
"Maaf!!" Icha menunduk tidak berani menatap Alex. Dia merasa bersalah karena dirinya, Alex kembali mengalami muat hebat.
"Kenapa minta maaf, hm? "
"Aku sudah memberitahu mommy jika kau tidak bisa makan sesuatu yang berwarna putih, tapi mommy....
"Kemari lah!!" Alex meminta Icha untuk mendekat. Dia menarik pelan tubuh Icha dan memeluknya. "Semua ini bukan salahmu. Tapi nenek sihir itu memang sengaja ingin mengerjai ku." sungut Alex dalam hati
Cukup lama mereka terdiam. Alex sedang memikirkan cara untuk membalas Ibunya sedang kan Icha masih teringat dengan wanita yang baru saja datang. Dia sangat ingin bertanya pada Alex. Tapi dia takut mengetahui fakta jika wanita itu sangat penting untuk Alex.
Icha dapat merasakan jika wanita itu sangat menyukai Alex. Hah.. Seperti nya saingannya sangat berat. Tapi dia tidak akan menyerah ataupun mengalah. Jika benar wanita itu menyukai Alex, maka dia akan lebih berusaha untuk membuat Alex semakin menginginkannya. Bagaimanapun caranya akan dia lakukan. Demi cintanya dan juga anak yang dia kandung.
"Apa kau mau makan sesuatu?" tanya Icha
"Perutku mual, Cha. Rasanya sakit sekali."
"Sakit?" Icha mengurai pelukannya. Dia melihat wajah Alex yang pucat dan menahan sakit. "Tunggu sebentar !!" Icha beranjak, dia mengambil sesuatu di kotak p3k dan kembali duduk di samping Alex.
"Apa itu?" tanya Alex
"Ini minyak, biar perutmu hangat." Icha menaikan baju Alex dan mengusap pelan perut Alex menggunakan minyak tersebut.
Icha tidak tahu yang dia lakukan itu justru membangunkan sesuatu di bawah sana. Dan Alex hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan untuk tidak menerkam Icha saat ini juga karena perutnya sangat tidak nyaman saat ini. Dia tidak mau di saat dia berada di puncak kenikmatan, dia harus berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan sesuatu yang membuat perutnya bergejolak.
"Apa sudah mendingan?" tanya Icha. Dia mengerutkan keningnya melihat Alex yang justru semakin kesakitan.
"Apa begitu sakit?" Icha terlihat khawatir. Alex terlihat sangat kesakitan sampai-sampai keringat menetes dari pelipis pria itu.
Alex menggeleng pelan. Dia menuntun tangan Icha untuk menyentuh belalainya. "Sekarang justru ini yang sakit, Cha." ucapnya dengan suara parau
Icha menarik tangannya dan mendengus kesal. "Mesum."
Alex terkekeh pelan. Dia menarik Icha dan memeluknya lagi. "Nanti malam tidurlah disini!! Rawat aku, ya!!" pinta Alex
"Kenapa harus nanti malam? Sekarang pun aku akan merawat mu." sahut Icha
__ADS_1
"Iya aku tahu. Tapi aku ingin nanti malam kau tidur di sini dan memelukku. Apa kau tidak merindukanku, hm?"
"Kita bertemu setiap hari, kenapa aku harus merindukanmu?"
Alex menggeram pelan. Dia merasa gemas dengan Icha yang tidak tahu maksud dari ucapannya. Apa dia harus mengatakannya secara langsung jika dia ingin bercinta dengan Icha? Hah.. Jika yang ada di depannya saat ini adalah wanita lain, dia pasti akan langsung paham dan mengiyakan ajakannya. Tapi sayangnya yang ada didepannya saat ini adalah Icha.
"Aku merindukan mu dan juga anak kita, jadi nanti malam tidurlah disini!! Aku ingin bermain dengan anak kita." seru Alex
"Bermain??" Icha menegakkan tubuhnya dan menatap Alex. "Anak kita masih didalam sini dan usianya juga baru dua bulan, memangnya dia sudah bisa bermain?" tanya Icha polos.
Alex tersenyum kikuk. "Astaga dia polos sekali. Apa aku harus mengatakan Jika aku ingin bercinta dengannya? Jika aku mengatakan hal itu pasti dia akan menolak dengan alasan malu pada mommy." gerutu Alex dalam hati.
"Aku tidak mau tahu pokoknya nanti malam kau harus tidur di sini titik tidak ada penolakan." seru Alex
"Aku....
"Icha akan tetap tidur di kamarnya." sela Diana. Dia berdiri di depan pintu kamar Alex dengan melipat kedua tangannya. Dia tidak menyangka jika Alex sangat pintar memanfaatkan keadaan. Alex menjadikan sakitnya sebagai alasan untuk bisa tidur dengan Icha.
"Mom!! Please.. kali ini saja biarkan Icha tidur denganku. Aku sedang sakit dan semua itu gara-gara mommy." rengek Alex
Alex mengumpat dalam hati. Dia menyesal memenuhi permintaan ibunya untuk tinggal di mansion. Tahu begini dia akan tetap tinggal di apartemen agar bisa bermesraan dengan Icha setiap hari tanpa ada yang mengganggu.
Diana masuk ke kamar Alex dan menarik pelan Icha agar terlepas dari pelukan pria itu.
"Mom!!" protes Alex.
"Apa?" tantang Diana. Dia menatap Icha dan berkata, "Bisa Tinggalkan kami sebentar? Ada yang ingin Mommy bicarakan dengan Alex." seru Diana lembut
Icha mengangguk pelan dan keluar dari kamar Alex.
"Apa yang ingin Mommy katakan padaku? Jika mommy hanya ingin mengatakan jika aku tidak boleh tidur dengan Icha, Maaf aku tidak akan mendengarkan mommy." seru Alex
"Astaga Alex. Berhenti bersikap seperti anak kecil. Kau ini sudah tua, sudah berumur kepala tiga. Seharusnya kau bisa mengerti Icha. Kalian belum resmi menikah tapi kau terus saja menginginkan bercinta dengannya." Diana melipat kedua tangannya di depan dadanya dan kembali berkata, "Itulah akibatnya jika menolak permintaan Mommy. Jika dari awal kau mau menikah, benda keramat mu itu tidak akan berkarat dan minta terus diasah." ledek Diana
"Jadi Mommy cuman ingin mengejekku? Kalau begitu silakan keluar Mom!!" usir Alex
__ADS_1
"Cih.. Dasar baperan." ledek Diana
"Ehm.. Oke, kembali ke topik. Ada hal yang penting yang ingin Mommy katakan dan ini mengenai Selena." lanjut Diana
"Selena? Ada apa dengannya?" tanya Alex
"Mommy merasa jika dia mempunyai niat yang tidak baik pada kita. Terutama pada Icha. Sepertinya dia ingin memisahkan mu dari Icha." seru Diana
"Bukan Selena, tapi mommy yang mempunyai niat memisahkan ku dengan Icha." gumam Alex yang masih terdengar oleh Diana
"Apa kau bilang?" pekik Diana. "Mommy melakukan ini juga untuk kalian berdua, Al. Kau sudah bersalah dengan melakukan hal itu pada Icha. Dan mommy hanya tidak ingin kau terjerumus lebih jauh dengan melakukan hal itu tanpa ikatan yang sah." seru Diana emosi. Dia memijat pelipisnya pusing dengan sikap kekanak-kanakan putranya. Alex Wiratama yang di kenal tegas dan bijaksana mendadak berubah egois dan manja. Benar-benar menggelikan.
"Alex, dengarkan Mommy!!! Selena tadi menjelek-jelekkan menantu mommy hanya karena tidak setara dengan keluarga kita. Dia meminta mommy untuk berhati-hati agar tidak terjebak permainan Icha yang menginginkan harta keluarga Wiratama. Sekarang kau pikir!! Apa menurutmu Icha seperti itu?"
Alex terdiam. Dia sudah lama tinggal dengan Icha dan merasa jika Icha bukan wanita seperti itu. Dia bahkan meminta Leo untuk mencari tahu keseharian Icha sebelumnya.
Wanita itu adalah pekerja keras. Dia rela berhenti sekolah dan bekerja demi pengobatan ibunya dan untuk kehidupan sehari-hari. Jika Icha adalah wanita seperti yang di tuduhkan, dia bisa saja menjual tubuhnya untuk mendapatkan uang, atau menjadi simpanan pengusaha dan meninggalkan ibunya begitu saja.
Tapi Icha tidak melakukannya. Dia justru menjual rahimnya untuk biaya operasi ibunya. Jadi sangat mustahil Icha wanita yang gila harta.
"Ingat pesan mommy baik-baik, Alex. Kau orang yang mempunyai trauma karena kurangnya kasih sayang. Jangan karena ego mu, anak mu merasakan hal yang sama seperti dirimu dulu. Jika kalian ada masalah, selesaikan baik-baik. Apa kau mengerti?" lanjutnya
"Iya mom." sahut Alex
"Good. Kalau begitu, kau istirahatlah. Mommy akan....
"Tidak perlu." sela Alex. "Aku hanya ingin Icha."
"Jangan harap itu terjadi." Diana keluar dari kamar Alex begitu saja tanpa memperdulikan teriakan pria itu.
Tanpa mereka sadari, pembicaraan mereka di dengar langsung oleh Icha. Dia sangat penasaran dengan apa yang ingin mereka bicarakan. Untuk itu berdiri di depan kamar Alex.
Awalnya, jika yang mereka bicarakan adalah mengenai pekerjaan atau yang berhubungan dengan keluarga, dia akan pergi karena itu bukan urusannya. Tapi saat Diana menyebut nama Selena, Icha memasang baik-baik telinga nya karena merasa jika yang mereka bicarakan menyangkut dirinya.
Dan benar saja, ternyata wanita yang bernama Selena tidak menyukainya. Dia bahkan mengatakan hal buruk tentang dirinya. Cih..Icha tidak menyangka jika wanita itu menggunakan cara licik untuk mendapatkan perhatian Alex. Ini tidak bisa di biarkan. Dia harus melakukan sesuatu.
__ADS_1