Rahasia Direktur Dan Asistennya

Rahasia Direktur Dan Asistennya
Pertama: Terjerumus


__ADS_3

~ Secret Director And Assistant ~


Kejadian satu minggu yang lalu, ketika di sebuah rumah mewah sang nyonya pergi tanpa alasan.


Suaminya mencoba mencegah kepergiannya, demi anak mereka yang baru saja lahir ke dunia.


"Sudah aku tepati janji pernikahan kita, seorang anak laki-laki telah aku lahirkan untukmu. Kau ingin apalagi dariku, bebaskan aku. Aku tidak sudi lagi bersamamu," tolak keras istrinya


"Lisa, kau tega meninggalkan bayimu yang masih membutuhkan asi untuk makan," cerca suaminya


"Itu bukan urusanku, karier ku sudah hampir hancur karena harus mengandung anak mu. Sekarang terserah padamu, bayi itu kau buang atau kau simpan sendiri." Lisa membawa koper berisi barang bawaan nya, memantapkan langkah kakinya pergi dari hadapan suaminya


"Ciih... Begitu rendahnya pendirian mu, hati nurani seorang Ibu pun kau tak punya. Jangan salahkan aku, hari ini kita resmi bercerai," ujar suaminya dengan perasaan marah dan mulai menyimpan perasaan dendam


"Baguslah, tidak usah pake pengadilan segala. Tidak ribet dan memakan waktu yang lama, sampai jumpa mantan suamiku." Lisa dengan sombong dan kebanggan dirinya, ia telah resmi berstatus janda pergi tanpa ingin kembali


Laki-laki itu terduduk lemas di atas sofa, sambil merenungkan dirinya.


Sang Ibu datang menghampiri, di pangkuan tangannya terdapat seorang bayi yang tengah menangis keras.


"Jungkook, bagaimana nasib anak mu ke depannya. Kasihan dia, tidak punya seorang Ibu," Ibunya merasa sedih, putra tinggalnya telah menjadi duda dan mempunyai tanggung jawab yang besar


"Ibu... anak itu tidak punya seorang Ibu, karena ulahmu. Kenapa kau memaksaku menikah, hanya karena demi mempertahankan kedudukan ku sebagai ahli waris. Aku tidak bisa, menjawab pertanyaan mu. Maafkan aku." Jungkook beranjak dari tempat duduknya, menghampiri Ibunya dan mengambil bayinya ke dalam pangkuan tangannya


"Kau mau bawa kemana cucuku!" Ibunya membentak, berusaha merebut cucunya kembali


"Ibu tidak usah ikut campur, hidup ataupun mati anak ku. Biar aku yang tangani sendiri, Ibu jaga saja kesehatanmu agar semakin baik setiap harinya." Jungkook pergi keluar dari rumah, dengan perasaan geram dan sangat kacau


Entah kemana ia harus bersandar, dalam situasi yang tidak benar.


Tidak ada yang bisa memastikan, keadaan keduanya baik-baik saja.


!!!.........................._!!!


Bermula pada siang hari yang sangat terang, mentari berada di titik tertinggi. Seorang Gadis berpakaian serba hitam, berdiri di tengah gerbang salah satu perusahaan ternama di kota Z.


Memakai kemeja tembus pandang, di serasikan dengan rok mini hitam di atas lututnya.


Rambut yang tergerai panjang sedikit bergelombang saat melihat ujung rambutnya, sejak tadi pagi ia berdiri di sana tanpa rasa letih.


Satpam berulang kali mengusirnya, tapi tidak ada kata jera dalam hatinya.


Gadis keras kepala itu, masih setia pada posisinya.


"Meskipun, harus menjual diriku. Aku rela lakukan itu, kakak bersabarlah!" tekad dalam jiwanya sudah menjulur tinggi di benaknya, tanpa mengutamakan perasaan malu ia tetap percaya diri

__ADS_1


Banyak kendaraan yang tidak bisa melintas masuk maupun keluar dari kantor itu, klakson yang berbunyi sangat nyaring tidak membuat telinganya tuli.


Ocehan dari para pengendara, tidak pernah ia dengar ataupun peduli.


Sampai seorang direktur turun ke lapangan, ia meminta bara pengawal yang menjaga di sekitar perusahaan untuk menyeret gadis itu pergi dari kantornya.


Tapi gadis itu tetap tidak bergerak di jalannya, ia masih kuat menahan para laki-laki berotot itu dengan ilmu bela diri yang ia keluarkan.


Direktur perusahaan telah hilang kendali dalam batas sabar nya, akhirnya ia turun tangan dan membawa gadis itu keluar dari gerbang.


"Tunggu dulu!" teriak gadis itu, sambil menahan dirinya terseret keluar


"Pergilah ke rumah sakit jiwa, otak mu sudah bermasalah. Jangan pernah kembali." saat hendak mendorong tubuh gadis itu, direktur itu malah mendapat sebuah cekalan kuat dari kedua tangan gadis yang lihai mencengkram dan memotong pergerakan tubuhnya


"Lepaskan atau tidak!" bentaknya direktur secara kasar


"Beri pekerjaan padaku, yang gajinya bisa mencapai 100 miliar," bisik gadis itu secara halus, menggoda direktur tersebut


"Kau bercanda, mana ada pekerjaan yang gaji nya sebesar itu. Kecuali, kau bekerja seumur hidup dan mengumpulkannya, itupun tidak akan mungkin terjadi." Direktur membalikkan keadaan, yang tadinya ia di tikam dari belakang, sekarang ia menikam gadis itu di depannya


"Kau berdiam diri di pintu gerbang, itu tidak ada gunanya. Sia-sia saja, dasar bodoh." Direktur mendorong tubuh gadis itu sampai terjatuh


"Terserah mau berkata kasar apa padaku, yang terpenting kau akan celaka sekarang." Gadis itu merobek kemejanya, kemudian berteriak-teriak minta tolong


"Tolong saya, pria itu mau memperkosa saya." lirih nya terisak-isak, sambil menutupi dirinya di dalam pelukan lututnya


"Itu tidak benar, gadis ini tidak waras. Saya yang menjadi korban, bukan tersangkanya." direktur itu mengangkat kedua tangannya sebahu


"Tidak, dia berbohong. Dia merayu saya, dengan sebuah tipuan. Kalau dia akan memberi saya pekerjaan, tapi... Dia malah berbuat tidak senonoh pada saya." ucap gadis itu, menundukan wajahnya lalu tertawa dalam hatinya


"Wah... Bapak anda harus tanggung jawab atas nona ini, nama dan keluarganya pasti akan tercemar," ujar seorang laki-laki yang ikut mengerumuni


"Betul itu, gadis baik tidak akan melakukan kejahatan. Anda harus bertanggung jawab!" salah satu seorang wanita, membela gadis itu


Kemudian semua orang mulai beramai-ramai berbicara soal keadilan, dan menghadiri si Direktur.


Tak ingin ikut panjang permasalahan, ia melepaskan jas yang sedang ia gunakan, memakaikan nya ke tubuh sang Gadis.


"Saya tidak akan mengakui kesalahan, cctv terpasang di ujung sana." telunjuk Direktur itu, menunjuk ke sebuah alat yang menancap di tembok dekat gerbang pintu


"Perwakilan dari anda semua, tolong ikuti saya untuk menjadi saksi mata." dengan sikap gentleman yang tumbuh di jiwa kesatria nya, ia memangku tubuh gadis itu dan membawanya masuk ke dalam halaman kantor


Dua orang warga mengikuti dari belakang, demi membuktikan sebuah kebenaran.


"Sial! Kenapa aku bertindak bodoh begini, aku kira tidak akan ada bukti. Bisa-bisa aku yang kena, amukan massal," batin gadis itu, lalu tertegun

__ADS_1


"Aduh! Kenapa perutku sakit." Gadis itu, mulai berakting kesakitan


Si Direktur tidak tinggal diam, membiarkan tersangkanya pergi tanpa membuat perhitungan.


"Sakit, sebentar lagi kita sampai di ruang pengawasan, setelah itu kau boleh pergi." senyuman sinis Direktur sombong mulai menyeringai


Gadis itu semakin tertekan dalam situasi yang semakin mengenaskan, ingin rasanya ia lompat dari atas pangkuan tangan direktur pintar.


Tapi sayang, laki-laki itu mengeratkan lengannya sehingga membuat gadis itu tidak bisa bergerak.


Bagaikan di hantam badai, di gulung ombak, di seret banjir, dan di tenggelamkan ke dasar lautan.


Setelah melihat hasil rekaman yang terjadi, kedua saksi itu menghujat Gadis berpakaian serba hitam.


"Pembohong, Gadis tidak tahu diri. Beraninya kau menipu kami. Kejahatanmu, pantas mendapat hukuman mati. Dasar Gadis gila!" ujar salah seorang dari dua saksi


Mereka mulai memaki dan menghina, karena perbuatan yang di sadari kebohongan oleh gadis itu.


Si Direktur merelai hujatan mereka terhadap gadis malang itu, ia meminta kedua saksi menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada semua orang yang tengah berkumpul di depan gerang kantornya.


Keduanya pun mengangguk dan mengatakan ia dengan seksama, mereka kembali ke tempat semula demi menjalankan sebuah amanat.


Tinggal gadis itu dengan si direktur, di tambah seorang penjaga kamera pengintai yang sedang bertugas. Jadi mereka tinggal bertiga.


"Masih punya muka tebal, berdiri di sini. Cepat pergi, atau ku panggil penjaga untuk menendang mu keluar!" ucap Direktur, dengan suara ganasnya


"Jangan begitu direktur yang baik hati, maafkan aku, telah merusak nama baik mu. Lagi pula... aku ingin bernegosiasi dengan mu!" gadis itu memohon pada si direktur, rasa penyesalan dan mengakui kesalahan telah ia katakan


"Maaf saja, hahh. Sudah ku bilang pergi!" teriak Direktur tidak mempedulikan, perasaan bersalah gadis gila itu


"Jika kau tetap memaksa ku keluar, aku akan bertelanjang bulat di sini!" ancam Gadis itu, untuk meluluhkan sikap keras si direktur


Si Penjaga keluar dari ruangannya, sambil terkikik-kikik, ia tidak tahan ikut campur dalam urusan yang bukan menjadi tugasnya.


"Ayoo lakukan, telanjang saja. Aku tidak peduli dengan ancaman yang mempermalukan dirimu sendiri." ketika tubuh seorang Direktur hendak pergi, gadis itu menariknya kembali untuk saling berhadapan


Dia menangis dan meminta bantuannya, mengatakan dengan sejujurnya apa maksud di balik tindakan buruknya.


"Demi kakak ku, demi kebebasan dia dari siksaan penjara bawah tanah yang mengerikan. Aku rela mengabdikan seluruh hidupku padamu, asalkan kau memberikan uang mu sebesar 100 milyar padaku. Itu permintaan ku, tidak ada lagi yang ku inginkan," sungut-sungut gadis itu, tangisan nya murni tidak di buat-buat seperti apa yang tadi ia lakukan


"Siapa namamu?" tanya Direktur suaranya terdengar luluh


"Min Yuna, panggil saja Yuju," jawab Gadis itu sambil cegukan, karena tangisan yang terlalu mendalam


Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2