
Happy Reading.
Rea menuangkan nasi goreng pada dua piring yang dia siapkan di atas meja. Rea sudah siap membawa nasi goreng itu ke ruang makan. Di mana disana Kenzo sudah menunggunya.
Tentu Rea kasihan melihat Kenzo yang seperti itu, biasanya pria itu selalu disiplin waktu, apalagi untuk makan. Kenzo sudah mengatur waktunya sedemikian rupa agar terlatih untuk disiplin dalam bekerja maupun yang lainnya.
Rea melihat Kenzo yang tengah melamun, Sepertinya memang pria itu benar-benar sedang ada masalah, sehingga membuatnya seperti ini.
"Silahkan Tuan, nasi gorengnya masih panas, pasti enak kalau dimakan panas-panas gini," Rea meletakkan piringnya dan mengambil sendok Kenzo.
Kenzo mengamati Rea yang tengah menyendok nasi goreng dan meniupnya tiga kali, kemudian di sodorkan padanya.
"Aaakkk ...!"
Kenzo menerima suapan Rea dan langsung mengunyah nya. Memang masih panas, sampai membuat Kenzo megap-megap tapi sensasinya memang bisa bikin lahap. Rea tertawa kecil melihat Kenzo yang seperti itu, tangannya mengibas-ngibas dan belum habis sempurna makanannya, Rea sudah menyuap lagi nasi gorengnya.
"Pelan-pelan Rea, gimana mau menikmati makanan kalau disuapi terus," gerutu Kenzo.
"Hehehe, iya Tuan, maaf-maaf," jawab Rea tanpa rasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
Akhirnya nasi goreng Kenzo sudah habis, kini tinggal nasi goreng milik Rea yang masih tersisa separoh.
"Tuan, ada apa sebenarnya? Tidak biasanya Tuan galau seperti ini?" Tanya Rea setelah mengumpulkan keberanian. Mungkin saja dia bisa sedikit meringankan beban Kenzo yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
Kenzo sedikit kaget ketika Rea menanyakan hal itu, apa kentara sekali kalau dia memang lagi galau. Kenzo yang terkenal Kejam bisa galau hanya karena satu perempuan. Mungkin kalau perempuan itu tidak dia kenal atau sekedar sahabatnya pasti akan lain cerita.
Sekarang dia diputuskan untuk masalah yang besar.
"Aku? Galau?" Tunjuk Kenzo pada dirinya sendiri. Rea hanya mengangguk membenarkan.
"Aku nggak galau, tapi sedang stres karena kebanyakan pikiran, apa kamu tahu bagaimana menghilangkan stres itu?"
"Eh, saya tidak tahu Tuan," jawab Rea cepat.
Kenzo mendekatkan wajahnya membuat Rea memundurkan diri. "Tidur dengan saya, hangatkan ranjang saya malam ini!"
****
Rea merasakan pelukan di perutnya, punggungnya terasa geli saat Kenzo mengusak disana. Kenzo memainkan tangannya di perut Rea yang masih di balut piyama berbahan satin itu.
__ADS_1
"Kenapa kalau dekat kamu, aku merasa sangat nyaman, hanya memeluk saja segala beban pikiran ku seperti terangkat dengan sendirinya," bisik Kenzo.
Pria itu semakin mengeratkan pelukannya di perut Rea dan mencium tengkuknya. Rea meremang, darahnya berdesir hebat, tapi dia harus tahan karena semua ini adalah pekerjaannya. Tahan rasa, tahan cinta, tahan semuanya agar dia tidak terlena.
Dan malam itu, keduanya tidur berpelukan semalaman dengan segala pikiran semrawut di kepala masing-masing.
Kenzo merasa damai, dia benar-benar membutuhkan Rea dalam hidupnya. Hanya dengan memeluk Rea semalaman itu Kenzo meyakinkan sesuatu jika dia menginginkan Rea lebih dari sekedar penghangat ranjang.
****
"Kelvin, kalau memang Anjani membutuhkan pekerjaan itu, beri dia tempat di lantai bawah dan beri pekerjaan sebagai karyawan biasa, kalau dia tidak mau, ya sudah. Hanya itu posisi yang bisa diberikan oleh perusahaan," ujar Kenzo.
Dua hari berlalu saat wanita yang bernama Larasati Anjani itu datang kerumahnya dan akhirnya Kenzo memberikan keputusan dengan memberi pekerjaan terhadap perempuan itu.
"Baik Tuan," jawab Kelvin menunduk.
Kelvin juga sebenarnya merasa kasihan dengan Anjani, meskipun dulu perempuan itu pernah menyakiti Tuan-nya tapi ternyata Tuan Ken memberikan kebijakan yang tepat dengan memberikan pekerjaan untuk Anjani sebagai karyawan biasa.
Bersambung.
__ADS_1
Maaf cuma dikit 🙏