Rahasia Alit

Rahasia Alit
Naya - Bagian 1


__ADS_3

"Masih jam 5.45," kataku sambil melihat jam di dinding.


Hari ini, aku bangun terlalu pagi. Baru jam segini, aku sudah selesai mandi dan sarapan. Aku pun memutuskan untuk langsung berangkat dan menikmati segarnya udara pagi di taman.


"Alit berangkat ke sekolah yaa," aku pamit kepada papa, mama, nenek, dan Kak Luni.


"Tumben, pagi amat," kata Kak Luni.


"Iya nih, mumpung, kapan lagi," balasku sambil melambaikan tangan.


Aku pun berjalan santai sambil menghirup udara segar yang belum terkena polusi. Aku duduk di halte sambil menunggu angkutan umum yang tak kunjung datang. Beberapa saat kemudian, tampak Arlo yang sedang mengendarai motornya.


"Eh Alit, udah di sini? Baru mau jemput ke rumah. Bareng yuk, aku anter ke sekolah," kata Arlo.


"Iya, tadi bangun kepagian hehe. Untung aku belum naik angkot," ucapku sambil naik di motornya.


Sesampainya di sekolah, waktu masih menunjukkan pukul 6.10. Berhubung masih terlalu pagi, aku pun mampir dulu ke warung dekat sekolah tempatku biasa kumpul bersama teman-teman.


Di warung itu, aku bertemu seorang anak perempuan yang berusia sekitar tiga atau empat tahunan. Dia sangat cantik, imut sekali. Aku membayangkan betapa menyenangkannya jika punya adik, pasti aku akan sangat memanjakannya.


Aku memang agak kesepian karena Kak Luni sering sibuk dengan teman-temannya. Ketika di rumah pun, Kak Luni kadang memperlakukanku seperti anak kecil. Aku kerap disuruhnya ke sana ke mari seenaknya. Jengkel, memang. Tapi aku tetap menurut dan sulit rasanya untuk membantah.


"Kakak kok bengong?" Tiba-tiba terdengar suara bocah perempuan itu. "Kata mama, tidak boleh kelamaan kalau bengong. Apa kakak lagi bengong? Kenapa bengong?"


Kata-kata anak perempuan itu mengagetkanku. Aku sedang memikirkan jawaban yang tepat buatnya. Pertanyaan itu ternyata sulit dijawab. Padahal, terlontar dari seorang bocah sekecil itu. Aku pun berjongkok agar dapat bertatapan wajah dengan gadis cilik itu.


"Siapa namamu?" Tanyaku.


"Naya, Kak. Aku tinggal dekat sini," jawabnya.


Aku tidak menjawabnya lagi. Terlalu terpana dengan wajahnya yang lucu dan menggemaskan.


"Kakak diam saja, bengong lagi ya?" Katanya dengan nada dan suara yang tak kalah imut dengan wajahnya.


"Kakak diam karena memandang wajah kamu, lucu banget!" Kataku sambil menyubit pipinya dengan perlahan. "Naya anak yang pintar, ya."


"Naya sering sendirian di rumah. Rumahku sepi, Kak. Kakak mau main ke rumahku?" Kata Naya.


"Wah, mau. Yuk," ujarku.

__ADS_1


Naya menggandeng dan menuntunku menuju ke rumahnya. Ternyata, rumah Naya sangat dekat dengan sekolah. Paling lama, hanya sekitar tiga menit jalan kaki dari sekolahku.


"Ini rumahku, Kak," kata Naya sambil menunjuk rumah mungil berpagar cokelat di depannya.


"Bener katamu, Naya. Deket banget rumahnya," ucapku.


"Iya. Sekarang Kakak kan sudah tahu rumahku, main-main, ya Kak. Mama kerja, sore baru pulang," katanya.


"Siap, Naya. Sekarang kakak balik dulu ke sekolah ya, lain kali main ke rumahmu," jawabku.


Aku pun berpamitan dengan Naya dan bergegas balik ke sekolah. Aku ingin segera ke kelas untuk meletakkan tas di mejaku. Jam pelajaran pertama akan dimulai setengah jam lagi. Beruntung pagi ini aku berangkat bersama Arlo, sehingga punya banyak waktu di sekolah.


Pagi ini terasa sangat menyenangkan bisa kenalan dan mengobrol dengan Naya. Aku serasa punya adik yang butuh perhatian dari kakaknya. Sungguh sebuah pengalaman yang menarik. Aku serasa menjadi kakak jika bersama Naya. Aku jadi terpikir untuk mengenalkan Naya kepada Arlo.


"Arlo, aku hari ini ketemu. Kamu bisa ke sekolahku sekitar jam 13.00?" Tanyaku kepada Arlo melalui chat.


"Ok, ketemuan di halte ya," jawab Arlo.


***


Pukul 13.00, Arlo sampai di halte sekolahku tepat waktu. Aku pun menemuinya.


"Lho, mau ke mana? Kirain mau langsung pulang," tanya Arlo.


Arlo pun mengikutiku menuju rumah Naya. Aku melongok dari luar pagar, tampak Naya sedang duduk di lantai sambil bermain boneka. Dia melihatku.


"Eh, Kakak! Ayo masuk, Kak. Aku lagi main," kata Naya.


"Ini namanya Kiko," katanya sambil memegang dan mengulurkan tangan boneka itu untuk berkenalan dengaku dan Arlo.


Ketika memegang tangan boneka itu, aku merasakan tangan kecil itu kuat menjabat tanganku.


"Aneh, padahal kan Kiko cuma boneka," pikirku.


Arlo terlihat heran melihat tingkah Naya, tapi dia juga menyalami tangan boneka itu. Aku memang belum sempat menceritakan soal Naya kepada Arlo.


"Arlo, ini Naya. Tadi pagi aku ketemu dia di warung sekolah itu," kataku memperkenalkan Arlo dengan Naya.


"Naya, ini teman Kakak, namanya Arlo. Kakak cuma mau mampir, ngenalin Naya ke Kak Arlo," kataku kepada Naya.

__ADS_1


Setelah mereka berkenalan, aku dan Arlo pun pamit pulang. Aku berniat untuk mampir ke rumah Naya lagi keesokan harinya.


***


Sesampainya di rumah, aku segera masuk untuk mengambil minuman untuk Arlo yang telah mengantarku. Arlo mengikutiku masuk.


"Siang, Nek," sapa Arlo menyalami dan mencium tangan nenek.


"Alit dan Arlo, makan dulu yuk. Nenek bikin sop, tempe goreng, dan kerupuk," kata nenek.


Arlo ikut ke dapur membantu menyajikan makan siang dan kami pun makan bersama. Setelah membersihkan meja makan, aku dan Arlo ke teras untuk mengobrol.


"Alit, bocah perempuan itu siapa? Kok kalian tampak akrab," tanya Arlo.


"Baru tadi pagi aku kenalan sama Naya, tapi aku serasa jadi kakaknya," aku tersenyum dan Arlo juga tersenyum. Kami saling menatap dan sama2 tersenyum namun beda arti.


Arlo pasti tidak bisa merasakan hal yang sedang kurasakan karena dia sudah punya dua orang adik. Jadi, Arlo biasa saja menanggapi ceritaku tentang Naya. Sedangkan aku baru merasakan kedekatan dengan seorang anak kecil yang manja, menggandeng tanganku karena ingin ditemani. Setelah itu, aku dan Arlo berganti topik dan membicarakan Aciel.


"Aku udah lama ngga ketemu Aciel. Chat juga ngga dibales," kata Arlo.


"Kalo cari Aciel, ke sini aja. Sore-sore sekitar jam empat pasti ketemu. Hampir setiap hari nganter Kak Luni pulang. Tungguin aja di sini kalau mau ketemu dia," jawabku.


"Aku jam 3 ada eskul, karena mau pentas musik. Aku beliin dua tiket, buat kamu dan Kak Luni," kata Arlo.


"Oh, oke good luck ya! Aku tanya Kak Luni dulu. Nanti aku kabari lewat chat," ucapku.


"Sip, sekarang aku pamit dulu, ya. Mau ke sekolah lagi," kata Arlo sambil masuk ke rumah untuk pamit kepada nenek.


***


Setelah Arlo berangkat, aku bercerita tentang Naya ke nenek meskipun hanya sekilas. Aku memang belum tahu banyak tentang Naya.


Nenek tersenyum sambil meledek 'Ciee Kakak Alit'. Aku pun tersenyum sambil memeluk lengan nenek dan menyandarkan kepalaku.


"Besok pagi Alit mau ke rumah Naya lagi, Nek. Oh ya, tadi Alit lihat boneka yang dimainin Naya. Dia kasih nama Kiko. Kayaknya ada yang aneh, Nek, dengan bonekanya Naya. Dia memperlakukan boneka itu seperti manusia," ceritaku.


Aku memang merasa kasihan dengan Naya. Kesehariannya lebih sering ditemani oleh boneka yang diajaknya bicara selayaknya teman. Anak sekecil itu, hanya sering seorang diri di rumah.


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2