
Mea menangis melihat keadaan ibunya yang begitu lemah. Padahal kemarin beliau masih sehat-sehat saja tetapi kenapa sekarang menjadi seperti ini.
"Rea, Mea, kesini, nak," lirih Bu Alfi. Keduanya langsung memeluk ibunya sambil berurai air mata.
"Ibu harus sehat, ya? Rea masih butuh ibu, Vincent juga ingin bermain dengan neneknya, hiks!" Rea tersedu-sedu.
Mea yang biasanya cerewet sekarang menjadi pendiam, dia hanya menangis dan memanggil ibunya saja. Mea merasa tidak bisa mengucapkan apa-apa, firasatnya sejak tadi tidak enak.
"Rea, Mea. Ibu sudah bahagia sekarang melihat kedua Putri ibu hidup dengan baik-baik saja, apalagi Rea sudah mendapatkan jodoh yang begitu baik dan juga memiliki putra yang begitu tampan," Bu Alfi berucap sangat lirih. "Nak Kenzo, tolong jaga anak-anak ibu dan cucu ibu, ya?"
"Tentu saja, Bu. Saya akan selalu menjaga mereka, Mea sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri," jawab Kenzo dengan wajah sendu.
"Pokoknya ibu harus sehat, Mea nggak mau kalau ibu ngomong aneh-aneh seperti ini," ujar Mea yang baru membuka suaranya.
__ADS_1
Bu Alfi tersenyum tipis, wajahnya sudah semakin pucat. Kelvin yang melihat hal itu langsung mendekat dan mencium tangan ibu dari wanita yang dicintainya.
"Bu, saya mau minta izin untuk menjaga Mea hingga akhir hayat saya. Sepertinya saat ini saya ngomong di saat yang tidak tepat tetapi selagi masih diberi kesempatan saya akan mengutarakan keinginan saya," ujar Kelvin.
Mea dan Kenzo menatap Kelvin dengan tatapan yang sulit diartikan, sedangkan Rea sudah bisa memastikan apa yang akan dibicarakan oleh pria itu.
"Ada apa nak Kelvin?"
"Bu, izinkan saya meminang Mea, menjadikan dia istri saya karena saya sangat mencintainya. Saya berjanji akan membahagiakan Mea dan akan menjaganya. Jadi ibu minta restunya untuk menikahinya malam ini juga," ujar Kelvin penuh harap.
"Baiklah nak, kalau memang kamu serius ingin menjaga putriku dan ingin menikahinya, aku akan memberikan restu."
"Bu ...."
__ADS_1
"Mea, nak Kelvin sudah melamar mu, ibu merestui kalian dan ibu menginginkan kalian menikah malam ini juga, secara siri dulu tidak apa-apa," sela Bu Alfi dengan pandangan lemah.
Tenggorokan Mea tercekat, dia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun untuk menolak lamaran itu, tetapi melihat binar mata sang ibu yang semakin meredup membuat Mea tidak bisa dan tidak tega menolaknya.
Kelvin beralih pada Mea, menatap lekat wajah cantik yang sembab itu. "Malam ini aku ingin mengatakan padamu jika aku sangat mencintaimu. Aku ingin kita mengarungi kehidupan kedepannya dengan ikatan suci pernikahan, disaksikan oleh ibu, Tuan Kenzo, dan juga Nyonya Rea. Maukah kau menjadi istriku, ibu dari anak-anakku, wanita yang setiap malam yang akan menemani tidurku?"
Mea menatap wajah ibu dan kakaknya secara bergantian, keduanya hanya mengangguk sambil tersenyum dan itu artinya kakak dan ibunya memang sangat menyetujui jika dia harus menikah dengan Kelvin.
"Tapi aku masih kuliah aku masih belum siap jika harus menikah," kali ini Mea berusaha mengutarakan isi hatinya. Karena sejujurnya dia memang belum siap untuk terikat oleh pernikahan apalagi dengan dadakan seperti ini.
"Nak, ini adalah permintaan ibu yang terakhir, tolong kabulkan. Menikahlah dengan Tuan Kelvin karena menurut ibu dia pria yang baik dan yang pasti bisa menjagamu di saat ibu sudah tidak ada di dunia ini."
Kenzo yang mengerti situasinya langsung menyuruh orang-orangnya untuk mencari seorang ustadz. Dia melihat jika kondisi mertuanya memang sudah tidak lama lagi.
__ADS_1
Akhirnya malam itu juga mendatangkan seorang ustadz untuk menikahkan Kelvin dan Mea secara siri sesuai dengan keinginan sang ibu. Meskipun Mea terlihat sangat enggan tetapi dia juga tidak berani membantah keinginan ibunya. Hanya air mata yang mewakili perasaannya malam itu. Sama sekali tidak ada persiapan apapun. Meskipun begitu ia melihat jika Kelvin sangat begitu siap untuk menjadi imamnya.
Bersambung.