
Happy Reading.
"Keliatannya ini bagus deh, pasti cocok buat kak Rea," ujar Mea memperlihatkan sebuah kalung berlian dengan liontin angsa kecil dan di tengahnya ada sebuah berlian kecil namun terlihat begitu indah.
"Ya, ini memang bagus. Mending yang ini aja kalau memang menurutmu ini cocok untuk Nyonya Rea," ucap Kelvin setuju dengan pilihan Mea. Pria itu sejak tadi tidak henti-hentinya tersenyum sambil menatap wajah Mea yang entah kenapa sekarang terlihat semakin cantik saja.
Oalah, Vin. Mea emang udah cantik sejak dulu. Baru sadar? Matamu aja yang buta dan tidak mau melihat kalau Mea memang cantik sedari lahir. Batin author.
"Oke, kita beli yang ini saja. Mbak, tolong bungkus kalung angsa ini aja ya," ucap Mea menyerahkan kalung tersebut kepada pelayan toko.
"Baik mbak, di tunggu sebentar, ya?" Pegawai toko perhiasan itu langsung mengambil kartu milik Kenzo yang dibawa oleh Kelvin untuk membayar kalung tersebut.
Selagi menunggu pesanan di bungkus, Mea melihat-lihat ke dalam etalase cincin. Di sana banyak sekali jenis cincin yang mulai dari model terbiasa hingga model yang begitu wah. Matanya tidak lepas pada sebuah cincin yang memiliki permata sebuah kupu-kupu kecil di tengahnya. Mata Mea terlihat berbinar dan juga bibirnya membentuk lengkungan senyum seperti bulan sabit.
"Ini pasti sangat mahal sekali, tapi bagus banget," batin Mea.
Pemandangan tersebut tidak lepas dari tatapan mata Kelvin. Matanya teralih menuju ke arah pandangan mata Mea. Pria itu melihat sebuah cincin cantik dan memiliki kupu-kupu kecil di tengah dan sepertinya cincin itu membuat Mea tertarik.
"Ini Mbak, cincinnya sudah kami bungkus," tiba-tiba pegawai toko membuyarkan lamunan Mea dan memberikan paper bag kecil yang bertuliskan nama tempat toko milik mereka.
"Terima kasih Mbak," jawab Mea.
"Udah?"
"He-em, ayo pulang. Aku laper," ajak Mea. Kelvin menurut dan akhirnya mereka pulang ke rumah karena hari juga sudah mulai petang.
"Nanti malam kita Video call, ya?" Mea memicingkan matanya.
"Mau ngapain?" Kelvin mengusap tengkuknya salah tingkah.
__ADS_1
"Ya ngobrol, pengen kalau sebelum tidur tuh liat kamu," jawab Kelvin.
"Ihh, Kelvin apaan sih, kenapa sekarang jadi kamu yang kek gini?"
"Ya kan emang sekarang aku yang bakal ngejar kamu, memangnya kamu nggak mau? Katanya aku nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan?"
Blush!
Pipi Mea jadi merona. Tentu dia merasa senang jika Kelvin berubah seperti ini. Meskipun demikian dia masih belum bisa menerima Kelvin dengan mudah.
"Ya, nanti kalau aku belum tidur, udah ah aku mau masuk," ujar Mea yang langsung berjalan masuk ke dalam rumah sambi membawa paper bag kecil hadiah untuk kakaknya nanti.
Kelvin tersenyum dan langsung masuk ke dalam mobil saat Mea sudah benar-benar masuk. Laki-laki itu melajukan mobilnya ke mall yang tadi dia datangi bersama Mea. Kelvin kembali ke toko perhiasan yang tadi.
"Selama malam, Pak? Ada yang bisa kamu bantu?"
"Baik, Pak. Mau yang ukuran berapa ya?" Kelvin terkejut ketika sang pegawai menanyakan ukuran jari Mea.
"Aduh, kok aku nggak tau kalau seperti itu juga ada ukurannya," gumam Kelvin.
"Gini, kamu masih ingat nggak sama gadis yang sore tadi beli kalung angsa bersama saya?" tanya Kelvin.
Pegawai itu terdiam dan mengingatnya. "Oh, iya. Mbaknya yang cantik dan putih itu kan?"
"Nah, betul! Kalau gadis tadi kira-kira ukuran jemarinya berapa?"
"Sepertinya untuk ukuran mbak nya yang tadi itu di no 6. Kami akan membungkus yang ukuran 6 ya?"
"Ya, bungkus saja," jawab Kelvin.
__ADS_1
***
Kelvin gelisah karena sejak tadi nomor Mea tidak bisa di hubungi, padahal tadi dia minta Mea untuk video call sebelum tidur. "Apa jangan-jangan dia sudah tidur?"
Kelvin sekali lagi mendial nomor Mea, tetapi hanya operator saja yang terdengar. "Ah, Mea. Kenapa sekarang jadi aku yang seperti ini?"
Di sisi lain, Mea memang sengaja mematikan ponselnya karena tidak mau di ajak Video call. Sebenarnya Mea hanya ingin mengetes Kelvin saja. Apakah pria dewasa itu memang serius terhadapnya, ataukah dia hanya di jadikan pelampiasan karena hubungannya dengan Karina kandas.
***
Karina benar-benar mencari tahu siapa Mea dan di mana gadis itu kuliah. Dia merasa tidak terima jika Kelvin sekarang beralih kepada wanita itu. Seharusnya Kelvin masih menjadi kekasihnya, tetapi kenapa sekarang Kelvin dekat dengan gadis yang dulu tidak disukainya itu.
"Aku harus memberikan peringatan pada gadis ingusan itu!"
Karina saat ini tengah berhenti di pinggir jalan masuk universitas tempat Mea kuliah. Wanita itu keluar dari dalam mobil dan berjalan mendekati gedung fakultas di mana Mea berada saat ini.
"Dia mengambil jurusan manajemen bisnis, apa dia akan jadi wanita karir?" gumam wanita itu.
Karina tiba-tiba melihat Mea yang baru keluar dari kelasnya, sepertinya nanti Mea masih ada kelas lagi karena tidak terlihat orang yang menjemputnya dan Mea saat ini tengah berjalan ke arah kantin. Ini akan menjadi kesempatan untuk Karina agar bisa bicara dengan Mea.
Wanita berjalan cepat untuk mencegah Mea, dia harus bisa bicara empat mata hari ini juga.
"Mea, tunggu!"
Mea yang merasa namanya di panggil akhirnya menoleh. Matanya membola ketika melihat seorang wanita yang kini berjalan ke arahnya.
"Ada urusan apa wanita ini mencari ku?" batin gadis itu.
Bersambung
__ADS_1