Ranjang Panas Tuan Muda

Ranjang Panas Tuan Muda
Episode 82


__ADS_3

Happy Reading.


Kelvin tersenyum saat melihat wanita yang sudah menjadi istrinya itu terlihat panik. Tentu saja dia tidak akan melakukan itu kalau Mea belum siap. Kelvin tidak akan pernah memaksanya untuk melayani di atas ranjang, menjadikan Mea sebagai istrinya saja dia sudah sangat bersyukur.


"Hahaha, jangan tegang gitu dong aku cuma bercanda," ujar Kelvin tertawa. Mea mendengus. Tentu saja dia tidak siap jika disuruh melayani Kelvin malam ini juga. Berdekatan dengan Kelvin saja sekarang begitu canggung. Berbeda dengan dulu di mana mea masih mengejar Kelvin.


"Ya sudah, Aku mandi dulu ya?" ucap Kelvin. Mea hanya diam saja, dia masih merasa takut berduaan di dalam kamar dengan pria itu. "Sayang, jangan takut. Aku tidak akan meminta hak ku jika kamu belum siap, aku benar-benar sayang sama kamu," Kelvin mengusap rambut Mea. Kemudian berjalan masuk ke kamar mandi.


Mea menghembuskan nafas lega, sungguh dia belum siap untuk bisa langsung beradaptasi menjadi istri Kelvin. Meskipun masih ada rasa di hatinya untuk pria itu, tetapi dia masih takut jika Kelvin hanya menjadikannya sebagai pelarian ataupun karena merasa kasihan terhadapnya.


Mea memutuskan berbaring di ranjang, dia merasakan tubuhnya begitu lemas. Lelah sudah pasti, lelah hati dan pikiran. Saat akan memejamkan mata tiba-tiba ponselnya berdering.


Mea mengabaikan panggilan itu, dia mengambil selimut milik Kelvin, menutup tubuhnya dengan selimut itu dan berusaha untuk tidur.


Ponselnya berdering kembali, Mea merasa kesal dengan orang yang mengganggunya malam-malam begini. Akhirnya dia meraih Hp nya yang berada di saku, dia mengernyit ketika mendapati nomer baru yang meneleponnya.


"Apa ini nomer Devan yang baru?" gumam Mea


Dia ingat bahwa Devan mengatakan jika nomornya ganti. Akhirnya dengan sangat malas Mea mengangkat panggilan itu.


"Halo?"


Hening ... Mea melihat jika panggilannya masih terhubung.


"Hei, siapa ini? kenapa malam-malam telepon? Apa ini nomornya Devan? Aku mengantuk sekali, lebih baik kita bicara besok saja di kampus, oke?"


Masih hening ...


"Baiklah, selamat malam!"


Tut ...


Mea mematikan panggilan nya karena tidak mendapat jawaban, mungkin sinyalnya sedang jelek pikirnya.


Sedangkan Kelvin yang sudah selesai mandi mendengar jika istrinya baru saja memanggil nama pria lain. Entah kenapa Kelvin benar-benar tidak suka melihat istrinya itu masih berhubungan dengan teman kampusnya itu? Padahal jelas-jelas seharusnya Kelvin tidak perlu cemburu berlebihan. Pria itu tidak jadi keluar dari kamar mandi karena masih berusaha meredam amarahnya. Kelvin tidak suka jika memang dihubungi oleh laki-laki lain.


"Mea, aku tidak suka kamu menyebut pria nama pria lain ketika berada di kamar kita, gumam Kelvin menghirup udara dalam-dalam.


Beberapa Minggu ke belakang dia belum sadar bahwa selama ini Mea selalu ada untuknya, hampir tiap hari gadis itu menyempatkan diri untuk menyapa dan memberikan perhatiannya. Selalu memberi pesan dan perhatian yang romantis. Dan rasa ketergantungan itu sudah hadir dengan sendirinya hingga dia menyadari jika dirinya telah jatuh cinta pada Mea.


"Kamu mau mandi?" tanya Kelvin saat melihat Mea yang hanya rebahan di kasur.


"Aku sudah mandi sore tadi, sekarang aku ngantuk banget, aku tidur duluan, ya?" Mea langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, dia takut kalau Kelvin khilaf menyerangnya.


Kevin hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, kemudian dia ikut berbaring di samping Mea dan menarik tubuh gadis itu untuk dipeluk.


***


Keesokan paginya.


Kelvin sengaja mengajak Mea ke kantor terlebih dahulu untuk mengambil berkas yang akan di serahkan pada Kenzo sebelum dia mengantar Mea ke kampus.


"Kelvin, akhirnya kamu datang," seru seorang wanita yang tak lain adalah Karina.


Wanita itu mematung melihat Kelvin yang datang bersama seorang gadis dan saling berpegangan. Ya, Karina sangat tahu itu adalah Mea.


Kelvin menatap sinis pada Karina, kenapa wanita itu bisa berada di kantor? sedangkan Mea melepaskan kasar tangannya dari genggaman Kelvin.


"Siapa yang menyuruhmu masuk keruangan ku?" seru Kelvin

__ADS_1


"Mea, ternyata benar gadis ini yang membuatmu memutuskan ku dan nggak mau kembali lagi kan?" tanya Karina menahan amarahnya. "Kamu tuh cuma di pelet sama dia, ayok kamu ikut aku, kamu butuh di rukyah biar setannya pergi!"


Mea merasa begitu geram dengan hinaan wanita itu, dia malas berdebat dan memilih berbalik akan pergi dari ruangan tersebut. Tetapi tangannya dicekal oleh Kelvin dan langsung menariknya kedalam pelukannya.


Karina semakin meradang dan emosi. "Gadis jal*ng, kamu merayu pasti merayu Kelvin untuk meninggalkanku 'kan? Kamu pasti guna-guna dia!" Karina berhenti berteriak, matanya melotot sempurna ketika mendapati pemandangan dihadapannya itu.


Kelvin yang tidak suka dengan sikap Karina yang semena-mena akhirnya semakin merapatkan tubuhnya pada Mea.


Kelvin mencium bibir Mea, ******* bibir manis nya itu. Mea memukul dada Kelvin keras saat pria itu menarik tengkuknya memperdalam ciuman nya.


"Kalian berdua brengsekk!" teriak Karina


Dia mengambil tasnya dan akan pergi dari ruangan itu.


"Ingat! jangan pernah kembali kesini lagi!!" seru Kelvin yang sudah melepaskan ciumannya.


Karina membuka pintu dan membantingnya keras.


Plaakk ... !!!!


Mea menampar pipi Kelvin, dia sekarang benar-benar emosi jiwa. Kelvin seakan melecehkannya di depan Karina, dia tidak terima digitukan.


"Maafkan aku, sayang," ucap Kelvin


"Apa kamu hanya memanfaatkan aku!!" teriak Mea.


"Tidak sayang, aku tidak tahu kalau wanita itu kesini, dia terus saja menggangguku, padahal aku sudah memutuskan hubungan dengannya"


"Lalu apa maksudmu mencium ku dihadapannya? apa kamu kira aku hanya alat untuk mengusir wanita itu!"


"Sayang, aku bisa jelaskan—"


Kelvin tersenyum melihat Mea yang sudah tidak marah padanya.


"Baiklah sayang aku akan memesankan makanan dulu."


"Hei tuan Kelvin, tapi kamu jangan menyalah artikan, aku masih marah padamu dan butuh energi untuk berdebat denganmu lagi," ucap Mea cuek.


"Tentu saja sayang, dengan senang hati aku akan meladeni debatanmu sampai nanti malam, bahkan di atas ranjang juga," jawab Kelvin tersenyum menyeringai.


Mea tidak menggubris ucapan Kelvin, yang dia pikirkan sekarang adalah harus segera mengisi perutnya dan pergi dari ruangan itu secepat mungkin.


Bersambung.


Hai, aku ada rekomendasi karya bagus loh.


Judul : MY SEXY HUSBAND


Author : Ayu Andita



Satu lagi Karya sahabat ku, gak kalah keren juga



Cuplikan bab:


"Aduh!" rintih Rania sambil berjalan memegangi kakinya. Junior tampak kasihan melihat Rania kesusahan berjalan, bocah itu pun tanpa pikir panjang segera berlari ke kamar sang papa.

__ADS_1


"Junior! Kamu mau kemana, Sayang? Jangan lari-lari nanti jatuh!" teriak Rania kepada putra sambungnya.


"Sebentar, Ma. Mama tunggu di situ saja!" seru Junior sambil terus berlari ke kamar sang papa.


Sesampainya di kamar Evan. Junior mengetuk pintu depan cepat. "Pa, Papa! Buka pintunya, Pa!" seru bocah itu dengan nafas ngos-ngosan.


Evan yang baru saja membuka kemeja dan sedang bertelanjang dada, ia langsung membuka pintu saat mendengar suara sang anak.


"Junior! Ada apa, Sayang? Kamu kenapa?" tanya Evan yang langsung panik melihat putranya.


"Ayo, Pa! Ikut Junior!"


Junior segera menarik tangan sang papa yang saat itu masih dalam kondisi telanjang dada.


"Eh kamu mau bawa papa kemana? Papa sedang nggak pakai baju, Jun!" sahut Evan sambil menahan tangan putranya.


"Nanti aja pakai bajunya. Ini gawat darurat, Pa!" sahut bocah itu sambil terus menarik tangan sang papa untuk turun dari tangga.


"Gawat darurat??" Evan tampak bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.


Junior mengajak Evan turun dan menghampiri Rania yang sedang kesusahan berjalan. Sesampainya di lantai bawah. Junior segera menghempaskan Rania dan menyuruh sang papa untuk membantu ibu sambungnya.


"Itu, Pa. Tolongin mama, Pa! Kasihan mama nggak bisa jalan, Pa!" seru Junior sambil menunjuk ke arah Rania yang sedang berusaha berjalan pelan-pelan.


Evan terkejut langsung melihat ke arah Rania yang juga terkejut dengan kedatangannya tanpa memakai baju. Sontak, Rania langsung memalingkan wajahnya karena matanya langsung melihat kondisi Evan yang sedang bertelanjang dada.


"Hah! Papa harus bantu dia?"


"Iya, Pa! Ayo, Pa! Jangan dilihat mulu. Kasian mama!" Junior terus memaksa sang papa untuk membantu Rania ke kamarnya.


"Ta-tapi!"


"Udah nggak usah tapi-tapian. Cepetan, Pa! Lama banget sih!"


"Iya iya, haahhh ada-ada saja!" gerutu Evan sambil mendekati Rania atas permintaan sang anak. Dengan kondisinya yang sedang tidak memakai baju. Evan berkata kepada dengan tidak menoleh ke arah sang istri.


Pria itu tiba-tiba berjongkok dan menawarkan punggungnya untuk Rania naiki. Sontak, Rania terkejut saat Evan tiba-tiba berjongkok dengan membelakangi dirinya.


"Kamu ngapain?" seru gadis itu sembari berjalan mundur.


"Udah jangan banyak bicara! Cepat naik!" titah Evan.


"Naik? Ke situ!"


"Enggak, naik ke genteng! Ya naik ke punggung lah. Cepetan, aku mau mandi!" sahut Evan sambil terus berjongkok menunggu Rania untuk naik ke punggungnya.


Junior pun meminta Rania untuk naik ke punggung sang papa. "Ayo, Ma! Naik aja. Biar kaki mama nggak sakit!" pinta bocah itu.


"Ta-tapi! Papa kamu belum mandi. Pasti bau keringat!" ucap Rania beralasan.


"Udah nggak usah tapi-tapian. Bawel amat sih. Buruan sebelum aku berubah pikiran nih!" sahut Evan yang langsung dibalas oleh Rania.


"Iya iya, judes banget jadi cowok!" sahut Rania yang akhirnya ia pun mulai naik ke punggung suaminya.


Dengan sangat pelan, Rania beranjak untuk naik ke punggung Evan. Ia melihat punggung bidang itu terlihat begitu kuat. Tentu saja ada sesuatu yang membuat Rania tidak nyaman. Apalagi tubuhnya begitu dekat dengan pria yang sangat membuatnya kesal itu.


Di saat Rania sudah berada di atas punggung sang suami. Seketika Evan membulatkan matanya saat ia merasakan ada sesuatu yang terasa mengganjal di punggungnya.


"Shiiit! Sepertinya cukup besar!" gumam pria itu sambil tersenyum smirk.

__ADS_1


__ADS_2