
Beberapa hari kemudian, Alex sudah diperbolehkan untuk pulang. Keadaannya sudah membaik dan Dokter menyarankan untuk tidak mengkonsumsi sesuatu yang bisa membuatnya mual. Karena bagaimanapun, kehamilan simpatik akan menghilang dengan sendirinya tanpa bantuan medis.
Dan hari ini Alex sudah menjalankan aktivitas seperti biasa, yaitu pergi ke kantor. Hanya saja ada yang berbeda dari dirinya. Dia terlihat lebih arogan dari biasanya. Tatapannya mengintimidasi setiap orang yang ia temui. Bahkan tidak ada satupun karyawan yang tidak terkena semburan amarah dari seorang Alex.
"SUDAH BERAPA LAMA KAU BEKERJA DI SINI, HAH? KENAPA MEMBUAT LAPORAN SEPERTI INI SAJA TIDAK BECUS?" bentak Alex
Semua karyawan yang ada di ruangan Alex hanya bisa menunduk terdiam. Ingin menjawab pun percuma karena itu akan membuat semua semakin kacau dan jabatan mereka taruhannya.
"BUAT ULANG!! AKU BERI WAKTU 2 HARI UNTUK MEMPERBAIKINYA. JIKA MASIH SAMA SAJA, BERSIAPLAH KALIAN AKAN AKU PECAT."
"KALIAN MENGERTI?" bentaknya lagi
"Me_mengerti tuan." Jawab mereka serempak. Mereka memunguti berkas yang di lempar Alex ke lantai dan segera pergi dari kandang singa tersebut.
"Dasar tidak berguna." Gumam Alex
Leo yang sedari tadi berdiri di samping nya hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah laku atasannya itu. Menurutnya, kemarahan Alex hari ini tidak berdasar sama sekali. Laporan yang di buat oleh karyawan, menurutnya sudah baik dan tidak ada yang janggal. Tapi entah mengapa, Alex justru seenaknya meminta mereka untuk membuat ulang.
Andai dia mempunyai keberanian, mungkin saat ini dia sudah memukul kepala Alex sampai pingsan.
"Apa jadwalku hari ini?" Tanya Alex.
"Hari ini anda ada meeting dengan nona Lena dari perusahaan Lenary corp di restoran Delicy sekaligus makan siang dengan beliau."
"Lena? Istri Ridwan?" Tanya Alex
"Benar tuan."
"Setelah itu?"
"Anda free. Tapi banyak berkas yang harus anda periksa dan tandatangani." Seru Leo. Jangan sampai Alex mangkir lagi dari pekerjaannya. Dia sudah sangat lelah setiap hari lembur dan menggantikan Alex di perusahaan.
Sedangkan pria itu seenak jidat semedi di kamar karena pengkhianat yang dilakukan Icha.
Jujur dia sendiri tidak percaya jika Icha berani melakukan hal itu. Di lihat dari manapun, Icha bukan tipe wanita yang seperti itu. Di tambah lagi, bagaimana Icha bisa mengenal pria lain sedangkan wanita itu tidak pernah keluar sedikitpun dari pintu apartemen kecuali dengan Alex sendiri. Semua itu sangat janggal menurutnya.
"Mana berkas yang harus aku tanda tangani? Aku akan mengerjakannya sekarang sambil menunggu waktu pertemuan dengan Lena." Seru Alex.
"Memang seharusnya kau mengerjakannya sekarang. Kau pikir kapan lagi kau harus mengerjakannya, hah?" Batin Leo
"Baik tuan." Leo keluar dari ruangan Alex, menuju ruangan nya untuk mengambil berkas-berkas yang sebelumnya dia kerjakan.
"Huft.. aku selamat hari ini." Ujar Leo bernafas lega. Tapi sayangnya itu semua hanya angan-angan saja, karena seseorang tengah tebar pesona dengan melenggak-lenggokkan tubuhnya yang tertutup pakaiannya yang minim.
"CK.. mau apa wanita rubah itu kemari?" Batin Leo.
"Pagi Leo." sapa seseorang yang tidak lain adalah Selena
__ADS_1
"Pagi juga rubah betina." ingin sekali Leo mengatakan hal itu tapi sayangnya itu hanya dalam hati saja. "Pagi Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Leo
"Apa Alex ada?"
"Sudah ku duga." ucap Leo dalam hati
"Tuan Alex ada di ruangan nya Nona."
"Terimakasih." Selena langsung ke ruangan Alex dan masuk begitu saja
"Hah... Kapan penderitaan ku ini akan berakhir? Aku juga ingin bersenang-senang dengan wanita. Tapi setiap hari aku hanya di temani oleh kertas-kertas sialan itu." gerutu Leo. Dia kembali keruangan untuk mengambil berkas yang di minta Alex. Tapi saat dia mengumpulkan berkas itu, tiba-tiba ada telepon masuk dari ponselnya.
"Halo...
...****************...
"Untuk apa kau kemari?" Alex menatap tajam wanita yang saat ini duduk di depan nya. Dia sedang malas bertemu siapapun jika hanya ingin mengungkit masalah nya saja.
"kau kenapa Lex? Aku datang karena merindukanmu."
"Heh.. Berhenti berpura-pura, Elen. Aku tahu kau datang hanya untuk mengejekku atas apa yang terjadi padaku."
"Terjadi padamu? Memangnya kau kenapa Lex?" tanya Selena berpura-pura tidak tahu
Alex terdiam sesaat. Dan tidak berapa lama kemudian dia menghela nafas panjang. Dia menyandarkan punggungnya dan mulai menceritakan apa yang telah terjadi padanya.
"Kau benar, Elen." terlihat tatapan sendu di mata Alex. Sebenarnya dia ingin mempercayai Icha tapi jika mengingat foto saat Icha tidur dengan pria lain, hatinya langsung mendidih dan rasanya dia ingin berteriak.
"Sudahlah Lex. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Kebetulan aku kemari ingin mengajakmu bersenang-senang." seru Selena
Alex menatap Selena dan menolak ajakan Selena. "Maaf Elen, aku sedang tidak berminat."
"Hei.. Kau tidak boleh begitu. Kita akan bersenang-senang dan aku jamin kau akan lupa dengan masalah mu."
"Karena setelah itu kita akan menikah." batin Selena
"Aku tidak berminat." tolak Alex lagi. Bukan tidak berminat sebenarnya, setelah mengenal Icha, dia memang hampir tidak pernah lagi bermain wanita. Dia tidak mendapatkan kepuasan seperti saat bersama Icha. Maka dari itu, dia malas pergi ke bar hanya untuk menuntaskan hasratnya.
"Kau kenapa sebenarnya Lex? Dulu setiap ada masalah, kau selalu mengajakku ke Bar untuk bersenang-senang." Ini pertama kalinya Alex tidak mau ikut dengannya. Padahal dulu setiap ada yang mengganggu pikiran Alex, dia akan pergi ke Bar dan mencari wanita. Tapi sekarang?
"Ayolah!!" Selena terus mendesak Alex untuk ikut dengan nya, karena jika sampai Alex menolak, maka rencananya akan gagal.
"Sorry. Aku tidak mau. Jadi silahkan keluar karena aku masih banyak pekerjaan." Alex mengusir Selena karena kedatangan wanita itu bukannya membuat tenang justru malah menambah beban pikirannya. Dia ingin melupakan masalah yang terjadi padanya, Tapi justru dia semakin tersiksa. Itu karena Dia sudah sangat mencintai Icha.
Selena berdiri dan menghentakkan kedua kakinya. Dia pergi dengan hati yang dongkol karena di tolak mentah-mentah oleh Alex. Tapi dia tidak akan menyerah. Sekarang dia gagal dan dia akan mencobanya lagi lain waktu. Biarlah Alex meratapi nasibnya terlebih dahulu. Nanti jika sudah saatnya, dia akan kembali dan mereka akan bersenang-senang.
"Huft... Ada apa denganku? tidak biasanya aku kehilangan gairah seperti ini." gumam Alex
__ADS_1
Tok Tok Tok
"Masuk!!" teriak Alex
Leo membuka pintu dan masuk dengan berkas di tangannya di ikuti seorang wanita cantik yang berjalan di belakangnya.
"Maaf Tuan, Nona Lena datang lebih awal karena dia ingin memajukan jam meeting dengan anda." seru Alex
"Lena!! Kenapa kau tidak mengabariku terlebih dahulu?" seru Alex
"Maaf. Tapi sebelumnya, apa aku boleh duduk?" tanya Lena
"Tentu saja, silahkan duduk."
Lena duduk dengan elegan di depan Alex dan meletakkan tas mahalnya di meja Alex. "Maaf sebelumnya tuan Alex jika kedatangan ku ini mendadak. Tapi aku sudah menghubungi anda dan nomor ponsel anda tidak aktif." seru Lena
Alex mengambil ponsel di saku celananya dan ternyata memang benar ponselnya tidak aktif. "Maaf Len, aku tidak sadar ponselku mati."
"Tidak masalah. Jadi, apa kita bisa memulai meeting kita?" tanya Lena
"Tentu saja. Kita pindah di sofa saja biar lebih leluasa." Alex berdiri terlebih dahulu dan duduk di sofa di ikuti Lena. Mereka mulai meeting mereka dan melupakan Leo yang masih berdiri di sana.
"Yang ini bagus. Boleh aku lihat contoh desain untuk yang ini?" seru Alex
"Seleramu bagus juga." Lena berdiri dan bermaksud mengambil tasnya yang berada di meja Alex. Tapi tanpa sengaja kakinya tersandung dan jatuh di pangkuan Alex
Cekrek
Cekrek
Leo mengambil kesempatan itu untuk memotret keduanya. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Leo keluar diam-diam dan menelepon seseorang.
"Semuanya beres."
Sementara itu, Lena langsung berdiri dan meminta maaf pada Alex. "Maafkan Aku tuan Alex, aku tidak sengaja."
"Tidak masalah."
Lena tersenyum dan mengambil tasnya. Kemudian dia kembali duduk di samping Alex dan memperlihatkan contoh desain yang dipilih Alex.
"Oke, aku ambil yang ini." seru Alex
"Oke kalau begitu. Aku akan segera mengerjakannya dan secepatnya mengirim hasilnya pada anda." Lena berdiri dan mengulurkan tangannya, "Senang bekerjasama dengan anda, tuan Alex."
"Sama-sama Lena." Alex membalas uluran tangan Lena dan membukakan pintu untuk wanita itu
Lena berjalan dengan seringai di wajahnya. Dia menatap Leo yang masih berdiri tidak jauh dari ruangan Alex dan mengacungkan ibu jarinya.
__ADS_1
"Berhasil."