
Maaf kemarin gak update, baby ku sakit, tadi baru aku pijitin dan sekarang udah tidur 🙏
Enjoy ya, mudah-mudahan gak lupa ceritanya 🥰
Happy Reading.
Kelvin masih senyum-senyum sejak tadi, bahkan sampai jam makan siang pun dia tidak berhenti melunturkan lengkungan di bibirnya itu. Pria itu menatap layar ponselnya dengan fokus dan tidak bisa teralihkan sedikit pun dari benda pipih tersebut. Menunggu seseorang di sana untuk membalas pesannya. Entah kenapa dia merasa deg-degan dan senang di saat yang bersamaan.
Kalau ada yang mengira jika Kelvin sudah jadian dengan Mea, jawabannya adalah salah besar. Kelvin seperti ini hanya karena Mea sudah membuka blokiran nomor Kelvin di ponsel gadis itu. Kelvin menggunakan sedikit ancaman dengan akan mencium Mea jika gadis itu tidak mau menuruti keinginannya. Akhirnya dengan terpaksa Mea membuka blokiran tersebut.
"Kelvin, bagaimana hubunganmu dengan wanita itu?" Kelvin yang tengah fokus kepada ponselnya akhirnya mengangkat wajahnya ketika mendengar pertanyaan dari Kenzo.
"Wanita yang mana, Tuan?" Kenzo berdecak mendengar ucapan Kelvin yang malah balik bertanya.
"Memangnya kamu dekat dengan berapa wanita akhir-akhir ini?"
Kelvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa salah tingkah telah diberi pertanyaan seperti itu oleh bosnya.
"Kalau yang Tuan maksud adalah Karina, saya dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, Tuan, hehehe," jawab Kelvin.
Kenzo semakin memicingkan matanya melihat tingkah laku asisten pribadinya tersebut. "Jadi, kamu gagal lagi menjalin hubungan dengan seorang wanita?"
"Ehm, sebenarnya saya tidak begitu klik dengan dia, Tuan. Nyatanya dia tidak bisa menerima saya apa adanya, jadi lebih baik dilepaskan sekarang daripada nanti akan semakin sakit hati," jawab Kelvin sok bijak.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu jadi pintar dalam masalah seperti ini?" Karena selama ini Kenzo tau jika Kelvin memang sangat awam dengan yang namanya wanita ataupun cinta.
Kelvin akhirnya berfokus pada bosnya itu, dia tidak jadi mengamati ponselnya yang sejak tadi belum mendapatkan balasan dari Mea.
"Ehmm ... Tuan, sepertinya saya sedang dalam fase menyukai seorang wanita dan suka itu benar-benar sangat suka karena tiba-tiba saya merasa merindukannya atau terkadang ingin sekali bisa bertemu dengannya," jelas Kelvin. "Kalau seandainya kita pernah mengecewakan wanita itu dan sampai membuat wanita itu menjauhi kita sebaiknya apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanyanya pada Kenzo.
"Hei, aku bukan pakar cinta ya? Kenapa kau bertanya seperti itu padaku?" Kenzo mendengus mendengar ucapan Kelvin yang menurutnya terasa semakin aneh itu. Jika dulu pria itu selalu berbicara masalah pekerjaan dan pekerjaan, entah kenapa tiba-tiba Kelvin berani membicarakan seorang wanita dan juga sepertinya dia telah meminta pendapatnya.
"Saya sebenarnya sedang galau, Tuan. Dulu saya mengatakan padanya jika saya tidak menyukainya, bahkan mungkin saya telah membuat hatinya terluka dengan membawa wanita lain dan mengenalkannya sebagai pacar, tetapi setelah dia menjauh dan tidak mau bertemu dengan saya, entah kenapa saya merasa galau dan menyesal, saya rindu sama dia," ujar Kelvin.
Kenzo bersedekap dada dan menatap Kelvin dengan tatapan tajam, sepertinya asisten pribadinya itu sedang galau karena masalah cinta.
"Huh, kalau begitu kamu harus meyakinkan diri pada orang yang telah kamu lukai itu, jangan sampai dia merasa jika kamu hanya mempermainkannya saja," jawab Kenzo.
***
Mea baru saja selesai mengikuti mata kuliah siang hari, sejak tadi Mea sama sekali tidak fokus karena ponselnya terasa bergetar di dalam tas. Meski dia berusaha mengabaikan dan fokus kepada pelajaran yang dia ikuti, tetapi tetap saja ada rasa penasaran juga.
Sekarang Mea sudah berada di kantin dan memesan makan untuk mengganjal perutnya. Dia melihat ada lima pesan dari Kelvin dan tiga panggilan tak terjawab dari pria yang sama. Mea tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat tingkah Kelvin yang seperti ini. Apakah Mea boleh senang jika sang pujaan hati akhirnya luluh dan memperlakukannya lebih baik.
"Hai, kamu Mea kan?" Mea menatap sosok tinggi dan tampan di hadapannya ini. "Wah, ternyata benar, jadi kamu juga kuliah di sini?"
"Devan?"
__ADS_1
"Iya, kita satu SMA dulu," jawab cowok itu tersenyum lebar. "Boleh duduk di sini?"
"Silahkan," jawab Mea sebenarnya merasa sedikit enggan. Dulu dia sempat di bully hanya karena berurusan dengan cowok di depannya ini.
"Makasih ya, aku sebenarnya ingin minta maaf sama kamu Mea, gara-gara aku kamu jadi di musuhi sama cewek-cewek itu, tapi kamu nya menghindar terus, aku jadi nggak enak sendiri," ujar Devan tiba-tiba.
Cowok itu tersenyum tulus dengan wajah yang sendu. Mea hanya bisa menghela nafas, dia juga sempat merasa down karena menjadi bulan-bulanan para siswi fans garis keras Devan.
"Iya, kamu nggak salah kok," jawab Mea dan senyum tipis. Keduanya akhirnya mengobrol ringan sambil makan siang.
Mea tidak menyadari jika ada seseorang yang mengambil gambar mereka dan mengirimkan kepada seseorang.
***
Kelvin menatap gambar yang baru saja di kirim oleh anak buahnya dengan wajah merah menahan amarah. Dia tidak suka melihat Mea bersama dengan cowok lain. Padahal dulu Kelvin biasa-biasa saja, tetapi sekarang rasanya dia tidak terima dengan apa yang dia lihat.
"Apa yang harus aku lakukan, Mea? Kenapa kamu jadi seperti ini?" gumam pria itu.
Kelvin langsung menghubungi nomor Mea namun dia urungkan kembali, tentu saja dia tidak berhak melarang Mea berteman dengan pria mana pun.
"Bos, boleh saya minta tolong?"
Bersambung.
__ADS_1