Rahim Bayaran Tuan Alex

Rahim Bayaran Tuan Alex
Pergi


__ADS_3

Diana menyusul Alex ke kamarnya. Dia membuka pelan pintu kamar Alex dan melihat pria itu terduduk di lantai dengan kondisi yang memprihatinkan.


Dia tahu jika apa yang Alex lihat membuat hatinya kembali hancur. Pasti bayang-bayang masa lalu membuatnya semakin membenci cinta.


Diana tidak bisa menyalahkan Alex, karena dia tahu persis perasaan Alex saat ini. Tapi tidak seharusnya Alex gegabah dalam mengambil keputusan. Dia hanya takut suatu hari nanti Alex akan menyesal.


"Maafkan mommy, sayang. Semua ini salah mommy. Andai pria bejat itu tidak hadir di kehidupan kita, andai mommy mempunyai keberanian untuk melawannya, andai mommy bisa mengambil keputusan yang tepat, kau mungkin tidak akan seperti ini." Diana menghapus air matanya dan menutup kembali pintu kamar Alex


Dia akan memberi waktu untuk Alex menenangkan diri. Setelahnya, dia akan bicara pelan-pelan dengannya.


Sementara itu, Icha memutuskan untuk kembali ke apartemen milik Alex yang diberikan padanya. Dengan langkah yang gontai, dia masuk ke apartemen dan menatap ruangan hampa yang telah menyimpan banyak kenangan mereka.


Lagi-lagi air matanya menetes. Tubuhnya merosot ke lantai seolah kedua kakinya tidak lagi kuat menopang tubuhnya.


Untuk kesekian kalinya, dia mendapatkan ujian terberat dalam hidupnya. Sekali lagi dia harus kehilangan orang yang dia cintai. Dia menangis memukul dadanya yang terasa sesak. "Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Apa salahku, Tuhan? hiks hiks hiks... Kau mengambil satu-satunya keluarga ku dan sekarang Kau mengambil kebahagiaan ku. Apa aku tidak boleh bahagia?" Isak Icha


Cukup lama Icha menangis. Dia menghapus air matanya dan berdiri. "Akh.." perut Icha tiba-tiba sakit. Dia duduk di sofa sambil terus mengusap perutnya dan mengambil nafas dalam.


"Maafkan ibu, sayang. Ibu terlalu larut dalam kesedihan. Sampai-sampai ibu melupakan jika ada kau di sini. Kau tenang aja. Ibu tidak akan menyerah, Ibu akan bertahan demi dirimu." Icha mengusap pelan perutnya yang sedikit membuncit dan terus berbicara pada bayi yang ada didalam kandungannya.


"Saat ini hanya kau yang ibu miliki. Kau harta yang paling berharga yang pernah ibu miliki. Walaupun Ayahmu tidak menginginkan mu, Tapi Ibu akan terus memperjuangkan mu. Kaulah penyemangat ibu, sayang." Icha perlahan berdiri. Dia pergi ke dapur untuk mengisi perutnya. Dia yakin di dalam kulkas terdapat berbagai macam makanan karena Alex selalu menyediakan bahan makanan walaupun apartemen kosong sekalipun.


Icha mulai berkutat dengan peralatan memasak. Sesekali dia mengusap perutnya seolah berkata pada anaknya jika semua akan baik-baik saja.


Dia harus kuat demi anaknya. Setelah ini dia akan memulai kehidupannya yang baru. Alex sudah memutuskan hubungan dengan mereka dan mereka sudah tidak lagi mempunyai hak apapun atas apa yang di berikan Alex.


Dia sudah cukup menderita dengan menjual rahimnya. Di tambah orang yang dia perjuangkan memilih untuk meninggalkannya. Dan setelah dia bisa melewati semuanya, cobaan itu kembali datang.

__ADS_1


Kali ini lebih menyakitkan karena dia sudah tidak diinginkan lagi. Dia di usir saat cinta mulai tumbuh di hatinya. Tapi dia tidak bisa menyalahkan Alex. Dia tahu, pasti hati Alex sakit saat melihat foto itu. Sama seperti saat dia melihat foto Alex bersama wanita lain. Hanya saja, dia bisa meredam amarahnya. Sedangkan Alex di kuasai masa lalunya.


''Akhirnya matang juga. Yuk kita makan sayang!!" Icha memindahkan masakannya di piring dan membawanya ke meja makan. Dia makan dengan bibir yang tersenyum dan sesekali mengusap perut nya karena sekarang dia tidak mempunyai siapapun selain anak yang ada di dalam kandungannya.


"Kau harus bertahan demi ibu. Dan ibu akan bertahan demi dirimu. Setelah ini kita akan hidup dengan keras. Apa kau siap sayang?" ucapnya pada anak di dalam kandungannya


Icha membereskan piring kotornya dan pergi ke kamar untuk istirahat.


Saat masuk ke kamar, bayangan saat dia bercengkrama dengan Alex terlihat jelas di tempat tidur yang mereka tempati sebelumnya. Lagi-lagi hal itu membuat air mata nya menetes.


Icha buru-buru menghapusnya dan pergi ke wordrobe. Dia mengambil kemeja Alex dan membawanya ke tempat tidur. "Selamat istirahat sayang." Icha mencium kemeja Alex dan memeluknya erat seolah membayangkan jika Alex ada di sampingnya. Dan tidak membutuhkan waktu lama, Icha terlelap dalam tidurnya.


...****************...


Keesokan harinya, Icha terlihat begitu rapi. Hari ini dia akan memulai semuanya dari awal. Memulai kehidupan yang baru. Dia tahu jika setelah ini dia akan menjalani kehidupan yang berat dengan keadaannya yang sedang hamil. Tapi biarlah, yang terpenting adalah dia bisa bertahan demi anaknya.


Baju sudah dia kemas. Icha menentang tasnya dan membawanya keluar dari kamar.


"Bi Siti? Apa kabar bi?" Icha memeluk erat tubuh wanita paruh baya itu. Rasanya sangat nyaman di peluk seseorang saat kita sedang tidak baik-baik saja. Apalagi bi Siti sudah dia anggap seperti ibunya sendiri


"Non Icha mau kemana?" tanya Bi Siti


Icha tersenyum dan menarik bi Siti untuk duduk di sofa bersamanya. "Bibi masih bekerja di sini?" tanya Icha yang di jawab anggukan oleh BI Siti


"Kerja seperti biasa atau untuk mengawasi ku, bi?" tanya Icha lagi


"Sebenarnya Bi Siti di minta Nyonya besar untuk menjaga non Icha. Beliau khawatir jika non Icha sendirian. Apalagi non Icha sedang hamil."

__ADS_1


"Terimakasih bi, Tapi bibi tidak perlu lagi melakukan hal itu. Aku juga tidak mau mommy terkena amukan tuan Alex karena masih mengurus ku. Jadi, hari ini aku akan pergi bi."


"Pergi? kemana non?"


"Aku juga tidak tahu harus kemana bi. Tapi aku juga tidak mungkin tinggal di sini."


"Tapi non, bukankah apartemen ini Tuan berikan untuk non Icha?" seru bi Siti


Icha tersenyum dan kembali berkata, "Bi, bibi adalah orang yang paling tahu bagaimana aku bisa sampai di sini. Hubungan yang awalnya hanya sebatas kontrak, berlanjut menjadi hubungan yang serius."


"Apa bibi percaya, cinta bisa datang kapan saja karena biasa? itulah yang terjadi padaku bi. Jika hubungan kami masih sama seperti dulu yang hanya sebatas kontrak, mungkin aku akan menerima semua ini sebagai kompensasi."


"Tapi sekarang diantar kami ada rasa cinta. Dan semua ini bukan hal yang aku inginkan lagi. Memiliki orang yang mencintai kita itu sudah membuat ku sangat bahagia bi. Tapi orang itu kini tidak menginginkan kita lagi."


Icha memberikan kunci apartemen dan kartu Kredit pemberian Alex pada bi Siti. "Dia memberikan semua ini sebagai kompensasi dengan catatan hubungan kami sudah berakhir. Tapi bagiku selama rasa itu masih ada di dalam hatiku, semua ini tidak ada artinya. Jadi aku minta tolong pada bi Siti. tolong kembalikan ini pada Tuan Alex. Katakan padanya, rasa terimakasih ku."


Bi Siti menangis dan memeluk Icha. "Lalu non Icha mau kemana dengan keadaan seperti ini non?"


"Aku juga tidak tahu bi. Mungkin nanti aku akan mencari kontrakan terlebih dahulu lalu mencari pekerjaan."


Bi Siti mengurai pelukannya dan menggelengkan kepala melarang Icha untuk melakukan hal itu. "Jangan non!! kandungan non Icha lemah. Nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."


"Lalu aku harus bagaimana bi? Aku tidak mungkin berada disini. Ini terlalu menyakitkan." lagi-lagi tangis Icha pecah. Dadanya terasa sesak mengingat Alex yang mengusir dan memutuskan hubungan dengannya.


"Non Icha pernah bilang sudah menganggap bibi sebagai ibu non Icha sendiri, bukan?" tanya Bi Siti yang di jawab anggukan oleh Icha.


"Kalau begitu, dengarkan ucapan bibi!!"

__ADS_1


Icha kembali menangis dan memeluk bi Siti. Jika memang ini sudah takdirnya, dia berharap bisa melewatinya dengan hati yang lapang.


"Terimakasih bi, terimakasih."


__ADS_2