan itu telah membuatnya berpikir ulang dan sadar akan kesalahannya. Mudah-mudahan membuat pak Biduk jera.


Namun keserakahan telah hinggap ke pikiran seseorang maka sulit hilang.


Sepanjang perjalanan itu pak Aman terus merenungi semua kejadian yang dialaminya. Berulang kali dia mohon ampun telah mengikuti keserakahan yang hampir menghancurkan keluarganya.


Setelah kejadian itu pak Aman tidak pernah bertemu dengan sahabatnya lagi. Pekerjaannya menyita waktunya. Kejadian di padepokan tidak pernah dibicarakan lagi.


Suatu hari mereka bertemu lagi di pos ronda. Di malam yg dingin ditemani secangkir kopi dan cemilan keduanya mulai menguak cerita lama pengalaman di padepokan.


Pak Aman telah berjanji pada dirinya tidak akan mengunjungi padepokan pesugihan itu lagi. Dia mengingatkan temannya agar tidak tertarik mencari uang lewat pesugihan.


'Bekerjalah lebih giat', kata pak Aman.


'Aku masih penasaran dengan padepokan yang dikatakan seseorang yang bareng kita di bis arah pulang', kata pak Biduk.


'Sudahlah jangan diingat lagi', kata pak Aman.


' Sampeyan ada waktu menemani aku?


' Akhir2 ini aku banyak banget kerjaan', jawab pak Aman menolak halus ajakan pak Biduk.


Pak Biduk mulai membahas padepokan pesugihan itu.


'Belakangan ini restoku sepi pengunjung'.


'Sabar pak, dagang ada pasang surutnya'


' Aku jenuh, yuk jalan lagi ke padepokan, kata pak Biduk merajuk.


Pak Aman menolak ajakan itu dan pak Biduk pergi ke padepokan bersama pak Manut tetangganya. Sejak itu pak Aman jarang bertemu pak Biduk. Pernah juga sesekali bertemu tapi tidak lagi membahas padepokan lagi '.


'Neek… serem banget', Alit yang sejak tadi bengong di samping nenek tiba2 nyletuk.


'Oh.. kirain tertidur ga tertarik ceritanya', kata nenek tersenyum.


'Nek… seseorang seharusnya harus merasa cukup dengan rezkinya'.


'Nek bagaimana dengan gosip musibah kebakaran itu?


'Pak Aman yang berteman akrab dengan pak Biduk menutup rapat dan tidak sedikitpun cerita tentang pengalaman ke padepokan itu.


Orang bergosip tentang pesugihan kandang bubrah, dimana pelaku pesugihan harus merenovasi tempat tinggalnya secara berkala.


Banyak orang mencurigai pak Biduk ke padepokan pesugihan itu dan menduga ada sangkut pautnya musibah kebakaran restonya dengan kandang bubrah. Orang menengarai pak Biduk sudah dua kali terkena musibah kebakaran. .

__ADS_1


Pak Aman terdiam ketika banyak orang berprasangka buruk pada sahabatnya itu.


__ADS_2