
Sebuah lukisan bisa dinilai dari berbagai macam aspek, tergantung pada subjektivitas masing-masing penikmatnya. Sebagian orang, bahkan ada yang bisa melihat siai mistis dari sebuah lukisan. Sehingga, ada yang menempatkan lukisan pada tempat tertentu agar bisa mengusir aura negatif yang membawa musibah seperti penyakit ataupun kesialan lainnya. Benda-benda, termasuk lukisan, yang dianggap bertuah dikenal sebagai tolak bala. Yah, kurang lebih itulah yang dikisahkan oleh nenek kepadaku.
Di rumah nenek sendiri ada beberapa lukisan yang tergantung di dinding rumah. Dari beberapa lukisan yang ada, dua di antaranya menarik mata Arlo. Yang satu adalah lukisan kuno milik nenek dari zaman dulu, sedangkan yang satu adalah lukisan iseng yang aku buat beberapa waktu lalu.
"Pasti Alit yang membuat lukisan itu, ya?" Arlo bertanya.
"Lukisan yang mana? Ngarang! Asal tebak aja kamu," jawabku.
"Pasti benar tebakanku! Lukisan gambar kucing dan wajah gadis itu, lho, yang ada di ruang keluarga. Gambar dua sisi yang bisa digantung bolak balik," kata Arlo.
"Benar, kok tahu sih? Padahal aku kan ngga pernah cerita. Itu hanya lukisan iseng yang aku buat waktu itu," kataku.
"Sesuai dengan karakter Alit yang misterius. Makanya aku bisa dengan mudah menebaknya," jawab Arlo sambil tertawa.
Setelah mendapatkan jawaban, Arlo pun melanjutkan pertanyaannya tentang lukisan kuno milik nenek. Lukisan itu memang punya kisah tersendiri. Mata Arlo memang bagus, aku mengakuinya. Dia bisa tahu lukisan yang punya cerita. Aku pun memberitahu tentang latar belakang lukisan itu kepadanya.
Menurut nenek, ada cerita unik yang melekat pada lukisan itu. Tentunya berkaitan dengan karakter pelukisnya. Lukisan itu sudah lama sekali tergantung di sana. Jiia lukisan itu dipindahkan, enek selalu berpesan agar lukisan itu dipajang pada tempat seperti semula, yaitu di ruang tamu. Setiap kali rumah nenek hendak dicat, dia selalu berkata kepada orang yang akan mengecatnya agar tidak memindahkan lukisan itu. Sepertinya, lukisan itu memang punya arti penting bagi nenek.
***
Lukisan tersebut nenek dapatkan langsung dari pelukisnya. Suatu hari, dia sedang berkunjung ke sebuah galeri lukisan milik Mbah Suparno, seorang pelukis yang cukup tersohor namanya di antara para pengagum seni.
Galerinya bisa dibilang kecil. Ruangannya hanya sekitar 3x4 meter, menyatu dengan tempat tinggal sang pelukis. Tapi, tempat ini hampir tidak pernah sepi pengunjung.
__ADS_1
Banyak lukisan yang dipajang rapi berjejer di dindingnya, baik di dalam maupun area luar galeri. Sebagian lukisan itu sudah dibingkai, tapi sebagian lainnya ada yang masih berupa gulungan kertas, ada pula kanvas yang dibiarkan dipajangbtanpa bingkai. Lukisan-lukisan Mbah Suparno merupakan gambar realis. Ada yang menggambarkan kerbau dan pembajak, kereta barang, pemandangan sawah, dan lain sebagainya.
Galeri itu dijaga oleh seorang pemuda yang dengan ramah melayani pertanyaan-pertanyaan para tamu. Di tengah kesibukannya melayani tamu galeri, pemuda itu mendekati nenek secara tiba-tiba. Setelah berkenalan, rupanya pemuda itu adalah anak dari sang pelukis.
"Bu, bapak sedang tidur, jadi belum bisa menemui Ibu," katanya.
Nenek pun terheran-heran mendengarnya. Dia merasa tidak ienal mereka, baik dengan pemuda penjaga galeri itu, maupun dengan Mbah Suparno pemilik galeri.
"Ada beberapa lukisan yang memang tidak dipajang, Bu, karena bapak harus bertemu langsung dengan pembelinya," lanjutnya.
"Oh, saya lihat-lihat lukisan yang sudah dipajang aja, dik," kata nenek.
Tiba-tiba, seseorang laki-laki tua keluar dari ruangan dalam sambil membawa lukisan yang belum dibingkai, masih dalam bentuk gulungan besar. Ternyata, dia adalah Mbah Suparno, pelukis dan pemilik galeri.
"Lukisan ini harus dibeli semuanya, dan tidak sembarang orang boleh memilikinya. Saya tidak akan pasang harga mahal, Mbak bisa membelinya dengan harga sukarela," kata Mbah Suparno sambil tersenyum dan membentangkan ketiga lukisan itu di lantai.
Begitu lukisannya terbentang di lantai, para pengunjung langsung menghampiri untuk melihat ketiga lukisan itu dengan lebih dekat. Tiga orang di antaranya hampir serempak langsung menawar dan ingin membelinya. Ada juga yang menawar dengan harga lumayan tinggi! Nenek sampai kaget mendengar tawaran angka yang fantastis itu. Tapi Mbah Suparno hanya tersenyum mendengar mereka. Tiba-tiba pelukis itu menoleh kearah nenek.
"Mbak, ini lukisannya," katanya sambil memberikannya kepada nenek.
"Maaf Pak, Bu, masih ada lukisan lain," kata Mbah Suparno kepada para pengunjung yang tadi mau membeli lukisan itu sambil mengarahkan mereka ke lukisan lainnya.
Nenek pun mengeluarkan uang untuk membeli tiga lukisan itu, dan memberikannya kepada anak Mbah Suparno. Dengan perasaan senang bercampur janggal, nenek berterima kasih dan pamit pulang kepada Mbah Suparno dan anaknya.
__ADS_1
Ketiga lukisan itu merupakam gambar yang sama, tapi tidak 100% mirip. Sajar saja, gambar ini buatan tangan. Jadi, semuanya pasti unik meskipun gambarnya sama.
Mendengar pelukisnya langsung yang menawarkan, nenek pun menganggap lukisan itu jadi penting baginya. Nenek sangat menghargai Mbah Suparno karena dia mempercayai nenek untuk merawat karyanya.
Nenek pun kemudian memberikan dua lukisan lainnya kepada dua orang teman dekatnya. Sedangkan satu lukisan lagi, dibawanya pulang, lalu langsung dibingkai dan digantung di ruangan tamu, sesuai dengan pesan pelukisnya. Sejak itulah, lukisan itu terpajang di sana hingga saat ini.
Menurut seorang teman nenek, lukisan itu bisa mengusir aura negatif. Oleh karena itulah, lukisan itu harus digantung di ruang tamu agar bisa menjadi penolak bala.
Beberapa tahun setelahnya, teman nenek yang diberi satu lukisannya menceritakan pengalaman anehnya. Dia tidak meletakkan lukisan itu di tempat yang telah dipesankan kepadanya.
"Aku kan menggantung lukisan itu di kamar. Di suatu malam, aku sedang tidur. Tiba-tiba ada semacam asap hitam yang membentuk sosok beruang keluar dari tubuhku melalui pundak, lalu menghilang," katanya menceritakan kisah tersebut sambil bergidik ngeri.
***
Mendengar ceritaku, Arlo hanya senyum-senyum saja. Entah dia percaya atau tidak, yang penting dia terlihat makin semangat memperhatikan lukisan indah yang dibuat oleh Mbah Suparno itu.
"Lukisan Alit ngga kalah bagus, ah, dengan buatan pelukis beneran," kata Arlo.
Aku yang merasa malu dan tidak terbiasa dipuji pun bingung harus merespons apa.
"Ah bisa aja kamu. Bagusan punya Mbah Suparno ke mana-mana dong! Udah ah, makan yuk, laper," jawabku dengan cepat.
Setelah puas memandangi lukisan Mbah Suparno yang sangat bernilai itu, kami menutup hari dengan makan sore bersama nenek. Saat sedang menyantap makanan, tentu saja topik pembicaraannya tidak lepas dari Mbah Suparno. Rupanya, Arlo benar-benar mengagumi lukisan itu.
__ADS_1