
Icha menjalani aktivitasnya seperti biasa. Dia bangun pagi, membuat sarapan dan pergi bekerja. Begitu seterusnya. Bahkan kandungannya yang kini berusia 7 bulan tidak menjadi hambatan nya untuk beraktivitas.
Tapi walaupun begitu, dia tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja karena video pengakuan Alex beberapa hari yang lalu.
Bukan karena dia merasa terganggu. Tapi hal itu membuatnya dilema. Di satu sisi dia sangat merindukan Alex dan senang mendengar ungkapan cinta dari Alex. Tapi di sisi lain dia takut Alex akan melakukan hal yang sama jika terjadi hal serupa. Apalagi dia tahu jika pria itu masih berada di bawah bayang-bayang masa lalunya.
"Huft.. Apa yang harus aku lakukan?" Icha berdiri di dekat jendela kamarnya menatap bulan purnama yang bersinar terang.
"Aku juga merindukan mu, tuan. Sangat merindukanmu. Tapi aku takut, apalagi jika aku teringat saat kau membentak ku dan mengusirku untuk pergi dari hidupmu. Aku merasa jika kau sangat jijik pada ku." Icha menutup jendela kamar dan mengambil kemeja di lemari sebelum akhirnya membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Dia mengusap pelan kemeja tersebut dan menciuminya. "Andai kau tahu, aku tidak bisa tidur jika tidak memelukmu. Makanya aku mengambil satu kemeja yang biasa kau pakai." Icha terkikik dan memeluk erat kemeja Alex. Dia tidak pernah mencuci kemeja tersebut karena takut bau Alex akan hilang jika di cuci. Sangat lucu bukan? Dia hamil besar dan ingin di manja oleh pasangannya. Tapi dia tidak bisa melakukan hal itu. Untuk itu dia mengambil kemeja Alex.
"Selamat malam, sayang." Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, Icha sudah terlelap mengarungi mimpi indahnya.
Jika Icha tertidur dengan memeluk kemeja Alex, maka berbeda dengan Alex yang selalu tidur dengan memeluk foto USG calon anaknya. Bahkan dia sudah mendekorasi kamarnya.
Beberapa benda dia keluarkan di ganti dengan perlengkapan baby yang sudah Icha beli dengan Diana.
Dia ingin memperlihatkan nya pada Icha nanti saat wanita itu kembali. Dan dia yakin wanita itu akan menyukainya.
"Bagaimana kabarmu, baby? Apa kau dan mommy baik-baik saja? Daddy merindukan kalian, sayang. Apa kau masih marah pada Daddy, hm?" Alex mengusap foto USG anaknya dan menciuminya. "Tolong ijin kan Daddy memperbaiki kesalahan Daddy, sayang!! Daddy berjanji akan membahagiakan kalian. Tolong pertemukan Daddy dengan mommy." setelah mengucapkan hal itu, Alex memejamkan matanya mengarungi mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu terus berlalu. Tidak terasa kini usia kandungan Icha sudah memasuki bulan kesembilan. Dia mulai mengurangi aktivitasnya dan menyiapkan diri untuk persalinan nanti.
__ADS_1
Dan kini, di rumah Icha sudah berkumpul Diana dan dokter Ridwan dan juga istrinya.
"Icha, sebentar lagi kau akan melahirkan. Jujur mommy takut jika kau tinggal sendirian disini. Apa tidak lebih baik kau ikut mommy, sayang? Jika kau tidak mau karena Alex, kau tenang saja. Mommy akan mengaturnya agar dia tidak tahu jika kau ada di mansion dengan mommy. Lagipula dia tidak pernah pulang lagi setelah kejadian itu." seru Diana.
"Aku tidak memaksamu, Cha. Jika kau tidak mau tinggal di rumah Tante Diana karena Alex, kau bisa tinggal di rumahku. Persalinan mu tinggal menghitung hari. Bahkan mungkin bisa lebih cepat dari tanggal perkiraan lahir. Kami takut saat kau melahirkan, tidak ada yang membantumu." dokter Ridwan ikut membujuk Icha. Mereka begitu khawatir pada Icha yang hanya tinggal sendiri padahal sebentar lagi dia akan melahirkan.
"Aku akan sangat senang jika kau mau tinggal bersama kami. Jadi aku akan mempunyai teman." seru Lena
Icha menatap satu persatu mereka. Dia tersenyum bahagia karena masih ada orang yang perduli padanya. Bahkan mereka mengkhawatirkan keadaannya.
"Mommy, dokter dan kak Lena. Aku sangat berterimakasih pada kalian karena kalian sudah membantuku melewati masa sulit ini. Aku bersyukur kalian selalu ada untukku bahkan melindungi ku. Tapi maaf, aku tidak bisa tinggal bersama kalian." tolak Icha
"Tapi Cha...
"Baiklah kalau begitu. Tapi kau harus berjanji jika kau akan menghubungi mommy." seru Diana yang dijawab anggukkan oleh Icha.
Karena mereka gagal membujuk Icha, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Mereka mewanti-wanti Icha agar segera menghubungi mereka jika merasakan tanda-tanda melahirkan.
Icha masuk ke kamarnya dan seperti biasa dia mengambil kemeja Alex. Dia berbaring di tempat tidur dengan memeluk Kemeja Alex. "Sebentar lagi anak kita akan lahir. Aku sangat ingin kau menemaniku saat melahirkan nanti. Tapi Aku takut bertemu dengan mu." Icha menghela nafas panjang dan mulai memejamkan matanya.
Keesokan harinya, Icha di bantu bi Siti untuk melakukan oleh raga kecil dengan berjalan-jalan. Dia mendapatkan pelajaran saat melakukan senam hamil. Jika jalan-jalan akan mempermudah persalinan nantinya. Untuk itu dia mengajak bi Siti pergi ke taman terdekat.
"Kita istirahat dulu bi." seru Icha
"Iya non." bi Siti menuntun Icha ke kursi taman. Dia memberikan minuman untuk Icha.
__ADS_1
"Terimakasih bi." Icha menerima botol minum tersebut dan meminumnya. Dia mengusap pelan perutnya yang membuncit. Rasanya dia sudah tidak sabar menanti kelahiran putranya.
Ya, calon anak Icha dan Alex berjenis kelamin laki-laki. Dia sangat senang karena putranya akan menjadi kebanggaan keluarga Wiratama. Tapi itu jika Alex mau menerimanya.
"Ish....
Tiba-tiba Icha meringis memegangi perutnya. "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba perutku sakit?" batin Icha
"Non Icha kenapa? Apa ada yang sakit non?" tanya bi Siti khawatir
"Aku tidak apa-apa bi. Akh..." Icha kembali merasakan kesakitan di perut nya. "Bi, sakit."
"Ja_jangan-jangan non Icha mau melahirkan. Aduh bagaimana ini?" bi Siti panik. Tapi kemudian dia mencari pertolongan pada orang-orang yang berada di taman tersebut.
Salah satu dari mereka yang membawa mobil, mengantar Icha dan bi Siti ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Icha di bawa menggunakan brankar dan di bawa ke ruang persalinan.
"Akh... Sakit!!" teriak Icha
"Tenang Nona. Dokter akan segera datang." suster mendorong brankar Icha menuju ruang bersalin
Disaat bersama, seorang pria datang ke rumah sakit tersebut mengantar korban kecelakaan. Dia terdiam saat mendengar suara wanita yang sangat dia kenal. Dia menoleh kearah sumber suara dan....
Deg
__ADS_1