Rahim Bayaran Tuan Alex

Rahim Bayaran Tuan Alex
Aku Akan Membantumu


__ADS_3

Sudah dua hari, Icha tanpa Alex. Tapi walaupun begitu, kini dia sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Dan hari ini dia berencana keluar untuk mencari kontrakan.


Ya, Icha tidak jadi pergi karena di tahan oleh Bi Siti. Dan memang ada benarnya, Icha harus mencari tempat tinggal terlebih dahulu sebelum keluar dari apartemen Alex.


Dan hari ini, dia akan mencari tempat tinggal sekaligus pekerjaan. Tapi sebelum itu, dia berencana menemui Ferdian. Dia penasaran apa yang telah terjadi saat di toilet mall, karena terakhir dia bersama Ferdian saat itu. Mungkin saja Ferdian tahu sesuatu. Atau semua ini perbuatan Ferdian? Entahlah, dia tidak ingin berprasangka buruk pada Ferdian. Karena selama mengenal Ferdian, pria itu adalah pribadi yang baik dan perduli pada orang lain.


"Semoga hari ini, aku bisa langsung dapat tempat tinggal dan pekerjaan. Semangat Icha!!" Dia menggunakan Hoodie untuk menutupi perut nya yang sedikit membuncit dan kaca mata hitam agar tidak ada yang mengenalnya saat menemui Ferdian nanti. Lebih tepatnya, dia tidak mau Alex tahu dia pergi ke perusahaannya untuk bertemu dengan pria lain.


Icha keluar dari apartemen Alex dan menyetop taksi yang lewat. Dia harus bergegas ke kantor Alex sebelum pria itu datang. Tapi saat berada di tengah jalan, dia melihat pria yang dia kenal terlihat memuntahkan sesuatu di pinggir jalan.


"Stop pak!!" Icha segera turun dan menghampiri pria itu.


"Astaga, kau tidak apa-apa tuan?" Icha tersentak saat melihat ternyata pria itu adalah Alex. Dia melihat wajah Alex yang pucat dan tiba-tiba pria itu tidak sadarkan diri.


"Tuan!! Tuan!!" Icha menepuk pipi Alex. Tapi pria itu tidak sadarkan diri. Akhirnya dia meminta bantuan sopir taksi untuk membawa Alex ke rumah sakit


"Tuan!! Bangun!! Kenapa kau bisa pingsan di pinggir jalan?" air mata Icha menetes melihat Alex yang pucat. Apakah dia sudah begitu kejam pada Alex? Tapi dia tidak melakukan apa yang di tuduhkan Alex padanya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka sampai di rumah sakit. Icha turun dari taksi terlebih dahulu dan meminta tolong pada suster. Dan tidak berapa lama, Alex di bawa ke ruang UGD untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.


Icha berjalan kesana kemari. Dia terlihat khawatir dengan keadaan Alex. Apa Alex seperti ini karena dirinya? Sungguh, dia merasa sangat bersalah.


"Icha!!!"


Icha menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya. "Dokter Ridwan!!" sahut Icha. "Dok, tolong Tuan Alex, dia tadi pingsan di pinggir jalan." terang Icha


"Baik. Kau tunggu di sini sebentar ya!!" Dokter Ridwan masuk ke UGD untuk memeriksa Alex. Dan Icha terus berdoa semoga Alex baik-baik saja


Cklek


Icha menghampiri dokter Ridwan yang baru saja keluar dari ruang UGD. "Bagaimana keadaan Tuan Alex, dok?" tanya Icha


"Dia tidak apa-apa. Mungkin dia mual karena pengaruh kehamilan simpatik yang dia alami. Soalnya aku sudah memeriksanya dan semua normal. Dia baik-baik saja."


"Syukurlah !!" ucap Icha lega


Dokter Ridwan menatap Icha dari ujung kaki ke ujung kepala. Ada yang aneh dengan penampilan Icha hari ini. "Kau mau kemana? Kenapa berpakaian seperti ini? Tidak mungkin Alex yang memintamu berpakaian seperti ini, kan? Yang aku tahu dia suka wanita yang feminim." seru dokter Ridwan


"A_aku...

__ADS_1


Cklek


Ucapan Icha tertunda saat suster keluar dengan mendorong brankar Alex. "Pasien akan di pindahkan ke ruang inap, nona. Jadi anda ingin di ruangan yang mana?" tanya suster


"Bawa dia ke ruang VVIP." bukan Icha, tapi justru dokter Ridwan yang menjawab.


Icha menatap Alex sendu. Dia menghapus air matanya dan meminta Ridwan untuk menghubungi Diana mengenai kondisi Alex.


"Kenapa harus aku?" tanya Ridwan curiga


"Aku ada urusan yang harus aku selesaikan. Jadi aku mohon, hubungi nyonya Diana. Katakan kondisi Tuan Alex padanya agar ada yang menunggu tuan Alex."


"Tunggu Cha!! Ada apa sebenarnya? katakan padaku!!" seru dokter Ridwan. Dia tahu jika ada yang tidak beres mengenai hubungan mereka.


"Tidak apa-apa dok. Maaf, aku harus pergi."


Dokter Ridwan menarik Icha keruangan nya dan memintanya untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Dia sangat yakin jika hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.


"Aku tidak akan membiarkan mu pergi sebelum kau menceritakan semuanya padaku."


Mata Icha mulai memanas. Tapi dia tetap menyangkal dan mengatakan semua baik-baik saja.


"Jadi, katakan padaku!! Apa yang sebenarnya terjadi?" lanjut dokter Ridwan


"Jika aku mengatakan nya, apa dokter juga akan menyalahkan ku?"


"Tergantung, Apakah kesalahanmu itu fatal atau tidak." seru dokter Ridwan


"Kesalahanku sangat fatal dok." Icha mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan fotonya saat tidur dengan laki-laki pada Dokter Ridwan.


D e g.


"I_Ini....


"Apa yang ada di pikiran dokter saat pertama kali melihat foto ini? Apa dokter juga akan menyalahkanku?" seru Icha. Dia sengaja menyimpan foto itu sebagai petunjuk siapa pria yang tidur di sampingnya.


Dokter Ridwan terdiam. Dia memegang kedua bahu Icha dan berkata, "Pasti ada penjelasan atas foto itu. Tapi aku masih tidak mengerti, Sebenarnya ada apa, Cha?"


"Aku sudah menjelaskannya dok tapi tidak ada satupun yang percaya padaku." Tangis Icha pecah. Dia mulai menceritakan pertama kali semua itu terjadi di mana mereka pergi ke mall dan entah bagaimana tiba-tiba dia terbangun di hotel. Dan Setelah dia pulang, Alex sudah menyambutnya dengan tatapan penuh kebencian dan melemparkan foto itu hingga akhirnya mengusir dan memutuskan hubungan dengannya.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana dok? hiks hiks.. Aku harus bagaimana?" Icha tidak kuasa menahan tangisnya


"Brengsek!!" Dokter Ridwan menggebrak meja penuh emosi. Dia menatap Icha dan langsung memeluknya. Semua ini salahnya, andai dia tidak melempar Icha pada bajingan itu, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Dia hanya ingin membantu Icha dan Alex dan berharap dengan mempertemukan mereka, akan muncul benih cinta di hati Alex. Bagaimanapun Icha wanita yang hangat dan dia yakin bisa meluluhkan hati Alex yang beku


Tapi sekarang, apa yang terjadi? Justru Alex dengan kejam mengusir Icha tanpa mau mendengar penjelasan wanita itu.


Dokter Ridwan mengurai pelukannya dan menghapus air mata Icha. "Jangan menangis lagi!! Bajingan itu tidak pantas untuk ditangisi."


"Tidak dok. Semua ini bukan salah Alex. Siapapun yang berada di posisinya pasti akan merasakan hal yang sama. Apalagi Alex mempunyai trauma."


"Itu bukan alasan Icha. Alex saja yang bodoh. Itulah kenapa dia tidak pernah sembuh dari trauma nya karena dia selalu mengambil kesimpulan seolah apa yang telah terjadi sama seperti masa lalunya. Jika dia mau mencari tahu kebenarannya, aku yakin dia bisa lepas dari trauma itu secara perlahan."


Dokter Ridwan menghela nafas panjang dan kembali berkata, "Lalu apa rencana mu selanjutnya?"


"Tidak ada dok. Aku akan mencari tempat tinggal dan pekerjaan. Aku tidak mungkin tinggal di apartemen Alex. Aku...


"Kau mencintainya?" sela Dokter Ridwan


Icha menunduk dan mengangguk pelan. "Aku sangat mencintai nya dok. Itulah makanya aku tidak bisa menerima kompensasi yang dia berikan."


"Icha, dengar kan Aku!! Hari ini, kau pulang saja biar aku yang mencarikan tempat tinggal untuk mu. Kau harus memperhatikan kandungan mu."


"Tidak dok. Jangan lakukan itu!! Aku tidak mau bergantung pada orang lain." tolak Icha


"Hei.. Aku melakukan ini karena sudah menganggap mu sebagai adikku sendiri. Tidak masalah kau bergantung pada kakak mu sendiri, kan? Aku juga akan mencarikan pekerjaan yang ringan agar tidak mengganggu kesehatan kandungan mu."


"Tapi dok...


"Tidak ada tapi-tapi. Kali ini saja dengarkan aku."


"Lagipula aku berencana membalas perbuatan Alex. Agar dia sadar jika apa yang dia lakukan ini salah. Selama ini dia selalu menjadikan masa lalu sebagai penderitaan nya. Dan aku akan membuat dia menderita dalam penyesalan nya." batin dokter Ridwan


Icha merasa lega karena masih ada yang mau percaya padanya. Dia meminta ijin pada dokter Ridwan untuk melihat keadaan Alex yang masih terbaring tidak sadarkan diri dan meminta dokter Ridwan untuk menghubungi Diana .


"Maafkan aku sudah membuat mu menderita. Tapi satu hal yang harus kau tahu, perasaan ku tidak akan pernah berubah. Aku akan selalu mencintaimu. Hanya saja mungkin akan sulit untuk bisa bersama lagi." Icha mengusap pelan wajah Alex dan mendaratkan kecupan singkat di bibir Alex.


"Sampai tinggal." Icha pergi menemui dokter Ridwan dan kembali menjalankan rencana awal untuk menemui Ferdian.


Dokter Ridwan menatap sinis Alex yang masih tidak sadarkan diri. Dia mengambil ponsel didalam sakunya dan menghubungi seseorang. "Aku membutuhkan bantuan mu."

__ADS_1


__ADS_2