
Di salah satu bar besar di ibu kota, seorang pria tengah menikmati alunan musik sambil menggoyangkan tubuhnya. Dia meracau tidak karuan karena pengaruh alkohol yang di konsumsinya.
"Sudah Fer, ayo kita pulang!!" ajak Ryan.
Ya, pria itu adalah Ferdian. Mengetahui jika wanita yang dia cintai akan menikah dengan atasannya, membuat nya kehilangan akal. Bahkan dia mendapat kabar jika wanita itu tengah hamil. Hal itu membuat hatinya sakit. Hidupnya hancur karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Ferdian sudah lama memendam perasaannya pada Icha. Tapi wanita itu justru akan menikah dengan pria lain. Padahal dia mengira jika Icha juga menyukainya. Jadi dia berfikir Icha menikah karena terpaksa. Ini tidak bisa di biarkan, karena yang berhak untuk hidup dengan Icha adalah dia seorang. Untuk itu, dia akan memisahkan Icha dengan Alex bagaimanapun caranya. Dia akan hidup bahagia dengan Icha dan anak-anak mereka.
"Mau sudah mabuk berat Fer." Ryan menarik Ferdian dari tengah-tengah kerumunan orang yang sedang menari mengikuti musik DJ.
"Apa sih Yan? Aku masih ingin bersenang-senang." Ferdian melangkah dengan sempoyongan ke tengah-tengah lautan manusia yang melenggak-lenggok kan tubuhnya tapi Ryan dengan sigap menarik Ferdian menjauh dari kerumunan tersebut.
"Ada apa sebenarnya dengan mu, Fer? Ini bukan dirimu. Kau selalu melarang ku pergi ke bar. Lalu sekarang apa?"
Ferdian tertawa dan menepuk pipi Ryan. "Aku tarik kembali ucapanku. Jadi sekarang, ayo kita bersenang-senang!!"
"Kau gila, Fer. Kau sudah mabuk berat. Lebih baik kita pulang saja. Nenekmu pasti sangat mengkhawatirkan mu."
"Aku tidak mau. Aku masih ingin bersenang-senang Yan."
"Dasar gila." Ryan menarik paksa Ferdian keluar dari bar tersebut. Walau pria itu terus meracau untuk di lepaskan, tapi Ryan tidak perduli. Dia membawa Ferdian masuk kedalam mobilnya dan mengantarnya pulang.
Entah apa yang sedang di alami Ferdian, dia sendiri tidak tahu. Tapi sepertinya masalah kali ini sangat berat untuk Ferdian. Karena selama dia mengenal Ferdian, pria itu terlihat baik dan tidak macam-macam. Bahkan Ferdian selalu mengingatkan nya untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan dan menyarankan untuk melakukan hal positif untuk melupakan masalah yang sedang dia hadapi. Tapi sekarang?
Tidak butuh waktu lama, mobil yang di kendarai Ryan sampai di pekarangan rumah Ferdian. Dia memarkirkan mobilnya dan membantu Ferdian yang sudah tidak sadarkan diri masuk kerumahnya.
"Permisi!!" sapa Ryan. Seorang wanita tua keluar dari rumah sederhana bercat hijau tersebut. Ryan bisa menebak jika wanita itu adalah nenek Ferdian.
"Astaga Ferdian!!" pekik wanita itu. "Ada apa dengan Ferdian, nak?" tanya Nenek Sari
"Nanti saya ceritakan nek. Sekarang nenek tunjukkan dimana kamar Ferdian. Biar saya membawa Ferdian ke kamar nya " seru Ryan
__ADS_1
"Oh iya, silahkan masuk!! Kamar Ferdian ada di sebelah sana." nenek sari menunjukkan letak kamar Ferdian. Dia berjalan terlebih dahulu dan membuka pintu kamar Ferdian dan membantu Ryan memapah Ferdian masuk ke kamar.
Tercium bau alkohol dari mulut Ferdian. Dan hal itu membuat Nenek Sari menduga jika Ferdian baru saja dari bar.
"Sebenarnya Ferdian kenapa, nak?" tanya nenek Sari
"Ferdian mabuk nek. Sepertinya dia sedang ada masalah. Tidak biasanya dia mengajak saya ke bar. Padahal dia suka menolak jika saya yang mengajaknya. Bahkan dia mengeluarkan kata-kata mutiara nya yang membuat saya batal ke bar." terang Ryan
"Memangnya ada masalah apa? Apa Ferdian melakukan kesalahan di kantor?"
"Saya juga tidak tahu nek. Untuk hal itu, nenek bisa menanyakan langsung pada Ferdian besok." Ryan melihat jam di pergelangan tangannya. Hari sudah sangat malam. Akhirnya dia pamit pulang pada nenek Sari
"Kalau begitu saya pulang dulu ya nek. Besok jika keadaan Ferdian belum membaik, saya akan meminta ijin untuk Ferdian." seru Ryan
"Terimakasih nak. Hati-hati di jalan."
Ryan mengangguk pelan dan pergi dari rumah tersebut.
"Ada apa Fer? kenapa kau tiba-tiba seperti ini?" lirih Nenek Sari
...****************...
Malam berganti siang. Cahaya matahari masuk ke kamar dua sejoli yang masih meringkuk di bawah selimut yang menutupi tubuh polos keduanya.
Alex menggeliat saat merasa silau. Tapi bukannya bangun, dia justru menarik selimutnya sampai kepala dan menarik tubuh polos Icha merapat pada nya.
"Ugh.." lenguh Icha yang merasa terganggu dalam tidurnya
Alex membuka matanya. Dia membuka selimut dan menatap wanita yang masih terlelap di sampingnya.
"Kau terlihat cantik saat tertidur." gumam Alex. Sejenak dia teringat kegiatan panas mereka semalam. Rasanya dia ingin mengulanginya lagi dan lagi. Tapi dia tidak boleh egois. Ada buah cinta mereka di rahim Icha dan dia tidak ingin dia terluka.
__ADS_1
Ya, setelah Icha setuju untuk pindah ke mansion, Diana memilih pulang karena dia akan menyiapkan kamar untuk Icha nantinya.
Dan setelah kepergian Diana, Alex langsung menggendong Icha ala bridal dan membawanya ke kamar.
Awalnya mereka hanya melakukan for*play. Tapi lama kelamaan, Alex menuntut menginginkan lebih dan Icha mengijinkan Alex untuk memasukinya tapi dengan syarat untuk pelan-pelan.
Tentu saja Alex setuju. Sudah lama dia tidak mengasah senjatanya. Dia sudah mencoba mencari jalan9, Tapi tetap saja belalainya tidak bereaksi.
Dan sekarang setelah mendapatkan lampu hijau, Alex tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia melakukan penyatuan dengan perlahan. Dia berusaha untuk membuat Icha nyaman dengan permainannya agar trauma yang di miliki Icha menghilang dan berganti dengan kenikmatan tiada tara.
"Ayo bangun sayang!! Hari ini kita akan pindah ke mansion." Alex menoel-neol hidung dan pipi Icha yang terlihat chubby.
"Cha!!" panggil Alex. Lidah pria itu sudah lepas kontrol. Dia memberikan kecupan di setiap lekuk tubuh Icha.
"Aku masih mengantuk, sayang." gumam Icha dengan suara khas bangun tidur
"Kau sudah berjanji pada mommy jika hari ini Kita akan pindah ke mansion."
Icha membuka matanya malas. Dia masih sangat mengantuk, tapi Icha mempunyai janji dengan Diana jika dia akan pindah hari ini.
"Bersiaplah, aku akan membuatkan makanan untukmu." seru Alex
"Terimakasih." Icha beranjak dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi.
Tidak butuh waktu lama, baik Icha maupun Alex sudah selesai bersiap. Alex meminta bodyguard untuk membawa barang-barang mereka ke mobil. Sedangkan dirinya menuntun Icha keluar dari apartemen.
Hari ini mereka akan pindah ke mansion utama keluarga Wiratama. Dan dia berharap Icha akan betah tinggal di sana. Apalagi ada Diana dan banyak pelayan di sana. Dan pasti Icha tidak akan kesepian.
Tapi sepertinya Alex tidak menyadari jika saat ini seseorang tengah menatap Icha penuh dengan kebencian. Orang itu mengepalkan tangannya erat melihat kemesraan keduanya.
"Kurang ajar. Beraninya dia menggoda Alex ku. Lihat saja, aku pasti akan memisahkan kalian berdua ." seringai orang itu
__ADS_1