
Alex pergi dari ruangan dokter Ridwan. Ucapan sahabatnya itu membuatnya yakin jika Ridwan tahu di mana Icha berada. Untuk itu dia akan mengikuti Ridwan dan mencari tahu sendiri.
Awalnya dia ingin meminta Leo untuk melakukannya. Tapi entah mengapa dia merasa ada yang tidak beres dengan asistennya itu.
Dia merasa jika Leo menyembunyikan sesuatu darinya. Untuk itu dia akan melakukannya sendiri. Dan dia berharap akan segera menemukan petunjuk keberadaan Icha.
Pengintaian pun dimulai. Alex meminta Leo untuk menghandle perusahaan untuk sementara waktu. Dia beralasan ingin menenangkan diri karena tidak kunjung menemukan Icha. Dan dia akan memanfaatkan hal itu untuk melancarkan aksinya.
Dan sekarang Alex sudah siap dengan penampilannya yang berbeda. Dia menyamar sebagai orang biasa dengan menggunakan kacamata hitam, kumis palsu dan topi. Dia mulai mengikuti kemanapun Dokter Ridwan pergi.
Alex menyewa sebuah mobil yang biasa. Dia memarkirkan mobilnya di dekat Mansion milik Dokter Ridwan. Dan tidak Berapa lama terlihat Dokter Ridwan yang keluar bersama dengan istrinya, Lena. Dokter Ridwan mengecup singkat kedua pipi istrinya dan melambaikan tangannya berpamitan pergi bekerja.
Misi pun dimulai. Saat Dokter Ridwan keluar dari gerbang mansionnya, Alex mulai mengikuti mobil Dokter Ridwan. Bahkan seharian Alex menunggu Dokter Ridwan di depan rumah sakit hanya demi mengetahui apakah Dokter Ridwan tahu di mana Icha atau tidak.
Dan hal itu berlangsung selama seminggu. Tapi Alex sama sekali tidak mendapatkan petunjuk apa-apa. Dokter Ridwan tidak menunjukkan jika dia tahu di mana Icha berada.
Padahal dia berharap Ridwan akan pergi ke suatu tempat di mana Icha berada. Tapi semua itu sepertinya sia-sia.
Alex sangat frustasi. Dia menghabiskan waktunya dengan minum-minuman beralkohol. Dia benar-benar terlihat kacau.
Leo yang setiap hari berada di sampingnya merasa kasihan. Dan setiap Alex mabuk, dia akan mengigau jika Icha ada di sampingnya. Dia bahkan menangis memanggil nama wanita itu.
Seperti hari ini, sepulang jam kerja, Alex pergi ke Bar di ikuti oleh Leo. Dia pergi ke ruang VIP dan memesan beberapa botol minuman beralkohol.
__ADS_1
Leo menghubungi Diana dan mengatakan jika lagi-lagi Alex pergi ke Bar.
Ya, Diana meminta Leo untuk mengawasi Alex dan menjaganya saat berada di luar. Dia sangat khawatir dengan keadaan putranya. Kepergian Icha benar-benar membuat Alex berubah total.
Alex tidak hanya gila kerja, tapi juga pergi bar dan mabuk. Diana menangis melihat keadaan Putranya yang memprihatinkan. Tapi mau bagaimana lagi, dia sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa berharap jika Icha segera di temukan.
"Tolong kau jaga dia Leo." seru Diana di seberang sana
"Baik nyonya." Leo memutuskan sambungan teleponnya. Dia menatap Alex yang sudah mulai mabuk. "Hah..." Leo menghela nafas panjang dan mencari kontak seseorang. Dia melakukan panggilan dan setelah terhubung, dia menempelkan ponsel tersebut di telinganya.
"Halo tuan. Aku rasa sudah cukup hukuman untuk tuan Alex. Dia benar-benar sangat menyesali perbuatannya." seru Leo
"Aku akan menanyakan pada Icha terlebih dahulu. Apakah dia mau bertemu dengan Alex atau tidak. Jika dia menolak, maka aku tidak akan pernah memberitahunya." seru seseorang di seberang sana.
"Baiklah tuan." Leo memutuskan sambungan telepon dan memasukkan ponselnya di saku celananya. Dia kembali memperhatikan Alex yang tertawa tapi kemudian Alex menangis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari telah terbit dari ufuk timur. Burung-burung berkicauan di pepohonan menyambut pagi yang cerah. Tapi sepertinya pagi itu tidak secerah hati Alex. Dia masih tertidur dengan posisi tengkurap di apartemennya. Bahkan cahaya matahari yang masuk kedalam kamarnya tidak mengganggu tidur pria itu.
Semalam, setelah dia mabuk, Leo mengantarnya pulang ke apartemen dan meninggalkannya seperti biasa.
Hal itu terjadi setiap malam. Bahkan Leo sudah mulai jengah dengan apa yang Alex lakukan. Apa dengan mabuk semua masalah nya akan selesai?
__ADS_1
Dan lagi-lagi, Leo harus membangun Alex karena dia sudah terlambat untuk pergi ke kantor.
"Huft.. Aku bukan sopirnya yang setiap hari harus mengantarnya pergi ke bar. Aku bukan bodyguard nya yang setiap saat harus menjaganya. Dan aku juga bukan istrinya yang setiap pagi harus membangunkannya dan menyiapkan semua keperluannya."
"ARRGGHH.. kenapa harus aku yang repot? belum lagi masalah pekerjaan di kantor." Leo menjambak rambutnya sendiri. Dia juga terlihat frustasi menghadapi Alex.
Leo menghela nafas panjang dan mulai membangunkan Alex. "Tuan!! Bangun Tuan!! Ini sudah siang. Kita harus segera ke kantor karena ada meeting penting."
Tidak ada respon sama sekali. "Apa dia mati?" Leo mendekatkan jari telunjuknya di bawah hidung Alex. "Masih bernafas." gumam Leo
"Tuan!! Bangun!!"
"Berisik!!" gumam Alex.
"Kita harus ke kantor sekarang." Seru Leo
"Aku malas ke kantor. Kau saja yang pergi." Alex berbicara dengan mata yang terpejam. Dia mengubah posisi tidurnya membelakangi Leo. Dan hal itu benar-benar membuat Leo geram.
"Jika bukan karena nyonya besar, aku tidak akan mau melakukan ini." gerutu Leo dalam hati. Dia harus mencari cara agar Alex mau bangun.
Leo menyeringai karena baru saja mendapatkan ide. "Ekhm.. Jika tuan tidak mau bangun, bagaimana nanti tuan bisa menemukan Nona Icha? Hah... aku tidak yakin anda bisa menemukan Nona jika anda malas-malasan seperti ini." ucapnya memprovokasi.
Dan benar saja, Alex membuka matanya lebar. Dia bangun dan bergegas ke kamar mandi.
__ADS_1
Melihat hal itu, Leo terlihat tertawa puas. Sepertinya dia mempunyai cara jitu untuk membangunkan Alex. Dia akan mencoba cara yang sama agar Alex berhenti melakukan hal gila di bar.
Ya, itu cara yang patut untuk di coba. Dan dia berharap Alex mau mendengarkan nya. Demi Icha.