
~ Secret Director And Assistant ~
Author pov
Di kantor Jeons Group
Jungkook sedang di landa rasa kecewa yang membuat ia terpukul berat, pertemuan yang diadakan dengan kakeknya batal dan harus di undur 1 minggu ke depan.
Masalah kesehatan sang kakek menjadi alasan utama, mengapa pembatalan ini di lakukan.
Kini ia duduk melamun di kursi kerjanya, tak berapa lama kilatan bayangan Yuju yang tengah tersenyum menggendong Jeno menjadi semangat baru, untuk ia bangkit dari keterpurukan nya.
"Aku pulang Yuju." Jungkook mengambil kunci mobilnya, yang terlihat di atas meja dekat tumpukan sebuah dokumen
Berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari ruangannya, mempercepat perjalanannya menuju tempat sang istri tercinta.
Menelusuri lorong-lorong tempat parkiran mobil, mencari kendaraan roda empat yang ia tinggalkan.
Setelah sukses masuk di dalam mobilnya, dengan posisi duduk yang sudah nyaman.
Jungkook melingkarkan sabuk pengaman ke tubuhnya, ia menyalakan mesin mobil.
Otomatis segera menyetir mobil, mengendalikannya keluar dari area parkiran.
Mobil melaju sesuai aturan tanpa menerobos pembatas jalan, Jungkook berhasil keluar dari gedung perkantoran kini kendaraan nya tengah di kemudikan di jalan raya.
____,#####_____ #####
Kesuraman tergambar jelas di wajah cantik Yuju, ia tidak tahu kemana arah pulang yang akan menuntun ia kembali ke jalan benar.
"Sebaiknya ikut ke rumah saya, anda tidak perlu khawatir soal keamanan di sana. Tentunya sangat aman, malahan anda akan merasakan kenyamanan setelah tinggal. Setidaknya sampai hujan reda dan pohon tumbang itu di evakuasi dalam beberapa jam ke depan," ujar Minhyun nadanya terdengar santai mengajak Yuju tinggal bersamanya
"Hanya sebentar kan?" tanya Yuju memastikan
"Terserah, jika nau selamanya tinggal tidak keberatan," jawab santai Minhyun ia kembali ke posisi menatap ke depan
"Terimakasih, telah menolong sampai sejauh ini," ungkapan rasa terimakasih Yuju, tidak di tanggapi oleh Minhyun
Laki-laki itu hanya fokus melihat sekitar kaca mobil, orang-orang yang tengah kehujanan menjadi titik pusat perhatian matanya.
Di kota C mobil Jungkook dan mobil Minhyun saling berpapasan di jalan jalan yang sama namun, berbeda arah.
Jungkook dan Yuju tidak saling melihat satu sama lain, Yuju sibuk berbincang dengan Jeno untuk menenangkan bayinya dari rasa takut sedangkan Jungkook, ia fokus menyetir untuk cepat sampai ke tempat tujuan.
Dalam perjalanan Jungkook juga di hadapkan dalam permasalahan yang sama, pohon besar yang tumbang belum juga di evakuasi.
Untungnya dia mengetahui jalan pintas ke tempat tinggal nya, ia memutar arah dan membelokkan mobilnya setelah berada di km 33 ke jalan kanan.
Sesampainya di sebuah rumah tingkat dua, Yuju di persilahkan masuk bersama dengan si pemilik rumah oleh seorang pelayan yang sudah tua umurnya.
"Dimana SinB, bii?" tanya Minhyun sambil melepaskan sepatunya, sebelum menginjak lantai rumah dalam
Yuju mengikuti Minhyun melepas sepatu high heels nya namun, langsung di cegah laki-laki itu.
"Tidak perlu mengikuti ku, aku juga akan memakai sandal." Minhyun melangkah ke rak sepatu yang terpajang di sisi pintu, mengambil sandal lalu ia kenakan
Yuju memasukan kembali kedua kakinya, lalu mengenakan highheels.
"Cepatlah duduk istirahat kan tubuhmu!" ujar Minhyun mendahului tubuh Yuju ketika berjalan
Yuju mengikuti langkah kaki laki-laki di depannya, sembari melirik ke sekitar ruangan.
Terdapat pajangan poto laki-laki itu di dingding, juga photo sang adik bersama seorang pria.

Yuju terkaget memperhatikan pria yang bersama adik anggota kepolisian itu, ia mengenal sosok yang tak asing lagi baginya.

Minhyun berbalik kebelakang setelah pendengarannya tidak mendengar langkah seorang penguntit di belakang.
"Apa kau mengenal adikku?" tanya Minhyun sambil mendekati tubuh Yuju yang terlihat kaku
__ADS_1
"Tidak." jawab Yuju sambil menggelengkan kepala
"Lalu apa yang tengah kau lakukan, memandang begitu serius nya?"
"Sepertinya aku mengenal laki-laki yang bersama adik mu ini?" Yuju menunjuk ke arah photo si pria
"Ohh dia, dia adalah tunagan adikku. Namanya Park Jimin, dia pangkatnya lebih tinggi dari ku di kepolisian. Komisaris Jenderal polisi, mereka sudah bertungan sekitar 6 tahun lamanya. Apa kau berteman dengan Jimin?" Minhyun melirik Yuju yang kelihatan rambah kaget mendengar penjelasan Minhyun
"Kami tidak berteman, bahkan kami hampir menjadi musuh... untung saja itu tidak terjadi. Awal pertemuan kami sangat buruk, aku segera mengakhiri pertemuan itu dengan singkat... Jadi aku tidak mengenal dia sedikitpun," sungut Yuju yang terdengar bertele-tele, kegugupan membuat ia menjadi tidak bisa berbicara seperti biasanya
"Benarkah?" ucap Minhyun sedikit penasaran terhadap perkataan Yuju yang kurang meyakinkan
"I--ya," jawab Yuju kembali gugup
Flash Black>>> ingatan Yuju 6 bulan yang lalu, sebelum ia menghadapi bahaya
"Saya tidak sengaja!" pembelaan Yuna di depan meja seorang inspektur polisi yang sedang menginterogasi nya di depan para saksi dan korban

"Jika anda tidak sengaja mengapa anda melakukannya dengan sengaja, para saksi mengatakan bahwa anda memang benar mengambil dompet si Ibu ini." jelas si inspektur menujuk ke arah korban yang tengah menunduk merasakan rasa sakit
"Awalnya saya memang benar ingin mencuri uang di dalam dompet si Ibu itu, tapi setelah mendengar perbincangan nya dengan seorang wanita tua, saya mengurungkan niat dan berusaha mengembalikan dompet yang saya curi ke dalam tas nya kembali," Yuna menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya
"Tapi anda gagal bukan, karena anda mengambil satu lembar uang di dalamnya, walau hanya satu lembar tapi anda sudah ke tangkap basah. Tindakan yang anda lakukan adalah tindakan kriminal, saya tidak bisa membebaskan anda tanpa syarat," tegas si inspektur tetap menyatakan Yuna adalah seorang yang bersalah
"Tuan Park Jimin!" teriak Yuna setelah membaca papan nama yang tertera di atas dada seragam si inspektur
"Anda harus membebaskan saya, karena anda telah mendiskriminasi anak yang tak berdosa, ok. Saya akan minta maaf sesuai perintah anda." Yuna berbalik, menghampiri si Ibu yang telah ia jahati
"Maaf Bu! Jujur saya memang mengambil uang anda, tapi hanya selembar. Walau saya tahu uang yang anda miliki, untuk pengobatan anak anda. Saya minta maaf sebesar-besarnya, apa Ibu mau memaafkan saya." Yuna memohon pada si Ibu, dengan penuh harap dia mau memaafkan nya
"Tidak apa-apa, saya menerima kejujuran anda. Jangan mengulang kembali kejahatan yang telah anda lakukan pada orang lain, itu tidak baik," sahut lembut si Ibu memaafkan Yuna
Yuna tersenyum senang, ia kembali lagi ke kursi dakwaan. Percaya diri dan tetap membanggakan dirinya, bahwa ia sudah murni dari kasus pencurian.
"Tapi anda tetap menjalani kurungan penjara, walau kata maaf sudah anda terima. Penjaga, tolong masukan dia ke penjara!" Jimin tersenyum licik, sambil bangkit dari tempat duduknya
"Ada apa lagi Nona, sudah bersalah mau bikin bermasalah lagi," ucap dengan nada senang, Jimin tersenyum
"Hey... Kau tak boleh begini padaku." Yuna di seret ke sel tahanan, ia di masukan ke dalam ruangan pintu berbesi
Jeruji besi menjadi pertahanan kokoh bagi dirinya, untuk bisa kabur dengan cepat.
Yuna menggengam besi hitam di kedua tangannya, sambil merengek minta pulang.
Kedua anggota polisi itu masih menjaga Yuna dari kejauhan, tak berapa lama inspektur Jimin datang meneguk tahanan barunya.
"Bagaimana setelah anda masuk, senang atau sedih?" ejeknya
"Kau berkuasa seenaknya terhadap orang lemah, aku ini seorang wanita. Hatiku lembut tidak sekeras batu, yang bisa menahan rasa sakit terlalu lama," Yuna mengadu sambil memohon keadilan untuknya
"Jika ada jaminan untukmu, kau akan bebas,"
"Jaminan, apa benar aku bisa bebas kalau ada jaminan?" bola mata Yuna langsung berbinar setelah mendengar ada cara lain untuk menghirup udara bebas
"Tentu saja, tapi...." Jimin meneliti Yuna dari ujung kaki sampai ujung rambut
"Mana ada yang membebaskan berandalan seperti mu...." Jimin tertawa terbahak-bahak, mentertawakan nasib gadis malang
"Kejam sekali...." Yuna berdesis sedih
Tiba-tiba ia tersenyum dan membangkitkan semangat nya kembali.
"Tuan Jimin." Yuna senyum menggoda, demi mendapatkan perhatian dari si inspektur

"Apa?" Jimin mendekati jarak tubuh gadis itu, tanpa bermaksud mengikuti godaan nya
"Jika aku berikan sesuatu, maukah kau melepaskan ku!" Yuna mengedipkan satu matanya dengan genit, supaya meluluhkan sikap keras di dalam diri si inspektur
"Apa yang mau kau berikan?" Jimin meremehkan
__ADS_1
"Cinta satu malam denganku, aku ini gadis perawan belum di sentuh orang. Itu adalah hadiah paling langka dalam hidupmu, kapan lagi dapat gadis gratisan seperti ku," Yuna merayu dengan perkataan nya yang manis
"Tidak tertarik sama sekali, lagipula kekasihku lebih cantik darimu. Lihatlah ini." Jimin menunjukan cincin yang melingkar di jari manis tangan kananya
"Kami bahkan sudah tunangan, selingkuh denganmu aku tidak berniat sama sekali. Maaf ya." Jimin terkikik-kikik, ia mentertawai tingkah konyol Yuna
"Kalau begitu... lepaskan aku, kenapa kau masih mengurungku kalau kau tidak menyukai ku... Dasar JAHAT!" Yuna mengerutkan kening nya, menunjukan raut wajah kemarahan pada si inspektur
"Hukuman adalah kepasrahan yang harus di jalankan, demi di tegak-an nya keadilan. Selamat datang di sel tahanan yang penuh derita, semoga anda betah di sini sampai mau balik lagi tidak ingin pergi." Jimin pergi melangkah dengan sombong, menunjukan kekuasaan nya yang tidak bisa di batah perintah darinya
"Awas saja, aku akan balas dendam padamu." Yuna menurunkan tubuhnya ke bawah, ia duduk dalam kepasrahan dan meratapi penderitaan yang segera datang
Selang beberapa jam, anggota polisi yang menjaganya tiba-tiba saja membuka gembok kunci pintu masuk sel tahanan.
Yuna segera membangkitkan tubuhnya, berdiri dan mendekati perlahan pintu dalam proses pembukaan.
Setelah pintu terbuka, Jimin datang bersama dengan seorang pria yang di ketahui namanya adalah Min Yoongi.
"Maaf telah merepotkan anda, Tuan Park. Adik saya memang kurang ajar, saya harap dia tidak berkata kasar pada anda?" ucap Yoongi merasa bersalah dan malu terhadap tingkah adiknya
"Adik anda lebih dari kurang ajar, kata-kata nya tidak baik di cerna pendengaran saya. Harap menjaganya, jangan sampai masuk ke penjara sini lagi." Jimin senyum terpaksa menghargai pengorbanan seorang kakak
"Anda pasti tidak tahan dengan ucapannya yang nyeleneh, sekali lagi maafkan saya." Yoongi menghampiri adiknya yang baru saja mengeluarkan diri dari dalam sel tahanan
Yuna memeluk tubuh kakaknya, lalu tanpa perintah ia meminta maaf pada kakaknya.
"Kakak aku minta maaf, telah membuatmu pusing," ucapnya lembut
"Kakak sudah bilang... kalau kurang uang jangan mencuri, tunggu saja kakak pasti akan pulang. Kamu ini." Yoongi melepaskan jeratan kedua tangan adiknya yang melingkari pinggang nya
"Tapi kakak lama sekali tidak ada kabar," alibi Yuna ia tidak ingin ketahuan kakaknya, kalau ia sangat membutuhkan uang waktu itu
"Ya sudah... biarlah, ayoo kita pulang." Yoongi meriah telapak tangan adiknya, menariknya membawa ke arah pintu keluar
Di sela-sela ia berjalan bersama kakaknya, ia sempat mengucapkan kata pada si inspektur.
"Menyesal aku tawari diri, kau sungguh tidak pantas mendapatkan gadis cantik sepertiku." Yuna memalingkan wajahnya ke depan, setelah memberikan pesan terakhirnya
"Kata-kata nya sungguh tidak bisa di perbaiki, pantas saja kakaknya kebingungan menghadapi remaja nakal seperti dia." Jimin menggelengkan kepala, ia tidak bisa mentoleransi sikap Yuna yang sangat keterlaluan tak memenuhi altitude dalam bersikap

Flash Black Off<<<<<<<
Kembali lagi ke masa sekarang dimana Yuju malah melamun, terbayang masa lalu yang cukup seram.
To be continues..............
A\N:
Siapa bilang Author ngak kangen readers yang suka komentar dan kasih bintang?
Kangen ko, malahan ini berjuang ngetik terus di kala jadwal sibuk terus padat.
😰😰😰
Intinya jangan bosan like dan comments!
Please hargai karya yang hasil pemikiran sendiri.
Di ff ini maupun karya Author lain, ngerasin sih kalau ide itu di dapat gampang-gampang susah, sulit biar buat karya beda dari yang lain.
😍😍😍
Thanks for like and comments!
Love you all
@AnaPitriana
Jangan di nanti, kalau sudah saatnya Aku akan up, asalkan kalian benar-benar minat baca nya!
Harus setia sih, kalau yang utama.😁
__ADS_1