Rahim Bayaran Tuan Alex

Rahim Bayaran Tuan Alex
Pingsan


__ADS_3

''Cheers."


Ting


Dua gelas berisi wine terdengar beradu di tengah-tengah hiruk-pikuk lautan manusia yang tengah melenggak-lenggokkan tubuhnya mengikuti irama musik keras yang di mainkan DJ.


Mereka sedang merayakan keberhasilan mereka memisahkan dua insan yang saling mencintai. Hanya demi harta dan juga obsesi, mereka tega merencanakan hal licik untuk membuat dua orang saling membenci satu sama lain.


"Aku tidak menyangka rencana kita berhasil. Wanita itu di usir dari kediaman keluarga Wiratama. Dan sekarang, kau harus berusaha mengambil hati wanita itu. Jadilah pahlawan di saat dia tidak mempunyai siapapun." Seru Selena


"Itu sudah pasti. Tapi, sekarang dia ada di mana?" Tanya Ferdian


"Menurut informasi anak buahku, wanita itu pergi ke apartemen milik Alex. Sebelum terlambat, cepatlah bertindak!!"


Ferdian mengangguk dan kembali menenggak wine miliknya. Dia sudah tidak sabar menjalankan rencana berikutnya. Dia akan membantu Icha disaat Icha kesusahan dan membuat nya bergantung padanya. Dengan begitu, Icha tidak akan bisa lepas dari nya. Dan dia akan membuat Icha jatuh cinta padanya.


Rencana yang sangat sempurna. Akhirnya keinginan untuk memiliki wanita itu akan segera terwujud. Dan dia tidak akan membiarkan siapapun merebut Icha darinya.


"Lalu kau sendiri bagaimana?" Tanya Ferdian


Selena tersenyum, dia menyesap perlahan minumannya. "Aku masih harus menunggu keadaan Alex membaik. Saat ini pasti dia sangat hancur karena pengkhianat yang dilakukan wanita itu."


"Aku tidak mau mengambil resiko. Jika aku mendekati nya sekarang, yang ada dia akan mengusirku. Nanti setelah keadaannya membaik, aku akan mendekati nya dan menggunakan cara licik untuk mendapatkannya." lanjut Selena


"Apa itu?"


"Memberinya obat cinta, dan kami akan bersenang-senang semalaman." Tawa Selena menggelegar. Rencana ini sudah dia susun sejak lama. Tapi karena kedatangan Icha membuat rencananya tertunda. Dan sekarang, dia akan melanjutkan rencananya itu dan bermaksud untuk hamil agar Alex mau menikahinya.


"Wow, rencana yang bagus. Semoga kau berhasil, nona."


"Kau juga, Fer." Mereka kembali bersulang dan menghabiskan malam itu dengan bersenang-senang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


KEESOKAN HARINYA

__ADS_1


Di kediaman keluarga Wiratama, Alex sudah bersiap untuk pergi ke perusahaan. Dia tidak mau hanya karena pengkhianatan yang dilakukan Icha membuatnya kembali terpuruk dan hal itu berakibat fatal pada pekerjaannya.


Di luar sana banyak orang yang berusaha menjatuhkan nya. Dan dia tidak ingin orang lain tahu keadaannya sekarang. Karena bisa saja mereka memanfaatkan keadaannya untuk menghancurkan perusahaan keluarga Wiratama.


"Pagi mom!!" sapa Alex


"Pagi juga sayang." Diana memperhatikan penampilan Alex. Ada rasa senang karena Alex mau beraktivitas seperti biasa. Tapi dia tahu jika Alex hanya ingin mengalihkan perhatian nya agar tidak terlalu memikirkan masalahnya. Dan dia yakin, setelah ini putranya akan gila kerja.


Apa dia harus senang? tidak. Karena Alex akan mengabaikan kesehatannya.


"Kau mau makan sesuatu?" tanya Diana


Alex melihat menu makanan yang tersaji di atas meja. Dia seperti memilih makanan yang ingin dia makan. "Aku mau makan nasi dan sayur saja mom." ucapnya


"Kau yakin?" tanya Diana


"Kenapa memangnya? Hari ini aku akan sangat sibuk. Jadi aku membutuhkan tenaga ekstra. Jika perutku kosong, aku akan sulit berfikir."


"Baiklah." Diana mengambilkan makanan untuk Alex. Dia duduk berseberangan dengan Alex dan memperhatikan putranya yang sedang makan. Sepertinya Alex sudah tidak mengalami kehamilan simpatik. Nyatanya dia biasa saja saat makan nasi.


"Aku sudah selesai mom. Aku berangkat dulu." Alex mencium kening Diana dan pergi begitu saja.


Diana mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo Leo, kau pasti tahu apa yang telah terjadi bukan? Jadi aku ingin kau mengawasi Alex selama dia berada di luar. Jangan biarkan dia menyakiti dirinya sendiri. Ingatkan jika sudah memasuki jam makan dan jangan biarkan dia bekerja terlalu keras." seru Diana pada Leo


"Baik nyonya." jawab Leo


"Terimakasih Leo." Diana memutuskan sambungan teleponnya. Dia menghela nafas panjang karena masalah datang bertubi-tubi.


Dia hanya bisa berharap semua masalah cepat terselesaikan.


"Aku hanya ingin Putraku bahagia. Tapi kenapa dia sangat sulit mendapatkan kebahagiaan itu." Isak Diana


Sesuai dugaan Diana, Alex merasa perutnya bergejolak. Dia mengendarai mobilnya dengan menahan mual di perutnya. Tapi karena sudah tidak tahan, dia menepikan mobilnya dan turun dari mobil dengan terburu-buru.


Dia berlari dan memuntahkan isi perutnya. " Hoek Hoek hoek.."

__ADS_1


Banyak mata yang melihat nya dengan rasa jijik. Wajah Alex terlihat pucat dan merasa sangat lemas. Tapi tidak ada satupun yang mau menolong nya. Sampai tiba-tiba seseorang datang dan langsung memapah Alex yang hampir saja terjatuh.


"Astaga, kau tidak apa-apa tuan?" tanya orang itu


Alex menatap samar orang yang menolongnya, hingga dia kehilangan kesadaran.


...****************...


Jari Alex bergerak pelan. Dia membuka matanya dan melihat sekelilingnya. "Huft.." Alex menghela nafas panjang karena sekarang dia berada di rumah sakit.


"Aku benci tempat ini." gumamnya


"Kau sudah sadar sayang?" Diana masuk ke ruangan Alex bersama dengan dokter Ridwan. Dia segera datang ke rumah sakit saat seseorang menghubunginya dan mengatakan jika Alex pingsan di pinggir jalan.


"Kenapa aku bisa berada di sini?" tanya Alex


"Kau pingsan di pinggir jalan Al. Untungnya ada orang baik yang menolong mu dan membawamu ke rumah sakit." terang Diana


Alex terdiam. Dia mencoba mengingat-ingat siapa yang sudah menolongnya. Tapi sayangnya Karena penglihatan kabur, dia tidak begitu jelas melihat wajah orang itu.


"Dimana orang yang sudah menolongku mom? Aku ingin mengucapkan terimakasih padanya."


"Dia sudah pergi, karena ada hal penting yang harus dia kerjakan." seru Diana


Alex mengangguk pelan. Dia melihat kearah Ridwan yang terlihat menatanya tajam. "Kau kenapa Wan? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Alex


"Tidak." jawab Ridwan singkat. Dia mengepalkan tangannya menahan untuk tidak berbuat arogan. Dia akan membuat perhitungan dengan pria itu, tapi nanti. Dia akan membalas nya dengan cara elegan. Agar orang itu menyesali perbuatannya.


"Maaf, aku harus mengecek pasien ku yang lain." tanpa menunggu jawaban mereka, Ridwan pergi begitu saja. Dan hal itu semakin membuat Alex bingung.


"Bagaimana perasaan mu sayang? apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Diana


"Tidak mom. Aku hanya ingin istirahat."


"Baiklah, kalau begitu kau istirahatlah! Mommy akan di sini menunggu mu."

__ADS_1


Alex mengangguk pelan dan mulai memejamkan matanya. Dia penasaran dengan orang yang sudah menolongnya. Sekali lagi dia mencoba mengingat-ingat orang itu. Tapi nihil, dia tidak tahu siapa dia.


"Siapapun kau, aku ucapkan terimakasih." batin Alex


__ADS_2