
Happy Reading.
Kenzo menatap Kelvin yang kini tengah membicarakan jadwalnya. Ada salah satu jadwal pertemuan dua hari lagi dengan seorang wanita yang bernama Larasati Anjani.
"Tunggu! kenapa ada nama itu dijadwal meeting? Aku sama sekali tidak menyetujui hal tersebut! Ck, Kelvin! Batalkan janjiku dengan wanita itu!"
"Tapi Tuan, kita sudah mengatur semuanya selama seminggu ini, dan bukankah anda kemarin sudah menyetujui schedule ini?"
Kenzo memijit keningnya, "aku tidak tahu kalau Larasati itu adalah wanita yang sama dengan masa laluku, semalam aku sudah bertemu dengannya, dan aku tidak akan bekerjasama dengannya," ujar Kenzo.
Kelvin meneguk ludahnya, membatalkan perjanjian penting seperti ini tentu tidak mudah, apalagi semuanya telah disepakati bersama.
Kelvin memang tahu bagaimana kisah Tuan Ken dengan wanita yang bernama Larasati Anjani itu, tapi Kelvin mengira jika Tuan-nya itu sudah tahu dan Kelvin membiarkannya saja.
Namun sepertinya Tuan Ken belum tahu siapa Larasati Anjani yang ini, Kelvin bahkan sempat menduga jika Tuan-nya memang ingin bertemu dengan cinta masa lalunya.
"Tapi tuan?"
"Tidak ada tapi-tapian, aku sudah malas bertemu dengan pengkhianat seperti dia! Dengan seenaknya pergi meninggalkan ku hanya demi pria lain, bahkan mereka menikah. Lalu, apakah sekarang dia dengan begitu mudahnya meminta bantuan ku? Aku tidak mau Kelvin!"
Ya, Kenzo memang sempat mencari tahu keberadaan Anjani waktu itu. Kenyataannya mengetahui Anjani menikah dengan pria lain membuat Kenzo benar-benar mati rasa. Dan sekarang setelah bertahun-tahun wanita itu datang kembali padanya? Kenzo sudah terlanjur muak.
"Jadi, apakah Tuan akan mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan?" Pertanyaan Kelvin menohok hatinya.
Benar apa yang dikatakan oleh Kelvin, seharusnya Kenzo tidak boleh mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan.
'Kalau untuk dia, jawabannya IYA karena dia bisa membuat traumaku muncul kembali!' jawab Kenzo hanya dalam hati.
"Tapi, aku sudah bertemu dengannya dan menolak kerja sama itu, sekarang cari tahu nomor adiknya Rea, dia kehilangan kontak adiknya itu, apa anak buahmu masih memantaunya?" Tanya Kenzo mengalihkan perhatian Kelvin.
__ADS_1
Kelvin menghela nafas, sepertinya dia memang tidak bisa memaksa Tuan Kenzo untuk menarik ucapannya.
"Mereka sudah melaporkan untuk hari ini, Nona Mea dan nyonya Alfi sekarang sudah kembali ke rumah, sepertinya Nona Mea kehilangan ponselnya, jadi dia tidak bisa dihubungkan," lapor Kelvin.
Kenzo mengangguk, dia juga baru tahu kalau Mea kebaikan ponsel, pantas saja Rea khawatir.
"Baiklah, hari ini aku akan mengunjungi rumah Bu Alfi bersama Rea, siapkan mobil," ujar Kenzo, membuat Kelvin tercengang.
Tentu saja Tuan-nya ini memang orang yang peduli dengan orang lain yang sedang dalam kesusahan meskipun terkadang Kenzo melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Namun baru kali ini Kelvin melihat Tuan-nya itu bukan hanya peduli, tapi dia terlihat begitu tertarik kepada Rea. Baru kali ini Kenzo sampai mau mengantarkan pelayannya pulang hanya demi melihat ibunya yang baru saja operasi.
"Baik Tuan," jawab Kelvin menunduk, kemudian dia menyalakan earphone untuk memberikan perintah terhadap anak buahnya guna menyiapkan mobil untuk Tuan Ken.
Sedangkan Kenzo sendiri langsung keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju kamar Rea.
Tok, tok, tok!
Rea yang saat itu tengah melipat bajunya menghentikan kegiatannya itu dan berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
"Tuan? Ada apa? Kenapa tidak menghubungi saya lewat interkom?" Tanya Rea terkejut saat melihat Kenzo ada dihadapannya. Bukankah Tuan Ken bisa memanggilnya lewat interkom kalau memang membutuhkannya.
"Ganti bajumu dengan yang ku belikan kemarin, dan ikut aku," ujar Kenzo.
"Loh, kemana Tuan?"
"Ck, banyak tanya! Cepat sana ganti baju, akan aku tunggu dikamar!"
"Baik Tuan," jawab Rea. Kenzo menutup pintu kamar Rea, berbalik dan berjalan ke arah kamarnya.
Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk simpul. Entah kenapa hatinya merasa senang, sudah sangat lama Kenzo tidak merasakan perasaan ini.
__ADS_1
Rea segera mengambil baju yang dibelikan oleh Kenzo dan masuk kedalam kamar mandi.
Rea tidak tahu kemana Kenzo akan membawanya, tapi yang jelas dia harus cepat berdandan agar tidak diomeli oleh Tuan-nya itu.
Lima belas menit kemudian, Rea keluar dari dalam kamar dan berjalan cepat menuju kamar Kenzo.
Tok, tok, tok!
"Tuan, saya sudah siap!" Seru Rea.
Tidak membutuhkan waktu lama, Kenzo langsung membuka pintu kamarnya.
"Ayo tuan, kita akan kemana?" Tanya Rea antusias.
Entah kenapa Kenzo merasa berdebar ketika dekat dengan Rea, dia selalu suka jika berada di dekat pelayan pribadinya itu. Apalagi sekarang Rea terlihat berbeda dengan pakaian yang dibelikan oleh Kenzo. Bahkan Rea memakai pemerah dibibir nya.
'Cantik!'
Biasanya Rea hanya memakai seragam pelayan dan tidak pernah memakai make up, dari dulu Rea memang jarang make up kalau tidak pergi ke acara pesta, itupun hanya natural. Tapi entah sejak kapan gadis itu sudah belajar make up saat di tempat kerjanya ini.
"Ayo tuan, kita akan kemana?"
"Kita akan bertemu dengan Ibu Alfi dan Mea," jawab Kenzo tersenyum.
Rea menutup mulutnya tidak percaya, sungguh saat ini dia ingin menangis saja. Tiba-tiba Rea memeluk Kenzo dengan derai air mata.
"Terima kasih tuan, terima kasih!"
Bersambung.
__ADS_1