Rahasia Alit

Rahasia Alit
Rombongan Manten - Bagian 4


__ADS_3

"Neek….. nanti malam lanjut cerita kakek Wani dan kakek Wedi, yah," rengekku.


Meski tidak pernah bertemu langsung dengan kedua sepupu kakek, tapi kisahnya membuatku seakan-akan akrab dengan mereka. Nenek bercerita tentang momen yang berkesan saat nenek bersama dalam rombongan pengiring manten. Dalam cerita ini aku menyebutnya pak Wani dan pak Wedi.


Di suatu pagi, papa mendengar aku minta nenek melanjutkan cerita kisahnya. Sontak papa keluar dari kamarnya dan nimbrung mengobrol.


"Mama punya cerita momen indah?" tanya papa seraya menatap nenek.


Rupanya papa juga suka flash back masa kecilnya sebelum pindah ke kota besar. Meski sudah pindah kala liburan sekolah papa sering mengunjungi kota kecil tempat tinggal kakek dan nenek. Suasana asri pepohonan cukup menyenangkan untuk area bermain yang menggunakan fisik di area luas.


Akupun selalu terbawa suasana dulu termasuk kejadian mistis yang menandai kehidupan pada jamannya. Rupanya papa berusaha mengingat kembali kisah keduanya dan sontak respon nenek.


Mama juga terkesan dengan kedua orang itu saat ikut rombongan manten di luar kota yang kebetulan melewati hutan angker. Ketika itu banyak orang terhibur sejenak dari ketegangan karena ulah Wani yang slengekan.


Suatu kali, Wedi yang serius dan pelit malah disuruh menyiapkan macam-macam sajen hingga pusing harus mengeluarkan uang diluar rencanam Tapi, Wedi tetap menuruti kemauan sepupunya itu.


"Sifatnya memang 'klop', yang satu senang guyon dan satu lagi serius."


Nenek menatap papa dan keduanya tersenyum.


"Ooh…" papa sering mendengar omongan orang tentang dua orang itu. Mereka sangat akur meski pak Wani sering meledek hingga membuat pak Wedi jengkel tapi tidak lama mereka berbaikan lagi.


Kalau mengingat om Wani dan om Wedi jadi teringat masa kecilku. Kala itu, masih banyak area angker hingga dibutuhkan pemberani tapi si penakut akan jadi bahan candaan.


Padahal seseorang yang sedang ketakutan sebenarnya kasihan tapi sementara orang malah menertawakan.


Jam dinding menunjukkan pukul tujuh.


"Alit mau papa anterin ke sekolah, mumpung masih cukup waktu sebelum nganter mama?


"Alit bareng Arlo, pa".


" Tumben Alit belum berangkat?


" Hari ini jam pertama kosong, Arlo juga sama jadi bisa barengan".


Terdengar suara motor Arlo. Kali ini Arlo jemput aku ke rumah karena berangkat agak siang.


Arlo masuk dan menyapa semua yang di rumah, ada nenek, papa, mama juga kak Luni yang sedang kerja kelompok.

__ADS_1


Setelah sejenak nimbrung ngobrol, papa dan mama pamit ke nenek dan berangkat ke kantor.


Hari kamis itu, aku dan Arlo pulang lebih cepet. Arlo mampir ke rumah. Kebetulan nenek masak ikan presto dan kami bertiga santap siang bersama.


Setelah santap siang kami ngobrol bareng. Arlo kurang tertarik dengan cerita hantu. Dia membaca buku dan aku asyik ngobrolin kakek Wani dan kakek Wedi. Nenek mengingat sikap positif kakek Wedi. Meski slengekan tapi tenang dan berusaha menjaga agar orang lain tidak panik.


Kejadian di hutan itu mengingatkan nenek akan sikap positifnya misalnya ketika kakek Wani bertemu sosok wewe yang menyamar sebagai ibu untuk mengelabui si anak hingga mau diajak keluyuran dengan si wewe tapi kakek Wani merahasiakannya. Kakek Wani menjaga agar kakek Wedi tidak panik.


Konon banyak orang percaya wewe hanya mitos belaka namun banyak orang juga yakin keberadaan wewe si penculik bocah cilik. Pak Wedi salah satunya yang percaya sosok wewe ada di sekitar kita. Sedangkan pak Wani yang menganggapnya mitos malah menyaksikan kehadiran sosok si wewe.


Sementara orang juga memaknai penampakan si wewe untuk mengingatkan para orang tua agar menjaga anak-anak nya. Bila orang tua menelantarkan mereka maka akan diculik wewe gombel.


Wewe gombel dalam cerita yang beredar adalah sosok yang mengincar bocah-bocah yang ditelantarkan untuk disusuinya.


Sosok itu adalah wanita bertubuh besar dengan ***** besar yang penuh air susu untuk bocah-bocah yang diculik nya.


"Hah…" Alit terhentak. Aku baru mendengar sosok dalam mitos itu secara detil. Arlo yang sedang membaca buku juga ikut nimbrung mendengarkan cerita nenek.


"Kalian bisa memetik kearifan lokal dari cerita yang dianggap mitos itu".


Saat Wani yang semula hanya bercanda kemudian ditanggapi serius olehnya.


"Nek…balik pada cerita kejadian di hutan itu, apakah wanita yang terlihat sedang menuntun dua bocah itu adalah si wewe yah?” Nenek hanya menjawabnya dengan tersenyum.


"Nek…Alit beli camilan dianter Arlo, yah?"


" Yuk… anterin aku ke toko kue langganan."


" Ok."


Aku dan Arlo pergi untuk membeli camilan. Sampai dirumah jam menunjukkan pukul empat lewat. Arlo masuk dan aku mengambil es jeruk untuknya.


" Nih … minuman, aku nyiram dulu yah".


"Nek… nenek". Nenek bergegas ke teras depan menghampiriku.


"Nek, anggrek bulannya sudah ada kuncup bunganya".


"Mama pasti suka bangeet".

__ADS_1


Aku juga senang banget. Aku mau meledek kak Luni. Bunga-bunga itu adalah hasil perawatanku.


Kak Luni akan berhenti meledekku. Dikala kak Luni sibuk aku telah merawat anggreknya sampai menghasilkan kuncup.


Merawat tanaman tidak sekedar diberi pupuk dan disiram meski sangat diperlukan tanaman untuk hidup sehat. Namun merawat tanaman juga harus dengan hati, menyayangi dan kadang menyapanya.


"Alit suasana hatimu lagi berbunga ".


Tanpa kusadari Arlo memperhatikanku.


" Aku senang lihat dua tanaman anggrek ini berbunga", kataku seraya menatapnya.


"Aku pamit yah," kata Arlo seraya melangkah ke dalam untuk pamit nenek.


Aku bergegas ke dapur dan menyelesaikan tugas rutinku. Malam itu aku santap malam cuma berdua nenek.


"Nek… Alit mengalami kejadian menyeramkan di gang menuju ke rumah".


"Ternyata di taman itu kalau malam serem banget. Padahal di pagi hari tampak asri ga ada kesan serem."


Nenek hanya tersenyum, mungkin telah tahu arah bicaraku. Nenek memang peka dengan sosok mahluk halus di taman itu. Aku pernah ke tarik berada suasana asing banget dan nenek menarikku kembali hingga aku bisa balik ke rumah lagi.


Meski akrab dengan lingkungan taman komplek tapi bukan cuma sekali aku diganggu hantu.


"Suatu kali aku dianter Arlo tapi pas sampai di gang itu, motornya mogok karena bannya kempes".


Aku berjalan kaki karena ga jauh dari rumah. Namun justru pikiranku menerawang pada sosok hantu hingga takut banget. Padahal saat sampai rumah aku melihat jam dinding dan kejadian di taman itu tidak sampai dua puluh menit tapi dalam kondisi takut seolah waktu berjalan lambat.


“Hii….hiii , bulu kuduk berdiri sampai berat bangeet … melangkah”.


“Nek, Alit sampai merinding dan ga kuat melangkah sampai melewati beringin itu. Tapi tiba-tiba tampak buah kelapa menyerupai topeng wajah berbedak putih”.


Padahal di hari yang sama pada pagi hari Alit tidak sedikitpun merasa seram dan malah tampak lucu tapi di di sore itu seolah buah kelapa itu berwujud jadi muka bertopeng.


Nenek mendengarkan ceritaku tentang pohon di taman komplek itu. Aku memang merasa lega setelah mengeluarkan unek-unek pengalaman tidak mengenakkan.


Pikirku rasa takut juga terbentuk karena pikiran galau.. Jadi seseorang takut memasuki suatu tempat berhantu bukan hanya karena area jarang dirambah manusia misalnya hutan tapi juga pikiran galau misalnya rasa takut akan menambah keangkeran hingga membuatnya terbayang hantu itu benar-benar muncul di sekitarnya.


“Waduh…..bagaimana mengusir rasa takut itu?"

__ADS_1


__ADS_2