Rahasia Alit

Rahasia Alit
Kiko - Bagian 3


__ADS_3

Bel jam pelajaran terakhir sudah berbunyi, tanda kegiatan belajar mengajar telah selesai. Ara dan Monet belum beranjak dari duduknya. Mereka masih asyik ngobrol dengan teman-teman kelasku yang lain. Sedangkan, aku langsung beranjak keluar kelas secara mengendap-endap. Kemudian, akh berjalan cepat menuju rumah Naya.


Sesampainya di depan gerbang sekolah, aku melihat sedang ada kenduri di dekat rumah Naya. Tadi pagi, memang aku melihat ada tenda yang sudah terpasang. Jadi, meungkin kenduri akan diadakan pada sore harinya. Menurut celotehan anak-anak yang tinggal di sekitar situ, aku mendengar siang ini akan ada musik untuk berjoget bebas sebelum tamu undangan berdatangan di sore hari. Dari jalanan, tampak tenda itu menghadap ke arah gang yang ada di sebelah rumah Naya.


Siang itu, lagu dangdut terdengar dari rumah Naya. Aku melongok ke dalam dan tampak Naya sedang bermain. Aku bisa melihat dari kejauhan, mimik wajahnya seperti sedang bicara dengan Kiko. Entah apa yang dibicarakan dua bocah kecil itu. Kadang aku penasaran juga, ingin mendengarkan obrolan mereka. Omongan anak-anak memang cukup menarik untuk disimak. Supaya orang dewasa, atau remaja seperti aku, tetap bisa meenyelami pikiran anak-anak. Aku jadi melamun dan merasa kaget saat Naya keluar pagar.


"Kakak, kok bengong aja, ayo masuk," kata Naya sambil tersenyum ceria.


Naya menarik tanganku dan berjalan menuju ke teras belakang rumah. Rupanya, Naya ingin menunjukkan tanaman anggrek bulan yang baru dibeli oleh mamanya. Anggrek itu diletakkan di rak yang menempel pada dinding luar dapur. Aku merasa sudah familiar dengan tempat ini, karena pernah menjadi tempat bersembunyi dengan jantung berdegup keras saat menyaksikan Om Badut beratraksi.


Selagi mengamati pesona anggrek bulan itu, tiba-tiba terdengar derit pintu pagar yang dibuka oleh seseorang. Aku buru-buru bersembunyi di bawah rak anggrek itu. Aku bisa menebak, itu mungkin Om Badut.


"Kak, ada Om Badut..." Kata Naya dengan suara lirih dan ketakutan.


Aku terdiam, berusaha untuk tidak menimbulkan suara.


"Naya, sini masuk," Aku mendengar suara berat dari seorang lelaki dewasa.


Seakan sudah hafal dengan perintah itu, Naya segera menuruti perkataan Om Badut. Dengan langkah pelan, kepala tertunduk, dan kedua tangan kecilnya mengatup kencang, ia berjalan menuju ke dapur.


***


Sementara itu, suara dangdut terdengar cukup keras dari arah luar. Saat itu, yang terputar adalah lagu lawas dengan syair jenaka: "Pak Ketipak Tipung". Aku jadi ingat masa kecil, ketika berjoget dengan iringan lagu itu. Sekarang pun, aku punya rasa ingin berjoget ketika mendengarnya, tapi tentu aku malu karena merasa sudah besar. Sejenak, aku lupa akan misiku untuk melihat tingkah Om Badut.


Kali ini, aku sudah menyiapkan smartphone untuk merekam tingkah laku Om Badut untuk dijadikan barang bukti. Ya, aku berniat untuk berkenalan dengan mama Naya, dan mengadukan tingkah laku Om Badut yang selalu membuat Naya ketakutan sepanjang hari.

__ADS_1


Lagu lawas itu diputar tidak hanya sekali. Mungkin anak-anak dan warga sekitar senang dengan lagunya. Aku pun terlena sejenak dan tiba-tiba terhentak karena teringat Om Badut.


***


Aku pun mulai mengeluarkan handphone ku, dan membuka aplikasi video. Heran, kenapa tidak terdengar suara 'tek...tek...tek', yaitu ketukan kaca jendela dapur yang menandakan atraksi Om Badut dimulai? Secara perlahan, aku merangkak keluar dari tempat bersembunyi untuk melihat ke ruang tengah yang tembus sampai ke depan.


Ternyata, kali ini aku melihat ada pemandangan yang memilukan. Lelaki itu duduk bersimpuh dan menangis sejadinya. Tangisan itu dikalahkan oleh suara musik yang cukup keras, sehingga suara tangis itu tidak terdengar.


Aku melihat samar-samar sosok bocah kecil perempuan seumuran Naya. Itu pasti Kiko. Aku pun menutup mulutku, hampir saja aku teriak memanggil namanya. Kiko tampak berdiri di belakang Om Badut, dan memeluk serta menempelkan wajahnya ke punggung Om Badut. Tidak ada reaksi sebaliknya dari lelaki itu. Mungkin Om Badut tidak bisa lihat Kiko. Oleh karena itulah Kiko menganggap Om Badut berubah menjadi cuek.


Aku bergerak maju agar bisa lebih jelas melihat halapa yang akan dilakukan Om Badut selanjutnya.


"Naya..." kata Om Badut. Suara laki-laki itu terdengar melemah berbeda dengan suara biasanya yang garang. Dia melambaikan tangannya agar Naya mendekat.


Naya keluar dari dapur dan berjalan perlahan mendekatinya. Pada jarak yang dekat, lelaki itu menarik tangan kecil dan didekapnya.


Naya tampak bengong atas kejadian yang mungkin tidak terduga. Naya diam saja ketika di peluknya.


Sementara, Kiko berangsur melepaskan pelukannya dari punggung Om Badut. Kiko kembali ke dapur, ke tempat tubuh boneka itu bersandar di dinding dapur dalam posisi duduk di lantai.


Om Badut menyeka air matanya.


"Naya, kamu penganti adikku, Lila. Panggil aku kakak, ya," kata Om Badut.


Naya diam dan memandang wajahnya. Aku menyaksikan kejadian itu sambil bertanya sendiri. Naya pasti mengalami pergulatan batin, karena selama ini telah di takut-takuti dan ditindas. Aku menduga, sifat pendiam Naya karena ulahnya.

__ADS_1


Lelaki yang dipanggil Om Badut itu melepaskan dekapannya pada Naya. Dia berdiri dan keluar dari rumah itu. Aku diam sesaat dan beranjak dari tempatku untuk menghampiri Naya. Aku memeluknya. Naya masih menunjukkan rasa takut di wajahnya. Bocah sekecil itu mengalami beban dahsyat seorang diri. Dia menyimpan ketakutannya itu sendiri dan selama ini dirahasiakan dari mamanya. Aku dan Naya menangis tanpa suara. Air mata kami menetes ke pipi.


Aku berdiri menuju ke dapur, menemui Kiko. Samar-samar tampak Kiko sedang duduk menghadap dinding dengan satu tangannya menopang kepala yang L menempel ke dinding dapur.


"Kiko...Lila itu siapa?" Tanyaku.


"Aku familiar, tapi aku ga tahu kak," kata Kiko sambil terlihat masih bersedih.


"Kakak cuekin aku," lanjutnya.


Om Badut memang tidak merespon saat Kiko memeluk punggungnya. Mungkin itu yang dimaksud cuek.


"Naya main berdua Kiko, kakak pulang dulu ya," kataku.


Aku berdiri dan melangkahkan kakiku keluar rumah itu. Sementara lagu 'Pak Ketipang Ketipung' masih terus terdengar. Mungkin para remaja memanfaatkan momen kosong ini untuk bersuka ria sebelum para tamu undangan kenduri itu berdatangan di sore hari. Aku berjalan sampai ke halte, dan tampak Arlo sedang duduk di motornya.


"Sudah lama?" tanyaku.


"Paling 5 menit. Yuk naik," jawabnya.


Kami berdua pun menuju ke rumah nenek.


***


"Neek....', aku memanggilnya dari pelataran rumah.

__ADS_1


"Alit hari ini ceria banget," kata Arlo.


"Hari ini masalah Om Badut kelar!" Jawabku sambil menyeringai. "Yuk ke dalem, aku ceritain sambil makan bareng nenek."


__ADS_2