
Dalam perjalanan pulang di siang itu tiba-tiba muncul dibenakku obrolan tentang penampakan pak Kidung. Tiga orang menyaksikan penampakan pak Kidung beberapa hari setelah kabar meninggalnya pak Kidung. Tiga orang temannya didatangi arwahnya. Entah itu beneran atau halusinasi aku ga tahu.
Berbagai pertanyaan muncul dibenakku saat dibonceng motor oleh Arlo. Sesampainya di rumah tanpa kusadari langsung ngeloyor masuk ke rumah. Rupanya aku tidak menghiraukan Arlo yang masih memasukkan helm ke motornya.
"Nenek .... ". suaraku terdengar agak lantang dari luar pagar. Nenek sontak melongok kearahku. Aku melepas helm dan menyerahkan ke Arlo dan berlari kecil masuk rumah.
"Alit.... ga sabar banget" suara Arlo terdengar. Aku menoleh sejenak dan terus berlari kecil membuka pintu pagar.
"Nih aku tungguin", kataku sambil berdiri di pagar menunggu Arlo merapikan helm di motornya.
"Tumben minta ditunggui, langsung masuk yach".
"Jangan cemberut gitu", katanya sambil memberikan paperbag kecil.
"Apa ini? aku membuka sedikit untuk melihat isinya.
"Wow hp baru? Arlo tersenyum dengan ulahku".
"Buatku?
"Yach".
"Makasih.."
"Ini hadiah yang tertunda, Arlo menatapku nyengir".
Arlo menyalami dan menatapku. HP itu ga gitu bagus, lumayan buat ganti hp yang lelet.
"Tentu aku suka banget".
"Hadiah istimewa buatku". Kamipun masuk bersama.
"Nenek..." sapa Arlo.
Aku langsung menuju kulkas. Ada es kelapa muda. Aku menuangnya ke dalam gelas untuk Arlo.
"Nek... Alit dapat kado dari Arlo, nih hp baru".
Nenek tersenyum melihat ulahku.
Aku menuju dapur mencari makanan untuk santap siang. Ada ayam bakar presto dan tumis kangkung.
"Neek, kita bertiga santap siang". Aku membawa ayam bakar presto dan tumis kangkung itu ke meja makan. Arlo membantu mengambil peralatan makan.
"Nek, Alit punya cerita seru".
__ADS_1
"Simpan dulu, nanti ngobrolnya".
"Nek, masakan ini enak bangeet bumbunya sangat terasa", kata Arlo sambil menikmati santap siang.
Siang itu Arlo ikut ngobrol bareng nenek.
Alit sekarang ada teman ngobrol saat jalan pagi. Si ibu pemilik warung di dekat jalan raya itu senang banget jalan pagi.
Awalnya dia mencari rumah nenek. Si ibu mondar mandir mencari alamat, ternyata catatan alamat yang dibawanya adalah rumah ini.
"Ada keperluan apa? Nenek heran.
Nek, dia kepikiran punya hutang Rp. 200.000 pada pak Kidung. Hutang itu sudah lama dan dia teringat saat memeriksa catatan utang piutang.
"Wah hebat banget warung kecil punya catatan rapi ". Ternyata warung kecil itu membukukan pengeluaran dan pemasukannya.
Tidak menyangka si ibu sederhana itu punya potensi maju karena tertib keuangannya. Jarang warung kecil mencatat hal detil itu hingga keuntungan tidak bisa terkontrol.
Arlo terus memuji ketertiban administrasi warung kecil itu. Aku juga sependapat dengan Arlo. Jarang pedagang kecil memperhatikan catatan masuk keluar keuangan.
Karena si ibu selalu mencatat dengan tertib maka ketahuan hutangnya pada pak Kidung
"Tanpa catatan itu mungkin hutang sudah terlupakan, salut dengan perilaku si ibu" Arlo menambahkan
Neek... di pagi itu si ibu bermaksud membayar hutangnya dan mencari tempat kerja pak Kidung.
Alit dan si ibu jalan searah menuju jalan raya itu. Kebiasaan Alit jalan pelan menyusuri taman komplek sambil menikmati udara segar. Si ibu suka banget jalan pagi itu.
Rupanya si ibu baru kali pertama melakukan jalan pagi dan akan membiasakan diri setiap pagi meskipun cuma enam ratus meter pulang pergi dari warungnya ke taman komplek bolak balik.
"Alit senang banget bisa merubah kebiasaannya menyisihkan waktunya untuk jalan pagi".
Pagi tadi si ibu semangat jalan pagi pakai setelan celana panjang kaos olah raga dan wajahnya terlihat ceria.
"Neek... ada sesuatu yang aneh", kataku sambil menatap Arlo melihat reaksinya. Arlo sangat rasional dan menghindar nimbrung untuk hal mistis. Arlo diam dan melihat majalah game.
Aku mempercepat ceritaku agar bisa gantian ngobrol dengan Arlo.
Si ibu cerita tentang mimpinya bertemu pak Kidung. Mereka berdua berada di suatu tempat yang sangat asing baginya. Dia serasa di alam lain yang berbeda keadaannya dengan tempat dimana kita hidup.
Dia merasakan nyawanya keluar dari tubuh dan melayang-layang tanpa gravitasi. Dengan sekuat tenaga dia mengendalikan dirinya tanpa hasil.
Namun demikian dia dapat menyaksikan keadaan sekitarnya yaitu suatu tempat mirip pasar tempo dulu. Keadaan malam itu gelap hanya ada sedikit cahaya.
Si ibu menganggap mimpi itu adalah sebentuk pesan dari seseorang. Pesan tersirat itu belum dapat disampaikannya langsung pada orang bersangkutan.
__ADS_1
Bagi si ibu mimpi mempunyai makna penting. Karenanya dia berusaha menguak makna mimpi sampai menelisik kebelakang dan mengkaitkan dengan catatan hutangnya pada pak Kidung.
Sementara itu banyak orang beranggapan bahwa mimpi itu adalah bunga tidur. Meski kadangkala seseorang merasa seolah mimpinya adalah kenyataan
Membingungkan nek. Karena mimpi hanya dialami individu yang bermimpi. Orang lain yang tidak mengalaminya pasti punya argumen lain.
"Nenek terdiam, ga ada jawaban dan respon".
Jika menelisik kebelakang Alit pernah dengar cerita tentang pak Kidung. Ketika pak Kidung belum lama meninggal, beberapa orang bercerita bertemu sosoknya. Ada anggapan bahwa seseorang yang meninggal tidak wajar arwahnya akan gentayangan, entah sampai kapan?
Orang ramai ngobrol tentang dirinya yang meninggal tidak wajar. Pak Kidung yang meninggal karena kecelakaan dianggap tidak wajar dan gentayangan.
Alit mendengar anggapan itu dari orang dekat di sekolahan yaitu pak Enok, pemilik warung dan Eem, petugas kebersihan.
Pak Kidung akrab dengan kedua orang itu karena sering banget ketemu saat mengantar Alit ke sekolah. Pak Kidung sering pesan makanan dan kopi di warung itu.
Suatu sore ada penampakkan pak Kidung. Dia minta kopi seduh dan minum kopi tidak hanya sekali tapi minta nambah kopi seduh.
Saat itu Arlo tampak memegang majalah tapi kadang melirikku, nguping juga.
"Hii....hi, Alit merinding mengingat cerita itu".
"Jangan diingat lagi kejadian seremnya tapi ingat kebaikan hati pak Kidung aja" sontak Arlo nyletuk.
"Alit lanjut dulu ceritanya, cuma sekilas tentang arwah pak Kidung yang merasuki Eem.".
Pak Enok yakin banget bang Eem kesurupan arwah pak Kidung. Pak Enok berusaha memperagakannya sesuai dengan kejadian itu, jadi agak serem mendengarnya.
Kala itu keadaan gelap, tiba-tiba bang Eem mengatakan dengan suara dan tampak sosok berperilaku mirip pak Kidung. Dia minta dibikinin kopi seperti yang biasa kesehariannya disitu.
"Pak, tolong bikinin kopi item dong. Kayak biasa gulanya dua sendok", kata bang Eem yang diduga kerasukan pak Kidung.
Pak Enok melihat kopi yang baru setengahnya diminum, kenapa minta lagi? dia bergumam lirih.
Dia memenuhi permintaannya. Air mendidih di kompor langsung diangkat dan dituangkan ke gelas dan mengaduk kopi dan gula yang telah diraciknya. Sontak pak Enok kaget karena kopi yang masih panas baru diseduh langsung diambilnya dan diteguknya sampai habis.
"kopi bikinan pak Enok, emang enak dah, nggak ada yang ngalahin"
Pak Kidung juga minta rokok Samsu kesukaannya tapi yang ada Mild. Tiga batang rokok yang dimintanya langsung sekaligus disulut dan dihisapnya. Pak Enok memandangnya dengan keheranan.
Bang Eem yang sedang kerasukan itu mengatakan: "pak Enok, maaf ya kalo saya ada salah selama ini. Saya cuma mampir saja nih, sebentar. Kemarin kan belum sempet pamit".
"Iya, A'a Kidung, saya minta maaf kalo ada salah. A'a yang tenang, istirahat aja", kata pak Enok.
"Saya pamit yah. Salam buat Eem. maaf nih, jadi ngrepotin".
__ADS_1
Bang Eem tersadar dan bertanya "ada apa yah, kayaknya saya ketiduran ya, pak Enok? tanyanya.
Pak Enok diam dan menatapnya.