Rahasia Alit

Rahasia Alit
Misteri di Balik Musibah - Bagian 2


__ADS_3

Pagi itu, Ireng berlari-larian mengikuti aku melewati taman. Udara segar yang aku hirup terasa saat berjalan kaki. Aku terpaksa menunggu Ireng yang mencari daun sereh kesukaannya. Aku agak menghalaunya agar tidak bermain jauh. Dia kemudian mengikutiku pulanh setelah puas makan pucuk daun sereh di sekitar taman. Ireng terlihat berjalan menuju halaman rumah nenek dan aku pun melanjutkan langkahku menuju ke halte. Aku berlari kecil agar cepat sampai ke jalan raya. Arlo juga ikut berangkat pagi dan menjemputku di halte itu.


Akhir-akhir ini, aku sedang tertarik dengan cerita jadul dari pengalaman nenek. Kemarin, sore kami cuma punya waktu satu jam bercerita karena aku harus melakukan kerja rutinku menyiram tanaman. Terutama pohon bunga kesayangan Kak Luni, kalau tidak segar aku akan habis diomelinya.


Kadang Kak Luni ikut mebantu nenek masak dan menyiapkan makan malam. Kadang, Arlo dan Aciel juga turut mengerjakan pekerjaan di rumah. Tapi di antara kami, sepertinya Aciel yang paling cekatan. Dia tampak sudah terbiasa memantu berberes di rumahnya.


Setiap orang memang memiliki latar belakang berbeda. Seseorang terlahir di dalam lingkungan tertentu sehingga membekali dirinya dengan masing-masing.


"Kenapa aku jadi penilai orang lain seperti ini?" Aku bergumam sendiri. Sambil memikirkan hal-hal yang tidak pentin, tak terasa aku sampai di halte jalan raya. Arlo sudah menunggu di atas motornya.


"Alit santai banget jalannya", kata Arlo. Dia tidak tahu kalau banyak hal yang mengendap dipikiranku.


"Sudah lama nunggunya?" kataku.


"Ngga, paling 5 menit. Aku melihatmu berjalan lambat banget," jawabnya sambil tersenyum.


"Oh... ternyata dari tadi kamu ngelihatin terus," ucapku menggodanya.


"Yuk jalan," katanya sambil menyodorkan helm. "Siang aku jemput lagi, ya."


"Oke!" Jawabku.


Padahal aku ingin nenek melanjutkan cerita yang terputus itu. Kalau ada Arlo, pasti tertunda lagi. Tapi aku tidak bisa menolak Arlo, karena aku senang juga menghabiskan waktu bersamanya.


Aku jadi penasaran dengan orang zaman dulu, seperti nenek misalnya. Dia punya segudang cerita menarik, apalagi di mata orang yabg tidak sezaman dengan nenek.


Cerita nenek memang menandai zamannya. Selalu mengandung filosofi untuk lebih bersahabat dengan alam, misalnya seperti lebih manusiawi dalam memperlakukan burung perkutut.


Di era zaman dulu, nenek dan Pak Tua menganggap mimpi itu sebagai makna yang tersirat. Pesan yang terkandung selalu bisa diambil hikmahnya. Untuk memelihara burung, seseorang harus paham kondisinya. Apakah burung perkutut itu merasa nyaman atau tidak dengan pemilik dan lingkungannya? Dalam situasi kini, mungkin kurang ada orang yang mempertimbangkannya.


Orang yang mempunyai banyak uang dan mampu membeli perkutut seharga mahal. Tapi perkutut itu kurang mendapat kasih sayang. Semuanya semata-mata hanya untuk kesenangan pemiliknya. Perkutut hanya ditempatkan di sangkar bagus, yang mungkin menurut pemiliknya sudah cukup memadai.


Dalam perjalanan menuju sekolah, aku dibonceng oleh Arlo sambil berpikir tentang kehidupan di era nenek, kakek, dan Pak Tua itu. Tak terasa aku sudah sampai sekolah.


Tiba-tiba, aku teringat senyum Naya. Aku sudah jarang bertemu dengannya. Aku rindu juga dengan Naya dengan sikap lugunya yang menyenangkan itu. Juga dengan anak kecil tak kasat mata yang tinggal di boneka kesayangannya. Mereka semua punya cerita masing-masing yang mungkin menarik untuk diceritakan. Tapi, rasanya susah untuk menguak kisah mereka satu persatu.

__ADS_1


"Alit, sudah sampai. Daritadi bengong terus," suara Arlo membangunkan lamunanku.


Aku turun dan memberikan helm ke Arlo.


"Dahh. Sampai ketemu nanti siang ya," Arlo melambaikan tangan dan menyalakan motornya.


***


Sepulang sekolah, aku kembali diantar Arlo. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju ke dapur untuk menari makanan. Nenek masak gudeg telur dan sambal. Aku, nenek, dan Arlo pun makan siang bersama. Kami mengobrol bertiga. Dan sepeeri dugaanku, cerita tertunda. Jika ada Arlo, cerita akan menjadi kurang seru. Dia tidak tertarik dengan cerita kuno, melainkan lebih tertarik pada hal kekinian yang lebih praktis.


Mengobrol tentang hal-hal kekinian juga seru sebetulnya, misalnya tentang pentas musik sekolah yang belum lama ini berlangsung. Namun, cerita jadi sangat terbatas, karena selera Arlo dan nenek jauh berbeda. Jadi sulit untuk menyambungnya. Yang terpenting untukku, Arlo dan nenek bisa senang tertawa-tawa sampai tiba waktunya Arlo untuk pulang.


"Pamit dulu ya, Nek. Sudah sore," Arlo bersalaman dan mencium tangan nenek.


Aku mengantarnya keluar sampai halaman depan tempat motornya diparkir. Setelah itu, aku kembali lagi ke taman kecil dalam rumah untuk merawat bunga milik Kak Luni.


Kemudian, aku melakukan kerja rutin lainnya. Yaitu menyiapkan makan malam, mandi, dan menunggu Kak Luni, papa dan mama pulang.


Besok Arlo hanya mengantar pagi-pagi, lalu siangnya dia harus pergi untuk servis motor. Jadi, aku punya waktu untuk mendengarkan kelanjutan cerita nenek.


"Ayo Nek, lanjut ceritanya," ujarku bersemangat.


"Sampai mana ceritanya ya kemarin," kata nenek.


"Itu, cerita dari Pak Tua tentang misteri dibalik peristiwa kebakaran resto milik Pak Biduk," ucapku.


"Nenek harus ingat-ingat dulu obrolan Pak Tua dengan kakekmu," kata nenek. "Pak Tua itu kenal akrab dengan pak Biduk yang menderita kebakaran."


***


Pak Tua bercerita bahwa Pak Biduk suka pergi berkelana ke tempat yang bisa mendatangkan kekayaan. Dia telah menjelajahi berbagai tempat pesugihan. Selain bertujuan untuk mencari kekayaan secara mendadak, dia juga berpetualang untuk mendapatkan pengalaman. Mungkin saja ingin membandingkan


satu dengan yang lain terkait dengan berat ringannya imbalan atau tumbal.


Pemilik resto yang bernama Pak Biduk itu pernah diajak seseorang yang juga ingin mencari pesugihan. Pemilik resto itu bertemu dengan lelaki tua itu pemilik Padepokan. Tampilannya berambut putih hingga jenggotnya. Saat ada tamu, dia duduk di atas singgasana berupa batu besar yang berada di tempat lebih tinggi dari tamu-tamunya. Padepokan itu ada di perbukitan, sehingga tempat itu sejuk dan asri pepohonan.

__ADS_1


Ada beberapa kursi mirip bangku kayu untuk para tamunya. Sebagai langkah pertama, pemilik Padepokan itu memastikan dulu keseriusan dan tujuann para tamunya dalam menjalani ritual. Sebelum akhirnya dia menyebutkan syarat yang harus dipatuhi calon pelaku pesugihan. Beberapa saat setelah mempersilakan tamunya, dia menghilang.


Orang tua pemilik padepokan itu sangat ramah mempersilakan tamunya duduk di bangku yang tersedia di situ sambil menikmati segarnya udara pegunungan. Pak Biduk dan temannya yang bernama Pak Aman itu lama menunggu sampai tengah hari, sehingga mereka berdua tidak dapat menahan kantuknya.


Kedua orang itu terkantuk-kantuk di bangku kayu itu. Tiba-tiba Pak Biduk terbangun, kaget mendengar bocah merintih dan mencari asal suara itu.


"Pak, itu suara siapa?" Tanya Pak Biduk kepada Pak Aman yang saat itu bersamanya.


"Ngga ada orang. Di tempat ini hanya ada kita bertiga, pemilik padepokan, saya dan Pak Biduk," jawabnya.


"Ah.. cuma aku yang dengar? Mana mungkin hanya aku yang dengar?" katanya heran. "Suara itu dekat dan tanpa henti seperti orang sedang kesakitan."


"Aduh, berat, punggungku sakit banget," lanjutnya. "Suara itu terdengar lagi, Bapak ngga dengar?"


"Tidak dengar apa-apa, selain keheningan di tempat terpencil ini," ujarnya.


Pak, suara itu sangat dekat, rintihan memelas. Ngga tega saya mendengarnya," kata Pak Biduk. "Saya akan mencari asal suara itu, kalau nggga ketemu akan tanya pemilik padepokan ini."


Pak Biduk memperhatikan sekeliling tempat itu dari tempat duduknya. Suara rintihan itu terdengar lagi. Dia menengok ke arah kursinya dan melihat seorang anak. Ternyata, kursi yang diduduki Pak Biduk berubah menjadi anak kecil.


"Bocah, kamu sedang apa?" tanya pak Biduk.


Pak Biduk menatap temannya, "Lihat, Pak!"


"Apa yang harus dilihat pak? Ngga ada seorangpun ditempat sunyi ini," ucap teman Pak Biduk.


"Ini Pak," katanya sambil menunjuk ke arah bocah yang semula adalah tempat kursinya diletakkan. "Aduh, punggung saya sakit banget."


Pak Biduk bengong, terdiam, tubuhnya terasa kaku. BSelama beberapa saat setelah rintihan itu terdengar, dia baru tersadar jika bocah itu meringkuk di bawah kursinya. Bocah itu sangat kurus, sedang dalam posisi jongkok dan kepala tertunduk. Pak biduk tiba-tiba melihat sebuah pemandangan yang miris.


Kursi yang didudukinya berubah jadi bocah itu. Pak Biduk memandangi bocah itu dan dia membanyangkan saat dia duduk dan posisi bocah itu. Dalam bayangannya muncul Pak Biduk telah menduduki punggung dan tengkuk bocah itu.


"Pantas saja dia kesakitan, bocah sekurus itu kalau menanggung beban berat bisa patah tulangnya," kata Pak Biduk. "Siapa bocah itu? Aku akan mencermati wajah bocah yang tersiksa itu."


Seketika itu muncul berbagai pertanyaan di benaknya.

__ADS_1


- Bersambung


__ADS_2