Rahasia Alit

Rahasia Alit
Kiko - Bagian 2


__ADS_3

"Kiko masih ada di kursi goyang itu..." kataku dalam hati begitu melihat Kiko dari balik pagar rumah Naya.


Beberapa minggu ini, hampir setiap hari aku mampir ke rumah Naya sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Namun, pagi ini adalah hari ke tiga aku tidak jumpa dengan anak itu. Naya pernah cerita, Naya diajak ibunya pergi liburan bersama teman-teman kantornya. Mungkin dia sedang liburan saat ini.


Sudah tiga hari ini pula, hanya Kiko, boneka kesayangan Naya, yang aku temui. Dan dugaanku benar, dia ternyata hidup! Aku bisa berkomunikasi dengan Kiko layaknya dengan anak kecil lain. Terdengar aneh dan gila, memang, tapi itulah kejadian nyata yang kualami.


Aku mengendap-endap masuk ke dalam rumah Naya yang sedang kosong itu dan melewati boneka Kiko yang sedang terduduk di kursi goyang. Di halaman belakang, aku melihat 'arwah' Kiko yang berbentuk anak kecil sedang bermain lompat-lompatan seorang diri.


"Hai, Kiko. Kamu di sini terus?" Tanyaku.


"Ini memang rumahku, Kak. Aku selalu di sini," jawabnya. "Tapi semua berubah setelah ada api besar itu..."


Api besar...? Aku tidak mengerti maksudnya.


"Api besar apa?" Aku bertanya kembali.


"Waktu itu Kak Badut nangis kencang, seperti anak kecil. Tapi aku tidak tahu alasan dia menangis," Kiko tidak menjawab pertanyaanku.


"Sejak saat itu, aku tidak ingat semuanya. Aku tidak tahu namaku, tidak tahu nama kakakku. Aku hanya tahu, Naya memanggilku Kiko, dan memanggil kakakku sebagai Om Badut," lanjutnya.


Aku mendengarkan cerita Kiko dengan seksama. Menurut ceritanya, saat pertama kali bertemu kembali dengan Om Badut lagi setelah peristiwa api besar itu, Kiko pikir kalau Om Badut sedang mencarinya.


"Aku mendekati Kak Badut, aku pegang tangannya. Tapi dia hanya diam, aku tidak digubrisnya. Aku kaget ketika wajahnya berubah menjadi seram. Tidak ramah dan ceria lagi seperti Kak Badut yang aku kenal," ucapnya.


Kiko juga bilang, Om Badut memang terlihat tidak suka Naya sejak awal. Dia sering menakut-nakuti Naya, dan bahkan tertawa-tawa ketika Naya sedang meringkuk ketakutan. Tapi di sisi lain, Kiko juga pernah melihat Om Badut duduk di kursi goyang sambil menangis dan memanggil nama seseorang.

__ADS_1


"Aku merasa familiar dengan nama yang diucap Kak Badut saat dia sedang menangis. Tapi aku tidak ingat, siapa dia," kata Kiko.


Naya seringkali ketakutan melihat Om Badut. Dan dia memeluk boneka Kiko dengan erat. Sehingga, aku bisa merasakan ketakutan yang dialami Naya. Kejadian itu terus berulang. Sampai Kiko merasa bingung akan tingkah jahat yang dilakukan oleh kakaknya tersebut.


"Oh ya, Kakak harus ke sekolah kan? Kiko mau main lompat-lompat lagi," katanya.


Aku melihat jam tanganku, dan jam pelajaran pertama hampir dimulai. Kemudian, aku pun pamit dan bergegas ke sekolah.


***


Sepulang sekolah, aku tidak mampir ke rumah Naya. Aku mau mengatur strategi untuk menghentikan perlakuan Om Badut yang menyeramkan untuk Naya.


Sejujurnya, aku merasa kasihan pada keduanya, baik Naya maupun Om Badut. Mereka punya masalah batin yang cukup rumit. Pertama-tama, aku ingin cari tahu tentang api besar yang disebut oleh Kiko. Dugaanku, mungkinkah pernah terjadi kebakaran di rumah Naya? Apakah Kiko tewas di rumah itu bersama anak-anak kecil yang arwahnya sering bermain dengannya? Aku belum tahu jawabannya.


Sambil memikirkan cara agar Naya bisa terbebas dari rasa takutnya, aku berniat untuk menceritakan hal ini kepada nenek. Terlebih lagi tentang hantu Kiko. Nenek harus tahu soal ini. Sudah berhari-hari aku memendam segala cerita soal Naya dan Kiko. Kini, tidak lagi bisa kutahan. Aku harus membereskan pikiran kusutku ini dengan bantuan nenek.


"Nek, Alit mau cerita banyak..." kataku begitu sampai di rumah dan melihat nenek yang sedang duduk di ruang tengah. Tanpa ganti baju, tanpa meletakkan tas, aku langsung menghampiri dan duduk di sebelahnya.


"Cerita aja, nenek dengerin," katanya sambil tersenyum.


Aku pun mulai menceritakan segala hal tentang Naya. Mulai dari hari pertama aku bertemu dengannya, begitu pula dengan arwah anak kecil yang merasuki boneka kesayangan Naya, yaitu Kiko.


Aku juga mengungkapkan rasa ibaku kepada Naya yang selalu menghabiskan waktu seorang diri setiap harinya. Memang, ada Yayuk, tetangga Naya yang sehari-hari mengurus rumahnya. Tapi, Yayuk juga sibuk mengurus keluarganya sendiri. Sehingga, setelah pekerjaan beres-beres rumah dan memasak selesai, Naya kembali ditinggal sendirian karena Yayuk harus pulang ke rumahnya.


Perlakuan Om Badut juga tidak luput dari ceritaku. Seorang pria berbadan besar yang selalu datang ketika Naya sedang sendirian di rumah, seolah tahu jadwal para penghuni rumah Naya. Terdengar mengerikan memang.

__ADS_1


Aku juga bercerita kepada nenek perihal Naya yang menangis kencang suatu malam. Dia tidak bisa berhenti menangis, sehingga mengakibatkan mamanya marah besar. Kala itu ketika aku tanya, Naya tidak tahu alasannya menangis. Dia hanya menangis begitu saja, menangis, menangis, dan menangis lagi. Tapi menurutku, dia menangis akibat rasa kesal dan takut yang sudah lama terpendam. Bahkan, ibunya sendiri pun tidak tahu tentang perilaku Om Badut yang selalu menakut-nakutinya. Tidak terbayang rasanya menjadi anak kecil yang hidup dalam ketakutan seperti itu!


Nenek hanya terdiam dan serius menyimak ceritaku. Tidak terasa, waktu sudah sore. Sudah dua jam aku bicara pada nenek tanpa henti. Aku pun mengajak nenek untuk beristirahat dan melanjutkan ceritaku di kamar nenek.


***


Aku sedikit lega setelah menceritakan semuanya kepada nenek. Meskipun masih banyak pertanyaan tanpa jawaban yang mengganjal pikiranku, setidaknya segala unek-unek sudah keluar!


Keesokan paginya, aku pun kembali mampir ke rumah Naya sebelum masuk sekolah. Kali ini, langkahku lebih ringan rasanya. Sesampainya di depan gang rumahnya, aku melihat Naya yang sedang baru hendak masuk menuju ke rumahnya.


"Pasti dia habis mengantar ibunya ke halte," pikirku.


Aku pun berlari mengejar dan memanggilnya.


"Eh Kakak! Naya baru pulang Kak, habis jalan-jalan sama mama," kata Naya.


"Wah Kakak kangen deh sama Naya!" Kataku sambil memeluknya.


"Sini ayo, masuk, Kak," ucapnya.


Aku menggelar tikar bambu di teras untuk aku, Naya, dan juga Kiko. Kami duduk bersama pagi itu, dan Naya pun cerita banyak tentang pengalaman liburan bersama mamanya itu dengan antusias. Entah kenapa, pagi ini terasa sangat cerah. Aku senang bertemu Naya, sama seperti hari-hari sebelumnya. Tapi pagi ini berbeda. Aku merasa optimis bisa menghapus ketakutan Naya.


Semoga feeling-ku benar...


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2