
"Kau dimana anak nakal?" teriak Diana. Dia merasa pusing dengan tingkah putra semata wayangnya. Bagaimana tidak? Saat dia kembali ke rumah sakit, Alex sudah tidak ada di sana, dan Ridwan mengatakan padanya jika Alex sudah keluar dari rumah sakit.
"Bisakah mommy tidak berteriak? Gendang telingaku rasanya mau pecah mendengar teriakkan mommy." gerutu Alex
"Bagaimana mommy tidak berteriak jika mendapati kau sudah tidak ada di rumah sakit. Sebenarnya kau dimana? Kenapa tidak pulang ke mansion, hah?"
"Mom!! Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Jadi mommy tidak perlu khawatir. Lagipula ada Icha yang merawat ku." batin Alex
"Bagus ya, sekarang kau berkata seperti itu. Tapi nanti, mommy yakin kau akan merangkak di depan mommy seperti bayi karena tidak ada yang merawat mu."
"Mom, please!! Jangan berkata seperti itu. Aku nyaman tinggal di apartemen. Aku akan sering-sering mengunjungi mommy. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya." Alex memutuskan sambungan telepon secara sepihak dan meletakkan ponselnya di nakas. Dia melihat Icha yang meringkuk membelakanginya. Dia ikut berbaring dan memeluk wanita itu dari belakang.
"Siapa?" tanya Icha
"Kau belum tidur?" bukannya menjawab, Alex justru berbalik bertanya.
Icha mengubah posisi nya menghadap Alex dan berkata, "Suaramu sangat keras, bagaimana mungkin aku bisa tidur." sungut Icha
Alex terkekeh. Dia membingkai wajah Icha dengan kedua tangannya dan mendaratkan kecupan di bibir wanita itu.
"Itu tadi dari mommy. Aku lupa mengabarinya jika aku sudah keluar dari rumah sakit." terang Alex
"Kau memang anak durhaka. Harusnya kau memberi tahu ibumu agar beliau tidak khawatir."
__ADS_1
"Mommy memang selalu mengkhawatirkan ku. Apalagi aku belum menikah. Hah.. Padahal sudah berkali-kali aku menolak untuk menikah, tapi mommy tidak pernah menyerah untuk memintaku melakukan hal yang paling aku benci."
Icha mendongakkan kepalanya menatap netra kedua mata Alex. Tidak mau menikah? Apa itu artinya dia tidak mempunyai kesempatan itu? Hah.. lagi-lagi dia harus mendapatkan kenyataan pahit. Tidak seharusnya dia terlalu berharap. Dan lihatlah sekarang!! Lagi-lagi hatinya terpatahkan oleh pernyataan Alex. Tapi dia penasaran, kenapa Alex sangat tidak ingin menikah? Dia ingin tahu tapi takut jika hal itu akan melukai hatinya. Sudahlah!!! Terima nasibmu, Icha!!
"Aku merindukan mu, Cha." Alex mengendus-endus leher Icha. "Boleh aku melakukannya?"
"Tidak boleh." tolak Icha
"Kenapa begitu?"
"Kata dokter, kandungan ku sangat lemah. Dokter melarang melakukan itu dulu setidaknya sampai memasuki trimester kedua." terang Icha
"Lalu kapan tri tri itu datang?"
"Ck.. Trimester. Selama kehamilan ada tiga trimester. Trimester pertama 1-13 minggu. Trimester kedua, dari 14-27 Minggu dan trimester ketiga dari Minggu ke 28-41 Minggu atau saat melahirkan."
"Jika kau tidak tahan, kau bisa mencari di luar." Icha membalikkan tubuhnya membelakangi Alex.
"Ti_tidak-tidak. Aku tidak mau. Aku akan menunggumu saja." Alex memeluk Icha dari belakang dan mencium tengkuk wanita itu. "Good night." ucap Alex
Sementara itu, Diana sudah mengomel-ngomel tiada henti di rumah sakit. Dia marah dan kesal karena Alex tidak memberitahu nya jika dia sudah keluar dari rumah sakit. Dia merasa jika dirinya sudah tidak dibutuhkan, dirinya tidak penting lagi untuk putranya itu.
"Ingin sekali aku kutuk anak nakal itu menjadi jelek, biar dia tidak bisa semena-mena. Dasar anak nakal, anak durhaka, anak....
__ADS_1
"Aish.. Anak apalagi yang pantas untuk panggilan orang macam Alex itu." sungut Diana
"Emm.. Tante, bukannya aku ingin membela Alex. Tapi jika Alex benar-benar menjadi jelek, maka tidak akan ada wanita manapun yang mau dengannya. Dan Tante akan semakin susah mencarikan jodoh untuk Alex." seru Ridwan
"Ya, kau benar. Tapi untuk apa juga memiliki wajah tampan jika dia tidak mau menikah, hah? Aish.. Kepala Tante pusing karena anak nakal itu. Sepertinya Tante sudah tidak penting lagi untuknya. Bahkan keluar dari rumah sakit saja dia tidak mengabari Tante. Sebenarnya dia menganggap Tante ibunya atau bukan?"
Ridwan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bisa mengerti kenapa Diana begitu marah pada Alex. Bahkan jika hal itu terjadi padanya, dia pasti akan melakukan hal yang sama dengan Diana. Tapi dia juga mengerti kenapa Alex memilih pulang ke apartemen nya. Selain menghindari pertengkaran dengan Diana karena permintaan Diana untuk Alex segera menikah, di apartemen ada wanita yang harus Alex jaga karena saat ini wanita itu tengah mengandung buah hatinya. Alex pasti ingin selalu ada untuk Icha. Terlihat beberapa hari ini, Alex selalu mengigau memanggil nama wanita itu.
"Sepertinya, Tante harus memastikan kesana." Diana beranjak dari tempat duduknya tapi buru-buru di halangi oleh Ridwan.
"Eh.. Tante, lebih baik sekarang Tante pulang saja. Ini sudah malam. Aku yakin jika Alex sekarang juga sudah tidur." seru Ridwan
"Tante cuma mau melihat keadaannya, Wan."
"Iya, aku tahu. Tapi ini sudah malam. Jika Tante kesana, yang ada Tante hanya akan membuat Alex semakin pusing."
"Apa kau bilang?" Diana melebarkan kedua matanya. "kau juga mau bilang jika Tante ini cerewet, begitu?"
"Bu_bukan begitu Tante, aish..." Ridwan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Sudahlah, kau membuat mood Tante hancur saja. Lebih baik Tante pulang."
"Hati-hati Tante. Semoga selamat sampai tujuan." seru Ridwan
__ADS_1
Diana mendengus kesal dan pergi dari ruangan Ridwan. Dia merasa jika Ridwan sama saja dengan Alex. Tidak mengerti dirinya.
"Maafkan aku, Tan. Tapi biar Alex menentukan sendiri pilihannya. Kita berdoa saja semoga Icha bisa menggugah hati Alex yang sudah lama mati." gumam Ridwan