Rahim Bayaran Tuan Alex

Rahim Bayaran Tuan Alex
Pergi


__ADS_3

Hari sudah malam, tapi Alex masih berkutat dengan laptop dan lembaran-lembaran kertas yang berserakan di atas mejanya. Dia menghabiskan waktu seharian dengan bekerja tanpa jeda. Bahkan Leo terus memintanya untuk pulang tapi pria itu tidak mengindahkannya.


"Hah.." Alex menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya. Ini sudah hari ketiga dia tidak pulang. Dia menyelesaikan semua pekerjaannya sampai-sampai menginap di perusahaan.


Dia melakukan hal itu untuk melupakan sakit hatinya karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Icha.


Sebenarnya dia merasa aneh. Dulu dia juga merasakan hal yang sama, tetapi dengan menghabiskan waktunya pada pekerjaan dan bersenang-senang dengan wanita di bar membuat perasaan nya membaik. Bahkan dengan cepat dia bisa melupakan kesakitan itu. Hanya saja, dia enggan berkomitmen untuk menikah karena tidak mau bernasib sama dengan ibunya.


Tapi sekarang, bekerja sekeras apapun, bayang-bayang Icha selalu hadir memenuhi pikirannya. Bahkan dia mencoba pergi ke bar untuk bersenang-senang. Tapi baru saja dia duduk dan memesan minuman, dia sudah merasa jijik dengan wanita yang menggodanya. Alhasil dia kembali ke perusahaan dan mengerjakan pekerjaannya.


Drt drt drt


Ponsel Alex berdering. Dia hanya melirik sekilas ponselnya yang ada di atas meja dan membiarkan nya begitu saja. Tapi ponselnya terus saja berdering. Dan hal itu membuatnya merasa kesal. Dia melihat nama si penelepon dan menggeser tombol warna hijau dan menempelkan ponselnya di telinganya.


"Hm.."


"Kau di mana sayang? Ini sudah malam." Seru seseorang di seberang sana


"Aku masih di kantor mom. Malam ini aku tidak pulang." Jawab Alex


"Lagi?" Pekik Diana


"Al, kau sudah beberapa hari tidak pulang. Kau juga mengabaikan kesehatan mu. Apa kau pikir semua ini bisa membuat mu lupa dengan apa yang sudah terjadi, hah?"


"Mom, aku...


"Mommy tidak mau tahu. Kau pulang sekarang atau mommy akan mati." Ancam Diana


"Mom!!!"

__ADS_1


"Mommy tunggu." Diana memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Alex mengusap wajahnya kasar. Memang benar apa yang di katakan ibunya, semua ini tidak membuatnya bisa melupakan apa yang telah terjadi. Tapi setidaknya dengan dia melakukan sesuatu, dia bisa melupakan sakit hati nya walau hanya sejenak.


"CK..!!!" Alex berdecak kesal. Dia mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar dari ruangannya. Malam ini dia akan pulang dan memastikan ibunya tidak berbuat nekad.


Alex mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia sudah menghubungi ibunya jika dia akan pulang malam ini dan memintanya untuk tidak menunggu.


Tapi entah apa yang merasuki Alex. Bukannya ke mansion keluarga Wiratama, justru dia memarkirkan mobilnya di basemen apartemen nya.


Dia turun dari mobil dan bergegas masuk ke apartemen. Tapi setelah sampai di depan pintu, dia baru menyadari kebodohannya.


"Shittt!!! Apa yang aku lakukan? Kenapa aku malah kemari?" Umpat Alex. Dia menatap dalam pintu apartemen nya yang tertutup rapat. Ada kerinduan di matanya tapi amarahnya lebih mendominasi hatinya. Dia membalik arah dan pergi dari sana.


Tapi tiba-tiba dia mendengar suara pintu terbuka. Tubuhnya menegang seketika. Dia ingin sekali berbalik dan memeluk wanita itu. Tapi dia mengepalkan kedua tangannya menahan sekuat tenaga.


Hingga suara seseorang yang sangat dia kenal menyapanya. "Tuan Alex? Apa itu anda?"


Deg


"Bi Siti? Kenapa kau masih ada di sini?" Tanya Alex. Ada rasa khawatir di hatinya. Dia takut terjadi sesuatu pada Icha sampai-sampai bi Siti masih berada di apartemen nya.


"Oh itu tuan. Beberapa hari ini saya memang tinggal di sini karena menunggu kedatangan tuan." Seru bi Siti


"Menungguku? Apa maksud mu, bi?" Tanya Alex bingung.


"Ini..." Bi Siti mengambil sesuatu dari saku bajunya dan menyerahkannya pada Alex.


"I_ini..

__ADS_1


"Bibi di titipi non Icha kunci apartemen dan kartu kredit. Non Icha bilang suruh kasih tuan jika tuan kesini."


Deg


"A_apa?? La_lalu dia.....


"Non Icha sudah pergi tiga hari yang lalu tuan. Setelah mendapatkan tempat tinggal, non Icha langsung pindah dan memberikan ini pada bibi."


Deg


"Kalau begitu saya permisi pulang ya tuan." Tanpa mendengar jawaban Alex, bi Siti pergi begitu saja. Dia berhenti sejenak dan melihat Alex yang masih mematung di sana. Ada rasa kasihan tapi mau bagaimana lagi, semua ini memang yang tuannya ingin kan, bukan?


Alex masuk ke apartemen nya dengan langkah gontai. Dia melihat seisi ruangan yang sepi, tidak ada lagi gelak tawa seseorang. Dia memegang dadanya yang terasa kosong. Awalnya dia berfikir masih bisa melihat Icha walau dari kejauhan tapi sekarang wanita itu justru benar-benar memilih pergi darinya.


"Apa yang kau pikirkan Al? Bukankah ini yang kau inginkan?" Gumamnya bermonolog


Kedua kakinya menuntunnya ke lantai atas di mana kamar mereka berada. Dia membuka pintu kamar dan lagi-lagi hanya ada kesunyian. Bayang-bayang saat mereka bercengkrama terlihat jelas di depannya. Icha menatapnya dan tersenyum, membuat Alex ikut tersenyum. Dia mendekat dan ingin memeluk Icha, tapi tiba-tiba Icha menghilang.


"I_icha!!!" Panggil Alex. Dia terdiam sejenak dan merutuki kebodohan. "Apa yang kau pikirkan, Al?"


Alex membuka lemari bajunya dan mendapati jika baju milik Icha masih utuh. Dia mengerutkan keningnya dan kembali membuka semua lemari yang ada. Dan ternyata tidak ada satupun yang Icha bawa. Hal itu membuat Alex berfikir kenapa Icha tidak membawa satupun barang yang ia berikan. Bahkan dia juga mengembalikan kunci dan kartu kredit miliknya. "Bagaimana nanti dia akan bertahan hidup dengan keadaan hamil seperti itu?" Alex mengusap wajahnya kasar. Dan tanpa sengaja sesuatu terjatuh dari lemari tersebut. Sebuah kotak kecil berwarna putih.


Alex mengambilnya. Dia tidak merasa mempunyai kotak seperti ini dan dia bisa menebak jika kotak itu milik Icha. Karena penasaran, ia membuka kotak tersebut. Dan.....


Deg


Kedua mata Alex memanas. Dia mengambil sesuatu dari kotak tersebut. Berlembar-lembar foto USG calon anaknya.


Tubuh Alex luruh seketika. Dia menangis sesenggukan menciumi foto tersebut dan memeluknya.

__ADS_1


"Maafkan Daddy, sayang. Maafkan Daddy!!" Isak Alex.


__ADS_2