Rahasia Direktur Dan Asistennya

Rahasia Direktur Dan Asistennya
Ke Sembilan Belas: Lembur Bermanfaat


__ADS_3

~ Secret Director And Assistant ~


Author pov


Yuju mengambil napas secara perlahan, menghembuskan nya dengan perasaan kesal.


"Yaudah pergi aja, aku ngak masalah, mau tinggal bersama dia selamanya pun." Yuju memangku tubuh Jeno ke dalam pelukannya, ia segera berbalik dan buru-buru melangkah pergi keluar dari kamar


"Akhirnya, dia cemburu juga." sembari mengangkat tubuhnya beranjak dari tempat tidur, senyuman bangga terbentuk di wajahnya


"Susah juga membuka kedok kecemburuan agar terlihat jelas di wajahnya," gumam Jungkook terasa menyenangkan


Yuju menyibukkan dirinya memasak di dapur sambil menggendong Jeno di pangkuan tangan kirinya, betapa repotnya dia harus melakukan dua pekerjaan sekaligus.


Tapi mau bagaimana lagi, ia terpaksa melakukan itu daripada harus meminta bantuan suaminya untuk menjaga Jeno.


Tak...tak...tak....


Terdengar suara langkah kaki dari seorang Jungkook yang baru saja menginjak lantai dapur setelah melewati pintu, Yuju melirik-an matanya ke arah samping sedikit kebelakang.


"Kata nya mau pergi." Yuju mengadukan sepatula di atas wajan, perhatiannya sengaja tidak di alihkan dan terus fokus memasak


"Kata siapa coba aku pergi?"


"Bukan kata siapa, tapi bisikan jahat yang terus bergumam di telinga mu," jawab Yuju terdengar ketus


"Bisikan jahat seperti apa?" Jungkook masih geyel berdebat dengan Yuju, walau ia tahu istrinya tengah menahan perasaan marah


"Ya tidak tahu, kamu kan yang denger bukan aku." Yuju berbalik ia mengalihkan Jeno ke atas pangkuan tangan suaminya


"Jaga bayi mu baik-baik." kembali Yuju memutar tubuhnya, untuk melanjutkan masakan yang tertunda sejenak


"Dia bukan bayiku," ucap Jungkook pasrah


"Bayi kita," sahut Yuju singkat


Jungkook ingin berdekatan dengan Yuju akhirnya ia menaruh Jeno di atas meja, kemudian melingkarkan kedua tangannya memeluk perut istrinya.


"Beneran cemburu kalau aku pergi menemui Eunha?" dagu Jungkook sengaja ia sandarkan di bahu Yuhu


"Mana ada wanita yang tidak cemburu, kalau suaminya pergi menemui wanita lain,"


Yuju memindahkan hasil masakannya ke dalam mangkuk besar yang sudah tersedia di dekat kompor, pergerakan tubuhnya tidak bebas karena ikatan kuat berasal dari kedua tangan suaminya.


"Kalau begitu... Aku akan tinggal di sini, untuk menemanimu. Tidak pergi menemui dia, walau keadaan memaksa," Jungkook mengucapkan sebuah janji yang tidak di ungkap dengan jelas maksud dari ucapannya


"Terimakasih telah menjaga perasaanku, walau bagaimana pun aku berusaha tidak peduli tentang kecemburuan ku ini. Tapi terasa menusuk setiap kali, aku mencoba bertahan di sisimu," rasa cemburu perlahan melebur karena luluh dengan perkataan suaminya


Tiba-tiba saja Yuju mengingat Jeno, ia langsung melepas diri dalam lingkaran asmara yang tengah berkasih.


"Jeno." kepanikan Yuju terasa menggemparkan jiwanya, ia segera memangku Jeno yang di tinggal begitu saja oleh Jungkook di atas meja yang hampir mau jatuh

__ADS_1


"Di suruh jaga malah menggoda, bagaimana nanti kalau kita punya anak. Kamu biarkan dia seperti ini juga, mau Jadi seorang pembunuh atau menjadi seorang Ayah yang baik," Yuju menggerutu memarahi tingkah Jungkook yang kurang dewasa menurutnya


"Yuju tenang! Aku tadi menaruh tubuhnya di tengah, kenapa dia bisa ke pinggir?" Jungkook malah bingung dengan kejadian pindah nya tubuh Jeno


"Apa bayi terus diam, tidak kan. Udah berapa bulan umur nya, dia tambah besar juga aktif. Kamu mana tahu perkembangan dia, kamu hanya tahu dia baik-baik saja." Yuju berjalan mengambil mangkuk besar, ia menyajikan nya di atas meja


"Aku minta maaf, aku yang salah lalai menjaga bayi kita." Jungkook mencari tempat duduk terdekat, ia duduk dengan tenang dan pasrah menerima keadaan


"Lain kali jangan di ulang, kalau aku minta jaga ya jagain jangan sampai kayak tadi, lupa terus di tinggalkan begitu saja. Cepat sarapan gendong dia lagi, aku harus menjemur pakaian." setelah mengeluarkan banyak ucapan, Yuju pergi ke kamar mencari ikat gendong untuk di pakaikan ke atas bahu suaminya


Jungkook memulai sarapannya dengan kesendirian yang menyedihkan, juga menyayat hati nya begitu marah dan kesalnya Yuju padanya.


Hingga ia tidak sadar juga ataupun mencoba memahami apa yang Yuju katakan padanya, bermaksud untuk apa.


Beberapa jam berlalu, Yuju dalam tahap akhir selesai pekerjaan nya sebagai seorang istri.


Jungkook yang dari tadi berdiri dan membawa beban di depan tubuhnya, yaitu Jeno yang tengah memperhatikan Ibunya.


Di kedua bahunya melingkar ikat-ikat gendongan kuat, beberapa kali Jungkook mengalami tendangan yang luar biasa dari kedua kaki kecil yang bergerak secara bergantian menendang kebelakang.


"Jeno! Kau jadi sangat rewel pada Ayahmu, kenapa tidak lakukan itu juga pada Ibumu agar dia bosan mengurusmu dan kelelahan akhirnya... Aku bisa membuangmu tanpa perasaan bersalah, karena kau ini memang tidak berguna bagiku,"


Mengoceh terus menerus, bibir Jungkook melampiaskan kekesalan dengan memarahi Jeno yang tidak bisa mengerti ucapannya atau apa yang tengah ia jelaskan.


Jungkook memindahkan gendongan Jeno kebelakang, hingga ia seperti tengah menggendong tas.


Memberanikan diri melangkah keluar dari pintu lalu berjalan cepat menuju tempat jemuran.


Sesampainya di sana, Jungkook tersenyum melihat raut wajah lelah Yuju dan kini istrinya tengah duduk di samping spray yang menjuntai ke bawah menyentuh tanah itu.


Yuju mendongak wajahnya, senyuman lebar membalas ajakannya kemudian menumpukan telapak tanganya di atas telapak tangan suaminya.


Ia bangkit dan mereka berjalan bersama memasuki pintu masuk ke dalam rumah, sekali lagi Yuju mengingat dimana Jeno dan bertanya.


"Dimana bayi kita?" Yuju menoleh ke samping, melirik-an matanya ke atas, karena tinggi badan suaminya yang jauh lebih dari tinggi tubuhnya


"Dibelakang, dia dari tadi diam terus semenjak pindah ke atas punggung," jawab enteng Jungkook, yang tidak mempedulikan kekhawatiran Yuju


"Lagi-lagi kamu berbuat kayak gitu, udah cepat berbalik kebelakang!" perintah Yuju suara tegas


"Untuk apa Yuju?"


"Udah balik badan aja." Yuju memutarkan tubuh Jungkook hingga punggungnya menghadap ke arahnya


Syok dan sontak mengambil Jeno dari dalam gendongan, ia melangkah dengan sangat terburu-buru masuk ke dalam rumah.


Jungkook yang kebingungan juga heran, rasa panik perlahan mengikuti alunan perasaannya.


Ia berjalan mengikuti istrinya dari belakang, saat bersamaan naik tangga menuju kamar.


Jungkook berusaha berkomunikasi baik dengan istrinya, namun. Yuju tidak bisa menanggapi ucapan suaminya, kepanikan tergambar jelas di wajah cantiknya.

__ADS_1


"Yuju, katakan padaku apa yang terjadi?" Jungkook berada dalam lingkaran kebingungan kedua langkah kakinya berhenti di tengah anak tangga


Jungkook berjalan santai ketika memasuki kamar mereka, kedua matanya di buat terpukau oleh sikap Yuju yang menawan.


Dimana istrinya tengah menidurkan Jeno di ranjang bayi dengan gerakan pelan, akhirnya ia mengerti kenapa Yuju bersikap dingin padanya.


Pelan-pelan Jungkook membaringkan tubuhnya, ia memperhatikan Yuju sudah selesai bertugas menjadi seorang Laki-laki Ibu.


Dalam pikirannya ia berpikir tiba waktunya untuk berduaan dengan istrinya, kapan lagi dapat kesempatan langka yang sengaja ia sengangkan.


Benar saja dugaanya, Yuju ikut berbaring di samping tubuhnya. Hembusan napas lelah baru saja keluar dari dalam bibirnya, Jungkook tersenyum nakal dan mencoba melingkarkan tangan kanannya ke atas perut sang istri.


Yuju membalikkan tubuhnya ke samping menghadap Jungkook, lagi-lagi senyum yang biasa ia ukirkan terbentuk sempurna.


"Kamu berpikir ngak aku ini sedang marah?"


"Tidak terlintas ataupun terpikirkan, apa memang kamu marah padaku,"


"Awalnya sih marah, tapi lenyap entah kemana perasaan itu pergi," Yuju mulai merasakan kenyamanan dan santai dalam berbicara dengan suaminya


"Kakak mu memberi kabar tadi, dia tengah bersiap untuk pulang kemari,"


"Benarkah! Aku bahagia, kapan waktunya aku tidak sabar ingin segera mencubit pipinya," jawab Yuju dengan suara gemas, kerinduan terpancar jelas di matanya


Merindukan sosok kakak yang hangat, selalu memberi kata-kata smenagat juga nasihat.


"Kalau di singgung soal kakaknya, kegembiraan langsung di tunjukan. Kenapa tidak begitu juga saat bersamaku, seakan aku merasa kalau Yoongi telah berada di hatinya," batin Jungkook merasakan keresahan dalam keanehan di antara hubungan adik dan kakak


Yuju tidak merasa ada yang salah ketika ia bercerita soal kakaknya, bahkan ia membandingkan Jungkook dengan kak Yoongi.


Wajah memerah pertahanan kuat batin Jungkook yang terus di adu domba, kecemburuan dan memancing kemarahan.


Mencoba menetralkan perasaan yang melambung ke arah pertengkaran, Jungkook kendalikan sangat keras.


Meneguhkan hati, menenangkan pikiran agar lebih terkendali.


Yuju tertawa bahagia tak kala ia membayangkan sebuah ingatan manis bersama kakaknya, namun. Gelak tawanya mereda, tak kala ia memperhatikan Jungkook yang terus terdiam.


Barulah perasaan menyesal dan bersalah datang pada pikirannya, ia pun berbicara dengan suaminya setelah lama berkata-kata dalam cerita panjang nya.


"Maaf! Kalau perkataanku ataupun kisah yang aku ucapkan, menyakiti perasaan mu," Yuju terpana untuk mengetahui sebanyak mana Jungkook menahan rasa sakit hatinya


"Kamu pikir aku cemburu ataupun kesal, itu tidak akan terjadi." Jungkook mengangkat tangannya dari atas perut Yuju, kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi istrinya yang tengah menanti penjelasan


"Lalu kenapa kamu jadi begini, diam tanpa mengeluarkan suara waktu tadi?" Yuju menggerakan tangannya menggapai bahu Jungkook


To be continues..............


A/N:


Baik guys, setelah lama aku menyelam ke dasar dan menghilang akhirnya comeback juga.

__ADS_1


Sedih sih, tapi bahagia dan salut sama readers yang masih setia di ff ini.


See you .... Love you all


__ADS_2