
Sore itu kami ke rumah sakit untuk menjenguk Om Iyan yang sedang dirawat. Rumah sakit besar itu terletak di pusat kota dan tidak terlampau jauh dari rumah nenek. Pada kondisi tidak macet, perlu waktu sekitar tiga puluh menit berkendara mobil.
Sore itu tidak begitu macet. Kami mampir ke toko buah yang berada di lokasi rumah sakit. Mama membeli buah-buahan untuk dibawanya membesuk.
Om Iyan sudah cukup lama dirawat di situ, kira-kira sudah satu bulan. Dia adalah adik mama yang selalu membuat gaduh dengan candaannya saat kumpul keluarga. Sewaktu kami menjenguknya, Om Iyan tampak sehat dan kembali ceria.
"Mas bawa rombongan nih," dia menyapa papa seraya nyengir dan menoleh ke arahku. Papa hanya tersenyum merespon sapaannya. Kalau melihat kondisi bugar begini, orang tidak menyangka dia adalah pasien di sini.
"Aku sudah bosan, ingin cepat pulang tapi dokter mengijinkan paling cepat seminggu lagi imbuhnya”. Tante Ed, isteri om Iyan masuk ke ruang rawat setelah konsultasi kesehatan.
"Arlo ……temen Alit, kata papa memperkenalkan. Arlo menyalami tante Ed dan juga om Iyan.
Om Iyan memang suka bercanda. Dia ceplas ceplos. Sontak saat itu juga keceplosan menyebut nama seseorang yang tampak lewat di koridor, “itu suster Ernie”, katanya seraya melihat ke pintu ruang rawatnya. Mungkin perawat itu sedang kunjungan pasien. Pintu itu terhubung ke koridor dan ruang jaga perawat. Suster Ernie adalah seorang suster senior. Om Iyan mengedipkan mata menggoda, cantik? Dia pernah bertugas di ruang rawat ini hingga aku mengenalnya.
__ADS_1
"Tuh… .. suster Ernie, cocok buat mas Dwi yang jomblo, imbuhnya”. Semua yang ada di ruangan penasaran dan tergerak melongok ke pintu kaca dekat koridor. Suster Ernie tampak sibuk. Dia balik lagi ke ruang rawat di sebelah om Iyan. Saat lewat dia menoleh ke arah om Iyan seraya tersenyum dan terus melangkah melewati ruang rawat..
Om Iyan memang suka menggoda gadis cantik. Sebelum menikah beberapa kali aku memergokinya bersama teman wanita ke rumah . Mereka semua cantik. Dia berbeda dengan om Dwi kakak diatasnya yang terkesan dingin dan pendiam. Dia masih jomblo. Om Dwi tinggal satu-satunya yang belum menikah. Bahkan belum satupun teman wanitanya yang dikenalkan pada eyang. Padahal semua berharap telah ada wanita yang serius akan ke jenjang pernikahan. Sikapnya yang terkesan cuek tidak ambil pusing dan menghindar saat berbincang tentang pernikahan yang memang kerap menjengkelkan.
Sore itu om Iyan berbincang banyak tentang perjodohan. Dia dengan wajah serius menunjuk seorang gadis berseragam putih yang cantik. Kala itu menjelang jam besuk. Para perawat sibuk mondar mandir ke ruang rawat tapi salah seorang yang mudah diingat. Dia cantik dengan senyum manis karena lesung pipinya. Pantas saja gadis itu menjadi perhatiannya. “Mbak yang tersenyum manis itu, pasti kalian setuju denganku? Dia sangat baik dan ramah. Cocok buat mas Dwi. Kami terhenyak dengan celotehan nya
Aku juga sudah mengenalkan gadis itu pada mas Dwi saat dia besuk dua minggu lalu. tapi mereka belum sempat ngobrol banyak. Karena dia sibuk, hanya sebentar berada di ruang rawat ini. Saat itu menjelang jam besuk dia bersama dokter untuk visit pasien. Meski mas Dwi terkesan cuek tapi jatuh cinta sulit ditebak. Semua pria terpukau kecantikannya. Semua terdiam mendengar sesuatu yang tak terduga.
Papa terdiam. Dalam kondisi tidak sehat masih terpikir cewek cantik. "Mas … . mata dan pikiranku masih sehat, jawabnya seraya melirik ke tante Ed. Nih… ... aku sudah catat alamat rumahnya. Meski tidak lengkap hanya tidak tercantum nomor rumahnya. Ada ancer-ancer yang memudahkan mencari rumahnya. Papa menerima kertas kecil berisi alamat suster Ernie. Lokasinya di pinggir kota agak jauh dari rumah. Kita berbincang dulu dengan ibu tentang perjodohan itu.
Jam besuk tinggal sepuluh menit lagi. Kami bergegas keluar menuju ke parkiran mobil. Pada jam besuk biasanya macet panjang dari parkiran menuju pintu keluar. Mobil papa parkir paling depan jadi tidak perlu antri panjang.
"Iyan kurang kerjaan, Dwi itu cowok sudah cukup dewasa masih terpikir perjodohan, kata papa ngedumel saat di dalam mobil". Mama dan aku terdiam mendengarkan gerundelan papa. Arlo juga tidak setuju dengan perjodohan itu. Mama berpikiran sama dengan papa. Dalam perjalanan ke rumah, kami mampir beli makanan buat santap malam. Sampai di rumah, aku bergegas turun dengan membawa makanan itu untuk santap malam bersama.
__ADS_1
"Neek ..... Alit taruh di wadah dulu sate ini". Nenek meletakkan bukunya, menoleh ke arahku sambil tersenyum. Malam itu, kak Luni hampir bebarengan sampai rumah. Kamipun makan malam bersama Arlo dan Aciel. Usai santap malam Arlo dan Aciel membantu membersihkan peralatan dan sejenak kami ngobrol berempat.
"Om Iyan sudah sehat? tanya kak Luni. Arlo menatapku dan tersenyum, mungkin meledek ide perjodohan yang tercetus dari om Iyan”. .
"Kalian menyembunyikan sesuatu dariku yach, kata kak Luni agak sewot”. Aku menahan tawa sambil melangkah ke dalam. Kak Luni mengikutiku.
"Gini kak, om Iyan punya ide konyol. Dia mau menjodohkan om Dwi dengan salah satu perawat di rumah sakit itu”.
"Hah..... sempat berpikir kayak gitu?” aku mengangguk. Aku ngerasa aneh. Kayak lelucon yang sering tayang di Televisi. Semua bisa jadi bahan guyon sampai hal yang serius sekalipun bisa menjadi bahan candaan. Mencari pasangan segampang itu. Malah papa dan mama juga terbawa pikiran om Iyan dan telah merencanakan ke rumah gadis itu untuk menjajaki keluarganya. . Mungkin dalam waktu dekat akan berbincang dengan eyang tentang rencana penjajakan itu. Aku ga habis pikir bagaimana bisa melangkah ke hal yang lebih serius jika om Dwi cuek tidak ada usaha mendekati cewek itu.
Padahal om Dwi juga sudah dikenalkan dengan gadis itu. Lama ditunggu tidak ada respon apa-apa. Bisa jadi om Dwi tidak mempunyai niat mendekati gadis itu. Om Dwi memang orangnya cuek. Sulit menebaknya. Tapi bisa saja dia menyembunyikan perasaannya jadi tidak bisa ditebak. Lagipula cinta datang secara dadakan orang yang semula tidak tertarik bisa jatuh cinta. Tapi tanpa usaha pendekatan cinta bisa melayang. Cowok yang harus nembak duluan. Cewek itu cantik. Banyak cowok ingin memilikinya.
Yuk ngobrol di teras bareng Arlo dan Aciel. Aku dan kak Luni bergegas ke depan. Asyiik ngobrol perjodohan itu hingga lupa jika sore itu Arlo dan Aciel masih berada di teras. Waktu menunjukkan jam sembilan. Arlo dan Aciel pamit pulang.
__ADS_1
Kak Luni masih belum tuntas penasaran pada perjodohan itu. Terbesit kisah cinta masa lalu om Iyan. Kalau ingat kejadian itu aku ga habis pikir teman cewek semuanya cantik, eh malah menikahi tante Ed yang tergolong biasa dibandingkan cewek-cewek temannya itu. Kisah cintanya juga kilat hanya selang diperkenalkan keluarga trus dua minggu lamaran. Urusan cinta memang bisa muncul tiba-tiba.