
Happy Reading.
Mea turun dari mobil yang mengantarkan nya ke sekolah. Sebenarnya Mea tidak mau di antar pakai mobil, biasanya dia naik motor butut saat di desa. Tapi sepertinya Kenzo tidak bisa dibantah dan harus menuruti aturannya.
Lihatlah bagaimana dia sekarang menjadi pusat perhatian di sekolah barunya itu. Dengan seragamnya yang masih seragam yang dulu karena seragam barunya belum jadi.
Suit!
Suit!
Suit!
"Woi ada anak baru!"
"Cantik guys!"
"Tapi kok katrok! Lihat tuh pakaiannya!"
"Dia kan belum ganti seragam, kalau udah ganti juga bakalan nggak katrok kok!"
"Tapi dari seragamnya itu sepertinya dari kampung, berarti dia kampungan,, hahahaha!"
Mea menggeram dalam hati, sebenarnya ingin sekali dia menunjuk satu persatu orang-orang yang telah nyinyiran dia seperti itu, tapi Mea ingat kalau dia adalah siswa baru dan tidak akan mempermalukan Tuan Kenzo.
"Biarpun cantik tapi dia kampungan, gue mah ogah!"
"Gue doyan kok, biarpun kampungan tapi putih cantik gitu!"
"Elo mah apa-apa doyan! Huu!"
Sebar Mea!
Akhirnya Mea memilih tidak memperdulikan ocehan ocehan yang terdengar di telinganya. Dia tahu kalau pasti akan menjadi bahan olokan di sekolah barunya yang memang sekolahan elit ini.
__ADS_1
Tapi mungkin ada benarnya, jika dia memang terlihat kampungan karena dari seragam sekolahnya saja sudah sangat berbeda. Seragam Mea adalah seragam khas anak-anak SMA di seluruh Indonesia, sedangkan seragam di sekolah ini sudah taraf internasional seperti seragam anak-anak SMA di Korea ataupun di Jepang.
Setiap mata memandang ke arahnya seakan dia seperti hama yang menjijikan. Terlihat dari wajah mereka, bahkan tidak sedikit yang dengan terang-terangan mengejeknya.
BRUKK!
"Eh, maaf! Aku nggak sengaja!" Mea menabrak seorang cowok didepannya. Sepertinya dia memang tidak berkonsentrasi karena mendengar ocehan-ocehan tidak bermutu di telinganya.
"Kalau jalan pakai mata!" Ujar cowok tersebut kemudian berlalu begitu saja.
"Wow, Devan barusan di tabrak sama cewek baru kampung itu guys!"
"Devan hati-hati nanti kamu kena virus loh!"
"Aduh, Devankuhh,, sini tak semprot disinfektan biar bakterinya mati!"
Mea mendengar semua suara itu dan menatap ke arah punggung cowok yang tadi dia tabrak. Oh jadi namanya Devan, sepertinya dia itu cowok idola di sekolah ini. Tapi sayang sejak awal aku lihat dan menilai dia itu cowok yang sombong dan tidak berperasaan. Batin Mea.
Mea masih berjalan menuju ke arah gedung di mana ruang kepala sekolah berada. Meskipun tidak ada yang memberitahukannya di mana gedung kepala sekolah, gadis itu terpaksa mencarinya sendiri karena dia tidak mau bertanya dengan siswa-siswa yang ada di sekolah ini.
Bagi Mea, semuanya hanya murid yang banyak tingkah dan sombong. Kesombongan nya karena mereka merasa jika memiliki banyak uang dan tajir melintir padahal mereka lupa kalau semua itu hanya milik orang tua mereka, kalau orang tua mereka tidak terlahir dari kalangan orang kaya sudah dipastikan mereka juga akan hidup miskin seperti dirinya.
Semuanya hanya karena ketidak beruntungan dan takdir. Mea hanya perlu menjalaninya dengan enjoy dan tidak perlu merasa rendah diri.
Tepat beberapa meter di depannya terlihat tulisan di atas pintu yang bertuliskan jika itu adalah ruangan kepala sekolah. Mea langsung berinisiatif untuk mengetuk pintu tersebut.
Tok, tok, tok
Terdengar sahutan dari dalam menyuruh tamunya masuk. Akhirnya Mea membuka pintu setelah mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan demi berhadapan dengan kepala sekolah di sekolahan Elit ini.
"Duduklah, kamu adik iparnya Tuan Kenzo ya?"
Mea mengangguk, "iya Pak," jawab gadis itu tanpa rasa gugup sama sekali. Sepertinya memang Mea ini sudah terbiasa menghadapi orang-orang penting seperti pria di depannya ini. Mea juga sering mengikuti lomba ataupun turnamen saat di sekolahnya yang dulu, sehingga dia bisa mengontrol kegugupannya.
__ADS_1
Mea bisa melihat jika kepala sekolah ini terbilang cukup mudah mungkin usianya sekitar 36 atau 37 tahun.
"Nama saya Pak Andi Nugroho, selaku kepala sekolah di sini," ujar Pak Andi.
"Baik Pak," jawab Mea
"Mulai hari ini kamu bisa bersekolah di Internasional school ini karena Tuan Kenzo sendiri yang mengatakan langsung pada saya jika adik iparnya akan bersekolah di tempat ini, hal itu merupakan suatu kebanggaan yang luar biasa karena apa Kenzo mempercayai sekolah ini untuk adik iparnya, semoga kamu betah dan kamu akan langsung masuk di kelas 12 favorit. Ayo ikut saya," ujar Pak Andi berdiri dari duduknya.
Mea juga ikut berdiri dan berjalan mengikuti Pak Andi untuk menuju ke kelasnya. Gadis itu hanya berharap jika di kelasnya nanti dia tidak akan dibully hanya karena penampilannya yang kampungan.
Di sisi lain
Anjani menyelinap masuk ke dalam basement dimana mobil Kelvin terparkir, dia sudah berjanji kepada Juan akan menyabotase mobil Kelvin. Anjani tahu bagaimana peraturan di kantor tersebut karena dia pernah bekerja selama seminggu di sana.
Anjani juga tahu di mana parkir juga karyawan dan juga para bos besar. Karena hal inilah yang membuat Juan meminta dirinya yang beraksi daripada menyewa orang-orang luar yang belum tentu paham Di mana letak mobil Kelvin.
"Itu dia mobil Kelvin," gumam Anjani yang sudah menutupi wajahnya dengan masker dan juga memakai topi, dia berdandan layaknya karyawan biasa sehingga tidak ada yang mencurigainya.
Misinya kali ini disuruh oleh Juan untuk menggunting kabel rem yang ada di bawah mobil. Anjani sudah belajar dan tahu di mana letaknya.
Dengan gerakan cepat Anjani berjongkok dan masuk ke kolong bawah mobil secara kilat, Anjani langsung menemukan apa yang dituju dan dia langsung memotong kabel tersebut.
"Semoga saja rencanaku kali ini berhasil, misi pekerjaan ini sudah ku lakukan, entah bagaimana nanti Kelvin dan Kenzo nanti! Aku sudah tidak peduli, yang penting anakku selamat!" Gumam wanita itu dan kemudian keluar dari tempat tersebut.
Ternyata Anjani masih harus memantau bagaimana perkembangan pekerjaan yang sudah dia lakukan, Juan meminta Anjani melihat sendiri mobil yang dia sabotase dikemudikan oleh Kelvin dan Kenzo di dalam sana. Tentu saja bayarannya harus sebanding dengan apa yang dia kerjakan.
Setelah seharian Anjani menunggu di salah satu warung yang berhadapan dengan kantor Kenzo, sampai dia memberikan uang kepada sang pemilik warung agar diberikan izin untuk berada di situ sampai sore, sekitar jam 04.00 sore mobil itu keluar dari dalam kantor.
Anjani memberikan bukti pada Juan jika mobil Kelvin sudah terlihat keluar.
"Oke, tugasku sudah selesai bukan?"
"Baiklah kamu boleh kembali ke rumah."
__ADS_1
Anjani tersenyum lega, akhirnya dia telah menyelesaikan tugasnya yang lumayan cukup berat itu. Anjani sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putrinya Isabelle. Karena dia melakukan semua ini hanya untuk sang putri.
Bersambung