Rahasia Direktur Dan Asistennya

Rahasia Direktur Dan Asistennya
Ke Lima Belas: Gagal Pulang


__ADS_3

~ Secret Director And Assistant ~


Di sebuah pusat perbelanjaan terkenal masih di kota F, Yuju baru sampai dan bergabung bersama pasangan kekasih rekan kerjanya.


Ia menghela napas sejenak, untuk memulai pembicaraan panjang dengan mereka berdua.


"Yuna...." sapa So Jung sembari melukis senyuman hangat di wajahnya


"So Jung, Seok Jin... Maaf aku telat," balas Yuju tersenyum lega


"Tidak apa-apa, lain kali harus tepat ya," canda So Jung membuat Yuju tertawa


"A...hahaha... tidak janji juga sih, ingkar sering kali aku lakukan karena lupa ataupun kesibukan," sahut Yuju terbawa suasana dalam candaan hiburan yang menghidupkan pembicaraan


"Pesanan yang kamu minta." Jin memangku sebuah tas plastik besar ke atas meja, mendorong tas itu sampai ke dekat Yuju


"Terimakasih, sekali lagi maaf telah merepotkan kalian." Yuju mengambil pesanan yang telah ia perintahkan, menurunkan tas besar itu ke bawah meja dekat kakinya


Yuju menjadi pusat perhatian pasangan kekasih itu, ketika dirinya sibuk membenarkan posisi Jeno yang tengah tertidur di atas pengakuan lengannya.


"Repot juga ya punya bayi, padahal dia bukan anakmu ataupun keluarga," ujar So Jung terkesan melihat Yuju yang terlihat sangat hati-hati dengan rasa sayangnya mengurus bayi


"Makannya cepat menikah, biar tahu bagaimana jadi aku. Lelah... menyusahkan, ke mana-mana bawa gendongan, sudah terbiasa sih. Walaupun jadi momy single, ngak keberatan ko," sungut Yuju berbagi pengalaman menjadi seorang Ibu yang tengah ia perankan


"Mau sih ikuti saran kamu, tapi ini nih." So Jung mencubit pinggang Jin hingga menimbulkan suara kesakitan dari bibir sang kekasih


"Entah kapan datang ke rumah bawa lamaran." ucap So Jung ekspresi gemas sambil melepaskan cubitan jarinya


Yuju hanya bisa tersenyum bahagia, ikut terhanyut akan kisah asmara di depannya.


Melihat sepasang kekasih itu bertengkar dan saling tertawa satu sama lain, membuat Yuju mempunyai rasa iri akan keakraban keduanya.


Walau sedang marah tetapi cinta mereka begitu terlihat, ia hanya menundukan wajahnya memikirkan nasib jalinan kasih nya.


"Yuna, kita akan hadir dalam pertemuan orang-orang terkenal. Suami mu bahkan ada di sana?" Jin mengesampingkan kebahagiaan yang tengah ia rasakan, dan mulai fokus pada tugasnya


"Hmm... Benarkah, apa akan beresiko nantinya?" Yuju mendongak wajahnya ke atas sedikit demi sedikit


"Beresiko besar, kemungkinan kesalahpahaman akan terjadi... Bagaimana menurut mu, kau ikut ambil bagian atau tidak?" tanya Jin dengan pasti, tidak butuh waktu yang lama lagi


"Aku ikut saja, walau harus ketahuan tidak akan menyerah begitu saja," jawab Yuju meyakinkan kepercayaan Jin


"Pertama kau harus siap segalanya, acara itu akan di adakan 2 minggu lagi. Semoga kau dalam keadaan baik-baik saja, kita berangkat ke sana demi kepentingan kelompok," jelas Jin mengutarakan tujuannya


"Bukankah pertemuan itu hanya menjamu tamu penting yang terbatas jumlahnya, tertutup awak media ataupun untuk masyarakat. Hanya kaum tertentu saja dan orang-orang special yang mendapat kartu undangan, apa mungkin kita bisa masuk?" terang-terangan Yuju mengungkapkan kekhawatiran yang akan menghadang jalan mulus mereka


"Yuna kamu lupa, siapa Seok Jin ini." So Jung menepuk pundak kekasihnya


"Dia itu seorang peniru yang hebat, keakuratan dalam hal kerja yang sulit di kerjakan sekalipun tetap saja bisa ia lakukan." So Jung menunjukan senyum pengertian memberi sebuah kode keras pada sahabatnya


"Kartu undangan palsu!" ucap Yuju dengan kegetnya, setelah ia menebak secara langsung tanpa berpikir panjang


So Jung dan Seok Jin hanya mengangguk, Yuju mengatakan iya dan mulai memahami ide dari kedua rekan kerjanya.


"Baiklah kesepakatan telah terjadi, Yuna kami permisi dulu. Banyak yang harus kami urus dan selidiki masalah selanjutnya. Sampai Jumpa." So Jung bangkit dari tempat duduknya, tangan kanannya masuk ke telah lengan kekasihnya

__ADS_1


"Jangan lupa, jaga diri mu." Jin menyentuh punggung tangan So Jung yang menegang erat lengannya


"Baiklah... cepat berangkat, cari informasi lebih banyak," goda Yuju


"Hahaha... Dia itu." So Jung dan Seok Jin pergi meninggalkan Yuju sendirian


Kepergian kedua sahabatnya memberi dampak beban kesepian berat di dalam jiwa Yuju, baru saja beberapa jam yang lalu ia merasa terhibur kini harus merasakan kesendirian merindukan seseorang di sisinya.


Yuju membenarkan tali pengikat gendongan bayinya, setelah merasakan erat dan kuat.


Yuju menarik ikat tas plastik di satu tangan yang lainnya, membawa roda bayi yang sudah terlipat rapi.


Sepanjang perjalanan keluar dari mall, Yuju merasa kecapean.


Memakai sepatu high heels membuat keram kedua betis kakinya, ia beristirahat di tempat pemberhentian bus.


Sambil menunggu ia menyandarkan tubuhnya di tembok tempat duduknya.


Awan mendung terlihat di atas langit, matahari tertutupi kabut hitam yang sangat pekat.


Terdengar suara gemuruh hasil dari pertir yang beradu, Yuju mengelus dadanya untuk menenangkan dirinya.


Tak berapa lama hujan rintik-rintik mulai turun ke bawah bumi, di sertai angin yang cukup kencang terjadi.


Yuju melindungi tubuh Jeno dengan menutupi gendongan tangannya secara menyeluruh, agar kehangatan tidak menurun drastis karena suhu dingin menerjang.


Seorang laki-laki bertopi layaknya anggota polisi datang menghampirinya, merasa dirinya adalah mangsa Yuju menundukan wajahnya.


Tangan kanan menutupi bagian wajahnya yang terpandang oleh laki-laki tersebut.


Sempat tegang dan merasa sedikit rasa takut, akhirnya ia merasa lega tak kala laki-laki itu tidak mengenali dirinya.


"Nona, tengah menunggu bus?" tanya sopan si laki-laki yang menghadap ke arah Yuju



Yuju mengangguk, memberi isyarat bawah pertanyaan yang dia tanyakan adalah benar.


"Jam segini bus biasanya tidak akan lewat, Nona ingin pergi kemana biar saya bantu carikan transportasi lain?" ucap laki-laki ini memberi sedikit bantuan pada Yuju


Yuju menurunkan tangan yang sendaritadi ia gunakan untuk menutupi bagian wajahnya, lalu mendongak wajahnya sedikit ke atas menatap seseorang yang tengah memperhatikannya.


"Ke kota B, ini pertama kalinya saya datang ke sini. Jadi saya tidak tahu, bus jurusan ke kota B sudah lewat atau belum," jawab Yuju mendetail permasahan yang tengah ia alami


"Anda telat satu jam Nona, bagaimana kalau saya mengantar anda pulang ke rumah anda?"


"Tidak terimakasih, saya akan menghubungi suami saya untuk datang menjemput," alibi Yuju untuk menolak tawaran dari si laki-laki


"Jangan berbohong itu tidak baik, apa anda tidak kasihan pada bayi yang tengah anda gendong. Mobil jemputan saya sebentar lagi akan tiba, mari saya antar ke rumah anda," jiwa kemanusiaan yang tumbuh sampai berakar, ia tidak tega melihat seseorang yang tengah membutuhkan bantuan apalagi seorang Ibu


"Anda tidak perlu takut, saya bekerja di kantor polisi silahkan lihat kartu identitas yang saya miliki." laki-laki ini menunjukan kartu identitas yang tertera di atas dadanya di sebelah kiri


Nama: Hwang Min-hyun


Lahir:9 agustus 1995

__ADS_1


TB:181cm


Jabatan: Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol)


Yuju telah selesai membaca identitas Minhyun, ia sedikit yakin dengan kebaikan laki-laki itu pada akhirnya, Yuju mengalah dengan sikap egoisme.


Benar saja, ucapan Minhyun bukanlah sekedar ucapan belaka, sebuah mobil hitam merek toyota berhenti di pinggir jalan tempat mereka berteduh.


Minhyun mempersilahkan Yuju untuk masuk ke dalam terlebih dahulu, ia mengangguk setuju dan membawa masuk semua barang yang ia bawa.


Beberapa menit kemudian mobil tengah melaju menuju kota B, Minhyun bertanya pada Yuju siapa namanya.


"Jeon Yuna, marga yang aku ambil dari nama suamiku." jawab Yuna sambil memindahkan Jeno ke jok kosong di sebelahnya


"Saya menanyakan nama bukan untuk berkenalan, tapi data anda sangat penting untuk saya ingat," jelas Minhyun agar Yuju tidak salah paham atas maksud kebaikan nya


"Terimakasih saya berhutang budi atas jasa bapak," sahut Yuju merasa tidak ada yang salah dari ucapan yang ia barusan katakan


"Bapak," gumam Minhyun merasakan aneh yang membingungkan


"Sudah tugas saya membantu orang yang sedang berada dalam kesusahan, termasuk anda salah satunya," balas Minhyun ia kembali fokus menatap ke depan


Yuju hanya tersenyum, ia lebih memilih menjaga jarak pembicaraan daripada terus melakukan pendekatan.


Karena ia tidak ingin membuka kedok yang ia pasang, agar ia tetap aman menjalankan tugasnya.


Mobil telah memasuki kawasan kota B, jalanan sepi membuat kecurigaan di benak Minhyun.


"Nona, apa ini jalan yang benar?" sekali lagi Minhyun memutar kepalanya sedikit ke samping, lalu di tatapnya Yuju yang tengah mengganti pakaian bayinya


"Tentu saja, hanya ini jalan satu-satu nya sering aku tuju. Ada apa ya?" Yuju merapikan pakain yang telah ia pasangkan di tubuh Jeno


Ketika Minhyun berbicara menjelaskan alasannya mengapa bertanya, sang supir menginjak rem secara mendadak.


Membuat semua penumpang tergoncang dan hampir jatuh, Jeno pun menangis keras menunjukan perasaan yang ia alami.


Yuju segera memangku Jeno dan memasukan tubuhnya ke dalam pelukan, mengelus punggung Jeno dengan lembut.


"Sayangku... Ibu ada di sini, tenang ya... Cup...cup...." ucap Yuju dengan suara lembut yang menenangkan


"Ada apa?" Minhyun menatap sang sopir dengan raut wajah cemas


"Ada pohon tumbang di depan, kita tidak bisa melewati jalan ini," jawab sang Supir sedikit gagap


"Apa!" Yuju tambah syok, mengingat ia harus segera pulang


"Bagaimana ini bisa terjadi, petugas seharusnya sudah datang menangani." Minhyun memainkan ponselnya


Jerit tangis Jeno semakin menjadi, Yuju tertekan dalam keresahan hatinya.


Memikirkan suaminya yang pasti tengah menunggu kedatangan nya pulang, ia mencoba bernegosiasi dengan Minhyun untuk mencari jalan alternatif lain.


"Maaf Nona, walaupun saya seorang polisi saya tidak terlibat dalam pengaturan jalanan. Bukankan Nona yang tahu kemana kita harus pergi, karena anda tinggal di daerah ini?" Minhyun membalikkan keadaan terdesaknya, bahkan ia tidak tahu jalan pintas


"Saya baru pindah ke sana, jadi saya juga tidak tahu ada jalan lain yang mengarah ke tempat tinggal saya," jawab jujur Yuju, ia tidak berpura-pura memasang wajah polosnya

__ADS_1


"Lalu... Kalau sudah begini, apa anda akan pergi ke tempat lain?" Minhyun khawatir akan kondisi Ibu dan Bayi yang terlihat lesu dan lemah secara psikis yang ia amati


To be continues.........


__ADS_2