
Maaf banget!!!ππ aku belum bisa bales komentar kalian di part. Kemarin.
Sibuk sama pekerjaan, ntar aku balesin ya.
Makasih yang udah kasih like and comments!!!
Tambah sayang sama readers yang rela buat ngetik buat kata-kata kasih semangat sama author.
Apalagi banyak yang komentar dari awal chapter sampai chapter ke 40, baca dari pat. 1 itu udah salut banget.
Jebol notif, seneng nya minta ampun.π
Ok gaess typo ku selalu update, no hilang!!!
Happy reading gus!!!
Jangan lupa teken bintang dulu, biar sempurna.πππππ
~ Secret Director And Assistant ~
Author pov
Β
"Aku tidak tahu apakah bisa datang ke pernikahan mu atau tidak, takutnya aku tengah melahirkan." Yuju tersenyum agak canggung, berpikir bagaimana cara mempertimbangkan keputusannya kelak
"Yah... Kakak, kalau pun melahirkan di rumahku juga tidak apa-apa. Aku siapkan bidan terbaik di dunia ini, membantu proses kelahiran bayi kakak." SinB terlihat murung, perkataan Yuju menusuk perasaan bahagianya
οΏΌ
"Pernikahan mu masih 2 bulan 15 hari, dokter memperkirakan kelahiran bayiku di waktu-waktu itu...." Yuju menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapan yang ia katakan
"Tapi... Aku usahain untuk datang, jadi tersenyumlah...." Yuju mencubit gemas kedua sisi pipi SinB, membuat gadis itu tersenyum lebar di wajahnya
"Janji ya!!" SinB menjulurkan jari kelingkik tangan kanan nya, bertujuan untuk ikatan janji yang tidak akan di ingkari
"Iya." Yuju menyatukan jari kelingking nya dengan SinB keduanya pun tertawa bahagia
Tiba-tiba perasaan SinB tidak enak, ia pamit pergi ke toilet sebentar. Yuju di tinggal sendiri, tanpa pengawal dari kepolisian. Tidak seperti awal pertama dia masuk, kedua anggota polisi yang menjaganya pergi bertugas.
Yuju beranjak dari kursi panas yang membuat perasaannya naik dan turun, saat dia akan melangkah maju.
Jungkook muncul dari balik pintu yang sedang di buka, dia berjalan lurus menghampirinya.
Yuju nampak acuh menanggapi kedatangan suaminya, ia masih berada di tempatnya.
οΏΌ
Hanya beberapa langkah saja Yuju mundur kebelakang, Jungkook di dampingi Jimin yang mengarahkan jalan menuju ke arahnya.
"Dimana SinB, bukankah tadi kau bersamanya?" Jimin bertanya pada Yuju, karena ia tak melihat kekasihnya duduk di tempat kursi kerjanya
"Dia bilang pergi ke toilet," jawab Yuju singkat tak memandang Jungkook yang berdiri di hadapannya memasang wajah yang penuh harap
"Kalian berdua duduklah." Jimin mengambil alih posisi kursi kosongnya, ia mengambil pena dan menandatangani surat yang ada namanya di pojok kanan paling bawah
Yuju tidak mau duduk ia tetap berdiri, walau kakinya merasa kesemutan.
"Yuna duduklah, kita bisa pulang dengan cepat nanti." tangan kanan Jungkook mencoba menggapai bahu istrinya tetapi Yuju menepisnya
"Sudahlah... aku akan pergi ke kanada, hidup bersama orang tua lebih menyenangkan daripada hidup sengsara denganmu." Yuju tetap angkuh, sehalus apapun Jungkook membujuknya ia tetap tidak ingin pergi bersama suaminya
οΏΌ
"Aku perbaiki kesalahan yang dulu, aku minta maaf atas kelakuan Eunha padamu. Aku berjanji, tidak akan mempertemukan mu dengannya lagi." Jungkook meraih kedua telapak tangan Yuju, menggenggam nya jari tangannya yang lihai mengelus punggung tangan istrinya
"Kamu hanya memperlakukan Eunha dengan baik, apa kamu pernah mencariku sendiri tanpa bantuan dari dia." Yuju menunjuk Jimin yang sibuk menandatangani lembaran kertas yang bertumpuk-tumpuk berkas penculikan yang telah selesai
"Komisaris jelaskan padanya, apa yang aku alami selama 4 bulan ini." Jungkook menghampiri meja Jimin, mengambil tumpukan buku yang sedang di tandatangani
"Haruskah aku terlibat dalam masalah keluarga kalian, belum cukup kah kamu mempersulit ku selama ini... pernikahanku terus di undur gara-gara kau." Jimin menggebrak meja, sampai pena di tangannya putus menjadi dua bagian
__ADS_1
Jungkook dan Yuju saling melirik satu sama lain, lirikan keempat pasang bola mata saling bertanya.
"Kau Min Yuna atau Choi Yuju, atau Yuna atau panggilan lainnya. Ikutlah dengan suamimu, ini perintah. Jika kamu bertanya padaku bukti apa yang menguatkan kamu harus mengikuti dia." Jimin dengan sangat kesal menunjuk Jungkook yang tak jauh jarak dari dekatnya
Yuju tertegun mendengar perkataan keras Jimin, seakan memarahi nya apalagi tatapan melotot nya sangat menyeramkan.
Jimin berbalik menghadap ke samping kanan berjalan beberapa langkah, mengambil telpon.
"Bawa... ..., semua..., tahanan. ..., keluar! ....,"
Jimin menelpon bawahannya yang tengah bertugas di ruang sel, ia mengangguk kan kepalanya mendengarkan jawabannya.
Ia memutuskan sambungan telpon, berjalan kembali ke tempatnya sembari melirik Jungkook.
"Semua pengawal mu yang ku tahan ku bebaskan, juga wanita dan para lelaki itu juga ku bebaskan sudah... cepat pergi, selesaikan masalah kalian di kamar saja. Jangan di kantor polisi." Jimin duduk lelah di kursinya, memutar posisinya membelakangi Jungkook dan Yuju
Jimin memijit-mijit keningnya, jari tangannya begitu gemetar keringat dingin mengalir menuruni pelipis wajahnya.
Rasa pusing menerpa benaknya, ia tidak bisa menangani kasus penculikan yang di ajukan padanya.
Baru kali ini kasus yang ia tangani tidak tuntas, atau belum selesai dalam kurun waktu satu bulan.
Ia menggelengkan kepala, berat memikirkan cara menyelesaikan masalah ini.
Yuju yang masih terdiam juga Jungkook yang tidak bergerak karena ia memandangi istrinya sampai melamun.
Jimin yang merasa tidak ada suara ataupun gerakan dari keduanya, memaksa ia untuk berbicara walau ia malas mengatakannya.
"Kalian mau sampai kapan di sini, tidakkah kalian dengar apa perkataanku tadi. Keluar, dan selesai masalah kalian. Ini bukan pengadilan, yang bisa mendengarkan keluhan juga memberikan tindakan," Jimin mengusir Jungkook dan Yuju dari jangkauan nya
...
βββββββ
βππβππβ
πππππππ
πππππππ
πππππππ
ββπππββ
βββπβββ
βββββββ
...
Yuju melihat Rose yang baru saja keluar dari sel berpintu besi, tergesa-gesa menghampirinya demi menghindar dari kejaran Jungkook.
Rose menyambut hangat kedatangan Yuju, ia menggandeng lengan Nonanya.
"Aku bersyukur, Nona baik-baik saja." Rose melangkahkan kaki, berjalan bersama Yuju keluar dari kantor polisi
Yuju terus mengajak bicara Rose, ia mengabaikan keberadaan Jungkook yang terus mengikuti jejaknya dari belakang.
Sampai langkah mereka bertiga berhenti karena Taeyong berada di depan mereka berniat menjemput kedua wanita yang ia bawa.
Tetapi rencananya mungkin terhalang, sahabatnya berada di antara mereka berdua.
Ia hanya tersenyum sembari menawarkan secangkir kopi, Yuju dan Rose menggeleng kepala tidak mengerti setelah di beri kode keras kedipan matanya. Barulah kedua wanita itu mengangguk paham.
Jungkook mengangkat kedua bahunya, meminta penjelasan pada Taeyong apa yang ia rencanakan.
Taeyong hanya tersenyum lebar, sembari merangkul bahunya.
"Sudahlah jangan di pikirkan, lebih baik kita bicara di tempat yang tenang!"
Taeyong mengajak Jungkook pergi ke suatu tempat, mereka berempat di arak pergi oleh para pengawal yang menjaga Taeyong.
__ADS_1
Di cafe Taeyong menyediakan 2 cangkir americano untuk dirinya dan Jungkook, juga segelas latte untuk Rose sedangkan Yuju dia hanya di beri air putih alasanya karena wanita itu tengah hamil.
tatap menatap antara Jungkook dan Taeyong, seakan menyalurkan energi kejahatan di lalui oleh proses kebencian.
Lama kelamaan Jungkook yang tadinya bungkam tak bersuara, mulai mengatakan suatu kata terucap dari bibirnya.
"Maaf!" Jungkook menundukkan kepalanya, sembari berharap dalam hatinya Taeyong mengerti keadaanya
"Maaf untuk apa?" Taeyong menyeruput americano di tangan masuk ke dalam rongga mulutnya
"Awal pertemuan kita begitu buruk, aku memarahimu tanpa sebab. Kecemburuan telah menguasai jalan pikiranku, saat marah aku tak dapat mengenali siapapun maupun keluargaku sendiri," terang Jungkook mengutarakan maksud dari permintaan maafnya
"Ohh yang waktu itu... di pantai, kau ingin membunuhku. Kejam sekali kata-kata mu, aku sampai tidak bisa tidur selama seminggu omongan mu itu terus terngiang di telingaku." Taeyong menyimpan gelas ke atas meja, ia telah selesai menyeruput kopi merasakan nikmat rasa yang masih menggulung di dalam rongga bibirnya
"Kalau aku tahu waktu itu kau adalah Jeon Jungkook, aku pasti akan merasa tenang karena kau temanku. Tetapi... aku mengira kau orang lain," sungut Taeyong mengatakan pada Jungkook kejadian waktu ia liburan
"Kenapa kau beranggapan kalau dia adalah istri Jeon Wonwoo, apa kau buta atau intelejen yang kau punya tidak becus kerjanya?"
"Bukan, Wonwoo pernah berkata dia ingin menikahi gadis bernama Yuna kebetulan waktu itu. Tidak sengaja, aku melihat Yuna bersama Wonwoo mengobrol sangat dekat di sertai canda tawa terkesan romantis seperti layaknya pasangan. Ya... aku pikir memang begitu,"
"Yuju...." batin Jungkook meledak cemburu, laki-laki itu melirik istri yang berada di samping tubuhnya
οΏΌ
Yuju hanya terdiam tangannya bergetar tak karuan berusaha menggapai gelas di atas meja, namun. Rose yang melihat kejadian dimana Yuju tak berani menyentuh gelasΒ itu membantu Nonanya mengambilkan gelas untuknya.
Dengan senyuman khas yang manis enak di lihat, Rose memberikan gelas di tangannya.
"Terimakasih." Yuju tersenyum, membalas kebaikan Rose
"Jika hari ini kamu tidak ikut pergi denganku, awas saja Yuju!!! Aku takkan membuatmu tenang, ke kanada pun aku bisa menyusulmu," bisik Jungkook, ia sangat geram akan suksesnya Yuju membuat ia terbakar api cemburu setiap saat
"Bagaimana ini," Yuju meradang dalam kebingungan, di sisi lain ia ingin menjauhi suaminya tapi karena perasaan takut terhadap Jungkook yang bisa melakukan apapun padanya
Mau hal baik ataupun buruk, perhitungan Jungkook tidak pernah melenceng dari 100% tindakan ataupun omongan selalu di jadikan kebenaran yang tepat.
Taeyong yang terus bercerita mengenai dirinya juga bisnis yang tengah ia bangun, menjadi kesempatan emas buat Jungkook.
Laki-laki itu memanfaatkan ketidak fokus Taeyong memperhatikan Yuju, Jungkook meraih tangan istrinya dan menggenggam erat.
Semakin lama genggaman itu menjadi cengkeraman yang menyakiti, hingga tangan Yuju memerah bergumpal darah.
Tekanan yang di berikan otot Jungkook, membuat rintihan sakit bagi Yuju.
Ia mencoba menarik tangannya namun, hanya sia-sia saja.
Jungkook semakin menekan tangannya berada di bawah telapak tangan dia.
"Nona Yuna, anda akan ikut kan ke kanada bersama kami?" Rose menoleh ke arah Yuju, wajah Nonanya terlihat pucat juga berkeringat membuat kekhawatiran nya timbul
"Apa Nona baik-baik saja?" pertanyaan kedua Rose berhasil membebaskan Yuju dari tekanan Jungkook, suaminya melepaskan tangan yang di sandera sejak tadi
Yuju mengatur napasnya, kelegaan bisa ia rasakan aroma udara terasa menyegarkan tubuhnya.
Jungkook menenggelamkan dagunya di atas telapak tangan yang sudah berbuat dosa pada istrinya, menatap Yuju dengan wajah yang begitu tenang seperti tidak bertindak apapun.
"Yuna, bukannya kamu akan pergi denganku!" Jungkook berusaha memperingatkan Yuju dengan suaranya yang halus tapi bagi istrinya itu merupakan isyarat ancaman
Yuju menyentuh tangannya yang masih memerah.
"Kalau aku jawab iya, Jungkook pasti berulah... kalau jawab tidak... hm... apa aku akan bahagia," dalam hati Yuju mempertimbangkan jawaban yang akan ia ucapkan
Bersambung............
Ok...ok... Thanks Ders, kalian lah semangat author buat lanjutin cerita ini.
Kasih komentar kalian di bawah... Aku berharap nya kalian suka sama part. Ini.
Semoga nggak bikin kecewa, walau hanya sedikit tapi bermanfaat mendongkrak rasa penasaran kalian untuk berlanjut ke chapter selanjutnya.
Mohon maaf jika ada kata-kata yang nyakitin perasaan kalian di atas....β¬β¬β¬β¬β¬
__ADS_1
See you ....(\=^.^\=)(\=^.^\=)(\=^.^\=)(\=^.^\=)(\=^.^\=)(\=^.^\=)(\=^.^\=)(\=^.^\=)