
~ Secret Director And Assistant ~
Direktur itu terpaku untuk beberapa saat, ia tersenyum sekilas lalu menghapus senyum di wajahnya.
"Kakak mu adalah Min Yoongi, benar atau tidak?" tanya si Direktur sambil mengelilingi Gadis itu
"Iya." jawab Yuna mengangguk berat
"Uang yang kau butuhkan cukup besar bagiku, apa yang aku dapatkan darimu setelah ku beri kau 100 milyar?" Direktur duduk di kursi tempat pengawasan, membalikkan kursinya hingga menghadap ke arah gadis itu
"Apa saja yang kau minta, hidupku dan matiku di tangan mu," jawab Yuna, sambil menghapus air matanya karena laki-laki itu sudah mau membantunya
"Benarkah, apa kau yakin semua yang aku minta kau akan menuruti?" tanya si Direktur memastikan sekali lagi
"Iya, aku janji tidak akan ingkar pada perkataanku. Hari ini aku siap, menuruti perkataanmu tidak akan menolak," sahut Yuna dengan ucapan kepastian yang menjanjikan
"Kau mempertaruhkan seluruh hidup mu demi kakak mu, kenapa tidak kau biarkan dia menderita saja. Daripada kau yang menanggung semua akibat dari perbuatan nya," Direktur mulai tertarik akan kisah hidup gadis yang sedang ia perhatikan, tidak ingin jatuh dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya ia sangat hati-hati dalam mengenal kembali seorang wanita
"Karena aku bukan adiknya." Yuna tertunduk lalu menutup kedua matanya
"Kau bercanda padaku, aku salah menilaimu." Direktur beranjak pergi, Gadis ini kembali menggengam pergelangan tangannya mencegah kepergian nya
"Percaya atau tidak, aku bukanlah orang yang jahat dan mudah di percaya. Orang asing sepertiku, masih tetap ada yang sangat sayang padaku. Dialah kakak Yoongi, kakak Suga yang terus memperhatikan dan merawatku sampai sebesar ini...." Yuna mulai bercerita
Masuk ke dalam dunia masa lalu
.Yuna Pov
Dulu, aku hanya seorang berandalan yang sering berkeliaran di jalan, mengamen dan mencuri adalah keahlian yang aku punya.
Sejak Kedua orangtuaku meninggal dalam kecelakan bus yang kami tumpangi saat hendak pergi ke rumah nenek.
Hanya aku, saksi mata satu-satunya yang masih hidup kala itu.
Aku berjuang sendiri demi kelangsungan hidup, kesehatanku yang mulai memburuk semakinΒ melemah.
Aku tidak bisa mencari uang, hanya duduk sambil menggulurkan kedua tangan, mengharap belas kasihan pada semua orang yang melintas di depan mata.
Uang yang aku kumpulkan tidak cukup untuk berobat, hanya bisa membeli makanan satu kali makan di tambah segelas air untuk di minum.
Sampai pada waktunya, aku merasa ajal telah tiba padaku.
Tubuhku merinding ketakutan, hatiku pilu mendengar jeritan bibir yang terus bergetar menyimpan perasaan gelisah dalam benakku.
Tak lama aku menutup mata dan tidak ingat apapun, bangun dari ketidak sadarkan ku. Aku sudah terbaring di ranjang rumah sakit, di sampingku ada seorang remaja laki-laki yang tengah tertidur.
Aku mencoba tersenyum, tapi tidak bisa aku lakukan. Selang oksigen yang aku kenakan, membatasi semua pergerakan di wajahku.
Tiba-tiba ia terbangun, membuatku kaget.
Dia menatapku dengan sorotan kekhawatiran, dia terus bertanya apa aku baik-baik saja.
Aku ingin menjawab nya, tapi napasku tersenggal. Sesak dan menyesal, tidak bisa bicara dengan sempurna.
Dia memperkenalkan dirinya, sebagai kakak Yoongi. Min Yoongi, itulah nama yang ia ucapkan dengan suara lantang.
Aku tertawa senang dalam hati, ada seseorang yang menolong ku untuk bertahan dalam kekejaman hidup ini.
Ia mengangkat ku sebagai adiknya, memberiku nama Min Yuna.
Umurku waktu itu baru sepuluh tahun, setelah aku keluar dari rumah sakit.
Kakak mengajak ku ke tempat tinggalnya, kumuh, bau dan menjijikan.
__ADS_1
Rumah yang atapnya hampir rubuh, tetap kami tinggali sampai usia kami dewasa.
Aku belajar berjudi dan bermain senjata api, lewat penglihatanku yang terus memperhatikan kegiatan kakak sehari-hari.
Kakak selalu melarangku ikut dengannya, tapi dengan sifat bandel yang aku miliki.
Aku tetap mengikutinya diam-diam, dia mengetahui segalanya tentangku. Bahkan, dia tahu aku membuntutinya.
Akhirnya dia mau mengajakku kemana dia pergi, aku langsung tahu perkerjaan kriminal kakak ku.
Menjadi pembunuh bayaran, adalah pekerjaan profesional nya.
Seorang bandar judi, yang selalu menang dalam setiap pertandingan di adakan di klub malam.
Bermula dari awal aku mencoba, mengikuti perjudian besar-besaran. Ketika kakak ku sedang pergi.
Aku mulai tertarik melakukannya, Sampai-sampai aku hilang kendali karena sebuah ambisi yang tinggi, telah membawa kepahitan dalam hidupku.
Aku sangat yakin pada diriku waktu itu, kalau aku akan menang besar dan mempertaruhkan uang yang aku pegang hasil dari kerja keras kakak dan menghabiskan nya dalam semalam.
Tak sampai di situ, aku meminjam uang pada rentenir dalam jumlah besar.
Kemudian, nilai yang ku dapatkan tidak sesuai apa yang aku harapkan.
Aku kembali kalah dan kalah, sampai menyisakan hutang yang besar.
Kakak ku pulang dari tugasnya selama berhari-hari tanpa kabar.
Dia sangat marah padaku, mengetahui aku meminjam uang pada seorang rentenir yang terkenal kekejamannya.
Ia mengajak ku pergi dari tempat yang bertahun-tahun kami tinggali, demi menyelamatkan nyawaku dari kesadisan si rentenir.
Sayang, kami tertangkap basah ketika hendak naik kereta.
Rentenir itu sangat murka, dia hampir membunuh kami berdua.
Resikonya, aku hampir saja di perkosa nya. Tapi, kakak ku tidak tinggal diam ia memberontak dan melawan.
Ia menyuruh ku pergi, dia mengusirku merelakan tubuhnya di sakiti.
Aku masih berdiam diri dan menangis... Jeritan, tangisan aku memohon ampun pada tuan rentenir itu.
Rentenir itu berkata, jika aku bisa mengumpulak uang 50 milyar, dalam satu minggu. Maka kakak ku akan bebas dan aku akan terlepas.
Aku menyanggupi perintah itu, anak buahnya memisahkan kami berdua.
Kakak ku di masuk ke penjara bawah tanah, aku di usir keluar.
Putus asa sudah pasti terdapat dalam jiwaku, tapi hatiku ... tidak bisa membiarkan kakak ku menderita lebih banyak lagi.
Aku mulai berpikir keras selama berhari-hari, memikirkan cara ampuh mendapatkan uang yang segudang itu.
Tapi, taktik dan ide hanyalah rencana semata. Nyatanya, tidak ada cara yang bisa menghasilkan uang dalam jumlah besar itu.
Flash Black Off>
Yuna Pov berakhir.
"Ketika aku sedang berjalan di sekitar toko elektronik, aku melihat iklan mu dan juga mantan istrimu, pemberitaan perceraian kalian menjadi topik pembicaraan semua orang." Yuna perlahan melepaskan tangan si Direktur
"Di situlah, aku mulai punya harapan. Harapanku adalah menjadi milikmu. Mungkin dengan itu, aku bisa mendapat uang menebus kakak ku dari tangan rentenir itu." Yuna melepaskan jas yang menempel di tubuhnya
"Tapi, tidak di sangka kamu sulit aku taklukan. Aku kira kau akan terpesona dengan kecantikan yang aku miliki, walau aku tidak begitu cantik." Yuna memberikan jas itu ke tangan si Direktur, lalu tersenyum tipis
__ADS_1
"Sudah aku ceritakan kebenarannya, aku tidak berbohong. Aku sangat jujur, inilah sifat tersuci yang aku miliki," sungut Yuna kembali menyakinkan kepercayaan si Direktur
"Kau bilang menebus kakak mu sebesar 50 milyar, kenapa kau minta 100 milyar?" kecurigaan bermunculan di benak sang Direktur, rasa percaya perlahan memudar
"50 milyar lagi, untuk kakak ku agar dia tidak lagi melakukan pekerjaan kriminal nya. Demi kehidupan yang layak ia dapatkan, di masa depan nanti. Tidak masalah, jika aku tidak melihat pertumbuhan kakak ku. Dia pasti selalu dalam keadaan baik, bahkan tersenyum ceria pada semua orang. Itulah impian ku saat ini." Yuna melangkah mendekati si Direktur, lalu bersujud di telapak kakinya
"Terimalah kebenaran ini, dahulu aku selalu berbohong dan berbuat kejahatan. Tapi sekarang, aku akan merubah diriku sesuai arahan darimu. Aku siap jadi pelayanmu, seumur hidupku." Yuna masih menundukan kepalanya ke atas lantai, di depan kaki laki-laki itu tetesan air mata mulai bercucuran
Direktur itu tidak sanggup melihat penderitaan Gadis bertingkah gila itu, ia membangunkan Yuna dan membantunya berdiri dengan normal.
Menyentuh kedua bahunya, lalu mengatakan kata-kata pada Yuna.
"Aku akan membantumu, tapi turuti semua syarat yang aku berikan padamu!" ujar Direktur dengan suara halus, mengecilkan suaranya agar tidak terdengar orang luar
"Aku setujui semua syarat yang kau ucapkan." Yuna mengangguk, perlahan kerisauan dalam dirinya menghilang
"Ikut denganku, jangan banyak mengeluarkan suara." si Direktur memakaikan jas nya kembali, menutupi tubuh Gadis itu karena pakaian nya yang robek karena ulah dia sendiri
"Kalau boleh aku tahu, siapa namamu?" tanya Yuna, ia tidak ingat siapa nama laki-laki di hadapan nya
"Kau datang dengan nyali yang besar padaku, tapi tidak tahu siapa aku sebenarnya. Dasar ceroboh, bagaimana kalau kau salah mengenali orang," cibir Direktur sambil menggeleng tidak percaya
"Aku tahu kamu dari wajahmu, itu sudah cukup bagiku. Katakan saja, siapa namamu... agar aku bisa memanggil mu?" Yuna menatap pergerakan kedua bola mata Direktur itu, sama-sama memandangi satu sama lain
"Namaku...." ucap Direktur, ia ikut terfokus memperhatikan kedua pasang mata yang sedang menelitinya dengan tajam
Bersambung........
Vote and Comments di bawah!
Di tunggu loh! Kalau komentar nya sampai 10, up faster. Kalau belum sampai, pending aja dulu. Baru mulai.
Thanks for reading!
Happy friday night, good night.
See you
Love you
πΈπππΈπππΈ
πππππππ
πππππππ
πΈππππππ
πΈπΈπππππ
πΈπΈπΈππΈπΈπΈ
πΈπππΈπππΈ
πππππππ
ππΉππΉπππ
πΈπΉππΉπππΈ
πΈπΉππΉππΈπΈ
πΈπΈπΉππΈπΈπΈ
__ADS_1
Masih di pantau loh, sama aku!