Rahim Bayaran Tuan Alex

Rahim Bayaran Tuan Alex
Khawatir


__ADS_3

"Untuk apa kau datang kemari?" Alex menatap sinis wanita yang saat ini duduk di kursi dekat brankarnya. Dia yakin jika wanita inilah yang menghasut ibunya agar dia mau menikah dengan nya. Hanya karena iming-iming anak dan kontrak pernikahan, ibunya rela mendesak Alex untuk memenuhi permintaannya untuk menikah.


Alex tahu jika semua itu hanya akal-akalan wanita itu saja. Dia tahu benar seperti apa wanita itu. Dan dia yakin, jika ibunya tahu rahasia wanita itu, ibunya pasti akan menolaknya mentah-mentah.


" Kenapa kau bicara seperti itu, Lex? Tentu saja aku datang untuk menjenguk mu." seru wanita itu yang tidak lain adalah Selena


"Kau tidak perlu repot-repot, Elen. Aku baik-baik saja dan sekarang kau boleh pergi."


"Kau mengusir ku?" pekik Selena tak percaya. "Aku sahabatmu, Lex." lanjutnya. Dia tidak menyangka jika Alex tega mengusirnya. Apa hanya karena dia menawarkan diri untuk menikah dengan Alex? Sebenarnya apa yang pria itu inginkan? Kenapa susah sekali membujuknya?


"Sahabat? Cih.. Mana ada sahabat yang memaksa untuk menikah. Walaupun kau dengan suka rela memberikan rahimmu ataupun menawarkan pernikahan kontrak sekalipun, Aku tak akan bersedia. Karena apa? karena aku tahu seperti apa dirimu, Elen. Kau tahu alasan kenapa aku tidak mau menikah, tapi kau justru menawarkan hal menjijikan itu pada Mommy? Gila!!"


"Apa kau pikir aku mau dengan bekas orang lain? Walaupun aku sendiri suka bermain wanita penghibur, tapi untuk menampung benihku, aku akan mencari seseorang yang masih bersih." lanjut Alex


Selena mengepalkan tangannya erat. Ini pertama kalinya Alex menghinanya begitu kejam. Dia tidak menyangka jika sahabatnya itu tega mengatakan hal itu padanya. Dia memang sudah tidak suci lagi. Dan Alex tahu itu. Tapi apa harus dengan mengatakan sesuatu yang menyakitkan untuk menolaknya? Sungguh dia tidak terima. Jika bukan karena harta yang di miliki Alex, Selena juga tidak mau melakukan hal ini. Tapi ini sudah di luar batas. Dan dia akan membalas Alex lebih kejam dari ini.


"Jika sudah tidak ada yang ingin kau bicarakan, kau boleh keluar. Aku mau istirahat." Alex membaringkan tubuhnya, tapi tiba-tiba, Selena naik ke atas tubuhnya dan mencium brutal bibirnya.


"Apa yang kau lakukan Elen?" Alex mendorong Selena hingga terjungkal ke lantai bersamaan dengan suara benda yang terjatuh di ambang pintu.


Prang


Deg


"Icha?" lirih Alex

__ADS_1


"Ma_maaf, sepertinya aku salah kamar. Bi, ayo kita pulang!!" Icha pergi lebih dulu di ikuti bi Siti dan juga Leo.


"Icha!!! Tunggu Icha!!" Alex melepas jarum infusnya dan berlari mengejar Icha. Sedangkan Selena yang kesakitan karena di dorong Alex, menatap bingung Alex yang mengejar wanita yang di panggil Icha.


"Kau tidak apa-apa?" Ridwan membantu Selena bangun dan menyuruhnya untuk duduk.


"Ini sangat sakit. Sepertinya aku harus melakukan pemeriksaan untuk melihat apakah ada tulang ku yang patah atau tidak." Selena memegang pinggangnya yang terasa sakit. Dan sepertinya memang tulangnya ada yang patah.


Ridwan memutar kedua bola matanya jengah. Dia merasa jika Selena terlalu berlebihan. Tidak mungkin hanya terjatuh seperti itu, akan membuat tulangnya patah.


"Aku akan menghubungi manager mu untuk menjemputmu." seru Ridwan.


"Thanks Wan." balas Selena


"O iya Wan, siapa wanita tadi? Kenapa Alex perduli dengannya?" tanya Selena penasaran.


"Entahlah, aku tidak tahu. Aku juga baru saja ingin menanyakan hal itu pada Alex." terang Ridwan berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Selena. Karena dia takut keselamatan Icha akan terancam. Dia juga sahabat Selena, jadi dia tahu seperti apa wanita itu. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Seperti mendapatkan Alex. Dia tahu jika wanita itu menyukai Alex. Tapi dia tidak tahu tujuan utama Selena menginginkan Alex adalah karena harta.


Selena merasa tidak puas dengan jawaban Ridwan. Dia yakin jika wanita itu memiliki hubungan dengan Alex. Sepertinya setelah ini dia harus mencari tahu tentang hal itu. Tapi sebelum itu dia harus memeriksakan pinggangnya terlebih dahulu, karena ini sangat sakit.


Sementara itu, dengan keadaan yang masih lemah, Alex terus mengejar Icha. Dia tidak tahu kenapa dia melakukan hal ini. Tapi dia tidak ingin jika wanita itu salah paham. Apalagi dia sedang hamil dan Alex tidak mau terjadi sesuatu pada keduanya.


"Icha !! Tunggu !!" Alex terus berteriak. Tapi Icha seolah menulikan telinganya. Dia terus berlari dengan air mata yang terus menetes.


"Ada apa denganku? Kenapa aku menangis?" batin Icha

__ADS_1


Leo yang melihat Alex mengejar Icha mencoba menghalangi Icha. Tapi wanita itu sudah lebih dulu naik taksi dengan bi Siti.


"Leo, kejar dia!!" Alex masuk ke dalam mobil diikuti Leo yang juga masuk dibelakang kemudi.


Alex meminta Leo untuk mengikuti taksi yang ditumpangi Icha, dia khawatir jika wanita itu akan berbuat nekad. Tapi untungnya, taksi yang membawa Icha berhenti di depan apartemennya dan hal itu membuat Alex merasa lega.


Dia turun dari mobil dan menuju kelantai atas di mana apartemennya berada. Dan sesampainya dia di depan pintu, Alex memasukkan sandi dan membuka pintu apartemennya.


Rasanya sudah lama dia tidak datang dan dia merasa sangat merindukan tempat ini. Yang pasti semua itu karena Icha.


Tidak mau membuang-buang waktu, Alex bergegas ke kamarnya. Dia mencoba membuka pintu, tapi ternyata pintu tersebut terkunci dari dalam.


"Icha!! Buka pintunya !! Kita harus bicara, sayang." Alex terus menggedor pintu berharap Icha mau membukanya. Tapi Icha tidak kunjung membuka pintu. Hal itu membuat Alex khawatir.


Alex bahkan menempelkan telinganya di pintu berharap bisa mendengar apa yang terjadi di dalam, tapi nihil. Tidak terdengar apapun di dalam. Dia kembali menggedor pintunya dan memanggil Icha. Tapi tiba-tiba, pandangannya kabur. Dia memegang kepalanya yang terasa berdenyut hingga akhirnya Alex tidak sadarkan diri.


"Tuan!!!" teriak Leo. Dia memangku kepala Alex di pahanya dan menepuk pelan pipi atasannya itu. "Bangun Tuan!! Tuan Alex."


Teriakan Leo terdengar oleh Icha yang menangis di dalam kamar. Dia merasa khawatir karena bagaimanapun keadaan Alex masih lemah.


"Tuan!!!" teriak Leo lagi


Icha menghapus air matanya dan beranjak dari tempat tidur. Dia membuka pintu dan mendapati Alex pingsan di sana.


"Tuan!!!"

__ADS_1


__ADS_2