Rahasia Alit

Rahasia Alit
Misteri di Balik Musibah - Bagian 6


__ADS_3

"Neek… besok lanjut ceritanya, ya. Alit makin penasaran." Rengekku.    


"Ini ada undangan Sabtu siang besok buat papa dan mama. Jadi Alit di rumah cuma berdua dengan nenek. Nenek lanjut cerita yaa," kataku merajuk. 


Esok paginya, aku sibuk membuat camilan. Aku telah menyiapkan bahan-bahan kue, yaitu butter, terigu, telur, cokelat, susu dan gula. Setelah nenek mencampur semua bahan, aku pun mengambil loyang persegi yang telah diolesi margarin dan meletakkan adonan-adonan yang sudah dibentuk dengan cetakan, kemudian memanggangnya. Kira-kira di sekitar tengah hari, kue sudah matang. 


Aku tersenyum senang dengan hasil kuenya, bagus bentuknya, dan juga renyah.


"Pasti aku tidak berhenti ngemil. Untung bikin banyak," ucapku dalam hati.


Waktu menunjukkan pukul 11.  


'Neek.. ayo cerita lanjutannya'. 


***


Kemarin, nenek bercerita tentang keadaan Pak Biduk dan Pak Aman setelah mengunjungi padepokan. terutama  sehabis menyaksikan kejadian mengerikan itu. 


Keduanya, dengan langkah gontai dan lesu, menuruni bukit. Jalannya terseok-seok menuju ke jalan raya. Tenaga mereka terkuras emosi kesedihan dan ingin buru-buru bertemu anaknya untuk memastikan mereka baik-baik saja  


Pak Biduk sangat rindu dengan si bungsu. Dia membayangkan bisa memeluk dan mendengar celotehan anak bontotnya itu. Dia berusaha menepis bayangan buruk dan mengerikan saat duduk diatas punggung anaknya. 


Namun, bayangan menyakitkan hatinya itu sulit hilang dari benaknya. Rasa takut itu kembali menghampiri keduanya. 


"Hiii... bergidik aku menyaksikan anakku harus meringkuk di bawah kursi itu, betapa berat beban yang ditanggungnya," Pak Aman merasa sesak dadanya mengingat kejadian itu. 


"Kenapa kita harus cari pesugihan?" Kata keduanya hampir serentak saling bertanya. Namun, kedua orang itu pun tidak punya jawaban. 


Pak Aman dan Pak Biduk berusaha mempercepat langkahnya, tapi tenaga mereka tidak memadai. 


"Pak Biduk, kenapa aku ngga bisa berjalan lebih cepat? Berat banget langkahku," ucap Pak Aman.


"Pak, aku pun juga ngga punya tenaga lagi," jawab Pak Biduk.


"Rupanya sampeyan kehabisan tenaga juga," balas Pak Aman. 


"Kok jadi lemes melihat penderitaan itu. Aku jadi ingin cepat bertemu anakku," Pak Biduk berkata lirih.


"Sepanjang jalan aku memohon agar anakku selamat," kata Pak Aman. 


Pak Biduk juga melakukan hal yang sama. Mereka mempercepat langkahnya agar cepat sampai di jalan raya dan berharap masih ada bis yang menuju ke arah pulang. 


Setelah menunggu agak lama, kendaraan yang melintas hanyalah truk.  Tanpa pikir panjang mereka menyetopnya dan naik truk itu. 


"Bapak berdua dari padepokan itu ya?" Tanya sang supir truk.


"Kok sampeyan tahu?" Pak Biduk membalas pertanyaan supir truk tersebut dengan keheranan.


"Saya hanya menebak," kata sopir sambil nyengir. "Saya  sering mengangkut penumpang  hendak ke situ. Banyak yang lanjut pesugihan tapi ada juga yang urung niatnya."

__ADS_1


"Mereka telah dibuka mata batinnya untuk menyaksikan risiko yang akan dialami, yaitu salah seorang anggota keluarga yang disayangi akan dijadikan  tumbal. Mata batin mereka dibuka agar bisa terhubung dengan alam gaib," lanjut sang supir.


"Risikonya berat, Pak," ujar Pak Aman.


"Bapak berdua mau lanjut? Sebaiknya Bapak batalkan saja," kata supir truk. "Soalnya, mahluk gaib memilih tumbal orang yang  kita cintai."


"Saya juga punya pengalaman dari cerita orang yang menerima pesugihan," lanjut cerita si supir truk. "Mereka langsung kaya dadakan, tapi dia jadi pengabdi setan. Pelaku pesugihan biasanya pasti menyesal, tapi terlanjur terjebak dan ngga bisa mundur."


"Ibarat nasi sudah jadi bubur," kata sopir itu. 


"Terima kasih, saran ini telah makin menguatkan kami untuk mundur," jawab Pak Biduk.


"Saya tunjukin sebuah padepokan lain, ya. Lokasinya tidak jauh dari sini dan selewatan jalan, dekat terminal," ajak si supir truk.


"Itu dia tempatnya," katanya sambil menunjuk ke suatu arah. 


'Kapan2 kita kesana', kata pak Biduk


'Hah… ' pak Aman terperangah'. 


Dia menoleh keheranan ke  pak Biduk. 


'Buat pengalaman', katanya. 


Sementara mereka masih saling menatap, sopir itu geleng-geleng  kepala. 


'Manusia memang cepat berubah,' dia bergumam. 


Orang  memang mudah tergiur kemewahan meski beresiko. 


Pak Biduk dan pak Aman sampai terminal dan memberikan uang ke sopir truk itu, kemudian  naik bus menuju pulang. 


'Pak Biduk  tergiur untuk pergi kelain padepokan dan  mulai merayu temannya untuk menemani ke padepokan itu lain waktu. 


Pak Aman asal mengangguk untuk menenangkan kawannya.  Padahal pikirannya melayang ke anaknya. Saat itu dia hanya berharap cepat sampai rumah dan bertemu anaknya. 


Sesampainya di rumah, pak Aman melihat orang berkerumun. Dia menerobos kerumunan yang menghalangi pintu masuk.  Dia tidak  sabar menyaksikan apa yang telah terjadi selama dia pergi. 


Ada apa gerangan?  gumamnya. 


 Mukanya pucat melihat sosok yang terbujur.  Istrinya menangis dan meraung- raung. Dia mendekat dan bertimpuh di sebelah isterinya. 


'Pak, anakmu tiba2 kejang sejak beberapa saat lalu, dia menggelepar dan terjatuh.  Aku memeluknya saat dia tergeletak disini'. 


'Para tetangga berkumpul mendengar teriakanku. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena anakmu telah terbujur seperti yang kau lihat. 


Kami  menunggu sampeyan. Aku menduga sampeyan ga lama lagi pulang karena pergi sejak subuh tadi. 


Pak Aman yang duduk di sisi anaknya, mengulurkan tangannya, menjangkau tubuh yang terbujur tidak sadarkan diri. Tangannya meraba-raba mulai dari wajah kemudian ke badan dan anggota tubuh lain. 

__ADS_1


Dalam hatinya menagih janji pemimpin padepokan itu. 


'Bukankah aku sudah membatalkan pesugihan itu. Aku sudah sangat sedih saat menyaksikan tubuh anakku meringkuk dibawah kursi itu. Hatiku serasa teriris ketika itu. 


Pak Aman dalam diam terus menuntut janji pembatalan itu dan mengambalikan nyawa anaknya agar cepat sadar seperti semula. 


Tiba-tiba dia merasakan ada gerakan lemah saat memegang tangan anaknya. 


'Pak, anakmu menggerakkan tangannya'. Rupanya sang isteri juga melihat tangannya bergerak. 


Pak Aman meraba tubuh itu sekali lagi. Badannya terasa agak hangat dan dia menepuk pipinya. Anak itu mulai membuka matanya. Tiba-tiba anak itu duduk, tangannya yg masih lemah itu menjangkau tubuh ayahnya dan menangis dalam dekapannya. 


Pak Aman menenangkannya dan membisikkan sesuatu ke anaknya. 


Bapak sudah di sisimu, nak. 


Sekarang bapak mau menenangkan orang-orang  yang telah membantu kita. 


Pak Aman berbalik badan dan  menatap ke orang-orang yang memenuhi rumahnya. 


'Bapak dan ibu, saya ucapkan terima kasih telah membantu sampai anak saya  siuman. 


Setelah itu satu persatu pamit dan meninggalkan rumah pak Aman. 


'Ceritakan  apa yang telah kau alami beberapa saat itu anakku? 


'Pak aku mengikuti seorang kakek tua dan tiba di suatu tempat di pegunungan. Aku disuruh tinggal disitu karena ga tahu jalan pulang jadi aku terus duduk meringkuk di bawah kursi dan kesakitan. .


Aku bisa melihat bapak menangis dengan suara keras. Tangan bapak hendak menggapai tubuhku.  


'Bapak diam saja saat aku mau ikut pulang'. 


 'Bapak malah meninggalkan aku disini'. 


'Bapak telah membuang  aku'. 


'Aku putus asa dan hanya merenungi nasibku di tempat itu'. 


'Tiba-tiba si kakek itu datang dan aku tersadar'. 


Kata-kata anaknya mengingatkannya ketika berada di padepokan itu.  Kakek tua yang disebut itu mungkin adalah ketua padepokan itu. 


Kakek itu mungkin datang untuk mengembalikan nyawa ke tubuh anakku. 


Pak Aman memeluknya dan membelai rambutnya. 


'Beruntung nak, bapak belum jauh tersesat',  gumamnya dalam hati. 


Bapak akan melindungimu sekuat tenaga.  Tak terasa air matanya, mengalir ke pipinya. 

__ADS_1


'Bapak menangis? tanya bocah itu. 


Pak Aman  segera menyeka pipinya yang basah itu. 


__ADS_2