Rahim Bayaran Tuan Alex

Rahim Bayaran Tuan Alex
Karma


__ADS_3

Alex membuka matanya perlahan kala merasa berat di tangannya. Dia melirik kebawah dan ternyata Icha tertidur dilantai dengan posisi duduk dan menyandarkan kepalanya di tangan Alex.


Alex menahan nafasnya sejenak karena perbuatan Icha. Apa dia lupa jika dia sedang hamil? Rasanya Alex ingin marah karena Icha tidak memperhatikan kesehatannya. Tapi melihat sudut mata Icha yang basah, membuatnya terdiam sejenak. "Apa wanita ini baru saja menangis? menangisi dirinya atau yang lain?" pikir Alex dalam hati.


Perlahan, Alex menarik tangannya yang di jadikan bantalan oleh Icha. Dia turun dari tempat tidur dan mengangkat Icha ala bridal dan membaringkannya di tempat tidur yang sama dengannya.


Alex menatap Icha yang tertidur damai di sampingnya. Dia mengusap sudut mata Icha yang berair dan mencium kedua mata Icha. "Apa kau menangis karena aku, hm? Maafkan aku, sayang." ucap Alex. Dia tidak ingin Icha bersedih karena itu bisa mempengaruhi kandungannya. Setidaknya itu yang dia pelajari dari dokter saat berkonsultasi. Dia harus menjaga emosi ibu hamil karena itu bisa berakibat buruk dengan kandungannya. Dan Alex tidak mau hal itu terjadi.


Icha menggeliat pelan dan membuka matanya perlahan. Yang pertama kali dia lihat adalah sosok tampan yang saat ini tersenyum menatapnya. Dia ikut tersenyum dan kembali memejamkan matanya karena dia sudah biasa mendapat mimpi yang sama.


"Kenapa kau tidur lagi, hm?" Alex menciumi wajah Icha dan itu berhasil membuat Icha membuka matanya lebar.


"Kau....


"Ya?" Alex mengerutkan keningnya melihat Icha yang terkejut menatapnya.


"Ke_kenapa kau ada di sini?" tanya Icha yang belum sadar sepenuhnya


"Apa kau lupa dengan apa yang baru saja terjadi?"


Icha terdiam dan mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Hingga ekspresi wajahnya yang menunjukan keterkejutan membuat Alex menahan tawa sekuat tenaga. Entah kenapa hal itu membuat wajah ibu hamil itu terlihat sangat menggemaskan. "Apa sudah ingat?" tanya Alex


Raut wajah Icha berubah seketika. Dia turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar begitu saja. Tentu saja hal itu membuat Alex bingung. Hingga dia menyadari sesuatu dan menyusul Icha.


"Eh, non Icha sudah bangun. Mau makan non?" tanya Bi Siti


"Iya Bi, saya lapar." Icha duduk di kursi meja makan. Ini sudah masuk jam makan malam dan dia sudah sangat lapar. Apalagi semenjak hamil, nafsu makannya meningkat dari biasanya.


"Cha!!" Alex duduk di samping Icha dan menggenggam tangan wanita itu. "Aku bisa jelaskan, semua tidak seperti yang kau lihat. Aku....


"Ini non makanannya." ucapan Alex terhenti saat bi Siti meletakan nasi beserta sayur dan lauk di meja makan. Tidak lupa susu ibu hamil dan juga buah yang biasa Icha makan.


Melihat hal itu, entah mengapa perut Alex mulai bereaksi. Dia membekap mulutnya dan berlari ke wastafel memuntahkan cairan bening yang selalu membuatnya tersiksa. "Hoek, Hoek, Hoek...."


Icha terkejut dan menyusul Alex dan memijat tengkuk leher pria itu, " Tuan kenapa? Apa masih sakit? Kita ke rumah sakit sekarang ya!!" Icha khawatir melihat keadaan Alex. Karena rasa kesalnya, dia sampai lupa jika Alex sedang sakit


"Tidak, aku tidak apa-apa. Tapi tolong singkirkan benda itu!!" Alex menunjuk ke arah meja makan tanpa menoleh karena perutnya akan bergejolak jika melihatnya.


"Apa yang harus disingkirkan, Tuan?" tanya Icha


"Benda yang kau makan itu. Astaga..." Alex kembali muntah. Hanya membayangkan nya saja, perut Alex bergejolak.


"Sudahlah, aku ke kamar saja. Kau makanlah yang banyak." Alex berkumur dan segera berlari tanpa melihat ke arah meja makan.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa dengannya?" gumam Icha


"Tuan Alex kenapa non?" Tanya bi Siti melihat Icha yang kembali duduk di kursi meja makan.


"Tidak tahu bi."


"Selamat malam Nona." sapa Leo yang baru saja datang.


"Malam juga, Tuan. Ada apa?"


"Saya membawakan obat Tuan Alex dari dokter Ridwan. Ini obat untuk mual dan ini jika Tuan masih merasa pusing." Leo menjelaskan pada Icha obat mana yang harus di konsumsi sebelum dan sesudah makan.


"Baiklah, aku mengerti. Tapi, jika boleh tahu, sebenarnya Tuan Alex sakit apa?"


"Soal itu.....


...****************...


Icha masuk ke kamar dengan nampan berisi makanan. Dia melihat Alex yang tertidur pulas dengan tangan yang memegang perutnya. Sejenak dia merasa kasihan tapi jika mengingat perbuatan pria itu, dia merasa jika semua itu adalah karma untuknya.


"Huft.. Apa yang kau pikirkan, Cha? Walau bagaimanapun, dia adalah ayah dari bayi yang kau kandung. Dan dia seperti ini juga menggantikan gejala yang harusnya kau alami." batin Icha. Dia duduk di tepi tempat tidur dan membangunkan Alex.


"Bangun Tuan!! Kau harus makan." Icha mengusap keringat di pelipis Alex. Sepertinya dia benar-benar kesakitan. "Tuan!!" panggil Icha lagi.


"Ini memang nasi, tapi nasi goreng." ucap Icha


"Nasi goreng?"


"Iya. Ini nasi goreng dengan warna yang kecoklatan karena aku menambah kecap. Nasinya juga tidak pedas."


Alex menegakkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya di headboard. Dia menatap nasi goreng yang di bawa Icha, dan ajaibnya perut Alex tidak bergejolak.


"Tuan Leo mengatakan padaku, jika kau akan mual setiap melihat nasi putih. Dan tiap kali kau memaksa untuk makan, kau akan memuntahkannya. Jadi aku berinisiatif untuk membuat nasi goreng. Siapa tahu, kau tidak muntah." terang Icha


Alex meraih piring di atas nampan yang Icha bawa. Memang, perutnya tidak bergejolak. Tapi jika dia memakannya, nanti pasti akan di muntahkan lagi. Dan itu membuatnya tersiksa.


Icha tersenyum dan mengambil alih piring dari tangan Alex. Dia mengambil obat sebelum makan dan membantu Alex untuk meminumnya. Baru setelahnya, dia menyuapi pria itu.


"Bagaimana? Apakah kau merasa mual?" tanya Icha


Alex menggelengkan kepalanya dan meminta Icha untuk menyuapi nya lagi karena sebenarnya dia sangat lapar. Dia bertahan karena infus yang menempel di tangannya. Tapi sekarang, dia tidak lagi menggunakannya karena dia sudah tidak lagi berada di rumah sakit.


"Jika kau merasa mual, bilang padaku!!" seru Icha

__ADS_1


"Terimakasih, kau masih perhatian padaku. Padahal aku sudah berlaku kasar padamu. Tapi kau masih....


"Itu juga kesalahanku. Aku tahu kenapa waktu itu kau marah. Itu karena kau melihatku berpelukan dengan pria lain, kan? Dia itu sahabat ku. Aku tidak menyangka jika bisa bertemu dengannya."


"Tapi tetap saja, dia seorang pria dan aku tidak suka milikku di peluk sembarangan."


Deg


Icha menatap Alex dan mencoba mencerna ucapan pria itu. Tidak suka miliknya dipeluk orang lain? Apa maksudnya?


Alex melihat Icha yang melamun. Dia menjentikkan jarinya di depan wajah Icha yang membuat Icha tersadar dan meminta untuk di suapi lagi.


"Sebelum kontrak berakhir, kau hanya milikku." seru Alex


Icha tersenyum getir. Dia lupa jika hubungannya dengan Alex hanya sebatas kontrak. Dan setelah ia melahirkan, kontrak mereka berakhir dan mereka akan menjalani kehidupan masing-masing.


"O ya, soal yang kau lihat di rumah sakit tadi siang.....


"Tidak perlu kau jelaskan. Itu tidak ada gunanya untukku." sela Icha


"Kenapa?"


"Hubungan kita hanya sebatas kontrak, Tuan. Dan Tuan bisa melakukan apapun yang tuan ingin dengan wanita-wanita di luar sana."


Alex berhenti mengunyah dan menatap Icha dalam. Apa wanita ini tidak ada rasa cemburu sedikitpun ? Lalu kenapa tadi dia berlari?


"Kenapa tuan menatapku seperti itu? Ayo buka mulut tuan!!" Icha kembali menyuapi Alex sampai makanannya habis.


"Bagaimana? Apa tuan merasa mual?" tanya Icha


Alex terdiam dan memegang perutnya mencoba merasakan apakah sakit atau tidak. Dan setelah menunggu beberapa menit, ternyata Alex tidak merasakan mual.


"Sepertinya aku tidak mual." seru Alex


"Syukurlah." Icha membantu Alex meminum obatnya setelah memastikan jika Alex tidak mual.


"Sepertinya ini karma untukku karena sudah memperlakukan mu dengan tidak baik." seru Alex


"Iya, ini memang karma untukmu. Bahkan calon anakmu saja bisa menghukum mu. Itu karena kau memperlakukan ku seperti budak se*s dan mengatai ku jalan9. Sekarang, terima akibatnya." gerutu Icha dalam hati.


"Tuan jangan bicara seperti itu. Kehamilan simpatik memang sering terjadi pada pria yang pasangannya hamil. Setidaknya, tuan bisa menggantikan ku mengalami hal itu, kan?"


"Iya, Kau benar. Aku menganggap ini sebagai hukuman untuk ku. Kedepannya, aku berjanji akan memperlakukan mu dengan baik." Alex tersenyum mengusap pelan perut Icha .

__ADS_1


"Andai kita adalah pasangan nyata, Tuan. Tapi sayangnya itu tidak akan pernah terjadi." batin Icha


__ADS_2