
Happy Reading.
Rea menatap bingung ke arah tuannya yang sejak tadi hanya cemberut saja. Rea tidak tahu kenapa Tuan Kenzo bersikap seperti itu. Setelah acara makan tadi akhirnya mereka melanjutkan perjalanan, tapi ada perasaan yang mengganjal di hati Rea.
Rasanya Tuan Kenzo menjadi semakin pendiam dan auranya terlihat menakutkan. Rea sejak tadi gelisah dan ingin tahu apa yang terjadi dengan Tuan Ken.
Akhirnya setelah berdiam cukup lama dan situasi yang tiba-tiba berubah jadi sangat canggung, Rea memberanikan diri bertanya pada Kenzo.
"Tuan, kenapa Anda sejak dari restoran tadi hanya diam saja, apakah tuan sakit?" Tanya Rea yang kini sudah sepenuhnya menghadap ke arah Kenzo.
Kelvin yang mendengar pertanyaan Rea hampir saja menyemburkan tawanya.
Ternyata Rea memang sangat tidak peka, wanita itu terlalu lugu dan polos sehingga tidak mengetahui jika suasana hati Tuan Kenzo menjadi buruk Karena cemburu.
Kenzo masih diam, dia malah berpura-pura sibuk dengan gawainya, dan itu tentu saja membuat Rea semakin jika suasana hati Tuan-nya itu sedang buruk.
Sedangkan Kenzo sendiri entah mengapa dia sejak tadi memang merasa sedikit marah terhadap pelayan pribadinya itu. Kenzo tidak tahu apa penyebabnya, hanya saja dia merasa tidak suka saat melihat Rea akrab dengan lelaki lain bahkan mereka terlihat begitu dekat.
"Tuan, kalau sakit mending kita mampir ke apotik untuk mencari obat," ujar Rea lagi.
Kenzo menghela nafas, sungguh dia memang marah dengan Rea karena masalah tadi. Bukan karena dia pusing atau apapun. "Aku tidak apa-apa, hanya sedang memantau pekerjaan lewat ponsel, jadi kau tidak perlu khawatir," jawab Kenzo mengangkat tangannya mengelus lembut rambut Rea.
__ADS_1
Kenzo tidak suka melihat tatapan khawatir Rea, dia tidak bisa juga berlama-lama merajuk seperti ini.
"Oh, saya kira Tuan sakit," Kenzo tersenyum dan menggeleng pelan. Entah kenapa dia sangat suka dengan perhatian dari Rea. Wanita yang sudah mencuri perhatiannya sejak awal masuk ke kediamannya.
"Sebentar lagi sampai Tuan, nanti belokan itu terus lurus saja, ada perempatan ambil kiri dan rumah saya di belakang mushola," ujar Rea antusias.
Kelvin sedari tadi tersenyum melihat kedua orang di kursi belakang itu. Pria itu merasa jika Rea benar-benar gadis yang tulus dan jujur. Gadis itu akan berkata tidan dan iya jika didalam hatinya itu yang dipilih.
Kelvin juga merasa jika Kenzo suka dengan Rea, karena selama ini belum ada yang pernah diperlakukan seperti itu oleh Kenzo. Kenzo tidak pernah mengantarkan pelayannya pulang hanya untuk menjenguk ibunya.
Tapi dengan Rea, Kenzo terlihat berbeda, semua tentang gadis polos itu adalah murni dari hati Tuan-nya.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di halaman rumah Rea yang memang berada di belakang mushola. Tapi rumah itu berada di depan jalan yang masuk ke dalam gang sehingga mobil pun bisa masuk.
Mendengar suara mobil yang datang membuat Mea yang berada di dalam rumah langsung membuka pintu, dan alangkah terkejutnya saat gadis yang masih berseragam SMA itu melihat siapa yang datang. "Kakak!!" Seru Mea berlari ke arah Rea.
Rea langsung memeluk adiknya erat, dia begitu rindu dengan saudari satu-satunya itu. "Kakak kok nggak kasih kabar kalau mau pulang?"
"Loh, nomor kamu aja nggak bisa dihubungi,, gimana kakak kasih kabarnya?" Mea langsung menepuk jidatnya.
"Maaf kak, ponsel Mea hilang dan baru beli kemarin, itupun dengan uang yang ditransfer sama kakak, tapi sayangnya Mea nggak hapal nomor kakak," jawab gadis manis itu dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya.
__ADS_1
"Ehemm!" Di belakang Kenzo berdehem.
"Ya Allah, sampai lupa Tuan, mari silahkan masuk di gubuk reot saya, mari Tuan Kelvin dan Tuan Edi," Rea mempersilahkan masuk tamunya.
"Ibu lagi apa Me?"
"Baru istirahat kak, tadi selesai mandi, makanya Mea belum sempat ganti baju," jawab Mea.
Rea melangkah cepat menuju ke kamar ibunya, dia melihat sang ibu yang tengah berbaring sambil menutup matanya.
"Assalamualaikum bu," salam Rea.
Bu Alfi membuka mataku ketika mendengar suara yang sangat dirindukan, "wa'alaikumsalam, Rea! Kamu pulang nak?"
Rea langsung memeluk ibunya erat, air matanya menetes seketika, sungguh dia benar-benar merindukan wanita yang telah melahirkannya ini. Wanita pemilik surganya, demi sang Ibu, Rea sampai rela bekerja jauh di kota agar ibunya bisa berobat dan juga adiknya bisa sekolah.
Sungguh bakti Rea tidak akan pernah bisa tergantikan dengan seluruh pengabdian sang ibu yang dulu selalu memberikan terbaik untuk kedua orang putrinya yang sudah yatim sejak kecil.
Mea yang melihat temu kangen kakak dan ibunya langsung ikut berpelukan. Ketiga perempuan beda generasi itu sama-sama menangis melepas rindu.
Bersambung.
__ADS_1