
Happy Reading.
Mea melihat sebuah bangunan besar di hadapannya, gedung tinggi bertingkat itu benar-benar tinggi dan sangat besar. Meskipun dia sering melihat gedung-gedung menjulang tinggi seperti ini, tetapi Mea tidak pernah masuk ke dalamnya. Ya, dia bisa tinggal di rumah tuan Kenzo yang begitu mewah itu saja rasanya masih belum bisa dipercaya, tentu selama 17 tahun hidupnya, gadis itu hanya hidup di desa dan tidak pernah melihat tempat-tempat yang menunjukkan seperti ini hanya selama tinggal di sini saja Mea bisa melihat tanpa memasuki.
"Ayo sayang, kita masuk," ujar Kelvin menarik tangan gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu dengan lembut. Mea hanya menurut saja. Dia masih terkagum-kagum dengan bangunan mewah yang dia masuki kali ini.
"Ini kita mau kemana?" tanya Mea polos.
"Ke apartemenku, Mea. Kenapa?"
"Apartemenmu? Apa aku harus ikut juga?"
Kelvin mengerutkan keningnya, "ya tentu saja, kamu 'kan istriku," jawab pria itu merasa gemas.
"Jadi kamu selama ini tinggal di gedung apartemen seperti ini?"
"Iya, aku hanya tinggal sendiri karena kedua orang tuaku sudah tidak ada," jawab pria itu.
Mea hanya mengangguk, dia sudah tahu jika kedua orang laki-laki itu memang sudah tidak ada.
__ADS_1
Apartemen Kelvin memang terletak di kawasan apartemen elit di pusat kota. Hanya orang-orang kaya dan banyak duit yang bisa membelinya.
"Tuan Kelvin, apa kabar?" seorang wanita muda menghentikan langkah Kelvin dan Mea karena menyapanya. "Apa Anda sudah pulang bekerja? Siapa gadis ini?" tanya wanita itu beruntun. Menatap Mea dari atas ke bawah dan tersenyum meremehkan.
Kelvin diam sejenak, wanita di hadapannya ini adalah tetangga apartemennya yang memang selalu ramah terhadapnya. Bahkan terkadang wanita itu sering modus ingin meminjam pisau dapur atau meminjam kamar mandi karena air kamar mandinya tidak bisa mengalir.
Sedangkan Mea yang ditatap seperti itu hanya menyunggingkan senyum sinis. Terlihat sekali jika wanita di hadapannya ini tertarik dengan Kelvin. Mea sedikit terkejut ketika merasakan pinggangnya ditarik mendekat oleh pria di sampingnya ini.
"Perkenalkan ini istriku, namanya Mea," ujar Kelvin.
"Hahaha Tuan Kelvin ini memang suka sekali bercanda, masak anak kecil ini istri Tuan, pasti dia anak yang suka ngajar-ngejar Tuan 'kan jadi sekarang dia nempel seperti itu," wanita itu tertawa mendengar ucapan dari Kelvin, tidak percaya dan malah menuduh Mea yang tidak-tidak.
"Aku tidak bercanda," jawab Kelvin dengan wajah yang datar. Membuat wanita itu seketika langsung diam dan merasa sedikit takut melihat ekspresi wajah Kelvin yang terlihat tidak senang. "Memang gadis cantik ini adalah istriku, kami baru saja menikah. Kalau sudah ada waktunya kami akan mengadakan resepsi dan kau pasti akan aku undang," setelah mengatakan hal itu Kelvin langsung mengajak Mea masuk ke dalam lift tanpa menghiraukan ekspresi dari wanita tersebut yang sudah melebarkan rahangnya.
"Masa sih tuan Kelvin menikah dengan bocah seperti itu?" gumam wanita tadi masih tidak percaya.
Sedangkan Mea dan Kelvin sudah keluar dari dalam lift dan langsung berjalan menuju ke unit apartemen milik Kelvin. "Ini apartemen ku, mulai hari ini kamu tinggal di sini, ya?" Mea menoleh dan melihat Kelvin yang memasukkan kata sandi untuk membuka pintu tersebut.
"Ayo, silakan masuk," ujar Kelvin menyambut Mea seperti tamu istimewa.
__ADS_1
Ya, memang Mea adalah tamu istimewanya karena beberapa menit yang lalu gadis itu sudah resmi menjadi istrinya meskipun siri. Mea sendiri sebenarnya telah menahan kesal, dia tidak suka dengan sambutan wanita yang bertemu di lobby tadi.
Mea berdiri sambil bersedekap dada dia memandang Kelvin dengan tetapan tajam. "Siapa sih wanita tadi? Aku nggak suka ya dia menatap remeh seperti itu ke arahku?"
Kelvin terkejut melihat ekspresi Mea. Terlihat jika Mea memang menahan amarah.
"Sayang, jangan cemburu gitu dong? Dia itu tinggal di unit yang sama denganku, berjarak 2 pintu dari sini dan wanita itu memang suka sekali menggangguku, jadi nggak usah dimasukin ke hati apa yang diucapkan tadi, ya?" ujar Kelvin. Sepertinya dia akan membuat perhitungan dengan wanita yang bernama Yulia itu.
"Kenapa kamu membela dia? Seakan tidak mau kalau aku marah sama dia? Lagian siapa juga yang cemburu? Aku cuma marah karena wanita itu sangat tidak sopan sama aku, ngata-ngatain segala!" seru Mea. Memutuskan duduk di sofa dan langsung memainkan ponselnya untuk mengalihkan diri agar tidak terlalu terlihat kesal.
Kelvin tersenyum senang melihat Mea yang pertama kali marah setelah berstatus sebagai istrinya. "Aku tuh nggak membela dia, sayang. Aku cuma nggak mau kamu berkecil hati hanya karena ucapan wanita itu. Sudah ya jangan marah, lebih baik kita ke kamar dulu, ayo!" Kelvin kembali menarik tangan Mea, tetapi tiba-tiba di hempaskan begitu saja.
"Kok kamar kita?" tanya Mea kali ini wajahnya berubah menjadi takut. Entah kenapa dia jadi membayangkan hal-hal yang tidak-tidak. Sejujurnya Mea belum siap memiliki seorang suami apalagi harus buka segel.
"Duh, Mea. Kok pikiran kamu malah langsung ke sana sih?" batin gadis itu.
"Iya, kamar kita. 'kan kita sudah menikah, jadi harus tinggal sekamar. Aku nggak mau ada yang namanya pisah kamar, karena aku menikah bukan untuk main-main, jadi kamu juga wajib memperlakukan aku sebagai suami dan memberikan nafkah batin," jawab Kelvin membuat Mea langsung jantungan.
Bersambung.
__ADS_1