Rahim Bayaran Tuan Alex

Rahim Bayaran Tuan Alex
Balas Dendam


__ADS_3

Matahari terbit di ufuk timur, memberikan kehangatan di pagi yang cerah. Burung-burung bertengger di pepohonan dan ikut menyambut datangnya pagi. Awal yang cerah untuk semua orang melakukan aktivitasnya kembali. Tapi tidak dengan dua insan yang masih terlelap dibawah selimut.


Bahkan sinar matahari yang masuk melalui celah jendela tidak membuat tidur mereka terganggu. Mereka masih nyaman berada dalam dekapan hangat satu sama lain. Hingga suara ketukan pintu membuat salah satu dari mereka mengerjapkan mata.


TOK TOK TOK


"Sayang, kau masih tidur? Ini mommy." seru Diana


Icha yang merasa terganggu perlahan menggeliat kan tubuhnya. Tapi dia merasa sesuatu menimpa pinggangnya. "Apa ini?" Icha meraba tangan kokoh seseorang dengan keadaan yang belum sepenuhnya sadar. Dia meraba pelan tangan tersebut hingga sampai di wajah Alex. "Seperti seseorang." gumamnya


Sedetik kemudian, Icha melebarkan kedua matanya dan berteriak histeris.


"Kyaaa.....


Dugh


Brukh


"Aw...


Icha mengucek kedua matanya untuk melihat siapa yang tidur memeluknya. "Sayang!!" Icha turun dari tempat tidur dan membantu Alex berdiri


"Kenapa kau mendorongku, hah? Aduh pinggang ku." keluh Alex


"Ma_maaf. Aku tidak tahu jika itu kau, sayang. Lagipula bagaimana kau bisa masuk kemari? Seperti nya aku sudah mengunci pintunya." seru Icha. Dia begitu terkejut mendapati seseorang tidur memeluknya, padahal pintu sudah dikunci. Untuk itu dia yang terkejut, reflek mendorong orang itu hingga tersungkur di lantai.


"Semalam aku....


TOK TOK TOK


Ucapan Alex terhenti kala mendengar suara ketukan pintu. Dan itu adalah Diana.


"Ada apa sayang? Kenapa kau berteriak?" tanya Diana yang masih berdiri di depan pintu kamar Icha. Dia terlihat khawatir karena tiba-tiba mendengar Icha berteriak.


"A_aku tidak apa-apa, mom." teriak Icha. Dia menatap Alex dan meminta Alex untuk bersembunyi. " Cepat bersembunyi!! Jika mommy tahu kau di kamarku, maka habislah kau."


"Kau mengancam ku?"


"Bukan aku, tapi Mommy. Sudah, Aku akan membuka pintu dulu. Cepat kau sembunyi!!" Icha mendorong Alex masuk ke kamar mandi. Baru setelah itu dia membuka pintu.


Cklek


"Pagi mom." sapa Icha


"Pagi juga sayang. Ada apa? Kenapa tadi kau berteriak?" tanya Diana


"Eh.. I_itu tadi ada....


"Ada apa?" Diana memaksa masuk ke kamar. Dia mengira jika Alex ada di kamar Icha. Tapi sepertinya tidak.


"Ada apa sayang?" tanya Diana lagi


"Ta_adi waktu aku bangun, a_aku melihat kecoa mom. Iya, kecoa." seru Icha


"Apa? Kecoa? Dimana sekarang kecoa nya?"


"Su_sudah pergi mom."


"Sepertinya mommy harus mencari pembasmi hama. Bagaimana bisa kamar ini ada kecoa nya?" Diana memeluk dirinya sendiri, bergidik takut membayangkan nya.


"Kau harus hati-hati sayang. Jika kau takut, kau istirahat di kamar mommy saja."


"Aku tidak apa-apa mom. Aku tidak takut dengan kecoa itu. Hanya saja, aku kaget tadi. Tiba-tiba ada kecoa besar di kamar ini." Icha sengaja meninggikan suaranya sambil melirik kearah kamar mandi.


Alex yang mendengar ucapan Icha hanya bisa mendengus kesal. Tapi dalam hatinya, dia tertawa puas karena mendapatkan ide agar Icha bisa tidur di kamarnya.


"Dasar anak nakal! Awas saja nanti. Aku pasti akan menghukum mu." batin Alex


"Ya sudah. Mommy kemari cuma mau bertanya, kau mau makan apa? Siapa tahu cucu mommy menginginkan sesuatu." seru Diana


"Aku tidak menginginkan apapun mom. Aku juga bukan pemilih dalam hal makanan."


"Baiklah, Kalau begitu mommy keluar dulu. Jika kau masih mengantuk, kau tidur saja lagi."


"Iya mom."


Diana tersenyum dan keluar dari kamar Icha.


Icha menghela nafas lega dan buru-buru mengunci pintu kamarnya. "Untung saja mommy tidak Curiga." Dia membuka pintu kamar mandi dan mendapati Alex dengan wajah masam nya. "Ada apa?"


"Apa pria tampan ini terlihat seperti kecoa yang besar?" sungut Alex.

__ADS_1


Icha terkikik pelan. Dia menarik Alex agar keluar dari kamar mandi dan berkata, "Siapa yang mengatakan jika kau adalah kecoa, hm?"


"Ish... Aku tahu kau menyindir ku, kan? Awas saja, aku pasti akan membalas mu."


"Memangnya apa yang akan kau lakukan?" tanya Icha


Alex memeluk pinggang Icha dan berbisik, "Aku akan membuatmu mengerang menyebut namaku dengan suara merdu mu."


"Ck.. Dasar mesum." gerutu Icha


Alex terkekeh dan mengecup bibir Icha, "Kiss morning."


"Sudah, sekarang kau kembali ke kamarmu sebelum Mommy tahu kau di sini."


"Tapi....


"Mau harus ke kantor, kan. Cepat keluar!!" Icha membuka pintu dan melihat kesana kemari memastikan jika tidak ada orang di sana.


"Apa kau tidak ingin tahu bagaimana aku bisa sampai di kamar mu?" gerutu Alex


"Tidak ada waktu. Sekarang kau keluar!!" Icha mendorong keluar tubuh Alex dan menutup pintu nya kembali


"Hei.. Tega sekali kau melakukan hal itu padaku? Icha!!" Alex mengetuk pintu tapi dari arah belakang, dia di kejutkan dengan suara seseorang yang sangat dia kenal.


"Apa yang kau lakukan di sini, Al?"


Alex mematung. Dia membalikkan badannya perlahan dan tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.


"Mommy !!"


"Tumben sekali kau bangun sepagi ini. Jangan-jangan kau mau mengganggu Icha, ya?"


"Untuk apa aku mengganggunya? Aku hanya ingin dia membantuku untuk bersiap. Itu saja."


"Cih.. Sejak kapan kau meminta bantuan orang lain untuk bersiap? Bukannya kau anti dengan orang yang menyentuh barang-barang mu?" ledek Diana


"Mom!! Berhenti menyudutkan ku!! Aku sudah biasa seperti ini dengan Icha. Dia selalu membantuku untuk bersiap. Tidak hanya itu, Kami bahkan terbiasa tidur bersama, mandi bersama, dan...


"STOP!!" teriak Diana


Alex menutup kedua telinganya dan melihat ibunya yang terlihat kesal. Dia terkekeh pelan dan mengeluarkan jurus langkah seribu.


"Jangan lari kau, Alex!! Dasar anak nakal. Sejak kapan kau menjadi mesum begitu, hah?" teriak Diana. Dia mendengus kesal dan kembali ke dapur.


Sementara itu, Icha yang sudah terlihat rapi, keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Di sana sudah ada Diana dan beberapa pelayan yang terlihat sibuk memasak.


"Pagi mom, pagi semuanya." sapa Icha


"Pagi nona." sahut para pelayan


"Pagi juga sayang. Ada apa? Apa kau memerlukan sesuatu?" tanya Diana


"Tidak mom. Justru aku kemari ingin membantu."


"No!! Kau tidak boleh di sini, sayang. Nanti kau kelelahan."


"Tapi mom, aku sudah terbiasa. Lagipula, aku harus menyiapkan sarapan untuk Tuan Alex. Dia tidak bisa memakan nasi atau apapun yang berwarna putih." terang Icha


"Apa maksudmu?"


Icha menjelaskan pada Diana jika Alex mengalami kehamilan simpatik. Dia akan muntah jika melihat makanan yang berwarna putih.


"Jadi maksudmu, Alex akan muntah jika melihat nasi?" tanya Diana yang dijawab anggukan oleh Icha.


Diana merasa kasihan pada putranya. Tapi sedetik kemudian, terbit senyuman evil di bibirnya. Dia meminta Icha untuk pergi ke kamar Alex untuk membantu pria itu bersiap. Awalnya Icha menolak, karena dia ingin membantu di dapur. Lagipula ini masih terlalu pagi untuk Alex pergi ke kantor. Tapi Diana terus memaksa. Dan Akhirnya dia mengalah dan pergi ke kamar Alex.


"Kalian dengarkan apa yang di katakan menantuku." seru Diana pada pelayan


"Iya nyonya."


Icha berdiri di depan pintu kamar Alex. Dia menghela nafas panjang dan mengetuk pintu kamar Alex.


TOK TOK TOK


"Sayang!! Ini aku." teriak Icha


Tidak ada jawaban.


Icha kembali mengetuk pintu. Tapi kemudian, tiba-tiba pintu terbuka dan Alex menarik Icha dan menyudutkannya di dinding.


"Sayang!!" pekik Icha

__ADS_1


"Aku sudah menunggu mu sedari tadi sayang." Alex mengendus leher Icha dan mengecupnya


"Tu_tuan, jangan seperti ini." Icha mendorong pelan tubuh Alex yang bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Tuan? Bukankah kau harus mematuhi tradisi keluarga Wiratama?"


"I_iya. Maksudku, sayang."


Alex tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir Icha. Alex mencium lembut bibir Icha. Tapi lama kelamaan, ciuman itu berubah menjadi agresif. Alex menuntun Icha ke tempat tidur tanpa melepas tautan mereka. Dia mendorong pelan tubuh Icha dan menindihnya. "Aku merindukanmu." seru Alex dengan suara parau nya.


"Sa_sayang, Ka_kau harus segera ke kantor. Jika kau tidak bersiap dari sekarang, nanti kau akan terlambat."


"Aku bos nya. Jadi terserah padaku." Alex kembali mencium Icha. Kedua tangannya sudah aktif melakukan tugasnya masing-masing. Hingga teriakan seseorang membuat keduanya terkejut dan menghentikan aktivitas mereka.


"Oh my God!!"


Icha melebarkan kedua matanya dan mendorong tubuh Alex hingga terjungkal kelantai untuk kedua kalinya.


Brukh


"Aw... Cha!!" pekik Alex kesakitan


"Ma_maaf." Icha membantu Alex bangun.


"Mommy apa-apaan sih? Mengganggu saja." gerutu Alex


"Kau yang apa-apaan. Ini masih pagi, Al. Kau juga harus ke kantor. Tapi kau malah....


Diana menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya. Jika dia tidak segera datang, dia yakin mereka sudah melakukannya.


"Cepat kau bersiap!! setelah itu turun untuk sarapan. Ayo Cha!!" Diana menarik pelan tangan Icha.


"Mommy mau membawa Icha kemana?" teriak Alex


"Awalnya mommy memintanya untuk membantu mu bersiap. Tapi sepertinya kau bisa melakukannya sendiri." Diana melengos dan pergi dari kamar Alex.


"Aish.. Dasar Nenek sihir." Alex mulai bersiap untuk pergi ke kantor dengan mulut yang terus berkomat-kamit mengeluarkan umpatan karena gagal bereksperimen karena ibunya. Harusnya dia mengunci pintunya tadi. Jadi tidak akan ada yang mengganggu nya bereksperimen.


Kini Alex sudah siap. Dia terlihat tampan dengan setelan Jas yang berwarna senada. Dia menenteng tas kerjanya dan keluar dari kamar.


"Selamat pagi." sapa Alex pada Diana dan Icha yang sudah menunggunya di ruang makan.


"Pagi." jawab Diana ketus


"Pagi sayang." berbeda dengan Diana, Icha menjawab sapaan Alex dengan senyuman. Untuk itu dia mendapat satu kecupan dari Alex.


"Is.. Kau bahkan tidak pernah melakukan hal itu pada mommy." sungut Diana


"Apa mommy iri dengan menantu Mommy sendiri?"


"Calon. Kalian belum resmi menikah. Dan kau di larang keras untuk menyentuh calon menantu mommy."


"Bukankah di kamar Icha ada kecoa yang besar, jadi lebih baik Icha pindah ke kamar ku."


Diana melotot kan kedua matanya. Dia merasa jika Alex bukan putranya. Alex sungguh mengalami perubahan yang sangat drastis. "Apa hubungannya?"


"Icha calon menantu mommy. Tapi mommy harus ingat jika Icha tengah mengandung anak ku. Apa mommy tidak kasihan pada cucu mommy yang sangat ingin di jenguk oleh Daddy nya."


Icha mendelik mendengar ucapan Alex. Dia memukul pelan lengan Alex yang berbicara tanpa di filter terlebih dahulu. Dia sangat malu. Apalagi ada pelayan di sana.


"Astaga...." Diana memijat pelipisnya. "Dia bukan putraku." Batin Diana


Tak berapa lama, pelayan datang membawakan makanan dan meletakkannya di meja makan. Diana yang awalnya geram dengan perilaku Alex, tiba-tiba tersenyum devil. Dan hal itu bisa di rasakan oleh Alex.


"Kenapa mommy tersenyum seperti itu?" tanya Alex.


"Tidak ada."


"Tunggu pembalasan mommy." batin Diana. Dia memberi kode pada pelayan melalui kedipan matanya. Dan pelayan itu langsung menyajikan susu untuk Diana.


Melihat hal itu, tiba-tiba perut Alex bergejolak. Dia membekap mulutnya dan berlari ke wastafel dan memuntahkan cairan bening.


"Hoek.. Hoek.. Hoek.."


Icha khawatir karena tiba-tiba Alex muntah-muntah. Tapi melihat Diana yang tertawa senang membuatnya menggelengkan kepala.


"Rasakan itu anak nakal." seru Diana ditengah tawanya.


...****************...


Sementara itu, di depan mansion keluarga Wiratama. Seorang wanita memarkirkan mobilnya. Dia menatap sejenak mansion mewah tersebut dan menyeringai.

__ADS_1


"Mari kita mulai permainan kita, sayang."


__ADS_2