
Hari ini, jam pulang sekolahku lebih cepat dari biasanya. Teman-teman bersorak kegirangan, sementara aku...biasa saja. Aku betah-betah saja di sekolah, jadi tidak ada bedanya mau hari ini pulang cepat atau tidak.
Kelas terakhir adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Guruku memberi tugas kelompok membuat cerpen, jadi kami diperbolehkan untuk mengerjakannya di luar sekolah. Seperti biasa, aku satu kelompok dengan Ara dan Monet. Kami pun memutuskan untuk kerja kelompok di rumahku.
Sepulang sekolah, aku, Ara, dan Monet langsung menuju rumahku dengan harapan bisa menyelesaikan tugas dengan cepat. Setelah itu, kami jadi masih punya waktu untuk main-main.
Kami sangat serius dalam berdiskusi dan menulis cerpen. Hingga akhirnya, dua jam sudah berlalu sejak kami mulai mengerjakan tugas.
"SELESAIIIII!!!" Teriak Monet kegirangan.
Aku dan Ara tidak kalah senang. Aku pun ingin merayakannya dengan menyantap es cincau buatan nenek untuk melepas dahaga kami bertiga.
"Selamat siang! Aliiiitt," tiba-tiba terdengar suara orang memanggilku dari arah luar ketika aku hendak mengambil es cincau di dapur.
Aku mengenalnya, itu suara Arlo. Aku pun segera membukakan pintu pagar dan mempersilakannya masuk.
"Tumben kamu udah di rumah. Tadi aku cari-cari di sekolah ngga ada," kata Arlo.
"Lagian kenapa ngga chat dulu? Aku ada kerja kelompok, jadi pulang cepat. Ada Ara sama Monet di dalam. Yuk, masuk," jawabku.
"Aku cuma sebentar tapi. Jam 3 nanti ada ekskul. Ini cuma mau mampir," ucap Arlo sambil mengikutiku masuk ke dalam rumah.
"Nenek bikin es cincau, mau?" Kataku.
"Ngga deh, air putih dingin aja," jawabnya.
Arlo pun duduk di ruang tamu. Sedangkan aku berjalan menuju ke dapur untuk mengambilkan air putih untuknya. Aku berpapasan dengan nenek yang sedang berjalan menuju ruang tamu. Rupanya, dia mendengar suara Arlo dari dalam.
"Siang, Nek," kata Arlo yang menyapa nenek.
"Arlo, kebetulan kamu dateng. Yuk makan siang bareng," ucap nenek.
__ADS_1
"Alit, panggil teman-temanmu sekalian ya yang di kamar. Kita makan dulu," kata nenek sedikit berteriak.
"Oke, Neeek," jawabku.
Makan siang hari ini terasa ramai dan menyenangkan karena ada nenek dan tiga orang terdekatku. Di meja makan, kami mengobrol, tertawa-tawa sampai puas, dan makan masakan nenek hingga kenyang.
Setelah kami berlima selesai makan siang, Monet dan Ara pamit untuk pergi ke kamarku sambil menggoda. Seakan-akan, mereka ingin membiarkan aku dan Arlo mengobrol berdua saja. Sementara itu, nenek melanjutkan membaca bukunya di ruang tengah, dan aku bersama Arlo pergi menuju ke ruang tamu.
"Alit, tadi aku nyasar ke gang lain. Ternyata banyak gang yang bikin bingung ya di komplek ini?" Tanya Arlo.
"Hah? Kamu kan udah beberapa kali ke sini. Masa nyasar," kataku sambil tertawa.
"Iya, aku kesasar ke gang lain. Setelah aku perhatikan, ternyata bukan ke arah rumah ini. Aku malah menuju ke luar komplek dan melewati tanah kosong luas banget. Lalu, aku balik lagi ke arah jalan raya dan berbelok ke gang yang biasa aku lewati," jelasnya.
Aku diam saja, sedang memikirkan rute yang dilewati Arlo. Memang betul kata Arlo, ada banyak gang yang terhubung dari jalan raya. Namun, aku tidak tahu lokasi tanah kosong yang dikatakan Arlo. Tapi rasanya tanah kosong yang diceritakan Arlo tidak asing. Di mana, ya? Kok aku tidak ingat.
"Alit, oi, Alit," panggil Arlo membangunkan lamunanku.
Selama beberapa lama, kami masih membahas tentang lokasi tanah kosong itu. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 14.35.
"Jam 3 kan aku ada ekskul, jadi aku pamit, ya," kata Arlo.
"Sebentar, minum cincau bikinan nenek dulu. Enak deh," kataku.
"Ok, sekalian aku mau pamit ke nenek," ucap Arlo sambil mengikutiku ke dalam.
Aku berjalan ke dapur, sementara Arlo menemui nenek di ruang tengah. Setelah meminum cincaunya dalam beberapa teguk, Arlo pun berangkat ke sekolahnya. Sedangkan aku kembali ke kamar menemui Ara dan Monet.
***
Malam pun tiba. Monet dan Ara sudah pulang ke rumah masing-masing. Aku hanya berdua dengan nenek di rumah. Papa dan mama pergi ke rumah teman mereka yang hendak menikahkan anaknya. Sementara itu, Kak Luni sedang pergi nge-date dengan Aciel.
__ADS_1
Di saat sepi seperti saat ini, aku ditemani Ireng duduk di teras. Jalanan komplek rumah nenek memang sepi, karena penghuninya lebih banyak orang-orang tua. Hanya sedikit remaja seumuranku di komplek ini, sehingga hampir tidak ada kegiatan yang biasanya melibatkan anak-anak muda.
Sudahlah sepi, kadang Pak Satpam malah lupa menyalakan lampu taman! Jadi, jalanan rumah-rumah di sekitar taman menjadi gelap. Seperti malam ini, jam baru menunjukkan pukul 19.30, tapi keadaan di luar sudah sepi dan hening.
Tiba-tiba, alunan gamelan itu terdengar lagi. Alunan gamelan yang waktu itu terdengar dari sanggar kosong. Sudah lama aku tidak pernah mendengarnya. Malam ini adalah kali ke dua aku mendengar suara gamelan itu.
Aku tidak tahu, mungkin saja suara itu ada setiap hari, tapi aku tidak mendengarnya. Memang jarang-jarang aku duduk di teras malam-malam seperti ini. Sejak masuk SMA, waktuku untuk santai semakin berkurang karena tugas sekolah semakin banyak. Kak Luni juga sibuk, sehingga pekerjaanku di rumah membantu nenek juga semakin banyak. Waktu duduk di teras bersama Ireng pun jadi semakin jarang.
Rasa penasaran kembali menggerakkanku menuju rumah sanggar kosong itu. Aku berjalan di malam yang sepi ini melewati taman komplek dekat rumah nenek. Lampu taman di depan rumah kosong itu sedang mati. Suasana sangat mencekam. Untuk saja Ireng mengikutiku!
Aku pun harus berjalan dengan hati-hati agar tidak jatuh tersandung atau terperosok lubang jalanan. Satpam yang jaga malam belum mulai keliling, karena biasanya mereka baru mulai berjaga saat tengah malam. Sebetulnya, aku agak takut berjalan dalam suasana sesepi ini. Tapi rasa penasaran terhadap rumah sanggar kosong itu melekat di pikiranku.
Aku masih ingat letak lubang di dinding untuk mengintip itu. Kali ini, pasti aku lebih mudah menemukannya. Tekad dan rasa penasaranku lebih kuat daripada rasa takut. Aku pikir mungkin aku akan menemui kejadian berikutnya yang lebih menarik.
Meski penari tunggal bergelung besar itu masih menjadi misteri, tapi cerita itu telah mengingatkan nenek tentang seseorang yang mirip dengan penari itu. Saat melihat penari itu, aku punya kesempatan agak lama untuk memperhatikan detail ciri-cirinya. Nenek mengatakan bahwa sosok penari sanggar kosong itu mirip dengan Ibu Maryam, sahabat nenek di masa lampau. Ciri-cirinya pun mirip dengan Ibu Maryam di saat-saat terakhirnya sebelum meninggal, yaitu saat beliau berusia sekitar 45 tahun. Ketika itu, wajahnya masih terlihat cantik dan anggun. Kebiasaan menari tidak pernah hilang sepanjang hidupnya.
Aku berjalan pelan sementara Ireng tetap tegak dan agak tegang. Kupingnya tegak berdiri. Beruntung, lampu taman itu tidak semuanya mati. Masih ada satu lampu yang menyala, tetapi ada di ujung agak jauh dari rumah kosong ini.
Langkahku berhenti di depan rumah kosong bekas sanggar itu. Saat aku melangkah menuju ke pintu besi, aku merasa ada kekuatan yang menarikku ke dalam rumah itu. Seakan-akan aku tersedot ke dalam...
Mendadak, aku berada di sebuah area luas, mirip istana, lengkap dengan gapuranya. Saat itu, langit berubah menjadi siang hari. Aku terbawa pada suasana zaman dahulu kala, entah kapan tepatnya.
Tempat itu sangat luas. Aku tersadar sedang berada di era lain. Orang-orang yang lalu lalang pun berpakaian kuno. Yang laki-laki memakai caping (topi dari anyaman bambu) yang sudah jarang dijumpai sekarang. Ada pula yang memakai ikat kepala dari kain. Sedangkan, para wanita memakai jarik dan kemben, sementara rambut mereka digelung. Lelaki dan wanita yang kulihat rata-rata telah berusia setengah baya. Rambut mereka sudah mulai memutih. Mereka tidak ada yang saling mengobrol, hanya berdiam diri.
Di antara orang-orang tua itu, aku melihat beberapa gadis remaja yang juga memakai jarik dan kemben. Rambut mereka panjang dan diikat rapi. Para gadis remaja itu berjalan pelan beriringan dan pandangannya menatap ke depan. Kemudian, seorang dari gadis itu berhenti dan menatapku. Aku merasa sedang berhadapan dengan diriku sendiri. Seolah ada dua aku yang berada di alam berbeda.
Gadis itu berdiam diri, sementara yang lainnya tetap melangkah ke depan tanpa saling sapa. Rupanya, mereka seperti sedang mengisi sebuah tempayan besar dengan kendi berisi air yang dipegangnya. Remaja perempuan itu juga membawa kendi menggunakan tangan kirinya dengan posisi dipeluk.
Sementara dia masih berdiri diam memperhatikanku, aku melangkah mundur dan berbalik badan meninggalkan gadis itu. Langkahku terarah masuk kedalam bangunan istana di bagian samping.
- bersambung -
__ADS_1