
Icha tidak keluar dari kamar setelah mendapatkan paket berisi foto Alex dengan wanita lain. Dan hal itu membuat Diana khawatir karena wajah Icha yang terlihat pucat. Untuk itu, Diana segera menghubungi Alex agar cepat pulang.
"Mom, aku tidak apa-apa. Tidak perlu menelepon Tuan Alex." seru Icha
"Tidak apa-apa sayang. Mommy tidak mau terjadi sesuatu padamu. Mommy juga sudah menghubungi dokter Liana untuk datang kemari."
Brakh
Di tengah perbincangan mereka, seseorang membuka pintu dengan keras, membuat kedua wanita beda generasi itu tersentak kaget.
"Icha!!!" terlihat kekhawatiran di wajah Alex. Bagaimana tidak, di tengah-tengah meeting, dia mendapat telepon dari ibunya untuk segera pulang karena Icha sakit.
Padahal tadi pagi, Icha baik-baik saja. Justru dia yang enggan untuk berangkat bekerja. Mungkin ini yang dia namakan firasat. Harus nya dia tidak berangkat bekerja, jadi hal ini tidak akan terjadi.
"Icha, kau baik-baik saja kan? Mana yang sakit?" tanya Alex.
"Aku baik-baik saja Tuan."
"Tapi wajahmu pucat. Kita ke rumah sakit ya!!" ajak Alex
"Mommy sudah menghubungi dokter Liana. Mungkin sebentar lagi dia datang." sela Diana
Alex tidak menjawab. Dia menggenggam tangan Icha erat, takut jika terjadi sesuatu pada wanita itu.
Semua itu tidak terlepas dari pandangan Icha. Dia tersenyum dalam hati karena melihat Alex yang begitu mengkhawatirkan nya. Itu artinya Alex masih perduli dengannya. Tapi justru hal itu membuat Icha semakin yakin jika foto itu sengaja di kirim untuk merusak hubungannya dengan Alex. Dan dia bisa menebak jika itu adalah Selena.
Dari awal Icha sudah merasa jika wanita itu tidak menyukainya. Dan mendengar jika Selena menjelek-jelekkan dirinya di depan Diana membuat nya berfikir jika wanita itu menyukai Alex.
Sekarang jika di lihat, Selena menyukai Alex dan membenci dirinya. Dan yang paling penting, hanya Selena yang tahu jika Icha tinggal di mansion Alex.
"Benar-benar wanita iblis. Lihat saja, aku akan membuat mu sadar jika Alex hanya milikku." batin Icha
"Apa kau benar-benar sudah menghubungi dokter Liana, mom? Kenapa dia belum juga datang?" tanya Alex panik.
"Tenanglah, Al. Mommy sudah menghubungi dokter Liana. Mungkin sebentar lagi dia sampai."
"Selamat siang, Nyonya." seorang wanita dengan seragam berwarna putih terlihat berdiri di ambang pintu.
"Dokter Liana !! Akhirnya kau datang juga. Cepat kemari dan periksa menantuku!!" pinta Diana
Dokter Liana nampak mengerutkan keningnya. Dia bingung dengan ucapan Diana. Tapi karena kelihatan sangat mendesak, dia tidak sempat untuk menerka. Dia masuk ke kamar di mana mereka semua berkumpul dan di sana terbaring seorang wanita yang terlihat pucat.
"Permisi tuan!!" seru Dokter Liana
Alex menyingkir dan memberi ruang dokter Liana untuk memeriksa Icha. Dia memperhatikan dengan seksama dan tidak mengalihkan pandangan nya. Dia sangat ingin tahu ada apa dengan Icha? Dan semoga itu bukan hal yang serius dan mereka baik-baik saja.
__ADS_1
"Bagaimana dok?" tanya Diana
"Sebelumnya saya ingin bertanya, apa anda sedang hamil?" tanya dokter Liana
Icha terdiam. Dia menatap Alex dan Diana bergantian sebelum menganggukkan kepalanya.
"Apa ada hal yang serius?" tanya Alex
"Begini tuan, sepertinya nona ini banyak pikiran yang membuat perutnya kram. Diusia kandungan yang masih muda memang sangat rawan. Untuk itu, anda harus lebih memperhatikan kesehatan nona. Jangan sampai nona banyak pikiran atau stress karena itu bisa berakibat fatal pada kandungan nya." terang Dokter Liana
"Tapi keadaan Icha dan kandungannya baik-baik saja kan?" tanya Diana
"Nona dan bayinya baik-baik saja, nyonya. Untuk lebih jelasnya, anda bisa membawa nona ke rumah sakit untuk melakukan USG."
"Baiklah kalau begitu, kita ke rumah sakit sekarang." seru Alex.
"Tuan!!!"
Alex menatap Icha. Dokter Liana dan Diana memberi ruang untuk Alex berbicara dengan Icha. Mereka memilih keluar dari kamar tersebut karena ada yang ingin Diana katakan pada dokter Liana mengenai Icha.
"Aku bukan tuanmu. Kenapa kau masih saja memanggilku tuan?" gerutu Alex.
Icha tersenyum dan menarik Alex agar mendekat. Dia memeluk tubuh kekar calon suaminya itu. Tercium bau yang sedikit berbeda. Mungkin karena tadi Alex memapah wanita itu masuk ke apartemen.
Sejenak Icha merasa sesak membayangkan apa yang mereka lakukan di dalam apartemen. Apa Icha harus memeriksa nya? Ya, sepertinya memang begitu.
"Cha!!" Alex menahan tangan Icha, tapi wanita itu justru mencium bibirnya. Tentu saja hal itu membuat gairah Alex bangkit. Dia mengambil alih permainan dan mengukung wanita itu.
Ini gawat. Tujuan Icha hanya ingin tahu apakah ada bekas dari wanita itu di tubuh Alex atau tidak, tapi yang terjadi justru malah sebaliknya. Alex begitu bergairah dan lupa jika Icha sedang sakit.
Sepertinya Icha harus mencari cara agar bisa melihat tubuh Alex tanpa memberikan kesempatan pria itu melakukan hal itu padanya.
"Sayang, Aku mau di atas." seru Icha
"Apa kau yakin?" tanya Alex dengan suara parau nya.
Icha mengangguk. Dia bangun saat Alex menegakkan tubuhnya dan bersandar pada headboard. Icha berinisiatif duduk di pangkuan Alex dan mencumbu pria itu dengan kedua tangan yang membuka kemeja Alex.
Icha melepas ciumannya dan menatap tubuh Alex, mencari bekas tanda bibir rubah betina itu. Tapi sayangnya dia tidak menemukan apapun di tubuh Alex. Apa pria itu sudah menghapusnya?
"Ada apa sayang? Kenapa berhenti?" seru Alex. Dia menatap sayu wanita yang saat ini memperhatikan tubuhnya. Sungguh, hal itu membuatnya semakin menggelora.
"Kenapa tidak ada?" gumam Icha yang masih terdengar oleh Alex
"Tidak ada apa, hm? Apa kau bermaksud menyiksaku?"
__ADS_1
Icha menatap Alex dan berkata, "tadi aku mencium bahu parfum perempuan saat memelukmu. Apa kau....
"Jangan bicara sembarangan!! aku sudah tidak bermain wanita setelah menyentuhmu." sangkal Alex
Icha mencoba mencari kebohongan di mata Alex, tapi sayangnya dia tidak menemukan kebohongan di sana. Seperti nya Alex mengatakan yang sebenarnya. Tapi kenapa Alex memapah wanita itu dan terlihat berdiri di pintu apartemen?
"Ada apa sebenarnya, hm? Katakan padaku!!" seru Alex
"Tidak ada." Icha memakaikan kembali kemeja Alex. Tapi Alex tidak terima. Dia menahan kedua tangan wanita itu dan menindihnya.
"Tu_tuan!!" pekik Icha
"Sudah aku bilang, aku bukan tuanmu. Aku lebih suka kau memanggilku sayang." ucap Alex
"Ba_ baiklah sayang. Tapi apa bisa kau menyingkir sebentar?"
"Kenapa? Tadi kau menggodaku dan sekarang kau memintaku untuk menyingkir?"
Icha berdecak kesal. Dia tidak bermaksud untuk menggodanya. Tapi dia hanya mencari tanda wanita gila itu. Tapi sayangnya dia tidak menemukannya.
"Kenapa kau diam, hm?" tanya Alex lagi
"Aku sudah tidak bernafsu setelah mencium bau parfum wanita di kemeja mu." gerutu Icha
Alex mengerutkan keningnya. Parfum wanita? Dia berfikir keras. Hingga dia mengingat sesuatu. "Oh itu, tadi Selena meminta bertemu di restoran. Tapi saat aku ingin kembali ke kantor, tiba-tiba dia terjatuh karena lemah. Katanya dia baru saja keluar dari rumah sakit." terang Alex
"Keluar dari rumah sakit?"
"Iya. Dia bilang, dia kekurangan cairan jadi ya begitu. Aku mengantarnya pulang. Dan setelah aku menelepon managernya, aku kembali ke kantor."
Icha tersenyum senang karena semua tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan. Itulah sebabnya di butuhkan kepercayaan didalam hubungan. Jika dia menuruti egonya dan lebih percaya foto itu, sudah pasti hubungan mereka yang sudah berakhir.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Alex bingung
"Tidak ada."
"Apa kau yakin? Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Alex penuh selidik
"Tidak !!"
"Baiklah aku percaya, tapi tetap saja, kau harus bertanggungjawab karena sudah membangunkan nya."
"A_apa?"
"Bersiaplah sayang!!"
__ADS_1
Brakh
"Oh my God. ALEX!!!!!!!"