Rahim Bayaran Tuan Alex

Rahim Bayaran Tuan Alex
Menolak


__ADS_3

Icha sampai di depan perusahaan AL'X Company. Dia merogoh ponselnya dan mencari kontak Ferdian. "Semoga kau bisa memberiku penjelasan, Fer." Icha menempelkan ponsel di telinganya saat nada dering tersambung


"Halo." Sapa Ferdian di seberang sana


"Halo Fer, bisa kita bertemu sebentar? Aku sekarang ada di depan tempat mu bekerja."


"Baiklah. Tunggu aku sebentar!!"


"Terimakasih, aku akan menunggumu di cafe depan." Icha menutup sambungan telepon secara sepihak. Dia pergi ke cafe depan perusahaan Alex dan menunggu Ferdian di sana.


Sedangkan Ferdian merasa sangat senang. Dia tidak menyangka jika Icha sendiri yang akan menghubunginya. Dia yakin saat ini Icha tidak mempunyai bahu untuk bersandar. Itu sebabnya wanita itu menghubunginya.


"Akhirnya aku bisa menjadi pahlawan untuk mu, Cha. Kau tenang saja. Aku akan membahagiakan mu dan menjadikanmu ratu dalam duniaku." Batin Ferdian. Dia meminta izin pada seniornya untuk keluar sebentar karena ada hal penting yang harus dia lakukan.


Tapi sebelum itu, Ferdian pergi ke toilet untuk memastikan sekali lagi penampilannya sebelum bertemu dengan Icha. Dia tidak mau terlihat berantakan. Setidaknya dia harus terlihat jika dia lebih pantas dengannya daripada pria gila bernama Alex.


"Perfect." Gumamnya. Dia keluar dari toilet dan bergegas menemui Icha di cafe depan perusahaan tempat ia bekerja.


"Dimana Icha?" Ferdian melihat kesana kemari mencari Icha, tapi wanita itu tidak terlihat sama sekali. Sehingga seseorang yang duduk di sudut melambaikan tangan padanya.


"Icha?" Ferdian mendekat dan duduk di depan wanita itu. " Kau Icha?" Tanya Ferdian.


Icha membuka tudung Hoodie nya dan kacamata hitamnya. "Iya, ini aku." Ucap Icha


"Maafkan aku, Cha. Aku tidak mengenalimu. Tapi kenapa kau berpenampilan seperti ini?"


"Itu bukan hal yang penting. Tapi ada hal lain yang ingin aku tanyakan padamu, Fer."


"Apa itu?"

__ADS_1


Icha menghela nafas panjang dan berkata, "Kita terakhir bertemu saat berada di toilet mall tiga hari yang lalu. Apa kau masih ingat apa yang terjadi saat itu?" Tanya Icha


Deg


"A_apa maksud mu, Cha?" Tanya Ferdian terbata. Dia menggerakkan bola matanya kesana-kemari mencari alasan yang tepat. Sangat sial!! Dia tidak menyangka jika Icha mengajaknya bertemu untuk menanyakan perihal kejadian di toilet mall.


"Waktu itu kita bertemu dan tidak lama kemudian, aku merasa ada seseorang yang membekapku dari belakang. Dan setelah aku sadar, aku sudah berada di Kamar hotel." Icha menatap Ferdian yang terlihat aneh dan kembali berkata, "Apa waktu itu kau melihat sesuatu yang mencurigakan? Atau....


"A_atau apa?" Sela Ferdian


"Tidak ada." Icha menggelengkan kepalanya. Dia menatap intens gerak-gerik Ferdian yang terlihat mencurigakan. Tapi dia tidak mau berburuk sangka. Tidak mungkin Ferdian melakukan hal itu padanya. Mereka sudah saling mengenal sejak lama. Jadi sangat mustahil jika Ferdian tega menjebaknya.


"Maaf Icha, aku tidak tahu apa-apa. Waktu itu, setelah kita bertemu. Aku langsung pergi dari sana. Jadi aku tidak tau apa yang sudah terjadi." Seru Ferdian


Icha mengangguk pelan. "Aku percaya padamu."


Ferdian menghela nafas lega. Dia tahu Icha pasti akan percaya padanya. Dan sekarang waktunya melancarkan aksinya.


Ferdian menggerakkan kedua tangannya di depan perut membentuk sebuah lingkaran. "Maaf sebelumnya, aku hanya penasaran." Lanjut Ferdian


Icha menghela nafas panjang. Mungkin sekarang saatnya menceritakan semuanya pada sahabatnya itu. "Aku pernah berjanji akan menceritakan semuanya padamu, kan? Dan aku rasa sekarang adalah waktu yang tepat."


Icha mulai menceritakan awal mula dia terpaksa menjual rahimnya pada Alex, sampai akhirnya dia hamil dan mereka memutuskan untuk menikah. Tapi karena suatu hal, Alex memutuskan hubungan mereka dan pernikahan yang direncanakan telah di batalkan.


"A_apa? Jadi kau....


"Iya Fer. Aku hamil anak tuan Alex. Tapi aku tidak bisa menuntutnya karena hubungan ini berawal dari sebuah perjanjian. Dan sekarang dia tidak menginginkan kami. Untuk itu, aku akan merawat satu-satunya harta ku ini dengan sepenuh hati." Seru Icha sambil mengusap perutnya


"Tapi Cha, kenapa kau tidak menceritakan padaku dari awal. Mungkin aku bisa....

__ADS_1


"Aku sudah tidak mempunyai pilihan, Fer. Ibu membutuhkan biaya untuk operasi. Dan di antara kalian tidak ada yang mau membantuku. Jadi aku terpaksa mengambil keputusan itu." Icha mengepalkan tangannya menahan sekuat tenaga agar tidak menangis. Dia sudah lelah, air matanya rasanya sudah mengering. Tapi jika teringat hal yang terjadi padanya, hatinya terasa sesak dan rasanya ia ingin menyerah.


"Cha!!" Ferdian menggenggam tangan Icha dan berkata, "maafkan aku karena tidak ada disaat kau membutuhkan bantuan. Kau tahu sendiri kan keadaan ku waktu itu seperti apa? Tapi sekarang kau tenang saja. Aku akan membantumu keluar dari masalah ini."


"Apa maksudmu Fer?"


"Aku akan menikahimu."


Deg


"A_apa kau bilang? Menikah?" Tanya Icha yang dijawab anggukan oleh Ferdian


"Fer, semua ini tidak semudah yang kau bayangkan. Tidak seperti cukup kita menikah maka masalah akan selesai. Tapi ini masalah hati. Kita tidak saling mencintai sedangkan aku hamil anak orang lain. Kau pikir bagaimana nantinya tanggapan keluarga mu , tetanggamu, atau mungkin sahabat mu."


"Tapi Cha, apa kau tega membiarkan anak itu lahir tanpa seorang ayah? Belum lagi orang-orang akan berfikir jika kau bukan wanita baik-baik karena hamil di luar nikah."


Icha mengusap wajanya kasar. Memang benar apa yang di katakan Ferdian. Tapi tekadnya sudah bulat. "Aku sangat berterimakasih padamu. Aku hargai niat baikmu. Tapi maaf, aku tidak bisa menerima bantuan darimu."


"Tapi Cha...


"Fer..!!!" Sela Icha. Dia menggenggam tangan Ferdian dan kembali berkata, "Aku ini wanita kotor. Aku tidak pantas untuk mu. Kau berhak mencari wanita lain yang lebih baik daripada diriku. Yang mencintaimu."


"Jujur, aku sangat mencintaimu ayah dari anakku." lanjut Icha


Deg


"Itu sebabnya aku tidak bisa menerima mu. Maaf." Icha pergi meninggalkan Ferdian yang mematung di sana.


"Dia menolakku. Hah.. dia menolakku." lirih Ferdian

__ADS_1


"BRENGSEK!!" teriak Ferdian. Dia menggebrak meja yang menyebabkan semua mata menatap kearahnya. Tapi Ferdian tidak perduli. Hatinya sakit, tapi kemarahan lebih mendominasi. Dia tidak terima atas penolakan yang di lakukan Icha.


"Aku akan membuatmu membayar semua penghinaan ini, Cha. Tunggu saja pembalasan ku."


__ADS_2