Rahasia Alit

Rahasia Alit
Penari di Sanggar Kosong - Bagian 4


__ADS_3

Aku terus berjalan lebih dalam ke bangunan kuno istana itu. Dari pelatarannya yang luas, aku bergerak menuju ke sebuah ruangan terbuka yang mirip pendopo dengan pilar-pilar berukir. Alunan gamelan semakin jelas terdengar. Rupanya, ada seperangkat gamelan di pendopo itu. Tapi aku tidak dapat melihat jelas wajah pemainnya. Sementara, suara gamelan yang merdu itu tetap mengalun tiada henti.


Aku melanjutkan langkahku kembali ke dalam bangunan istana. Dari pendopo itu, ada sebuah koridor menuju ke ruangan di belakangnya. Ruangan itu tertutup dinding pada ketiga sisinya, sementara satu sisinya terbuka dan bersebelahan dengan koridor. Begitu masuk ke dalam ruangan, alunan gamelan berhenti secara tiba-tiba.


Di ruangan itu, tersimpan sejumlah patung dengan berbagai posisi. Ada beberapa patung penari laki-laki yang dilengkapi dengan sejata perang; keris, tombak, atau tameng. Semua patung itu berukuran sama dengan tinggi rata-rata lelaki dewasa.


Masih di ruang yang sama, aku juga melihat sekelompok patung penari perempuan. Posisi patung itu diatur sesuai dengan komposisi penari yang berjumlah delapan buah. Sementara, patung itu berada dalam posisi mendhak (berdiri merendah dengan kaki tertekuk) dan tangannya membentang ke samping. Tinggi patung-patung itu pun sama dengan rata-rata tinggi perempuan dewasa pada umumnya.


Ketika sedang serius memperhatikan patung-patung itu, suara gamelan kembali mengalun. Aku terkejut ketika melihat patung-patung itu mulai bergerak! Aku mundur ke belakang sambil tetap melihat gerakan mereka yang lemah gemulai mengikuti irama.


Delapan patung perempuan yang semula berada dalam posisi mendhak di samping koridor itu mulai bergerak satu persatu secara beriringan. Mereka menari menuju pendopo dan mengambil selendang hijau yang tertumpuk di lantai pendopo itu. Selendang itu dililitkan dipinggang mereka. Mereka pun kemudian memegang ujung selendang dan bergerak mengambil posisinya di koridor itu.


Seolah ada yang mengatur langkahku, aku pun berjalan masuk lebih ke dalam gedung istana itu. Aluman gamelan semakin sayup terdengar, hingga akhirnya aku tidak lagi dapat melihat bagian dalam di pendopo itu. Apakah alunan gamelan itu masih berlanjut? Aku tidak bisa mendengarnya lagi. Apakah semua penari masih berkumpul dan menari di sana? Aku tidak tahu lagi.

__ADS_1


Langkah kakiku terhenti di depan sebuah tempat yang sangat gelap. Ruangan itu tertutup tanpa jendela dan hanya ada satu pintu kecil menghadap koridor. Pintu itu tak berdaun, dan ukurannya terlalu kecil untuk ruangan sebesar itu. Hanya cukup untuk satu orang masuk dengan posisi miring.


Sebelum memasuki tempat itu, aku mengamati bagian luarnya terlihat kira-kira memiliki luas yang sama pendopo tadi.


"Aneh," pikirku.


Sesampainya di depan pintu, langkahku terhenti. Aku tidak bisa melihat apapun di dalamnya, selain titik cahaya redup berwarna kuning. Gelap. Ruangan itu dikelilingi tembok tertutup tanpa ventilasi, lubang angin, ataupun jendela. Begitu memasuki ruangan, kondisinya sangat pengap karena angin hanya bisa masuk melalui pintu tak berdaun itu. Lubang pintu menghadap ke koridor sehingga sinar matahari tidak dapat menerobos ke dalamnya. Napasku mulai tersengal. Di samping ketakutan berada di sana, ruangan itu juga terlalu asing dan gelap bagiku.


Aku ingin lari ke keluar, tapi kakiku terasa berat untuk melangkah. Dalam kondisi seperti ini, aku butuh konsentrasi untuk melihat sosok-sosok yang menghuni ruangan itu. Pertama, aku lihat ada delapan sosok. Pakaian mereka serba hitam. Bajunya berlengan panjang, serta celana panjang hitam dengan ikat kepala yang juga hitam. Mereka duduk bersila membentuk lingkaran dengan lampu minyak redup di tengahnya. Ternyata lampu minyak itulah yang kulihat sebagai titik kuning dari luar ruangan. Mereka tidak ada yang berbicara, hanya menunduk.


Kemudian, aku mengumpulkan kekuatan untuk melihat wajahnya. Dengan cahaya lampu minyak redup itu, aku melihat wajahnya yang seperti manusia normal. Namun, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.


Pandanganku terus menatap ke mahluk itu bergantian sesuai dengan kemampuan mataku melihat di tempat gelap ini. Bersamaan dengan itu, sosok tadi mengangkat tangan untuk kedua kalinya. Tampak lagi jari-jari tanpa daging dan kulit itu. Menurutku, itu memang merupakan sebuah kode rahasia di antara makhluk-malkhluk aneh itu. Beberapa saat setelahnya, mereka semua serempak mengangguk-anggukan kepala, seolah ada kesepakatan di antara mahluk-makhluk itu.

__ADS_1


Keringat dingin mulai mengalir. Badanku lemas dan tidak berdaya. Aku menguatkan tubuhku untuk beranjak keluar dari keadaan mencekam ini. Tapi tidak bisa. Aku hanya dapat berdiri mematung menyaksikan ulah mahluk itu selanjutnya.


Dengan perasaan tercekam, aku melihat kedelapan sosok itu mulai mengangkat tangannya. Dalam posisi tangan terangkat tinggi tampak telapak tangan dan jari-jarin mereka terbentang dan terayun kesamping seperti layaknya seseorang sedang melambaikan tangannya. Sejenak kemudian mahluk itu menurunkan tangannya dan kembali duduk diam.


Dalam suasana gelap dan hening itu, mereka selanjutnya memegang gelas berwarna gelap seperti terbuat dari tanah liat. Aku tidak tahu apakah mahluk itu membawa gelas dari awal atau memang tersedia di ruangan itu? Kemudian, tiga di antara mereka ketiga mengangkat gelas itu tinggi-tinggi ke atas seperti sedang melakukan 'toast'.


Setelah 'toast', mahluk-mahluk itu mendekatkan gelas tanah liat itu ke wajahnya. Sepertinya, makhluk-makhluk itu meminum sesuatu dari gelas itu. Aku tidak tahu pasti karena tidak bisa melihatnya dengan jelas. Aku pun juga tidak tahu cairan apa yang mereka minum?


Adegan yang dapat kulihat berikutnya adalah mahluk itu memasukkan gelas tadi ke saku bajunya. Aku hanya bisa melihat sosok pertama yang paling dekat dengan posisiku. Tapi sepertinya yang lain juga melakukan hal sama.


Aku tidak dapat menjelaskan kejadian ini, karena aku pun tidak mengerti maksudnya. Seiring dengan kejadian itu, muncul 'sebuah kenduri kematian' di benakku. Aku sangat takut. Aku tetap berusaha berlari, tapu kakiku tertahan.


Mahluk yang paling ujung dan jauh dariku mulai berdiri. Lalu, dia berbalik arah menuju tembok. Sosok itu seperti tidak mempunyai keseimbangan. Dia berjalan melayang terayun, lalu menembus dinding dan menghilang. Setelah itu, satu persatu dari mereka bangkit berdiri, dan berjalan mengikuti sosok tadi. Langkah mereka lebar dan bergoyang, seperti tertiup angin. Padahal ruangan ini dikelilingi tembok tanpa ventilasi dan nyaris kedap udara.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2