Rahim Bayaran Tuan Alex

Rahim Bayaran Tuan Alex
Clarissa Ayana Wiratama


__ADS_3

Selena mengikuti mobil Alex. Dia ingin tahu kemana mereka akan pergi. Di lihat dari gerak-gerik mereka, sepertinya mereka ingin pindah. Dan ini kesempatan bagus untuk Selena karena dia ingin tahu tempat persembunyian wanita bernama Icha itu. Dia yakin jika Alex akan menyembunyikan keberadaan wanita itu sebelum sampai hari pernikahan mereka.


Walaupun Alex sudah merencanakan pernikahannya dengan Icha, tapi Selena tahu jika Alex masih ragu. Dia yakin bayangan kelam masa lalu yang pernah terjadi pada Alex yang membuat Alex ragu.


"Ck.. Mau kemana mereka sebenarnya?" ucap Selena bermonolog. Dia mengerutkan keningnya kala merasa tidak asing dengan jalan yang mereka lewati. " Bukankah ini jalan menuju mansion Alex?"


Dan benar saja, mobil Alex berhenti di pelataran mansion keluarga Wiratama. Selena memarkirkan mobilnya tidak jauh dari gerbang mansion Alex. Dia turun dan bersembunyi untuk melihat Alex dan Icha yang di sambut oleh Diana.


Terlihat kebahagiaan di wajah Diana dan Alex. Dan hal itu membuat Selena geram. Saat dirinya datang berkunjung, Diana tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti sekarang. Wanita paruh baya itu seolah berpura-pura tersenyum dihadapannya.


"Sial!! Kenapa Tante Diana welcome sekali pada wanita itu? Aku pikir Tante merestui hubungan mereka karena wanita itu sudah hamil. Tapi ternyata aku salah. Ini tidak bisa di biarkan. Seperti nya aku harus menyusun rencana untuk bisa memisahkan mereka. Tidak hanya itu, aku akan membuat Alex dan Tante Diana membenci wanita itu." seringai Selena. Dia kembali ke mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut.


Setelah ini, dia akan mencari pria yang kemarin dia temui di perusahaan Alex. Dia akan bekerjasama dengan pria itu untuk memisahkan Alex dan Icha.


Sementara itu, Icha merasa sangat senang karena di sambut dengan hangat oleh Diana dan juga para pelayan. Mereka bahkan berbaris rapi menyambut kedatangannya.


"Selamat datang di mansion keluarga Wiratama, sayang." Diana merentangkan kedua tangannya dan di sambut pelukan oleh Icha. Dia sangat bahagia. Dia merasa mempunyai keluarga baru.


Setelah ibunya meninggal, dia tidak mempunyai siapapun selain Alex. Tapi bukan berarti dia bergantung pada pria itu. Dia hanya kesepian karena tidak mempunyai saudara ataupun teman. Dan setelah kejadian yang membuat nya harus di rawat di rumah sakit, dia di temani oleh bi Siti. Dan sekarang, dia mempunyai keluarga besar.


"Terimakasih mom. Tapi sepertinya ini agak berlebihan. Mommy tidak perlu menyambut kami seperti ini." ucap Icha


"Mommy hanya ingin mereka tahu jika mulai sekarang, kau adalah bagian dari keluarga Wiratama. Ya, walaupun kalian belum menikah, tapi dia adalah penghubung cinta kalian." Diana mengusap perut Icha yang membuat semua pelayan saling berbisik.


Icha dapat melihat perubahan raut wajah mereka. Dia merasa jika semua ini tidak akan mudah. Saat ini mereka pasti menganggap dirinya wanita tidak baik.


"Untuk Kalian semua, akan aku perkenalkan secara resmi menantu keluarga Wiratama. Dia adalah Clarissa Ayana Wiratama. Kalian harus melayaninya seperti kalian melayaniku dan juga Alex. Dan memang benar jika calon menantuku tengah mengandung. Jadi, kalian harus menyiapkan semua Icha butuhkan." seru Diana


"Apa kalian mengerti?" lanjutnya


"Kami mengerti, nyonya." jawab mereka serempak


"Bagus." Diana membubarkan para pelayan dan menuntun Icha untuk duduk. "Mommy sudah menyiapkan kamar untukmu." seru Diana


"Menyiapkan kamar? Memangnya mommy mau Icha tidur di kamar yang mana?" tanya Alex

__ADS_1


"Tentu saja di kamar tamu. Hanya kamar itu yang bagus dan luas. Lagipula jika Icha bersantai di balkon, dia bisa melihat pemandangan dari sana." terang Diana


"What? Kamar tamu?" pekik Alex


"Mom, dia calon istri ku. Kenapa mommy meminta Icha tidur di kamar tamu? Harusnya Icha......


"Tidur di kamarmu, begitu?" sela Diana


"Alex, Kalian belum resmi menikah jadi kalian tidak boleh satu kamar." lanjut Diana


"Memangnya kenapa jika aku satu kamar dengan Icha? Kami juga sudah biasa tidur bersama." gerutu Alex


Diana melotot kan kedua matanya mendengar ucapan Alex. Sejak kapan putranya itu menjadi se mesum itu? Walaupun mereka sudah tidur bersama, tapi mereka belum menikah. Jadi Diana sengaja memisahkan kamar mereka.


"Mommy tidak menerima penolakan. Jika kau tidak setuju, kau boleh pergi dan tidur di apartemen mu itu. Bukankah selama ini kau tidak mau tinggal di mansion, hah." seru Diana


Alex berdecak kesal. Dia menyesal setuju untuk tinggal di mansion keluarga Wiratama karena dia tidak di perbolehkan tidur satu kamar dengan Icha. Dia sudah terbiasa tidur dengan memeluk wanita itu, jadi rasanya akan sangat hambar jika dia tidur sendiri.


"Sekarang kau bawa barang-barang Icha ke kamar! Nanti biar pelayan yang merapikannya." titah Diana


"Tahu begini aku menolak untuk pulang. Aku tahu, kau sengaja memisahkan aku dengan Icha, kan? Dasar nenek sihir. Lihat saja!! Aku pasti akan membalas mu dan mengajak Icha untuk tidur dengan ku." gerutu Alex dalam hati


...****************...


Di rumah sederhana bercat hijau, seorang pria baru saja terbangun dari tidurnya. Dia membuka matanya perlahan dan merasa pusing di kepalanya.


"Aku dimana?" pria itu mengedarkan pandangannya. Dia merasa tidak asing dengan ruangan tersebut.


"Kau sudah bangun Fer?"


Pria itu menatap ke arah pintu. Seorang wanita yang sudah tidak muda lagi, terlihat masuk dengan nampan berisi makanan di tangannya.


"Nenek?" Pria itu mengucek matanya dan kembali melihat sekelilingnya. Ya, sekarang dia berada di kamarnya.


"Semalam kau mabuk dan diantar oleh temanmu. Nenek lupa menanyakan siapa namanya." nenek Sari duduk di tepi tempat tidur dan menyentuh kening cucunya.

__ADS_1


"Syukurlah demam mu sudah turun. Sekarang, kau makan ya!" Nenek Sari menyuapi Ferdian dengan telaten. Tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Dan hal itu membuat Ferdian merasa canggung.


"Nek!!"


"Jika kau belum ingin bercerita, nenek tidak akan memaksa. Tapi satu pesan nenek. Jika kau mempunyai masalah, sebesar apapun itu, jangan sekali-kali kau melampiaskan nya pada minuman haram itu. Nenek tidak ingin hal buruk terjadi padamu, Fer. Kau satu-satunya keluarga nenek. Nenek....


"Nek!!" Ferdian memeluk nenek Sari. Dia tahu jika apa yang dia lakukan itu salah. Dan hal itu pasti membuat neneknya khawatir dan sedih. Tapi mengingat masalah yang dia hadapi rasanya dia tidak ingin hidup. Karena tujuan hidupnya hanya ingin hidup bahagia dengan wanita yang dia cintai. Dan itu adalah Icha.


"Maafkan aku, nek. Aku khilaf. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." ucap Ferdian


"Nenek memaafkan mu, Fer. Dan nenek harap ini yang terakhir kalinya." Nenek Sari mengurai pelukan nya dan kembali berkata, "Setiap masalah pasti ada jalan untuk menyelesaikannya. Tapi bukan berarti dengan merusak diri sendiri dengan minum minuman beralkohol. Itu hanya akan merugikan diri mu sendiri."


"Lihat!! Sekarang kau terbaring sakit dan tidak bisa masuk kerja. Dan setelah kau sadar, apa masalah mu itu hilang? Tidak kan?" lanjut Nenek Sari


Ferdian hanya bisa menunduk. Yang di katakan Neneknya itu sangat benar. Semua ini sia-sia, karena dia hanya melupakan masalahnya sesaat. Dan saat dia sadar, masalah itu masih ada di hatinya.


"Sekarang istirahatlah!! Temanmu semalam bilang akan membantumu meminta ijin sakit di tempat mu bekerja." seru Nenek Sari


"Iya nek. Nanti aku akan menghubungi temanku itu untuk berterimakasih."


Nenek Sari mengangguk dan tersenyum. Dia keluar dari kamar Ferdian dan membiarkan cucunya itu untuk istirahat.


"Hah... Aku sungguh bodoh dengan pergi ke bar untuk melupakan masalah ku. Nyatanya saat aku sadar, hati ku masih merasa sakit." Ferdian memegang dadanya yang terasa sesak. Dia masih tidak percaya jika wanita pujaan hatinya akan menikah. Dan dia tidak rela.


Saat tengah bergulat dengan pemikirannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mengambil ponselnya dan melihat nama si penelepon.


"Nomor baru? Siapa ya?" Ferdian paling malas menanggapi orang yang tidak dia kenal. Untuk itu dia mengabaikan telepon tersebut dan meletakkan kembali ponselnya di nakas.


Tapi lagi-lagi ponselnya berdering dan tertera nomor yang sama. Dengan malas, Ferdian menggeser keatas tombol berwarna hijau dan menempelkan ponsel di telinganya.


"Halo, siapa ini?" tanya Ferdian.


"Temui aku di restoran nanti malam. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan." Setelah mengatakan hal tersebut, seseorang yang menghubungi Ferdian langsung memutuskan sambungan telepon.


Ferdian menggenggam erat ponselnya dan melihat kearah jam dindingnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Itu artinya dia masih mempunyai banyak waktu untuk beristirahat terlebih dahulu.

__ADS_1


Dia penasaran dengan apa yang akan di bicarakan orang tersebut. Tapi dari suaranya sepertinya orang itu mempunyai informasi yang penting. Dan dia tidak akan melewatkannya.


__ADS_2