Rahasia Alit

Rahasia Alit
Pelet Cinta Tertukar - Bagian 3


__ADS_3

Eyang adalah seorang ibu. Dia berusaha menggapai mimpi terbaiknya. Lega jika semua mentas. Menikahkan anaknya berarti telah melepas tanggung jawabnya. Dari tiga bersaudara hanya om Dwi seorang yang masih jomblo. Keinginan menjodohkan sudah lama dinanti. Dia ingin seorang menantu yang mengurus anaknya.


Kini perjodohan kerap ditentang tapi juga tidak lekang oleh waktu. Banyak orang berusaha menempuh jalan pintas menuju pernikahan. Mungkin dianggap cocok bagi seseorang yang telah beberapa kali putus pacaran. Atau jomblo pada usia yang menurut ukuran umum seharusnya telah menikah.


Cantik itu relatif. Eyang tidak menilik seseorang karena parasnya. Dia pilih wanita calon menantunya pintar mengurus rumah tangganya. Tidak dipungkiri bahwa seseorang kagum karena paras cantik. Tapi perjodohan juga menyoal cinta. Banyak orang berkenalan dan dalam waktu singkat memutuskan menikah. Bisa jadi seseorang jatuh cinta dalam pandangan pertama..


Menyoal cinta maka perjodohan kerap tidak masuk akal. Sementara orang berpikir, mana mungkin cinta tumbuh dalam waktu sangat singkat dan dipaksakan. Bahkan banyak orang beranggapan bahwa perjodohan menjadikan seseorang kehilangan kendali atas diri sendiri. Dia mengikuti kemauan orang lain, mengiyakan seseorang yang tidak dikenal hadir dalam hidupnya.


Arlo dan kak Luni yang terus protes sejak munculnya ide om Iyan untuk menjodohkan om Dwi. Obrolan berkisar hal itu tiada habisnya. Siang hari itu cuaca panas dalam perjalanan pulang sekolah. Aku membayangkan jus jeruk yang ada di kulkas. Sampai rumah aku bergegas masuk dan menaruh tasku dan mengambil minuman di kulkas dan membawa jus jeruk buat Arlo dan aku untuk teman ngobrol.


Aku tahu ngejodohin memang banyak dilakukan orang. Tapi hal serius itu seharusnya tidak buru-buru sampai mengabaikan perasaan om Dwi. Sementara eyang ingin buru-buru menjajaki keluarga cewek itu.


Jika kejadian itu menerpamu truus…. kamu setuju? “cuekin aja, aku ga mau dijodoh-jodohin.


Arlo membayangkan perjalanan hidupnya yang harus ditempuh masih terlampau jauh, SMA belum lulus, belum lagi mahasiswa dan truus cari kerja dulu baru menikah.


"Aku akan menunggumu, aku juga punya banyak keinginan sebisanya akan kuwujudkan dan itu juga perlu waktu panjang”.


Arlo tampak serius. "bener yach".


"Suer ...", kataku seraya tersenyum.

__ADS_1


"Alit.... kamu tampaknya ga serius nih".


"Yuk ... salaman deh, kupegang tangannya dan bersalaman, aku serius nih".


"Papa dan mama memberi kebebasan pada anak-anaknya, mana mungkin mereka sekolot itu, kataku menepis keraguannya".


Perjodohan itu adalah kehendak eyang. Dia menganggap om Dwi cepat menikah dengan perawat itu agar perilakunya berubah. Dia kecewa tapi dipendamnya. Dia sangat sayang pada om Dwi hingga selalu menetralisir perasaannya dan mencari alasan pembenar atas ulah buruk.


Suatu kali aku mendengar mama ngedumel tentang ulah om Dwi yang berhari-hari ga pulang tanpa kabar. Eyang merespon dengan sabar dan mengatakan, bila Dwi ga pulang mungkin bertemu relasinya dan ngomongin pekerjaan.


Papa dan mama memaklumi eyang kekeuh untuk menjodohkan om Dwi. Mama dalam hatinya menganggap keliru bila perjodohan itu akan spontan merubah perilaku buruk menjadi lebih baik. Berbeda dengan eyang. Beban tanggung jawab pada isteri akan merubah perilakunya. Meski mama tidak suka perjodohan sebagai solusi efektif untuk merubah perilaku tapi tidak menentangnya.


Di hari Sabtu itu om Iyan diperbolehkan pulang. Papa dan mama menjemput om Iyan dari rumah sakit. Tante Ed sedang mengurus administratif rawat inap. Sebelum keluar rumah sakit harus


"Alit..... “terdengar tante Ed memanggil.. Alit ingin bertemu suster Ernie, kataku lirih. Tante Ed menaruh telunjuknya di bibirnya yang terkatup. Aku terdiam, merespon tante Ed. Mengenal lebih dalam suster Ernie dilakukan diam diam tanpa setahu rekan kerjanya. Bila rekan kerjanya tahu mungkin akan menjadi gosip liar. Dia tidak nyaman melakukan tugas kesehariannya.


Aku dan tante Ed balik ke ruang rawat untuk packing barang bawaan. Kami ke parkiran untuk mengantar om Iyan ke rumahnya. Tante Ed mendengar kabar selentingan bila suster Ernie sedang mengikuti ujian sekolah kebidanan. Hari ini suster Ernie tidak masuk dan digantikan rekannya.


Rencana perjodohan yang hanya melihat satu sisi dari pihak om Dwi. Mereka tidak mikir bila gagal karena suster Ernie menolak dengan alasan pribadinya. Aku ngedumel dalam hati. Di era moderen seperti ini masih ada perjodohan. Ide gila banget, seseorang bisa diatur sesuka hatinya. Arlo, kak Luni dan aku tidak suka dengan perjodohan ini.. Papa juga pasti dalam hatinya juga sama dengan kami tapi papa bersikap bijak. Papa tidak keberatan bertandang ke rumah suster Ernie. .


Siang itu, kami mampir ke rumah eyang. Tampak eyang sedang berada di teras dan sontak berdiri mendengar suara mobil papa. Wajahnya tampak sumringah. Kami menyalami eyang. Kami hanya mampir sejenak ke rumah eyang. Setelah itu mengantar om Iyan ke rumahnya. Sampai di rumah aku melihat dua motor terparkir di halaman. Itu pasti motor Arlo dan Aciel. Sejenak perjodohan itu terlupakan. Kami larut dalam suara gitar yang dipetik Arlo. Selingan candaan Aciel yang menyegarkan suasana di sore itu. Jam menunjukkan pukul lima.

__ADS_1


Aku bergegas ke kebun kecilku untuk menyiram tanaman. "Wow… . anggrek bulan ini sudah ada kuncupnya". Aku mengambil sprayer agar di bagian bunganya ga rusak. Perlu ekstra hati-hati. Akhirnya anggrek ini berbunga. Hampir setahun aku menanti bunga ini.


" Alit… .. ngomong sama tanaman? Aciel berceloteh. Tanaman harus di perlakukan dengan baik. Diajak ngobrol layaknya mahluk hidup.


"Wah… … aneh". Berempati sama semua mahluk hidup. dengan mengajak tanaman. Memang tanaman bisa merespon? Tanaman bisa meresponnya. Dia akan tumbuh dengan subur trus berbunga. Arlo memberikan gitarnya pada Aciel dan menghampiriku.


" cie… . cie segitunya ya, padahal aku cuma bercanda". Arlo menoleh dengan muka agak sewot.


Kak Luni ikut nimbrung membawa dua gelas es kelapa untuk Arlo da Aciel.


"Kak… . aku mandi dulu. Bajuku basah habis nyiram. Sore itu kak Luni mengajak kami menonton film di bioskop. "Yuk kita nonton mumpung masih keburu sekarang". Kamipun pergi bersama-sama.


“Tumben nih,.... kak Luni traktir? Ya…. aku punya kelebihan uang jajan. Tiba-tiba papa keluar dan nimbrung duduk bersama kami.


"Kalian mau nonton? Wah….. papa denger rencana kami". Sontak mengeluarkan dompet dan memberi uang pada kak Luni.


"Nih…… .buat beli tiket dan makan".


"Asyiik…..". kataku.


"Makasih ….pa". Kataku dan kak Luni hampir serempak. Papa tersenyum.

__ADS_1


" kami pamit pa". Kamipun masuk untuk pamit nenek dan mama.


Hari itu kami berempat nonton sampai sembilan lewat sampai rumah.


__ADS_2