Rahim Bayaran Tuan Alex

Rahim Bayaran Tuan Alex
Mencoba


__ADS_3

Setelah kepergian Alex, Icha keluar kamar dan menuju keruang makan karena dia sangat lapar. Di sana bi Siti sudah menyiapkan sarapan yang menggugah selera ibu hamil tersebut.


"Wah, kelihatannya enak." Icha duduk di kursi meja makan. Dia mengambil nasi dan sayur buatan bi Siti.


"Tuan Alex sudah berangkat non?" tanya bi Siti


"Sudah bi. Dia memang jarang sarapan. Palingan cuma minum kopi. Tapikan dia baru sembuh, jadi aku melarangnya minum kopi dulu." terang Icha


"Wah, non Icha perhatian sekali sama tuan Alex. Sudah seperti istri nya saja." goda Bi Siti


Icha tersenyum getir. Dia juga ingin seperti itu, tapi sayangnya itu tidak mungkin terjadi. Dia hanya di kontrak untuk menjadi penampung benih pria itu. Setelah anaknya lahir, kontrak mereka berakhir, dan Icha akan kembali ke kehidupan yang dulu.


Tapi tunggu dulu, tidak banyak yang tahu tentang hubungan nya dengan Alex. Tapi bi Siti...


"Ada apa non? Kenapa non Icha melihat bibi seperti itu?" tanya bi Siti


"Bi Siti tahu hubungan ku dengan tuan Alex?" tanya Icha memastikan


"Ya tahu lah non. Tapi non Icha tenang aja, semua aman. Lagipula, bibi juga masih sayang nyawa, non."


Icha terdiam. Tepat seperti dugaannya. Alex pasti mengancam siapapun yang mengetahui hubungan mereka dan juga perjanjian yang mereka lakukan. Tapi mungkin saja bi Siti tahu alasan kenapa Alex tidak mau menikah.

__ADS_1


"Kenapa sih non? Kok dari tadi bibi perhatikan, non Icha kebanyakan melamun." seru bi Siti


"Enggak apa-apa bi, Aku cuma penasaran saja. Kenapa tuan Alex tidak menikah dan punya anak sendiri? tapi dia lebih memilih mencari wanita untuk mengandung anaknya tanpa terikat pernikahan."


"Kalau soal itu sih, bibi tidak tahu pasti non. Tapi bibi pernah denger pertengkaran nya dengan nyonya pas bibi masih kerja di mansion keluarga Wiratama."


"Pertengkaran? Mereka bertengkar karena apa bi?" tanya Icha


"Nyonya selalu memaksa Tuan untuk menikah. Tapi tuan juga kekeuh menolak permintaan nyonya. Tuan bilang, untuk apa menikah jika pada akhirnya harus berpisah dan hidup menderita karena pengkhianatan. Itu sih yang bibi denger."


"Apa orang tua tuan Alex masih lengkap? Maksud ku, suami nyonya....


"O.. Gitu ya bi. Terimakasih ya bi, udah nemenin Aku ngobrol." seru Icha


"Sama-sama non, ya udah bibi lanjut kerja dulu." bi Siti meninggalkan Icha menikmati sarapannya di meja makan.


Kini Icha tahu kenapa Alex tidak mau menikah. kemungkinan pria itu trauma dengan perceraian yang terjadi pada kedua orangtuanya. Atau mungkin dia mengalami kekerasan dan melihat pertengkaran kedua orangtuanya yang akhirnya memutuskan untuk bercerai.


Sepertinya akan sedikit sulit mengembalikan kepercayaan Alex tentang kesucian pernikahan. Memorinya sudah terisi dengan kenangan buruk yang berasal dari kedua orangtuanya.


Tapi apa hanya karena itu membuatnya sama sekali tidak mau menikah? Rasanya tidak mungkin. Apa dia pernah mendapatkan pengkhianatan dari orang yang dia cintai? Jika itu benar, pantas jika Alex bersikap seperti itu. Tapi bukankah itu artinya dia masih memiliki kesempatan? Dia masih bisa mengambil hati Alex, dengan menghadirkan cinta di hati pria itu. Tidak ada salahnya dia mencobanya , bukan?

__ADS_1


Sementara itu, di perusahaan berlogo AL'X Company. Alex terlihat tidak berkonsentrasi dalam bekerja. Bukan karena dia masih sakit atau karena merasa mual. Tapi karena ucapan Icha yang masih terngiang-ngiang di kepalanya. Dia sempat berfikir, apakah wanita itu menginginkan pernikahan? Apakah wanita itu ingin dia menikahinya?


Tapi itu tidak mungkin karena mereka sudah terikat kontrak. Dan semua tertulis dengan jelas jika Alex hanya mengingatkan anak dari Icha tanpa ikatan pernikahan.


Atau jangan-jangan, Icha sudah merencanakan kehidupannya mendatang setelah melahirkan anaknya? Apa dia akan menikah dengan pria lain?


"Aish..!!" Alex menyandarkan punggungnya. Dia memejamkan matanya karena kepalanya kembali berdenyut.


Dia tidak ingin menikah dengan siapapun termasuk Icha, tapi dia tidak rela jika Icha menikah dengan orang lain. Egois memang, tapi apa tidak bisa mereka seperti ini seterusnya? Hidup tanpa harus ada ikatan tapi mereka selalu bersama, hingga jika terjadi perpisahan, mereka tidak akan terlalu merasakan sakit.


Tapi dia tahu, Icha tidak akan mau. Dia yakin jika Icha menginginkan hubungan yang nyata yaitu hubungan suci pernikahan.


Tapi dia bisa menggunakan anak untuk membuatnya sedikit lebih lama berada di sisinya.


"Astaga, apa yang aku pikirkan? Bukankah itu yang aku inginkan dari awal. Mempunyai anak tanpa terikat pernikahan. Dan sebentar lagi aku akan mendapatkannya. Tapi untuk berpisah dengan ibunya, kenapa sangat berat sekali?"


Alex terdiam sejenak. Tapi tiba-tiba dia teringat ucapan Ridwan. "Perasaan yang belum pernah kau rasakan yang tiba-tiba muncul saat kau berada di dekat seorang wanita. Perasaan nyaman saat bersamanya, rindu saat jauh darinya, cemburu saat dia dekat dengan yang lain. Dan tidak rela jika dia meninggalkan kita. Itu bisa di sebut gejala cinta. Kau sedang jatuh Cinta, Al.""


Alex memegang dadanya. Jantungnya kembali berdetak kencang. "Apa iya, aku jatuh cinta pada Icha? Aku nyaman bersamanya, aku sekarang merindukannya. Memikirkan nya pergi dengan pria lain, membuatku cemburu. Dan aku tidak rela jika dia meninggalkan ku setelah kontrak berakhir."


"Astaga Alex... Ada apa denganmu, hah? masak seperti ini saja kau tidak tahu?" Alex terlihat frustasi. Sepertinya dia harus memastikannya sekali lagi. Atau dia harus mencobanya? Mencoba membuka hati dan menerima Icha menempati hatinya. Ya, sepertinya dia harus melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2