
Dua Hari Kemudian
Keadaan Alex sudah membaik dan hari ini dia akan berangkat ke kantor. Hah.. rasanya dia tidak ingin pergi karena Icha tidak lagi menjadi asisten pribadinya.
Selain karena tidak boleh kelelahan, Diana juga menentang keras jika Icha bekerja. Hal itu membuat Alex tidak bersemangat. Dia ingin mengajak Icha ke kantor untuk menemani nya, bukan untuk bekerja. Tapi Diana tetaplah Diana. Wanita paruh baya itu tidak suka di bantah.
Kali ini Alex mengalah karena apa yang di katakan Diana ada benarnya. Dia tidak ingin terjadi apa-apa pada kandungan Icha. Dan dia juga tidak mau, Icha bertemu dengan pria yang di temui di kantin beberapa waktu lalu.
"Sudah selesai, Ayo kita turun!! Mommy pasti sudah menunggu kita." seru Icha yang baru saja selesai membantu Alex untuk bersiap.
"Tunggu!!!" Alex memeluk pinggang Icha dan merapatkan pada tubuhnya. "Aku sangat malas ke kantor. Apa aku boleh membolos untuk hari ini saja?"
"Hai.. Kau tidak boleh begitu. Jika kau tidak bekerja, siapa yang akan menafkahi ku dan juga anak kita?"
"Tentu saja aku. Uangku banyak. Tanpa bekerja pun aku bisa membelikan apapun yang kau inginkan." ucap Alex dengan bangga
Icha menghela nafas panjang. Dia memeluk leher Alex dan berkata, "Kenapa kau tidak mau bekerja, hm?"
"Karena kau tidak ikut." lirih Alex
Icha tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. Akhir-akhir ini Alex bersikap seperti anak kecil yang sangat manja. Apa ini karena pengaruh kehamilan simpatik yang di alami Alex atau bukan, Icha tidak tahu. Tapi dia merasa gemas dengan pria itu.
"Apa kau ingin aku ikut?" tanya Icha
"Aku sangat ingin, tapi mommy pasti tidak mengijinkannya. Bagaimanapun kau sedang hamil muda. Masih sangat rawan. Jadi lebih baik kau di rumah saja." Walaupun dia sangat ingin Icha untuk ikut dirinya ke kantor, tapi dia tidak mau egois. Semua juga demi kebaikan mereka.
"Ya sudah kalau begitu, kita ke ruang makan sekarang."
__ADS_1
Alex dan Icha keluar dari kamar dengan tangan yang bertautan. Mereka pergi ke ruang makan di mana Diana sudah menunggu nya di sana.
"Pagi Mom." sapa Alex dan Icha bersamaan
"Pagi juga." balas Diana
Icha melayani Alex dengan begitu telaten dan hal itu tidak lepas dari pandangan Diana. Dia merasa senang karena bisa melihat pemandangan menyejukkan seperti sekarang. Rasanya dia ingin segera melihat Alex dan Icha untuk secepatnya menikah.
Tapi semua itu hanyalah rencana dan angan-angan semata karena saat ini, Selena telah menyiapkan kejutan untuk keluarga Alex. Terutama untuk Icha.
Dia baru saja di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Dan dia langsung menjalani aktivitas seperti biasa.
"Justin, aku ingin kau mencari kan ku seorang fotografer profesional yang mau di ajak bekerjasama." seru Selena
"Untuk apa?" tanya Justin bingung
"Ssstt..!! Kecilkan suara mu!! Kau ingin orang lain mendengarnya?" gerutu Selena
"Ma_maafkan aku. Tapi aku terkejut dengan rencana mu, Elen. Apa kau sudah gila? Bagaimana jika dia tahu perbuatan mu? Tidak hanya karir mu tapi keluarga mu bisa di hancurkan."
"Makanya aku ingin kau mencari fotografer yang ahli agar hasilnya memuaskan. Dan yang terpenting, dia bisa di ajak bekerjasama. Lagipula target ku adalah wanita itu. Aku yakin dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Setidaknya hal itu bisa membuat mentalnya down." seringai Selena
"Terserah. Aku sudah memperingatkan mu. Jika terjadi sesuatu jangan seret nama ku." ucap Justin
"Kau tenang saja. Aku sudah mempunyai partner untuk menjalankan rencana ku ini. Jadi kau bisa bernafas lega."
"Kau benar-benar gila, Elen." Justin pergi untuk mencarikan fotografer yang di inginkan Selena. Dia merasa jika wanita itu sudah terobsesi pada Alex. Sampai-sampai Selena rela melakukan hal sekeji itu.
__ADS_1
Justin sudah berulang kali meminta Selena untuk menyerah, tapi wanita itu sangat keras kepala. Dia begitu berambisi untuk memiliki Alex demi menjadi kaya. Padahal Selena adalah model terkenal. Keluarganya pun bukan orang biasa. Hanya saja jika di bandingkan dengan keluarga Wiratama, memang semua yang di miliki Selena tidak ada apa-apanya.
"Sebentar lagi, permainan yang sebenarnya akan segera di mulai. Bersiaplah, Icha." seringai Selena. Dia mengambil tas nya dan pergi meninggalkan lokasi syuting. Dia akan bersiap terlebih dahulu sebelum menjalankan rencananya. Lagipula dia masih menunggu kabar dari Justin. Untuk itu dia memilih untuk pulang ke apartemennya terlebih dahulu.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Selena sampai di apartemennya. Dia duduk di sofa dan menghela nafas panjang. Walaupun dia sudah diperbolehkan pulang, tapi keadaannya belum sepenuhnya membaik. Dia masih harus beristirahat. Tapi karena tuntutan pekerjaan, dia terpaksa menahan rasa pusingnya.
"Semua ini gara-gara wanita itu, tubuhku jadi lemah dan kepalaku juga pusing. Lihat saja, aku akan memberimu pelajaran yang lebih menyakitkan." saat tengah asyik mengumpat, tiba-tiba ponsel Selena berdering. Dia mengangkat sambungan telepon dan menempelkan ponsel di telinganya.
"Bagaimana?" tanyanya pada seseorang di seberang sana
"Aku sudah mendapatkannya. Tapi dia meminta bayaran yang tinggi." seru orang itu yang tidak lain adalah Justin
"Berikan berapapun yang dia inginkan. Jika hasilnya bagus, maka aku akan memberikan bonus. Jika sudah sepakat, katakan padanya untuk bersiap di restoran xxx." Selena memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Dia beranjak dan mulai membersihkan diri. Rasanya dia sudah tidak sabar. Untuk itu dia segera menyelesaikan ritual mandinya dan mulai menghubungi Alex.
"Ada apa?" tanya Alex
"Ada yang ingin aku bicarakan. Bisa kita bertemu di restoran xxx?" pinta Selena
"Baiklah. Nanti siang di Restoran xxx. Kebetulan aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu." seru Alex
"Baiklah. Sampai jumpa nanti siang." Selena meletakkan ponselnya di tempat tidur. Dia tidak menyangka rencananya akan berjalan semulus ini. Nanti, di restoran dia akan membuat sebuah karya dan mengirimnya pada Icha.
Target utama adalah mengacaukan mental wanita itu. Dengan begitu, kandungannya akan bermasalah dan dia akan keguguran.
Rencana yang bagus. Untuk menyingkirkan wanita itu, dia harus menyingkirkan terlebih dahulu penghubung di antara mereka. Benar-benar sempurna.
__ADS_1