Rahasia Direktur Dan Asistennya

Rahasia Direktur Dan Asistennya
ke-tujuh: Aneh Tapi Nyata


__ADS_3

~ Secret Director And Assistant ~


Yuju tertunduk lemas bersandar di atas kloset duduk, bibirnya menggigil kedinginan.


Pergerakan otot seluruh tubuhnya beku tak dapat di gerakan, Jungkook masuk ke dalam dan terkejut melihat keadaan Yuju yang begitu lemas juga mengkhawatirkan.


Segera bertindak cepat memangku tubuh Yuju, membawa dia keluar dari kamar mandi.


Di baringkan Yuju di samping Jeno kecil, Jungkook duduk di samping tubuh Yuju dan bertanya dengan perasaan was-was nya.


"Apa kamu baik-baik saja, kenapa bisa begini?"


Kepanikan tergurat jelas di wajah tampannya, Jungkook mengelus-elus punggung tangan Yuju mengunakan jari jemari tangannya.


Yuju sedikit membuka matanya, menatap Jungkook yang tengah mengkhawatirkan dirinya.


"Aroma yang aku hirup, membuatku jadi begini... lain kali, ganti kaos kakimu," ucap Yuju pelan, menceramahi Jungkook


"Setiap hari pokoknya harus ganti, akan aku cuci kaos kaki yang telah kamu pakai," ucap Yuju sedikit menambahkan ceramahan nya


"Baiklah, sekarang tidurlah. Istirahat, agar besok kau pulih kembali." Jungkook menarik selimut panjang, menyelimuti tubuh Yuju


"Bayinya tuan Direktur." Yuju mengeluarkan tangan kanannya, ia menunjukan jari telunjuk nya ke arah bayi mungil


Jungkook memangku bayi itu, di dekatkan lebih dekat dengan Yuju.


Yuju memeluk bayi itu ke dalam dekapan, satu kecupan lembut ia simpan di kening bayi tersebut.


"Jeno kecil." Yuju menutup matanya, karena rasa letih ia mulai pergi ke alam mimpi


"Aneh, baru saja kalian bertemu. Kamu sudah menyayangi anak itu, Yuju." Jungkook mengusap peluh keringat yang berceceran di atas kening Yuju


Jungkook pergi turun dari ranjang, ke kamar mandi sebentar lalu mengganti pakaiannya.


Dengan mengunakan piyama bergaris biru putih, dia naik ke atas ranjang.


Pemisah jarak di antara Yuju dan Jungkook adalah seorang bayi yang masih terjaga terus menguap dan menggerakan kedua matanya.


Bayi itu melakukan  pemberontakan, jari tangannya yang kecil terus terangkat ke atas, kedua kakinya yang menghentakkan tempat tidur.

__ADS_1


Seperti ingin di ajak bermain dan di beri perhatian, Jungkook memangku tubuh mungil dan menimang-nimang sang bayi.


Mengajak bicara layaknya seorang Ayah yang siaga, menggantikan posisi istri yang tengah tertidur karena kelelahan.


"Kenapa kau belum tidur,"


Jungkook menatap lekat wajah si bayi, dengan raut wajah yang kurang semangat.


Ia juga merasa kantuk yang mulai merasuki matanya, terasa berat untuk membuka mata lebar-lebar.


"Sudah tidur, ini sudah malam," ucap Jungkook dengan suara membosankan


Bayi itu tidak kunjung juga menutup matanya, padahal sudah satu jam Jungkook terjaga dan mencoba menghilangkan rasa kantuk nya.


"Ayah sudah lelah, tidurlah." Jungkook menggerakan kedua tangannya, mengayunkan bayi dalam pangkuan gendongan nya


Menyerah satu kata dalam kepayahan di dunia permainan, Jungkook menaruh bayi itu di tengah-tengah Yuju dan dirinya.


Sebagai pembatas yang menyulitkan untuk di tembus, ia membiarkan bayi nya tertidur semaunya.


Karena putus asa ia menjadi kalap, langsung terpejam sebuah tindakan untuk tidur tak dapat di cegah lagi kedatangannya.


Pagi harinya, Yuju masih terlelap dalam tidurnya. Sejak semalam ia menutup mata, Jungkook tengah memakai dasi kupu-kupu yang mengikat di kerah kemeja putihnya.


Setelan jas hitam di pandukan dengan jeans katun yang lembut, hari ini adalah hari pernikahannya dengan Eunha.


Ia melangkah mendekati tubuh Yuju duduk di sampingnya, mengecup lembut bibir istrinya hingga membuat Yuju terbangun dari tidurnya.


Ciuman pun terjadi antara dua insan tersebut, Yuju mengangkat kedua tangannya menaruhnya di atas bahu suaminya.


Sangat lembut dan semakin menggairahkan, semalam tidak terjadi apapun di antara mereka.


Pagi ini dendam ingin merasakan sebuah kenikmatan terbayar sudah, perlahan Jungkook melepaskan tautan bibirnya.


Menatap istrinya dengan tatapan yang menggoda, Yuju terpesona akan pancaran sinar bola mata yang menatapnya sangat lekat.


"Maaf aku harus segera pergi, jagalah bayi kita. Penjaga akan selalu menjaga di luar, jika ingin pergi bawa salah satu dari pengawal ku, untuk mengawalmu kemana kau ingin pergi." Jungkook meraih telapak tangan Yuju, mencium punggung tangannya lalu memperhatikan rona wajah memerah di wajah istrinya


"Tidak apa-apa pergilah, bersenang-senang dengan wanita itu. Aku akan menunggumu, sampai kamu pulang," Yuju memendam rasa kecemburuan di dalam hatinya, ia tidak ingin menunjukan perasaan itu sehingga bisa membuat kegagalan pernikahan suaminya

__ADS_1


Tetap tenang dan memasang senyum bahagia, walau hati dan pikirannya tersakiti ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Semua kehendaknya menjadi ancaman bagi dirinya sendiri, menolak ataupun membantah sama saja membahayakan nyawanya.


Jungkook melepas tangan Yuju, mengalihkan tangannya mengelus pucuk rambut istrinya.


Ia pun mengangkat tubuhnya, berdiri lalu mengalihkan padangan matanya menatap sang bayi yang tengah tertidur.


"Semalam, dia tidak tidur. Pagi ini dia menutup matanya, mungkin lelah karena semalam terjaga terus," ujar Jungkook haru


"Sudah pergi, jika terlambat nanti pengantinnya bukan kamu lagi!" ucap Yuju memperingati


Jungkook tersenyum, segera ia melangkah pergi menuju arah pintu.


Berat perasaannya melangkah pergi meninggalkan Yuju, ia memikirkan perasaan istrinya.


"Dia pasti tidak bahagia, tapi tidak menunjukkan nya," batin Jungkook


Jungkook menutup pintu, perlahan suara langkahnya terdengar menghilang di dalam pendengaran Yuju.


Yuju menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, membangkitkan tubuhnya dari atas tempat tidur berjalan menuju arah jendela kamar.


Di balik tirai renda yang berwarna putih menjuntai sampai ke atas lantai, Yuju mengintip kepergian suaminya yang memasukan tubuhnya ke dalam mobil.


Tertegun berat melepas pergi, bagaikan jarum tajam tengah menyayat-nyayat hatinya hingga menimbulkan rasa sakit.


"Perasaan apa yang aku rasakan sekarang, setelah kepergian tuan Direktur mengapa hatiku merasakan kegelisahan," gumam Yuju merasakan pedih


Ketika ia menarik ujung kain tirai sambil berjalan, membuka jendela kaca yang tertutup.


Gambaran sosok laki-laki yang tengah berdiri di samping gerbang pintu, Yuju sempat syok ia pun segera membalikkan tubuhnya kebelakang.


"Benarkah, kenapa dia datang sekarang." Yuju memantapkan langkahnya menuju pintu keluar, tiba-tiba saja bayi Jeno terbangun dan menangis


"Tapi aku harus segera pergi," Yuju kebingungan memilih siapa yang harus ia kunjungi terlebih dahulu, laki-laki itu atau anak asuhnya


Bersambung..........


Terus Vote dan Komentar, jika respon baik akan update tiap hari.

__ADS_1


__ADS_2